Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 23 - Rencana Nio


__ADS_3

Nio telah sampai di kota Pertus dan dirinya bersama dengan rekan-rekannya itu masuk ke dalam restorannya. Sebenarnya mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk melewati Hutan Belerang. Perjalanan mereka masuk ke dalam kota sangatlah aman, mereka tiba di restoran tepat pada tengah malam. Di depan halaman restorannya Nio, semua orang mulai berpencar, kecuali Nio itu sendiri dan Romeo.


"Romeo, aku ingin nantinya kau memiliki bisnismu sendiri. Mereka yang menyandang nama Vlamera harus memiliki latar belakang yang kuat dari segi ekonomi," ujar Nio.


Romeo mengangguk mengerti. "Nio, sepertinya aku pernah mendengar nama restoranmu ini," paparnya.


Nio terkejut mendengarnya. "Benarkah?"


"Ya, di ingatan Peter dan Petro, restoranmu ini sangatlah terkenal. Mereka tahu bahwa di restoran ini menyembunyikan kekuatan yang besar, maka dari itu beberapa petinggi pada asosiasi Ranker kerajaan Tigerion tidak menyukainya, mereka selalu mencari informasi tentang restoran Vlamera ini," jelas Romeo.


Nio tersenyum. "Itu sudah pasti, aku tidak heran ataupun terkejut mendengarnya. Tapi yang kukhawatirkan, mungkin ada mata-mata yang mengenalmu, lalu melaporkannya. Ini akan menjadi masalah yang sangat merepotkan."


"Kau benar."


*****


Keesokan harinya, semua orang tahu bahwa Nio dan yang lainnya telah kembali satu persatu dimulai dari Nio sendiri yang sudah mulai memasak dan mengunjungi Alice.


Tepat di Minggu depannya, Nio mengundang semua anggota Vlamera, kecuali Romeo.


Romeo sendiri kini sedang menjaga bar milik Cleo.


Di pertemuan, mereka semua membahas tentang latar belakang anggota Vlamera terbaru.


"Bagaimana kalau Romeo memasuki kemiliteran di kota Pertus ini?" tanya Cleo.


Nio menjawab, "Kemiliteran adalah dunia yang terlalu luas, dia pasti dengan cepat memiliki komunitasnya sendiri, yang berarti kekuatannya bisa bertambah besar. Aku masih belum percaya sepenuhnya dengan si Romeo itu."


Vernando mengangguk setuju. "Sekalipun aku membantu, mungkin hanya dua anggotaku saja yang akan kukerahkan untuk membantunya," ujarnya menimpali.


Lantas mereka memikirkan hal yang lain.


Tak lama setelah itu, Nio terpikir sebuah pekerjaan yang sangat menarik untuk Romeo. "Bagaimana jika kita pekerjakan Romeo di sebuah kuil?"


Semua yang ada di sana terkejut mendengarnya.


"Lho lho- bukannya kau tidak suka dengan para pemuja dewa itu?" tanya Leonardo.


"Iya, Leo ada benarnya juga," Cleo menimpali.


Nio tersenyum mendengar yang lainnya bingung dengan pendapatnya. "Kita bukannya tidak pernah mengirim seseorang masuk ke dalam kuil para dewa itu. Aku ingin memasukkan Romeo ke dalamnya agar kita bisa semakin mudah menguasai kuil itu. Cleo, aku juga ingin kau mengontrolnya, jangan sampai lepas," jelasnya.


Cleo mengangguk. "Jadi begitu, ya? Baiklah, sesuai permintaan," sahutnya.

__ADS_1


Dan memang benar bahwa mereka pernah beberapa kali memasukkan anggotanya Vernando ke dalam kuil di kota Pertus. Bahkan Johan yang bekerja di restorannya Nio juga pernah bekerja menjadi seorang pendeta di kuil tersebut, dia bukan bekerja sebagai Johan, melainkan identitas lain. Dikabarkan bahwa ada pemuja iblis di kuil tersebut yang membuat identitasnya Johan yang lain itu mati.


"Tapi bagaimana dengan pemuja dewa iblis yang ada di sana?" tanya Leonardo.


Nio menjawab, "Jangan usik mereka terlebih dahulu- selagi mereka tidak berulah, kita diam saja dulu."


"Benar," Cleo menimpali. "Romeo bisa dengan mudah mengawasi mereka."


"Justru itu yang paling kucemaskan," tiba-tiba saja Vernando ikut berbicara. "Bisa saja anak baru itu bekerja sama dengan pemuja dewa iblis yang bersembunyi di kuil itu. Kita masih belum bisa mempercayai bocah baru itu."


"Aku juga berpikiran sama," ucap Nio.


Namun pada akhirnya, semuanya sepakat bahwa Romeo akan ditempatkan di kuil. Cleo sebenarnya juga belum terlalu mempercayai Romeo, hanya saja dia tahu bahwa dirinya disukai oleh lelaki itu.


Nio dengan segera menemui Romeo bersama dengan Cleo di barnya itu, sementara Vernando dan Leonardo akan mengurus di bagian kuilnya.


Setelah bertemu dengan Romeo, mereka berbincang di ruangan pribadinya Cleo hingga cukup lama untuk meyakinkannya. Sebenarnya cukup mudah untuk meyakinkan pria itu, namun ada kalanya dia tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan, Romeo malah memperhatikan wajahnya Cleo yang malu diperhatikan secara terus menerus.


"Bagaimana, Romeo? Apa kau mau?" tanya Nio


Romeo sempat diam dan berpikir sejenak memikirkan tawaran dari Nio. "Kenapa aku tidak bisa bekerja di bar ini saja? Aku ingin bersama dengan Cleo sepanjang waktu," ujarnya.


Nio menepuk jidatnya. "Kau memerlukan layar belakang yang kuat, tidak bisa hanya bekerja sebagai pekerja bersih-bersih di bar ini. Sebagai penyandang nama Vlamera, kau harus memiliki latar belakang yang kuat."


"Baiklah, aku akan bekerja di kuil itu sebagai pendeta. Tapi apa aku masih bisa bertemu dengan Cleo?" tanya Romeo.


Nio menjawab, "Tidak bisa secara langsung. Kalian mungkin harus bisa bertemu secara diam-diam."


"Yaaah ... " Romeo mengeluh kesal.


Demi menyemangatinya, Cleo meremas kedua telapak tangan Romeo dan berkata, "Aku bisa mengunjungimu tiap tengah malam. Mungkin saja ... Hubungan kita nantinya bisa sampai ke tahap yang mungkin- sangat kau ... Inginkan itu."


Awalnya Romeo tersenyum mendengar hal tersebut, tetapi akhirnya dia berpikir yang lebih rasional. "Jika bertemu saja harus diam-diam, bagaimana caraku menikahi Cleo?" tanyanya.


Lantas Nio menatap mata Romeo dengan sangat tajam. Ekspresinya berubah drastis dan menjadi sangat dingin. Seluruh ruangan itu ditutupi oleh sihir hitam yang membuat ruangannya menjadi sedikit lebih gelap. "Romeo," panggil Nio. "Dengarkan rencana ini!"


Romeo menelan ludah, dia tahu bahwa akan mendengarkan rahasia besar.


"Kami mempunyai rencana untuk menghancurkan kuil itu beserta orang-orang yang ada di dalamnya. Setelah kita menghancurkan kuilnya, kau akan ditetapkan mati oleh semua orang," jelas Nio.


Romeo sedikit terkejut mendengarnya, sementara Nio membiarkannya untuk mencerna rencana yang baru disebutnya itu.


"Kenapa aku bisa ditetapkan mati?" tanya Romeo.

__ADS_1


"Karena di dalam kuil itu, ada pemuja dewa iblis yang sangat kuat. Sebenarnya kami tidak ingin menimbulkan keributan, tapi rencana kami yang lain juga adalah membuat kuil itu runtuh. Selain itu, kita semua berencana untuk meninggalkan kota ini setelah kehancuran kuil," jelas Nio lagi.


"Lho? Pergi dari kota ini? Kenapa?" tanya Romeo lagi.


Nio menggeleng dan menjawab, "Aku belum bisa menjawabnya. Sampai kuil itu hancur, akan kujelaskan semua rencananya."


Romeo mengangguk mengerti. "Baiklah."


Lantas lelaki itu pergi bersama dengan Nio menuju ke kuil yang dimaksud barusan. Cleo tidak ikut karena dirinya sudah berada di barnya itu, pastinya banyak orang yang mungkin mencarinya jika menghilang lagi.


Sesampainya di kuil, Romeo langsung ditetapkan sebagai pendeta dengan identitas baru, yakni bernama Theo Alvarus. Dirinya ditetapkan sebagai pendatang baru, atau lebih tepatnya sebagai paroki. Semua urusannya menjadi sangat mudah dikarenakan ada setidaknya lima orang yang mana itu adalah anggotanya Vernando yang dipekerjakan di dalam kuil.


Sekarang Romeo resmi ditetapkan sebagai pendeta baru.


Tepat sehari setelah perihal tersebut diresmikan, banyak orang yang terkejut mendengarnya. Hal itu menjadi pembicaraan banyak orang karena sangat langka ada seorang paroki yang ditetapkan sebagai pendeta baru.


Namun silih berganti hari, mereka sudah tak membicarakannya lagi. Komunikasi dan topik harian benar-benar dikontrol oleh Nio dan Cleo. Mereka berdua benar-benar sangat berpengaruh di kota Pertus.


Kini Nio sedang berada di ruangan pribadinya, Alice juga ada di sana. Mereka membicarakan tentang penyakit yang diderita Nio selama berhari-hari. Lelaki itu juga mengatakan bahwa dirinya masih sering mengalami sakit kepala. Beberapa hari ini, Johan lah yang mengurus semua urusan restoran–bahkan seringkali mengajukan beberapa renovasi pada hiasan yang ada di halaman depan.


"Nio ... Tolong perhatikan aku, dong!" pinta Alice merengek. Ia memasang wajah cemberut dan menggemaskan di hadapan tunangannya itu.


Kini Nio sedang duduk di kursi putarnya. Awalnya ia menatap Alice dengan tatapan datar, tak lama sudut bibirnya naik. Wajahnya menjadi ramah dengan senyuman hangatnya. Nio pun berdiri dan berjalan menuju ke tunangannya itu yang duduk di sofa panjang yang empuk.


Alice terkejut melihatnya. "Nio? Senyumanmu ... Aaaahhhh! Itu sangat menggemaskan!"


Tepat ketika Nio duduk di sampingnya, Alice langsung mencubit pipi lelaki itu. Dia bahkan memainkan pipinya itu seperti sebuah boneka.


"Alice! Sakiiiiit ... " ucap Nio kesakitan.


Alice malah menertawakannya. "Uluh uluh ... Salah siapa kau tersenyum semenggemaskan itu? Aku jadi pengen mencubitnya lagi," sahutnya.


Setelah itu, Nio meletakkan kepalanya di atas pahanya di Alice. Gadis itu terkejut melihatnya.


"N-Nio?"


Wajah Alice memerah sampai-sampai seperti mengeluarkan asap dari rambutnya. Awalnya gadis itu mendesah karena pahanya terasa geli terkena rambutnya Nio. Tapi pada akhirnya, ia memberanikan diri untuk mengusap rambutnya tunangannya itu dengan lembut.


"Nah, tunangan yang baik itu seperti ini," ucap Nio menggoda.


"Hmph!" Alice memalingkan wajahnya, namun tangannya masih mengelus kepalanya Nio. "Diam- j-jangan menggoda aku lagi!" serunya.


Dan lelaki yang berada di pangkuannya itu menertawakannya. Lagi-lagi senyumannya itu membuat Alice terpesona.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2