Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 36 - Perasaan Yang Harus Diungkapkan


__ADS_3

Diberi oleh pertanyaan yang mencengangkan oleh Nagisa, Lug terdiam beberapa detik kala itu. Namun semuanya berubah, tatapan matanya menjadi lebih tajam dan ekspresinya tampak lebih serius. "Aku tak punya waktu untuk membahas itu sekarang!" tuturnya.


Nagisa menunduk, wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan.


"Aku datang ke sini karena masalah yang kita alami pada satu Minggu sebelumnya- dengungan keras yang mengguncang seluruh dunia," terang Lug.


Mendengar pernyataan tersebut, Nagisa, Raini, dan Antonio terkejut. Mereka tak menyangka bahwa akan ada orang yang membahas hal tersebut. Akan tetapi peristiwa yang mengguncang seluruh dunia itu memang layak untuk diperbincangkan, namun kebanyakan orang hanya memaparkan spekulasi saja karena tidak tahu akan kebenarannya.


"Mari kita duduk terlebih dahulu," ajak Lug yang berjalan ke arah sofa.


Mereka semua duduk di sofa dan wajah mereka terlihat tegang ketika membahas dengungan yang membuat separuh lebih dari keseluruhan manusia mengalami kerusakan pada telinganya.


"Nagisa, aku ingin membawamu ke dalam perjalananku ke dunia iblis. Kita akan mengambil sesuatu di sana," ujar Nio.


"Du- dunia ... Iblis? Kakak, itu berbahaya!" seru Nagisa resah.


Lug menggeleng, wajahnya kini tampak lebih serius. "Nagisa, tak ada selain ayah, ibu, kakak kita, dan kau yang pernah melihat sumber jiwaku secara langsung. Kecuali beberapa orang yang bersama denganku di kota Eternan yang kauselamatkan itu. Jadi, aku sudah menetapkan kepercayaan padamu, aku ingin kita menghentikan kiamat ini. Kita harus mencegah kehancuran pada dunia kita ini," jelasnya.


Nagisa, Raini, dan Antonio menelan ludah. Mereka benar-benar tak menyangka bahwa Lug berambisi untuk menyelamatkan semestanya ini.


"Kakak, aku percaya semuanya padamu. Tak pernah sedikitpun aku meragukan keputusanmu, apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Nagisa dengan tatapan mata serius.


Lug menyeringai senang. "Bagus, Nagisa. Aku suka dengan kepercayaanmu padaku," katanya.


Wajah Nagisa memerah seketika itu juga. Dia duduk tepat di depan Lug dan di sampingnya Raini.


"Dan lagi, Nagisa," tutur Lug yang kini berubah menjadi lebih serius. Dia menunjukkan sebuah cincin seperti yang diberikannya kepada seluruh anggota Vlamera. "Aku ingin kau menggunakan cincin yang ini, Nagisa. Lepaskan saja cincin yang kuberikan padamu waktu itu."


Raini terkejut, dia langsung melirik ke arah jari-jari Nagisa yang ternyata memang jari manis di tangan kirinya mengenakan sebuah cincin. Emm ... Apa Lug- memang benar-benar serius dengan Nagisa? Apa aku- tidak punya kesempatan lagi dengan Lug? Batinnya.


Melirik Raini, Lug tahu apa isi hatinya itu, dia langsung tersenyum tipis dan tampaknya lebih mengarah pada perasaan sedih.


Nagisa pun mengambil cincin pemberian dari Lug.


"Nagisa, ketahuilah bahwa cincin itu memiliki resiko yang tinggi ketika ka- "


"Aku tahu, kak," ucap Nagisa memotong peringatan dari Lug. "Sedari awal aku mengikutimu sampai sekarang, semua yang kulakukan itu tidak gratis dan bayarannya sangatlah tinggi. Entah itu kelelahan ataupun rasa sakit, aku sudah terbiasa dengan dua hal itu, jadi aku sama sekali tidak takut."


Lug tersenyum tipis mendengar ucapan Nagisa. Sementara gadis itu membalas dengan senyuman hangat yang sangat lebar.

__ADS_1


Lug berdiri, diikuti oleh Nagisa.


"Nagisa, pakai saja cincin itu di halaman belakang. Jika kau melakukannya di sini, maka ... Mungkin akan mengotori lantainya," ujar lelaki itu memperingatkan lagi.


Nagisa mengangguk.


Lalu mereka berdua meminta izin untuk pergi ke halaman belakang kepada Antonio, dan kebetulan pria tua itu juga ingin melihatnya. Sehingga mereka semua pergi ke halaman belakang termasuk Raini.


Sesampainya di halaman belakang, Nagisa langsung memakai cincinnya. Nio meminta kepada Antonio dan Raini untuk sedikit menjauh.


Dan pada saat itu juga, Nagisa memejamkan matanya. Tiba-tiba hidungnya berdarah, begitupun dengan matanya, telinganya, dan bahkan kuku-kukunya.


"LUG! APA YANG TERJADI DENGAN NAGISA?!" teriak Raini mencemaskan. Wajahnya terlihat panik, dia tak kuasa melihat sahabatnya itu tersiksa seperti apa yang dilihatnya sekarang.


Lug menghela nafas. "Nagisa sendiri yang memutuskannya untuk mengambil resiko. Jadi ini sudah terlambat untuk mencegahnya. Ini juga upaya untuk membuatnya jauh lebih kuat," jawabnya.


Raini masih tetap khawatir melihatnya, bahkan sampai menetes air matanya.


Nagisa diam dan tidak peduli meski banyak bagian tubuhnya yang berdarah. Tapi tak lama kemudian, dia meringis. Muncul aliran listrik yang terlihat sangat terang di pelipis dan bagian rambutnya. Matanya dirapatkan sekuat mungkin, Nagisa sudah mulai merasakan rasa sakit yang sebenarnya.


"HOEEEKK!!!"


"NAGISA!!!" teriak Raini yang hendak mendekati sahabatnya, namun ditahan oleh Lug.


"Lug! Nagisa ... Dia! Dia butuh pertolongan!" seru Raini histeris.


Lug menggeleng. "Jangan mengganggu ketika prosesnya sedang berlangsung. Itu justru bisa mempengaruhi pikirannya, dan bisa membuat kepalanya meledak!" serunya mengancam. Sebenarnya kepala yang meledak itu tidaklah benar, tapi hanya untuk menakut-nakuti saja. Jika ada pihak luar yang ikut campur, memang akan benar-benar mempengaruhi pikirannya dan bisa-bisa Nagisa akan koma dalam waktu yang sangat lama, batin Lug yang sebenarnya juga merasa sedikit resah.


Prosesnya berlalu lebih lama dari siapapun yang pernah memakai cincin pemberian dari Lug itu. Bahkan Nagisa sudah muntah lebih dari tiga kali.


Kemudian Nagisa telah keluar dari proses yang sangat menyiksa itu. Dia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Nagisa, apa kau baik-baik saja?!" tanya Raini mencemaskan. Dia langsung menghampirinya karena merasa khawatir.


Nagisa tersenyum lemas, tatapan matanya juga seolah tidak bisa terbuka lebar–seperti orang yang mengantuk.


"Kau seharusnya baik-baik saja, Nagisa," ucap Lug tersenyum palsu. Dia sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan Nagisa, terasa dalam hatinya yang terus memikirkan keselamatan gadis yang disayanginya itu. Bahkan jantungnya berdebar-debar menantikan prosesnya cepat berakhir.


Nagisa mengangguk. Dia berjalan lemas menghampiri Lug, tetapi lelaki itu menghampirinya terlebih dahulu karena takut gadis itu terjatuh.

__ADS_1


Dan benar saja, tepat ketika di hadapan Lug, Nagisa menjatuhkan dirinya di badan lelaki itu. "Kakak Lug, kumohon- jangan pergi lagi," pintanya lirih dengan tangannya melingkari pinggang Lug.


Lug sendiri tersenyum lebih tulus. Dia mengelus rambut Nagisa dengan halus, gadis itu merasa mereka sedang kembali pada masa kecilnya.


Sementara Raini merasa cemburu melihat kemesraan Lug dan Nagisa. Tangan kanannya menggenggam erat tepat di depan dadanya. Wajahnya terlihat sedikit senang–terukir senyuman tipis pada ujung bibirnya, karena Nagisa terlihat lebih baik dari sebelumnya. Namun hatinya masih belum bisa mengakui perasaannya itu, sehingga senyumannya itu hanyalah kepalsuan.


Nagisa pun tak sadarkan diri ketika menyandarkan badannya di badan Lug. Lantas lelaki itu membawanya ke kamar Raini untuk mengistirahatkannya.


Ketika Lug keluar, Raini menatap wajahnya malu-malu. "Kau ingin membicarakan sesuatu denganku, Raini?" tanyanya ramah.


Sebenarnya Lug tahu apa isi hati Raini, tapi menurutnya lebih baik jika gadis itu sendiri yang mengungkapkan isi hatinya. Tidak sopan baginya apabila tiba-tiba langsung menebak apa isi hatinya, dan justru mungkin saja akan membuat hati gadis itu terluka.


"I-iya ... " jawab Raini terbata.


Lug menutup pintu kamarnya.


Raini menatap wajah lelaki di depannya itu malu-malu, tapi seolah pandangannya itu tidak mau lepas. Dia menatapnya cukup lama, sampai pada akhirnya Lug tersenyum bingung padanya.


Mulut Raini mulai terbuka. "Lug ... Aku menyukaimu!" ungkapnya sembari dengan cepat langsung memeluk Lug.


Lug tersenyum cukup lebar, namun terasa kehangatan pada ekspresi wajahnya itu. "Bukankah kau dulu membencimu karena kau mengira aku ini lelaki mesum yang selalu menatapmu?" tanyanya dengan nada menggoda.


"Aku tidak peduli lagi! Lupakan itu! Yang aku pikirkan sekarang hanyalah aku menyukaimu! Inilah kesempatanku untuk mengungkannya padamu! Kupikir aku tak akan punya kesempatan seperti ini lagi karena kau telah pergi untuk selamanya, tapi ternyata kau benar-benar kembali. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini!" terangnya mengungkapkan seluruh isi hatinya. Aaahh ... Senangnya aku bisa mengungkapkan semua yang telah kupendam selama ini, batinnya.


Lug membalas pelukan Raini, lantas membenamkan wajahnya di rambut gadis itu yang memiliki warna yang sangat indah.


Wajah Raini semakin memerah, ia tak bisa membendung air matanya lagi. Dia merasa bahwa masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan Lug.


"Lug, kau ... Apa kau lebih menyukai Nagisa? Atau aku?" tanya Raini yang juga membenamkan wajahnya di tubuhnya Lug.


Lug menjawab, "Aku tak pernah memberitahumu tentang hal ini, tapi jujur saja, aku membenci pertanyaan pilihan seperti itu."


Raini merasa bersalah. "Maafkan aku, Lug. Aku tidak tahu- tapi sejujurnya, aku penasaran dengan perasaanmu," ungkapnya lagi.


Lug terdiam sejenak, ia mengangkat kepalanya. Begitupun dengan Raini. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, sementara sang lelaki menjadi bingung ingin menjawab apa, dan sang wanita menanti jawabannya.


"Apa aku tak boleh memiliki kalian berdua tanpa harus membeda-bedakan kalian?" tanya Lug balik dengan senyuman tulus.


Raini terpesona, wajahnya masih terus memerah dan menjadi sangat hangat. "Aku ... Aku ... Nagisa- aku tak masalah dengannya, tapi jika kau bersikeras, aku tak masalah denganmu. Tapi bagaimana dengan Nagisa?"

__ADS_1


"Dia juga berkata hal yang sama denganmu."


Bersambung!!


__ADS_2