Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 48 - Makan Bersama


__ADS_3

Keesokan harinya, perburuan selesai. Lug, Nagisa, Zephyr dan murid lainnya telah berkumpul di tempat perkumpulan yang sama seperti sebelumnya. Mereka kini tengah menunggu Brock Edelweiss–mereka juga merasa bahwa David Lorenzo juga akan datang kali ini.


Ketika itu, semua murid terkejut melihat Lug yang datang sambil menunggangi harimau. Bukan hanya itu saja, ada pula Nagisa yang membawa dua ekor kelinci yang bermutasi.


Brock dan David pun tiba, mereka terkejut melihat seorang anak lelaki yang menunggangi seekor harimau. Sementara para murid lainnya bahkan hanya menemukan trenggiling ataupun musang saja.


"B-bagaimana kau bisa menangkap harimau itu?" tanya Brock, ia dan David terkejut.


Lug menjawab, "Aku memburunya, lah."


David tidak percaya dengan ucapan anak itu. "Dia pasti hewan peliharaannya saudaramu yang tinggal di dekat sini, mengaku saja! Mana ada anak kecil sepertimu menangkap harimau sebesar itu?!" serunya.


"Di sekitar sini memangnya ada rumah?" tanya Lug keheranan.


David menggertakkan giginya. Jelas saja bahwa di sekitar hutan tersebut tidak ada desa. Sekalipun ada, jaraknya dari tempat perkumpulan cukuplah jauh, untuk mengirim orang saja mungkin membutuhkan waktu setidaknya lebih dari satu hari.


"Sudahlah sudahlah!" Brock menghentikan pertikaiannya. "Dengan harimau yang kau bawa itu sudah cukup membuktikan bahwa dirimu layak untuk langsung menjadi ahli sihir."


David menoleh, ia sangat tidak terima. "Apa?! Dia hanya membawa seekor harimau saja, nilai apa yang bisa didapatkannya?"


Brock menyernyitkan dahinya. "Memangnya dalam sejarah ujian perburuan ini ada yang menangkap harimau?"


"Cih," David berusaha mengelak.


Namun Brock dan Lug tidak mempermasalahkannya lebih jauh lagi. Alih-alih anak itu justru mendapatkan pujian dari beberapa murid yang lainnya.


Dan beberapa saat kemudian, Brock memberikan penilaian terhadap Nagisa dan Zephyr yang juga baru kali ini membawakan dua ekor kelinci yang bermutasi dengan ukuran yang tidak masuk akal. Sintya tidak peduli dengan dua hewan itu, dia masih akan mengira bahwa kali ini hanya ada satu orang anak saja yang lulus kualifikasinya.


"Kalian berdua yang menangkap ini?" tanya Brock.


Nagis mengangguk.


"Hanya kami berdua yang menangkapnya," jawab Zephyr.


Sebenarnya Sintya sedikit merasa tersinggung karena dirinya berada dalam satu kelompok dengan kedua anak itu. Tapi memang kenyataannya gadis ini sama sekali tidak memberikan kontribusi. Tetap saja, ujian perburuan ini yang berhasil hanya satu orang saja, yang seperti itu tak ada nilainya, batin Sintya yang memasang wajah cuek.


Setelah itu, Zephyr pergi ke suatu tempat dan kembali membawa kawanan monyet yang telah diikat–dia membawa tujuh ekor monyet.


"Wah wah, kalian berdua hebat juga," Brock memuji.


"Terima kasih," sahut Nagisa seraya tersenyum.


Dasar gadis yang sok manis, gumam Sintya kesal.


Lug mendengar suara hati gadis itu. Dia merasa kesal dengannya karena sedari tadi gadis bermata cokelat kemerahan itu seolah tidak senang dengan Nagisa dan Zephyr. Dia memanglah beban tim seperti apa yang Zephyr katakan padaku, batin Lug.


Memang sebelumnya Zephyr sempat berbicara dengannya ketika kembali bertemu. Mereka juga sempat membicarakan Sintya yang sama sekali tidak bekerja di dalam kelompoknya.


Nagisa memang imut, kalau dia sok imut juga dia memang pantas melakukannya, batin Lug lagi.


Dan apa yang terjadi? Ketika Zephyr memberikan laporannya kepada Brock, pria berbadan kekar itu meluluskannya bersama dengan Nagisa. "Kualifikasi kalian sangatlah bagus, karena aku yang menilai di sini, maka aku meluluskan kalian di ujian kali ini," ujarnya.


Sintya menoleh, dia merasa seperti tidak pernah dianggap di sana. "Tunggu!" serunya. "Bagaimana denganku? Aku kan juga masih satu kelompok dengannya."


Zephyr melirik sinis Sintya. "Memangnya apa kontribusimu? Pondok saja kami yang buatkan, kau punya kontribusi apa?!" tuntutnya.


"Kau ini ... " Sintya mulai marah.


"Dengan bergabung di kelompok kami saja kau sudah cukup beruntung mendapatkan bantuan dari kami- ingat itu!" seru Zephyr.


Nagisa mengangguk setuju. "Itu benar," ia menimpali.


"Diam kau, gadis desa!" seru Sintya.

__ADS_1


Lantas Lug mulai ikut campur dalam perdebatan tersebut. Menurutnya gadis itu sudah mulai keterlaluan. "Lebih baik dia gadis dari desa, tapi punya kualifikasi untuk lompat kelas, kau sendiri bagaimana?!" serunya.


Sintya teringin sekali membalas ucapan dari Lug, tapi fakta yang disebutkan itu sama sekali tidak bisa ia lawan. Gadis itu hanya bisa menggertakkan giginya.


Hingga pada akhirnya, Brock dan David setuju bahwa Sintya tidak diikut sertakan untuk lulus dalam kualifikasinya. Meski begitu, David masih kesal dengan Lug meskipun ia setuju dengan pendapat anak tersebut.


Setelah itu, semua murid dipersilahkan untuk pulang ke asrama atau rumah masing-masing. Dan yang lulus dari ujian perburuan tahun ini hanya ada tiga orang dan termasuk dalam jumlah yang tidak sedikit. Biasanya saja hanya satu orang dan itu pun beberapa tahun yang lalu


Hewan buasnya akan dilepas ke hutan kembali agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi harimau yang Lug temuka seolah tidak terlalu senang dilepaskan.


Lug membatin, harimau ini cukup malang.


Sepulangnya, Lug dan Nagisa mampir ke rumah Zephyr terlebih dahulu. Zephyr mengatakan bahwa orang tuanya mengundang mereka berdua untuk makan bersama. Siapa yang mau menolak undangan untuk makan? Dan mereka bertiga telah dijemput oleh seseorang menggunakan kereta kuda. Orang itu ternyata adalah penjaga gerbangnya kediaman keluarga Azamuth.


Sesampainya di kediaman Azamuth, Lug, Nagisa, dan Zephyr telah disambut oleh Antonio. Sebenarnya Zephyr adalah seorang anak piatu, ibunya meninggal ketika melahirkannya. Di sana juga ada Raini yang ikut menyambut.


"Bagaimana hasilnya? Apa kalian berhasil?" tanya Raini berharap.


Ketiganya mengangguk.


"Ya, kami bertiga berhasil menjadi ahli sihir," Zephyr menjawab.


Antonio yang mendengarnya menjadi begitu senang. Terukir senyuman lebar di bibirnya. "Selamat- selamat untuk kalian bertiga!" serunya senang.


Tapi Lug tidak terlihat menikmati situasinya, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Antonio menyadarinya. "Nak, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya penasaran.


Lug menoleh. "Ah- iya," sahutnya.


"Ada apa, Lug?" tanya Zephyr.


Nagisa menjadi cemas melihat Lug yang terlihat resah, begitupun dengan Raini. Mereka berdua seolah sangat ingin sekali mendengar curhatan dari anak lelaki tersebut dan menghiburnya.


"Begini," Lug mulai menjelaskan. "Aku mendengar kabar bahwa kakaknya Nagisa telah melahirkan anak pertamanya, jadi kupikir aku ingin pulang ke rumah untuk memeriksa keponakan baruku, haha."


"Iya, kudengar dia itu laki-laki."


Nagisa sampai menangis bahagia mendengar kabar tersebut, lantas dengan cepat menyambar Lug dan memeluknya erat. Seperti biasa, hal hal seperti itu membuat Raini menjadi cemburu, ia hanya bisa memendamnya jauh di dalam lubuk hatinya. Dan seperti biasa lagi, Zephyr tahu bagaimana perasaan Raini, dia mengelus rambut l gadis itu dan berbisik, "Bersabarlah, kau harus menjadi lebih kuat."


Raini menoleh dan tersenyum kepada Zephyr. Kemudian ia berbisik juga, "Terima kasih."


Antonio menyadari sesuatu. "Apa kau butuh kendaraan untuk pulang?" tanyanya memastikan.


Lug mengangguk. Ia berpikir bahwa menjelaskannya di depan ayahnya Zephyr itu adalah keputusan yang bagus. "Ya, apalagi beberapa hari dalam Minggu ini diliburkan, aku merasa ini adalah waktu yang bagus untuk pulang ke rumah," terangnya.


"Bagaimana kalau kuantar?" Antonio menawarkan.


Nagisa tertegun, alih-alih Lug mengangguk.


"Terima kasih," ucap lelaki itu.


Setelah itu, mereka semua makan bersama di meja yang cukup panjang di suatu ruangan untuk makan yang telah disiapkan. Raini secara pribadi yang mengambilkan makanan untuk Lug dan Antonio, sementara Nagisa sudah mengambil makanannya terlebih dahulu yang telah disiapkan di atas meja, begitupun dengan Zephyr.


"Terima kasih," ucap Lug.


"Sama-sama," jawab Raini.


Nagisa menatap sinis ke arah Lug, dia merasa cemburu–seperti biasa jika Raini sedang bersikap baik terhadap kakaknya itu.


Lalu mereka pun makan bersama sembari berbincang-bincang. Dan pada saat itu juga, Raini mengungkap bahwa dirinya sedikit kecewa karena tidak memiliki kualifikasi untuk ikut serta ke dalam ujian perburuan. Yah, mau bagaimana lagi?


Meski begitu, Raini tidak patah semangat untuk terus belajar dan mempertajam kemampuannya. Apalagi sekarang sebenarnya ia sudah bisa memunculkan sumber jiwanya yang bisa dikatakan cukup aneh dan membingungkan.


Tepat setelah makan siang, Lug meminta Raini untuk menunjukkan sumber jiwanya di halaman belakang. "Coba kulihat sumber jiwamu," pintanya.

__ADS_1


Raini mengangguk.


Di sana juga terdapat Zephyr dan Nagisa yang antusias memperhatikannya.


Kemudian Raini memunculkan sumber jiwanya yang berupa garis garis hitam yang membentuk persegi–bukan hanya satu, tapi ada setidaknya delapan persegi dan beberapa dari persegi persegi itu menempel satu sama lain hingga ada yang hampir membentuk sebuah kubus. Garis garis itu benar-benar hitam, hitam pekat dan bahkan tidak memantulkan cahaya apapun di sekitarnya.


Lug tersenyum senang melihatnya, begitupun dengan Raini. Sementara Zephyr dan Nagisa malah menatap sumber jiwa tersebut dengan tatapan bingung.


"Aku tidak paham dengan konsep sumber jiwa, bagaimana mereka bisa memiliki bentuk yang bermacam?" tanya Zephyr kebingungan.


Nagisa meliriknya heran. "Hah? Bukankah itu sudah pernah dijelaskan oleh kakak Lug dulu? Apa kau tidur juga pada saat itu?" celetuknya.


Zephyr baru teringat pada saat itu juga. "Eh, iya ya? Haha-"


Pelajaran tentang sumber jiwa juga sudah berkali-kali dibahas di dalam kelas, namun seringkali Zephyr tidak memperhatikannya–suara hanya masuk dari telinga kanan dan keluar di telinga kiri.


Dan untuk mengalihkan pembicaraan, Zephyr bertanya, "R-Raini ... Bagaimana dengan- latihanmu?"


Raini menjawab, "Berjalan dengan sangat lancar, buku yang Lug berikan padaku itu mudah dipahami."


Apa? Padahal ketika aku membaca bukunya itu terlihat cukup sulit untuk dipahami. Bagaimana bisa Raini memahami? Batin Zephyr heran. Tapi ketika ia melirik Lug, pantas saja, Raini mungkin sedang ingin mencuri hatinya Lug. Dia berkata seperti itu agar Lug lebih memperhatikannya, kerja bagus, Raini.


Tapi siapa sangka, bahwa Lug juga ingin melihat hasil dari latihannya Raini. "Coba kau lakukan sesuatu sesuai dengan apa yang kutulis di buku."


Seketika Zephyr menelan ludahnya. Ini buruk, apa Raini sungguhan telah mempelajarinya?


Di dalam hati, Lug merasa sangat senang karena ia ingin membuktikan di hadapan Zephyr bahwa Raini benar-benar sudah berlatih dengan sungguh-sungguh. Namun ia juga ingin sekali melihat hasil dari perkembangannya Raini. Lug tersenyum pada saat ini.


Tanpa ragu, gadis yang dimintanya itu mengangguk mengiyakan permintaan Lug.


"Baiklah."


Lantas Raini menciptakan sebuah bola berwarna hitam transparan di atas tangannya, tanpa lingkaran sihir. Bola hitam itu seukuran bola kasti.


Zephyr menjadi kagum melihat gadis itu benar-benar sudah belajar. "Hebat," pujinya. "Tapi apa kemampuan dari sihir itu- eh, tunggu! Itu tidak ada lingkaran sihirnya, apa itu metode baru yang ditulis Lug di dalam bukunya?"


Raini tersenyum. "Ya, ini adalah yang dinamakan dengan memanipulasi kekosongan, aku mempelajari semuanya yang ada di buku, dan ini masih permulaan," sahutnya.


Tetapi Zephyr malah bengong dan tidak memperhatikannya.


"Kak Zephyr?" Raini memanggil.


Segera pria itu menggelengkan kepalanya, dia tidak sadar bahwa Raini sedang menjawab pertanyaannya. "Ah, maaf, aku malah bengong, lanjutkan saja," ujarnya.


Dan bukan hanya Zephyr, Nagisa juga tampak bengong. Kini dia menggelengkan kepalanya seperti Zephyr. Apa itu tadi? Kenapa aku bengong? Batinnya bingung.


Tetapi hanya Lug saja yang tampak tidak sedang bengong. Dia memperhatikan kedua orang yang bengong itu dengan tatapan antusias.


"Kalian ini- kenapa malah bengong?" tanya Raini heran.


Zephyr menjawab, "Hahaha- iya, maaf ... Aku tidak tahu apa, tapi tiba-tiba waktu berjalan dengan sangat cepat. Ah, sudahlah, lanjutkan saja."


Setelah itu, Raini memperlihatkan apa yang bisa dilakukan oleh kemampuannya itu. Dibantu oleh Lug, dia menggunakan sihir Bola Petir dan ketika bersentuhan dengan bola hitamnya, Bola Petir tersebut lenyap seolah dimakan oleh bola hitamnya Raini.


"Wah, hebat," Zephyr kembali memuji.


"Terima kasih," sahut Raini.


Lantas Raini mulai memperlihatkan sebuah sihir yang mana membuat kedua bola matanya berubah menjadi hitam pekat.


"Matamu kenapa?" tanya Zephyr cemas.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2