Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 43 - Berlatih Tanding


__ADS_3

"HACHIU! HACHIU!"


Seharian itu Lug bersin-bersin, Toni mengatakan bahwa anak itu sedang masuk angin. Tetapi Lug bersikeras bahwa dirinya baik-baik saja.


Mungkin ada yang sedang membicarakanku sementara aku tidak tahu? batin Lug.


Keesokan harinya, Lug berjalan-jalan dengan Nagisa ke taman. Dan ternyata mereka berdua malah bertemu dengan Zephyr dan Raini lagi. Sementara gadis yang bersama temannya Lug itu sudah tidak lagi memandanginya dengan sinis, justru ia tersenyum dengan raut wajah yang ramah–wajahnya terlihat karena tidak sedang mengenakan cadarnya.


Zephyr menyapa, "Hai, Lug."


"Hai juga, Zephyr," Lug membalas. Dia langsung melirik gadis di belakang temannya itu. "Wah wah, sepertinya ada yang sedang bahagia di hari ini," sindirnya.


Raini menyeringai seraya melemparkan pandangannya ke samping dan menggembungkan pipinya. "Memangnya kau peduli apa?!" serunya.


"Haha, kau terlihat lucu," kata Lug tertawa.


Nagisa cemberut melihatnya. Dia pun menarik lengannya Lug dan membawanya menjauh dari Zephyr dan Raini.


Lug menoleh ke belakang. "S-sampai jumpa," ucapnya.


Raini hanya bisa memandanginya dari jauh, dia masih tersenyum dengan wajah yang ramah. Tetapi Zephyr seperti tahu apa yang ada jauh di dalam lubuk hati sepupunya itu. "Kau bisa bertemu dengannya lain waktu, jadi nanti jangan bersedih," ujarnya.


"Iih ... S-siapa yang sedih? Justru aku tersenyum, lihat ini!" seru Raini.


Zephyr hanya tertawa, dia tahu bahwa Lug sudah menumbuhkan benih cinta di dalam hatinya Raini. Itu karena Zephyr tahu Nagisa suka dengan Lug dengan cara yang tidak jauh berbeda.


Sementara itu, Lug tertawa melihat Nagisa yang cemburu. "Kau cemburu, kan?" sindirnya.


"Hmph," Nagisa memalingkan wajahnya. "Kau menyebalkan!"


Lagi-lagi Lug tertawa, alih-alih bersimpati dia justru merasa nyaman dengan wajah imut adiknya itu yang sedang marah. "Aku suka melihatmu cemberut seperti itu, wajahmu jadi lebih cantik dan imut," ungkapnya.


Nagisa menoleh, "Benarkah?" Ia menggandeng tangan Lug dengan sangat erat.


"Ya, tapi melihatmu senang seperti ini juga cukup menggemaskan, aku ingin sekali mencubit pipimu."


"Cubit saja,"


Lantas Lug mencubit hidung Nagisa dengan sangat kasar dan keras. Gadis itu mengaduh kesakitan hingga akhirnya hidungnya terbebas, tapi warnanya malah berubah menjadi merah padam. "Kakak, itu sakit!" tegurnya.


Lug tertawa lagi dan pergi menjauh karena tahu bahwa ia juga akan dicubit. "Tidak kena, wlee ... "


Setelah itu, mereka bertingkah seolah dunia itu milik mereka berdua saja, sementara yang lainnya itu hanya pajangan yang disiapkan untuk dekorasi tambahan dunia ini, haha.


Beberapa saat kemudian, bertemu lagi dengan Zephyr. Tapi temannya itu sengaja ingin bertemu dengannya.


"Lug, aku ingin mencoba sihirku nanti, apa kau mau jadi teman latihanku?" tanya Zephyr berharap.


Lug mengangguk. "Oke, baiklah, sekalian aku juga teringin melihat latihan Nagisa lagi karena sepertinya sudah lama aku tidak melihatnya berlatih," ujarnya.


Dengan wajah tersindir, Nagisa berkata, "Tentu saja aku masih berlatih, nanti kau bisa lihat sendiri."


"Haha, coba kulihat nanti."


Setelah itu, mereka semua pergi menuju ke rumah Zephyr. Tapi sebelum menuju ke rumahnya itu, Zephyr mengajak teman-temannya ke sebuah restoran yang cukup mewah. Di pintu kacanya saja terdapat taman dengan rumput yang halus dan pilar batu tingginya se-regrit. Pilar tersebut di atasnya terdapat patung seseorang yang membawa gentong dan mengalir air dari dalamnya keluar serta membanjiri kolam yang ada di atas pilar tersebut. Tapi kolam tersebut tidak bisa penuh.


Di dalamnya mereka semua melihat sangat banyak pengunjung yang sedang makan dengan pasangannya. Tapi orang-orang itu mengenakan pakaian yang sangat mewah dan terlihat sangat mahal meski coraknya tidak terlalu mencolok.


Restoran seperti ini mungkin harga makanannya seratus kali lebih mahal dari daging yang dijual oleh Teressa, batin Lug.


Mereka semua pun makan sesuai apa yang dipesankan oleh Zephyr karena Lug dan Nagisa bingung hendak memilih makanan apa.


Setelah makanannya datang, mereka semua memakannya dengan lahap. Tapi Lug merasa ada sesuatu yang mengganjalnya. Dan ternyata dia melihat seorang Lancer dari keluarga Laurent, David Lorenzo.


David berasal dari keluarga Lorenzo, tapi keluarganya memiliki relasi dengan keluarga Laurent. Sekarang dia sedang tidak menggunakan pakaian Lancer miliknya.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka semua segera menuju ke rumahnya Zephyr. Dan tak disangka, David mengetahui adanya Lug di antara mereka. Jelas saja itu menimbulkan kecurigaan pada David. Keluarga Azamuth, ya? Hmm ... Mungkin ini sedikit masuk akal, batinnya.


Lug tahu bahwa keberadaan David yang mengikutinya. Tapi itu sudah terlambat, dia tahu bahwa Lancer itu sudah mencurigai keluarga temannya itu, Azamuth.


Lalu Lug dan Zephyr segera menuju ke halaman belakangnya.

__ADS_1


"Kalian bisa sedikit menjauh!" suruh Lug.


"Oh iya, Raini, aktifkan formasinya!" Zephyr juga menyuruh.


"Baiklah," sahut Raini.


Segera gadis itu menuju ke kamar batu dan tiba-tiba saja halaman belakang itu dilingkari oleh pembatas berwarna biru transparan. Pembatas itu bahkan melindungi tanah yang dipijaki oleh Lug dan Zephyr sehingga tidak akan ada kerusakan apapun.


Lug kagum dengan formasinya sihirnya. "Wow, keluargamu itu lumayan juga, ya? Bisa membuat formasi sihir kompleks seperti ini sudah cukup bagus, lho," pujinya.


"Terima kasih," sahut Zephyr.


Setelah itu mereka bertarung sekuat tenaga. Dan Lug baru sadar bahwa selama ini Zephyr selalu menggunakan sihir bawaannya, yaitu kekuatan dari berkah yang didapatnya itu, namanya adalah Cahaya Kosmik. Beberapa sihir yang digunakannya pada saat seleksi dulunya memang sihir yang dikuasainya seperti sihir empat lingkaran miliknya yang belum disebutkan namanya.


Zephyr dapat bertahan lebih lama di pertarungannya. Dia bertarung dengan Lug dengan kesadaran penuhnya dan tidak dipengaruhi oleh kutukannya lagi.


"Bagus, Zephyr. Lanjutkan yang seperti itu!" seru Lug yang sedang mengelak dari serangan Zephyr.


Zephyr berkata, "Aku sekarang jauh lebih leluasa dalam menggunakan sihir."


"Heh, aku belum seserius seperti yang sebelumnya, lho-"


"Apa iya?"


"Lihat saja!"


Zephyr langsung menggunakan berkahnya untuk menutupi tubuhnya dari berbagai sihir. Namun sihir yang keluar dari tangannya, kekuatannya akan sedikit berkurang karena berkahnya disebar-luaskan ke seluruh tubuhnya. Zephyr pun menyerang Lug dengan kekuatan penuhnya, menembakkan proyektil cahaya secara beruntun yang apabila mengenai benda, maka ia akan meledak. Ledakannya setara dengan sihir empat lingkaran yang dapat menghancurkan sebuah bangunan.


Tetapi Lug sama sekali tidak menghindar dari sihir tersebut. Dia menggunakan sihir Anomali Distorsi untuk menghalau seluruh serangan dari Zephyr. Alhasil, semua serangannya meledak ketika berada dalam jangkauan sihir Anomali Distorsi. Tetapi sihir tersebut juga tak dapat bertahan lama karena telah menerima banyak kerusakan dari banyaknya ledakan barusan.


Dirasa serangan jarak jauhnya tak ada yang mempan, Zephyr maju dengan sihir penguatannya. Dia lebih percaya diri dalam segi fisik meski tahu bahwa lawannya punya kecepatan yang berkali-kali lebih cepat darinya.


Seperti apa yang ditakutkan, Lug melakukan pergerakan yang diluar nalar. Mata Zephyr saja tidak bisa mengikutinya.


Ketika hendak mendekat, Lug sudah berhasil menghindar lantas menyerang dengan sihir Lengan Bayangannya. Tetapi Zephyr dapat menangkisnya dengan baik.


"Ingat ini, Zephyr!" tutur Lug. "Aku akan sedikit serius sekarang, jadi kau juga serius mulai sekarang."


Zephyr tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan oleh temannya itu. Bagaimana tidak? Di mata orang lain, pasti mereka mengira bahwa Lug sudah serius sejak pertarungan dimulai. Tapi dia mengatakan bahwa sekarang dia menjadi sedikit lebih serius.


Lug pun menggunakan sihir Transformasi Naga Selestial pada kedua lengannya. Sihir tersebut tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun sebelumnya, tapi sekarang Zephyr, Nagisa, Dan Raini melihatnya dengan jelas. "Tidak mungkin!" seru mereka bertiga.


Mau bagaimanapun juga sihir transformasi memang bukan sihir yang langka, tapi sangat sulit untuk dikuasai dan membutuhkan pengorbanan yang besar.


"Aku datang, Zephyr!" ucap Lug seraya melesat ke arah Zephyr.


Tapi Zaphyr tidak berdiam diri saja. Ia langsung memanipulasi sihirnya dengan membuat seluruh berkahnya kembali terkumpul pada kedua lengannya dan bentuknya memanifestasikan wujud naga biru.


Zephyr pun juga melesat agar memaksimalkan serangannya. Dan ketika kedua pukulan itu saling berbenturan-


DUAAARRR


Ledakan yang sangat besar pun terjadi. Membuat area di sekitarnya tertimbun oleh asap dan debu. Bahkan pembatasnya hampir saja runtuh pada saat itu juga.


Lalu Zephyr menyatakan bahwa dirinya telah kalah setelah terpental jauh hingga menembus pembatasnya. Lug merasa senang bahwa temannya itu tidak mengalami luka yang parah akibat serangan darinya itu.


Dan ternyata, semua itu disaksikan oleh Antonio Azamuth. Dia datang di saat Lug memperlihatkan sihir transformasi miliknya. Benar-benar tak terduga sekali, batinnya.


Meski begitu, Lug tahu bahwa kepala keluarga Azamuth sedang menyaksikan kekuatannya. Tapi dia sama sekali tidak merasa keberatan jika sihir transformasinya itu terlihat olehnya.


"Lug, itu luar biasa!" puji Antonio, lantas matanya melirik ke arah Zephyr. "Perkembangan yang bagus, nak- aku bangga padamu."


Orang tua itu segera mendekati anaknya dan membantunya berdiri. Ketika Zephyr bangun, tangan kanannya masih terasa sakit dan hampir mati rasa, namun dia merasa bahwa yang dialaminya sekarang ini tidaklah terlalu buruk.


"Zephyr, aku yakin kau bisa lebih baik dari yang barusan tadi. Kuharap kau dapat mewujudkan ekspektasiku," pinta Lug berharap.


Zephyr tersenyum. "Baiklah, akan kucoba dan terus berlatih setiap harinya," sahutnya.


"Bagus."


Tanpa diduga sama sekali, Raini masih sangat kagum dengan apa yang terjadi barusan. Matanya masih terkunci menatap lengan Lug meski sudah kembali menjadi tangan biasa. Mulutnya bahkan sampai melongo tanpa ia sadari.

__ADS_1


Nagisa tidak menyadari bahwa kakak yang disukainya itu ternyata sedang dipandangi oleh wanita lain dengan tatapan penuh kekaguman.


"Kakak, kau hebat sekali. Kapan kau melatih sihir itu?" tanya Nagisa yang juga masih terkagum-kagum dengan Lug.


Lug menjawab, "Pertama kali kita bertemu."


Nagisa bingung sesaat, tapi dia benar-benar tak menyangka bahwa sihir yang dilakukan oleh kakaknya itu benar-benar dahsyat. "Kau membuat teka-teki di otakku," ujarnya.


"Kau tidur pada saat itu."


"Benarkah? Pantas saja aku tidak melihatmu melatih sihir itu- tunggu, seharusnya kau melatih sihirnya setiap hari, kenapa hanya ada pada malam itu saja?"


Nagisa malah semakin bingung. Raini tidak memperhatikan tanya jawab antara Lug dan adiknya itu, tapi dia masih tak henti-hentinya menatap tangan lelaki yang dikaguminya itu.


Antonio pun menjelaskan, "Itu karena sihir tipe transformasi itu adalah sihir yang latihannya bisa menjadi paling singkat di antara sihir lainnya dan bisa menjadi paling lambat di antara sihir lainnya. Bagaimana tidak? Sihir transformasi membutuhkan pengorbanan dengan mengelupas seluruh kulit yang ada pada tubuh, lantas kulitnya akan direkonstruksi ulang oleh mana yang telah terintegrasi dengan sihir transformasi yang sedang dipelajari."


Nagisa terperangah mendengarnya. "Berarti kakak mengelupas seluruh kulit di tubuhmu?!" tanyanya memastikan.


Lug mengangguk. "Ketika itu aku membutuhkan sesuatu dan tanpa sengaja aku malah terkena sebuah ledakan yang membakar seluruh kulitku, tidak terkecuali di bagian manapun, itu benar-benar menyakitkan dan aku juga hampir mati pada saat itu," jawabnya.


Dan pada saat itu juga, Nagisa mulai teringat dengan suatu momen yang memalukan. Dia tersenyum dengan wajah jahat. Lug bahkan sampai menelan ludah ketika melihatnya. "Apa jangan-jangan pada saat kau memintaku untuk membawakan baj- emmm ... "


Lug segera menutup mulut Nagisa karena dia tahu apa yang akan gadis itu katakan. "Lupakan apa yang gadis bodoh ini akan katakan."


Zephyr tiba-tiba saja menyeringai dengan tatapan wajah cabul. "Hoho, sepertinya aku paham arah pembicaraan ini," godanya.


"Diam kau!"


Antonio dan Zephyr pun tertawa bersamaan, dan bahkan baru sekarang Raini tidak memandangi lengan Lug lagi.


Raini tiba-tiba bertanya, "Lug, apa sihir itu termasuk sihir empat lingkaran?"


Lug menoleh pada gadis itu. "Iya, memangnya kenapa?"


Tatapan dan wajah Raini menjadi berseri-seri. "Itu keren," pujinya.


"O-oh? Y-ya, terima kasih."


Gadis itu mendehem dan mengangguk.


Seketika itu juga membuat Nagisa menjadi cemburu lagi. Seperti biasa jika Lug sedang berinteraksi dengan Raini, seolah-olah ada sebuah api yang membara di hatinya Nagisa. Sehingga gadis itu selalu bersikap over-protektif terhadap Lug. Dia segera memeluk tangan kirinya Lug dan berkata, "Kau bisa latihan sendiri!"


Raini tidak membalas ucapannya, namun ia tersenyum. Namun di dalam lubuk hatinya dia sedang merasa sakit dan menangis tersedu-sedu.


Zephyr dapat membayangkan apa yang sedang Raini rasakan.


Begitupun dengan Lug. "Nagisa, kau jangan begitu. Jaga ucapanmu, oke?"


Nagisa menurut, tatapannya menjadi rendah dan muncul kesedihan di ujung bibirnya. "Baiklah," jawabnya. Di dalam hatinya, ia bergumam, mungkin kakak lebih membela gadis itu dibandingkan aku? Ah, rasa-rasanya aku semakin berprasangka buruk terhadap kakak Lug–mungkin kakak ada benarnya juga, tak seharusnya aku bersikap seperti itu.


Lug memahami perasaan Nagisa. "Ya sudah, mari kita pulang," ajaknya.


Raini segera menghentikannya, "Tunggu!"


Lug dan Nagisa menoleh kepadanya.


"Ada apa?" tanya Lug.


Raini ragu-ragu ketika hendak menjawab, mulutnya sudah terbuka tapi suaranya tidak kunjung keluar.


"Bicaralah, kauingin apa?"


Raini pun mulai mengeluarkan suaranya, "B-bisa kau bantu- aku? Aku merasa ... Ada sesuatu yang membuatku- sedikit kesulitan dalam berlatih dengan metode yang kau tulis."


"Oh," Lug tersenyum. "Jadi kau sudah sedikit lebih mempercayaiku, ya?"


"Hmph!"


Seperti biasa, Raini masih enggan mengakui bahwa Lug bukanlah seseorang yang baik dan seperti apa yang baru saja ia kagumi. Dia hanya keras kepala dan menetap pada gengsinya. "Di mataku, kau tetap masih menjadi orang yang cabul," katanya.


Zephyr tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya, namun Nagisa tersenyum dengan wajah lesu. Dia masih terus memikirkan ucapan Lug barusan.

__ADS_1


Dan mereka berdua pun menetap sejenak di kediaman Azamuth untuk hari ini.


Bersambung!!


__ADS_2