![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Setelah makan, Nio mengajak Alice ke suatu tempat.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Alice bingung. Tapi dalam hatinya, ia sudah menebak pikiran Nio.
Sementara lelaki yang mengajaknya pergi itu berkata, "Kita jalan-jalan di taman? Sudah lama kita tidak ke taman, mungkin- ini cara berikutnya untuk membuatmu senang? Hehe- "
"Ah, kau ini ... Bisa saja kau, Nio," sahut Alice.
Mereka pun turun ke bawah melalui tangga yang ada di ruangan pribadinya Nio. Sesampainya di bawah, mereka berdua pun bertemu dengan Johan dan beberapa pelayan lain.
"Johan," ucap Nio. "Kau ambil alih restorannya, aku akan pergi sebentar. Nanti malam beristirahatlah, aku yang akan menggantikanmu."
"Tidak usah, tuan muda, aku bisa kok. Buatlah dirimu nyaman bersama dengan nona muda Claudia," sahut Johan.
"Aku tahu tujuanmu, kau pasti ingin gaji tambahan, kan?"
"Hehe- tuan muda tahu saja, hehe- "
"Ah, kau ini- "
Nio pun pergi bersama dengan Alice, beberapa orang yang melihatnya langsung terpana dengan kemesraan pasangan itu. Bahkan para lelaki terpesona dengan kecantikan Alice, dan yang perempuan terpesona dengan ketampanan dan kharisma Nio.
Mereka berdua pergi menuju ke pusat kota yang terdapat taman yang dipenuhi oleh bunga yang berwarna-warni. Di sana banyak sekali pemuda pemudi yang menikmati masa-masa romantis mereka di taman tersebut.
Nio dan Alice berhenti ketika berada di jembatan melengkung. Di bawahnya terdapat sungai buatan yang cukup kecil dan dipenuhi oleh ikan. Mereka berdua menunduk di pembatas jembatan dan memandangi ikan ikan yang berenang ke sana kemari.
"Ikan ikannya cantik," ujar Alice.
Nio mengangguk setuju. "Ya, tapi kau tahu? Parasmu lebih cantik dari ikan-ikan itu," sahutnya.
Sebenarnya Alice ingin membahas tentang gadis yang akan dinikahi oleh Nio, namun ia tidak ingin mengungkitnya karena menurutnya, itu akan berakhir dengan tidak baik. Nio sendiri mendengar suara hatinya Alice, dia paham perasaan gadis itu.
"Alice, tunggu di sini sebentar!" suruh Nio.
Alice menoleh dan bertanya, "Memangnya kau ingin ke mana?"
"Sebentar saja, aku akan segera kembali- tidak akan lama," sahut Nio.
Alice terdiam sejenak, lantas matanya menatap mata Nio. "Aku takut sendirian, Nio. Jangan tinggalkan aku di sini sendirian. Bagaimana jika ada penjahat yang tiba-tiba saja menyerangku?" paparnya.
Nio malah tertawa kecil dan menggeleng. "Tidak akan, lagipula aku hanya sebentar saja. Jangan jadi penakut, dong. Di mana keberanian nona muda Claudia ketika tiba-tiba masuk ke dalam ruangan pribadiku?"
"Nio ... Jangan bahas itu- aku malu!" tegas Alice yang wajahnya mulai memerah.
Setelah itu Nio langsung pergi meninggalkan Alice di jembatan sendirian. Gadis itu kembali melihat ikan-ikan yang ada di sungai.
__ADS_1
Tak lama berselang, ada sesuatu yang menyentuh telinga Alice. Sontak gadis itu menoleh dan mengetahui bahwa yang melakukannya adalah Nio.
Lelaki itu tersenyum melihatnya, dan dia membawakan bunga berwarna kuning yang diletakkan di telinga Alice. "Kau terlihat sangat cantik, Alice," ujar Nio memuji seraya tersenyum hangat.
Alice lagi-lagi terpesona dengan perbuatan tunangannya itu. Nio, kau sangat ... Tampan sekali, batinnya. Wajahnya memerah, lalu menutupi hidung dan mulutnya serta memalingkan pandangannya. "Ja- jangan menggodaku," sahutnya tergagap.
Nio tersenyum dan menampakkan giginya. "Ayolah ... Aku tidak sedang menggodamu, kau sungguh terlihat begitu cantik, Alice."
"Hmph!"
Wajah Alice semakin memerah. Dia juga tampak kesal ketika pipinya menggembung. Tak lama, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Nio, meski hampir tingginya bisa dibilang terpaut jauh.
"Kenapa kau begitu tinggi?" tanya Alice.
Nio tertawa. "Itu karena kau pendek," ejeknya.
"Hmmph!"
Alice kesal, ia menggembungkan pipinya lagi.
Mereka berdua pun berjalan-jalan mengelilingi taman. Berbincang-bincang dan saling mengejek, akan tetapi terbentuk kemesraan yang mendalam bagi mereka, bahkan orang-orang di sekitarnya bisa melihatnya dengan sangat jelas.
Setelah berjalan-jalan lama di taman–hingga siang hari, Nio berinisiatif untuk mengajak Alice ke toko pakaian. Di sana suasananya begitu menyejukkan dikarenakan ada sihir penyejuk di setiap dinding ruangannya.
"Wah, kau ingin membelikanku pakaian?" tanya Alice.
"Hei! Jangan begitu!" tegas Alice.
"Hahaha- aku hanya bercanda ... Iya, aku akan memberikanmu pakaian yang kausukai. Jadi pastikan itu yang 'meransang' untukku, oke? Hehe- "
"Niooooo ... Kau itu mesum."
Lalu mereka memilih-milih pakaian yang sekiranya bagus. Tetapi seperti pada umumnya, seorang gadis pasti memiliki selera yang sangat feminim dan labil. Tidak terkecuali Alice yang bisa dikatakan doyan yang namanya gaya berpakaian (fashion). Matanya langsung melirik ke sana kemari menandai semua pakaian cantik yang disukainya.
Sementara Nio hanya memperhatikannya dari belakang, dia sebenarnya tak begitu tertarik. Hanya saja ia ingin membuat Alice senang.
"Nio," Alice memanggil. Dia memperlihatkan dua pakaian yang sangat indah dan cantik. Yang kanan berwarna merah muda yang sangat feminim, dan yang kiri berwarna ungu gelap dengan beberapa garis hitam, memiliki gaya yang elegan. "Dari kedua ini, mana yang menurutmu bagus untukku?" tanyanya.
Kini Nio sedang melihat-lihat sederet pakaian untuk wanita, bisa dibilang di deretan itu dipenuhi dengan pakaian seksi. "Apa menurutmu tentang yang ini?" tanyanya sembari memperlihatkan tanktop berwarna hitam yang sangat seksi. Wajahnya memerah, seolah keluar asap dari kedua lubang hidungnya.
"AAHH!" teriak Nagisa malu. "Nio! Itu memalukan! Mau sampai kapan kau menggodaku terus?!"
"Hehehe- aku hanya bercanda, kok. Itu karena ekspresi wajahmu ketika malu itu sangatlah manis, jadi aku tak tahan untuk menggodamu," sahut Nio.
"Cepat pilih saja, mana yang menurutmu cantik!" tuntut Alice.
__ADS_1
Nio segera mengembalikan pakaian yang diambilnya barusan. Lantas menoleh ke arah Alice. "Ambil saja dua-duanya, itu memang terlihat cocok untuk tubuhmu yang mungil."
Alice memandangi kedua pakaian yang dipegangnya. "Ini memang bafus, tapi ... Apa tak apa-apa jika aku mengambil keduanya?" tanyanya resah.
Nio mengangguk. "Pilih satu lagi, tiga pakaian sudah cukup, kan?"
"Hah?" Alice terkejut. "Tapi ... Sepertinya ini baju yang mahal, tak mungkin aku akan meminta terlalu banyak darimu."
Nio tersenyum. "Apakah aku lelaki yang pelit?" tanyanya.
Awalnya Alice sempat bengong karena tahu dirinya sedang disindir karena meragukan tunangannya sendiri, tapi akhirnya dia tersenyum karena menyadari bahwa Nio adalah lelaki yang sangat loyal kepadanya dan memperlakukannya selayaknya seorang putri atau nona muda.
"Yah, aku tak bisa mengelak untuk yang satu itu. Bagiku, kau selalu memberiku gratis dan membuatku senang, entah itu makanan, minuman, dan sekarang- ya, pakaian. Bukan hanya itu, kau menyediakan kekuatan gratis untuk melindungiku, maafkan aku yang tak tahu diri ini, Nio," ujar Alice.
Nio merasa bersalah karena menyinggung masalah tersebut. "Tidak usah, jangan terlalu dibawa serius ... La- lagipula aku hanya ingin melihatmu memakai baju seksi, kok," sahutnya sembari mengusap hidungnya, wajahnya pun memerah.
"NIOOOOO!!!"
Setelah itu, Alice memilih satu lagi pakaian yang sangat indah. Itu berwarna putih bersih dan seperti pakaian pengantin. Nio sudah membayar semua pakaian yang dibeli, bahkan Alice sampai memilihkan pakaian untuknya yang berupa setelan jas dan bahkan sepasang sepatu.
"Gaun putih itu- apa kau sedang ingin mempersiapkan pernikahan?" tanya Nio.
"Oh? Gaun yang putih? Tidak, aku hanya menyukainya," sahut Alice.
Nio tersenyum hangat. "Aku memang tadi sempat melihat gaunnya ketika kau mengambil itu dari patung modelnya. Dan kulihat, kau sangat cocok dengan gaun itu, kupikir untuk pernikahan. Tapi memang, ketika kau mengenakannya, mungkin kau terlihat lebih cantik dan indah," terangnya.
Alice tersenyum lebar mendengar pujian dari Nio. "Terima kasih," ucapnya. "Oh iya, memangnya habis berapa untuk pakaian yang kita beli tadi?"
"Satu koin emas dan 250 koin perak. Itu sudah termasuk potongan karena kau seorang anak bangsawan," jawab Nio.
"Apa?! Mahal sekali! Aku tak menyangka kau akan menghabiskan uang sebanyak itu untuk membelikanku pakaian ini," Alice terkejut karena sebelumnya tak tahu bahwa dirinya telah memilih pakaian yang terlalu mahal. Tapi melihat ekspresi Nio ... Kenapa dia seolah terlihat senang? Sepantas itu kah semua pakaian ini dibelikan hanya untukku? Batinnya.
Nio menjawab, "Tidak apa-apa. Lagipula kita sudah mendapatkan potongan yang terbilang besar, lho- 675 koin perak, itu sangatlah banyak."
Alice sempat merenung sejenak, tapi dia dengan cepat merespon ucapan Nio. "Huh ... Aku lupa, kau itu pemilik restoran Vlamera yang terkenal di seluruh penjuru kerajaan. Mungkin bagimu itu pengeluaran yang sedikit? Ah ... Maaf, aku bukan bermaksud seperti itu," ujarnya.
Nio menyeringai. "Aku paham maksudmu, tapi tadi aku memang tak membawa banyak uang. Aku hanya membawa sepuluh keping koin emas saja," sahutnya.
Alice sedikit terkejut. "Wah ... Aku saja kalau minta beli ini itu ke ketika bersama ayahanda saja batasannya tak boleh lebih dari satu keping koin emas."
"Yah, itu sih ... Deritamu, hahahaha!"
"Iiih ... Nio! Jangan begitu!"
Nio melarikan diri dari Alice, dan mereka berakhir dengan bermain kejar-kejaran. Senyuman hangat terukir pada bibir mereka. Tak disangka bahwa semua ini terjadi dengan begitu indahnya.
__ADS_1
Bersambung!!