![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Nagisa kini telah berada di asramanya. Ketika masuk dia telah melihat Phieri yang baru saja gosok gigi sebelum tidur. Gadis itu juga sudah mengenakan baju tidurnya.
Phieri menyadari ada yang masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung bergegas keluar dari kamar mandi. "Wah wah, Nagisa! Kau sudah pulang?" serunya terkejut. Dia langsung memeluk tubuh Nagisa. "Aduh!"
"Kau ini ... Aku kan masih mengenakan baju zirahku, haiish ... " ujar Nagisa memasang wajah menahan tawa.
Phieri mengelus lengan atasnya karena telah memeluk Nagisa terlalu keras, alhasil tangannya itu sakit. "Aku sendiri juga mana tahu?"
"Kan kau tahu aku ini baru pulang dari misi, ish ... Gimana sih?"
"Ya maaf."
"Yang kesakitan itu kamu, jadi seharusnya aku yang meminta maaf padamu."
"Hehe- "
Tak lama setelah itu, Nagisa langsung melepas baju zirahnya dan hendak memakai baju tidur biasa. Dan ketika semua bajunya terlepas–kecuali pakaian dalam, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang dan meremas dadanya. "Aaah ... Phieriii!" serunya.
"Waaaah ... Nagisa, sekarang kau sudah tumbuh sedikit lebih besar, ya?" ujar Phieri menggoda.
Nagisa melepaskan kedua tangan Phieri dan langsung balik kanan. "Hentikan itu, Phieri ... Itu menggelikan, dan juga- punyaku masih belum sebesar punyamu, itu hanya perasaanmu saja ... " sahutnya.
"Apa kau ingin menggoda seorang lelaki dengan ini? Kulitmu terasa sangat halus dan putih, kenapa aku merasa kau menjadi lebih muda?"
"Aku tidak pernah ada niatan seperti itu! Lagipula, mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"Yang benar?"
"Ah, terserah kau lah!"
"Hahaha, akhirnya aku bisa membalas dendam kejadian yang waktu itu. Dan lagi, untuk dadamu itu memang tidak lebih besar, tapi sepertinya kulitmu terlihat lebih mulus, lho- "
"Sudahlah, jangan bahas tentang itu lagi!"
"Hehehe, mulai kesal, ya?"
Wajah Nagisa berubah menjadi masam dan terlihat sebal. Aih ... Aku terlalu lengah, lihat saja! Aku akan membalasmu, Phieri! Tunggu saja pembalasan dariku! Batinnya.
Setelah itu, Nagisa selesai mengganti bajunya. Sebenarnya dia ingin sekali menceritakan sesuatu kepada Phieri, namun gadis itu ternyata telah tertidur lelap. Dan lagi, Nagisa takut bahwa teman sekamarnya itu tidak percaya dengan ucapannya, jadi pada akhirnya dia tak ingin lagi menceritakannya kepada Phieri.
*****
Keesokan harinya, Nagisa langsung menuju ke kediaman Azamuth untuk memberitahu Zephyr dan Raini tentang Lug. Tapi dia ingat bahwa Zephyr masih berada di perbatasan dan belum pulang.
__ADS_1
Karena Raini tidak ingin menjadi Ranker ataupun bergabung dengan militer, maka dirinya kini sedang berada di rumah.
"Raini," panggil Nagisa ketika melihat Raini sedang membersihkan meja di ruang tamu.
Gadis yang sedang bersih-bersih itu menoleh. "Lho ... Nagisa? Kau sudah kembali? Apa kau baik-baik saja?" tanya Raini senang yang langsung memeluk Nagisa.
"Iya, aku baik-baik saja," sahut Nagisa. "Dan lagi, aku punya kabar baik untukmu."
Raini langsung melepaskan pelukannya. Kini mereka berdua saling beradu tatapan.
"Baiklah, sekarang kau duduk dulu. Aku akan membuatkan minuman untukmu, kau mungkin haus," ujar Raini.
Nagisa mengangguk. "Wah, terima kasih."
Tak lama kemudian, Raini datang kembali membawa nampan yang terdapat dua gelas minuman di atasnya. Nagisa pun langsung meminumnya sedikit, dan ternyata rasanya sangatlah enak. Dia memuji minuman buatan Raini itu.
"Terima kasih," sahut Raini. "Memangnya kabar apa yang ingin kausampaikan padaku sampai kau terlihat begitu senang?"
Sebagai awalan, wajah Nagisa terlihat serius, dia menjadi sedikit sedih. "Sejujurnya, aku takut kau tidak akan percaya dengan kabar yang ingin kusampaikan ini," ujarnya.
Raini menggelengkan kepalanya. "Tidak tidak, aku akan percaya dengan kabar yang akan kausampaikan," sahutnya.
Nagisa mulai tersenyum. "Baiklah, ini mungkin sedikit sulit untuk dipercaya, tapi aku ... Di dataran Exter, telah bertemu dengan kakak Lug," terangnya.
"Sudah kuduga, pertanyaan itu akan muncul. Makanya itu, kupastikan kau untuk percaya dengan ucapanku, tapi kau tetap saja terkejut dengan apa yang kuceritakan barusan," ujar Nagisa yang sedikit kecewa.
"Nagisa ... Aku sebenarnya ingin sekali percaya padamu ... Oh, tunggu! Coba kauceritakan sedari awal kau tiba di dataran Exter, sebisa mungkin ceritanya cukup mendetail, oke?"
"Baiklah, aku akan ceritakan apa yang terjadi padaku selama berada di dataran Exter."
Setelah itu, Nagisa menceritakan semua yang ia alami di dataran Exter. Ketika ceritanya sampai di Dunia Kekacauan Arus Waktu, Raini sangat terkejut hingga hampir tidak percaya bahwa Nagisa telah mengarungi waktu hingga tak terhitung lamanya. Namun ketika menatapnya dengan cukup teliti, Raini menyadari adanya sesuatu.
"Nagisa, jika kau mengarungi waktu selama itu, kenapa wajahmu terlihat sedikit lebih muda?" tanyanya.
Nagisa malah bingung sendiri dengan pertanyaan itu. "Apa? Aku bertambah muda? Apa matamu itu menjadi rabun ketika aku pergi?" tanyanya balik.
"Tidak, Nagisa. Aku tidak berbohong," sahut Raini meyakinkan Nagisa. "Untuk apa aku berbohong padamu? Sedari kau datang ke sini, aku sebenarnya terkejut melihat wajahmu yang terlihat lebih muda- aku seperti sedang melihat Nagisa yang baru berkenalan denganku pada hari itu. Dan lagi, kau juga terlihat sedikit lebih pendek- ya, aku tahu, kau itu tinggi, tapi sepertinya tinggimu itu menurun. Apa mungkin dunia waktu itu mempengaruhi usiamu menjadi lebih muda?" jelas Raini.
Nagisa mulai memegang wajahnya dan memang terasa lebih halus. "Mungkin ... Itu mungkin saja," sahutnya.
"Nagisa, jujur saja- aku iri padamu, kau jadi lebih cantik, huhu- " papar Raini.
Nagisa langsung mengelus rambut sahabatnya yang menangis itu. "Ah, kau juga cantik, Raini. Kau bahkan terlihat sangat manis, oh iya, bisa aku kembali pada ceritanya?"
__ADS_1
"Hiks ... Iya, lanjutkan- aku penasaran dengan kelanjutannya," sahut Raini.
"Baiklah."
Nagisa kembali bercerita, dan Raini juga sudah mulai kembali antusias mendengarkannya meskipun matanya masih terus melihat kening, pipi, hingga bibir Nagisa. Raini masih saja merasa iri dengan Nagisa yang menjadi lebih muda.
Hingga ceritanya telah tiba pada kisah tentang Nagisa yang bertemu dengan Lug. Raini mulai ragu dengan ceritanya, namun mengingat kembali bahwa wajah Nagisa menjadi lebih muda, itu terasa sedikit masuk akal jika hal tersebut terjadi. Akan tetapi, benar apa yang dikatakan dengan Nagisa sebelumnya, cerita itu sangat sulit masuk di akal, sampai-sampai Raini bingung antara memilih percaya atau tidak. Dan cerita pun berakhir.
"Jadi kaubilang Lug berada di kerajaan Eternan?" tanya Raini.
Nagisa menjawab, "Iya. Katanya dia membuka sebuah restoran dan banyak usaha lainnya di kerajaan itu. Dan lagi- ini mungkin kabar buruk bagiku ... Umm- mungkin bagi kita berdua."
Raini bingung, tapi dia sudah bersiap untuk mendengar kabar buruk apa yang akan diceritakan oleh Nagisa. "Kabar buruk apa itu?" tanyanya.
Nagisa membuka mulutnya, tapi suaranya hampir tidak keluar. "A ... I-itu ... Jadi- ternyata di kerajaan Eternan, kakak Lug mempunyai identitas baru, dia ingin membohongiku, padahal aku sudah tahu kebenarannya, tentang apa yang dia lakukan di sana, usaha apa saja yang dilakukan oleh kakak Lug, aku tahu semuanya. Dan pada suatu saat, aku melihat ... Kakak Lug melamar seorang gadis dari sebuah keluarga ternama, keluarga Claudia," ungkapnya.
Raini mulai percaya dengan semua yang diceritakan oleh Nagisa. Dia membatin, Ceritanya sangat mendetail dan Nagisa juga mungkin tidak sedang berbohong. Tapi- Lug melamar gadis di sana? Kenapa hatiku terasa sakit? Mulai dari sini- mungkin aku percaya dengan semua cerita ini.
"Kau pasti sedang bertanya-tanya di dalam hati ... Aku tahu itu, dan lagi- kakak Lug sudah bertunangan. Gadis itu bernama ... Alice Claudia," ungkap Nagisa lagi.
Raini menoleh padanya. "Tunggu, apa mungkin insiden tentang pengungkapan para pemuja dewa iblis yang berada di kota Pertus dulu ada hubungannya dengan Lug?"
Nagisa mengangguk dan menjawab, "Iya ... Aku tidak tahu detailnya, yang pasti pada saat itu kakak Lug lah yang mengungkap seluruh pemuja dewa iblis di kota Pertus waktu itu. Dia juga sepertinya adalah dalang di balik insiden itu, sehingga semua pemuja dewa iblis telah disingkirkan. Dia juga menyelamatkan seluruh budak yang akan dijadikan bahan persembahan bagi dewa iblis. Mereka yang tak mempunyai keluarga memilih untuk bersama dengan kakak Lug untuk mengungkap pemuja dewa iblis lainnya, dan pada akhirnya mereka dijadikan sebagai pembunuh bayaran. Namun kehidupan mereka terjamin sampai ada yang berhasil menjadi Ranker Perak. Beberapa dipekerjakan olehnya di restorannya, dan aku mengenal salah seorang pelayan sekaligus koki penggantinya, dia bernama Johan."
"Wow, luar biasa," Raini memuji.
"Oh iya, mungkin ini yang tidak ingin kakak Lug beritahukan kepadaku. Aku ingin kau merahasiakannya baik-baik," ujar Nagisa.
Raini mengangguk, dia menelan ludah dan semakin antusias.
"Dia lah pemilik dari dari restoran terkenal bernama Vlamera," ugkap Nagisa.
Raini terkejut lagi. "Tunggu, Vlamera?! Restoran terkenal dari kota Pertus yang ada di kerajaan Eternan itu?!" tanyanya tidak percaya.
"Ya, dialah pemiliknya. Dan gadis yang bernama Alice itu selalu mengunjunginya dan menggodanya berkali-kali, aku sangat iri dengannya. Tapi aku memutuskan untuk segera kembali," jawab Nagisa.
Raini awalnya berusaha untuk tidak memperdulikan tentang gadis yang berusaha menggoda Lug, tapi semakin dia berusaha untuk tidak peduli, semakin besar juga api cemburunya berkobar. Wajahnya kini mulai merah merona.
Eh?!
"Nagisa, bukannya pemilik restoran Vlamera itu bernama Nio Vlamera?!" Raini menyadarinya.
Nagisa mengangguk dan menuding wajah gadis itu. "Tepat sekali, dialah kakak Lug yang sedang menyamar," sahutnya.
__ADS_1
Bersambung!!