Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 50 - Zwachievior (2)


__ADS_3

Ada tiga lagi Ranker yang baru saja sampai, dan salah satunya berasal dari keluarga Welminson, yakni Franklyn Welminson. Mereka menyaksikan Lug dan yang lainnya sedang mati-matian melawan Monster Mistik yang sangat besar. Tiga Ranker tambahan itu adalah Ranker Langit Merah.


"Mereka adalah anak-anak yang tidak takut mati," jawab Wina.


Ada satu Ranker wanita lagi yang mengenakan pakaian serba tertutup selayaknya pembunuh bayangan. Mengenakan masker yang menutupi wajahnya, tudung kepala ketat, dan seluruh pakaiannya tertutup bahkan ia mengenakan sarung tangan untuk menutupi telapak tangannya, hanya menyisakan sepasang matanya yang dapat dilihat. Dia tak pernah dipanggil dengan nama aslinya, hanya dengan sebutannya saja ia dipanggil, yakni Bayangan Kilat.


"Apa yang mereka lakukan dengan melawan makhluk besar itu?" tanya Bayangan Kilat penasaran.


Wina menghembuskan nafas panjang. "Kami tidak tahu pasti dengan alasannya, tapi yang pasti ada anak lelaki yang berkata bahwa dunia ini akan hancur tak lama lagi. Mereka punya urusan penting yang menyangkut hal tersebut dengan datang ke dunia iblis. Aku masih tidak mengerti," jawabnya.


"Biarkan saja!" seru Franklyn.


"Yap, aku setuju denganmu, Frank ... Biarkan saja mereka mati karena datang ke dunia ini," ucap salah seorang Ranker dengan nada senang. Tubuhnya lebih sama dengan tubuh Axlon, rambutnya berwarna merah panjang dengan sisiran rapi ke kiri, dan ia mengenakan satu set armornya dari zirah di badan hingga kakinya, namun tak ada pelindung kepala. Terdapat benda berbentuk lingkaran di belakang punggungnya, di tengahnya terdapat tengkorak besar dengan warna gelap yang pada bagian matanya terdapat api yang menyala-nyala. Dia bernama Kevin Clover, berasal dari keluarga Clover, dia adalah anak dari seorang Archduke di kerajaan Tengen.


Axlon tiba-tiba membuka mulutnya, "Tidak! Menurutku dia tidak akan mati."


Ucapannya itu membuat Franklyn, Bayangan Kilat, dan Kevin tersentak.


"Kau yang benar saja?!" seru Kevin tidak percaya. "Kata Wina mereka masih anak-anak, bagaimana cara mereka menghentikan makhluk sebesar itu?!"


Keempat Ranker Langit Hitam itu terdiam, mereka menunduk mengingat kejadian di mana sihirnya Axlon meleleh ketika disentuh oleh Lug, Wina yang sekujur tubuhnya memanas ketika mendekati Lug, dan Maxleen yang tak dapat berkutik ketika melihat aura milik Lug.


Maxleen menjawab dengan nada pelan, "Aku tak berkutik kala itu."


Kevin tertegun mendengarnya, dia langsung berjalan mendekati bangsawan tertinggi keluarga Tigerion itu, lantas mencengkeram erat kerahnya. "Ucapkan itu sekali lagi?! AKU BELUM DENGAR!!! KAU TADI BERKATA APA?!!!" serunya dengan lantang. Mata Kevin sampai terbuka lebar dengan ekspresi marah yang menyala-nyala.


Maxleen menjawab lagi dengan nada yang lebih keras, "Aku tak berkutik kala itu!"


Kevin sampai meringis kesal mendengarnya, lantas mendorong Maxleen hingga melangkah mundur. "Cih, lemah!" cercanya.


Wina tak terima dengan hinaan tersebut. "Dia bahkan lebih kuat daripada kita semua yang ada di sini! Hanya satu dari mereka saja sudah seperti itu, bagaimana dengan yang lainnya?!" serunya dengan nada tinggi, dia marah dengan tindakan Kevin yang tiba-tiba saja mendorong Maxleen.


"Sudahlah, Wina- mereka tidak akan tahu kalau tidak melihatnya sendiri," ujar Axlon dengan suara pelan untuk menenangkan kekasihnya itu.


"Tidak," ucap Franklyn sembari menyulut satu batang rokok lagi. Lantas menghisapnya dan menghembuskan asapnya, matanya tertuju pada Monster Mistik besar yang ada jauh di depannya. "Aku percaya dengan ucapan Maxleen."


Lagi-lagi Kevin dibuat emosi. "Kau percaya dengan bualan mereka tentang anak kecil yang bisa membuat Maxleen tak berkutik itu?! Apa kau itu bodoh, Frank?!" serunya lagi dengan nada lantang, ekspresinya makin tidak karuan karena terus terusan emosi.


"Kevin, apa kau tadi tidak melihat lingkaran sihir raksasa yang mengeluarkan meteor besar? Jika itu adalah sihir dari monster besar itu, tak mungkin sihirnya digunakan untuk menghantam dirinya sendiri. Pikirkan itu lebih logis, Maxleen dan yang lainnya tidak berkata ada orang lain yang menyusup lagi, jadi itu perbuatan siapa lagi jika bukan anak-anak itu?" jelas Franklyn yang kemudian menghirup rokoknya lagi.


Lalu Kevin terdiam, namun ekspresinya masih mengatakan bahwa dirinya tidak terima untuk kalah berdebat.


"Lagipula jika ucapan anak itu benar, kita juga tidak rugi. Yang artinya anak itu telah menyelamatkan umat manusia," lanjut Franklyn dengan senyuman jahat.


Kali ini, semua Ranker Langit itu setuju dengan pernyataan tersebut. Mereka kembali menatap Monster Mistik dari kejauhan.


*****


Raini mengacungkan jarinya ke arah kepala Zwachievior yang terluka akibat serangan dari Lug sebelumnya dengan sihir Armaggeddon. Tercipta bola hitam transparan di ujung jari telunjuk wanita itu.


Bola itu melesat dengan sangat cepat ke arah Zwachievior, dan tak lama berselang, sihirnya mengenai targetnya dengan tepat sasaran. Bola itu pecah seperti gelembung air, dan menutupi hampir seluruh luka yang dimiliki oleh Zwachievior. Namun sihirnya itu tidak memberikan kerusakan terhadap Zwachievior, tapi itu membuat kulit Monster Mistik itu menghitam dan tak dapat beregenerasi.

__ADS_1


"IIIIIIIIIIIIIIKKKKKKKKHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!"


Zwachievior mengeluarkan suara pekikan yang sangat keras, Lug dan yang lainnya langsung menutup telinga mereka kuat-kuat bahkan menggunakan mana.


Tak hanya mereka saja, bahkan para Ranker sampai menutup telinga mereka karena saking kuat dan mengerikannya pekikan tersebut.


BLAAAAARRRRR


BLAAAAARRRRR


BLAAAAARRRRR


Zwachievior membabi buta ke segala arah dengan membanting semua tentakelnya.


Lug membawa Nagisa kabur dengan menggendong badannya. Wajah wanita itu memerah ketika melihat dirinya sedang digendong oleh lelaki yang sangat dicintainya. Tapi fokusnya tak teralihkan, rambutnya kini berubah kembali menjadi helaian cahaya putih terang, membuat tubuh Lug menjadi semakin ringan.


"Bagus, Nagisa," puji Lug dengan senyuman hangat. "Kau sangat membantuku."


Nagisa membalasnya dengan senyuman penuh kasih sayang. "Sama-sama," jawabnya, lantas memeluk badan Lug dengan erat.


Sementara itu, Raini dan Zephyr bersembunyi di balik sihir Otoritas Kehampaan. Sihir itu menutup suara pekikan Zwachievior yang sangat dahsyat hingga mampu meledakkan gendang telinga.


"Apa-apaan makhluk itu?!" umpat Zephyr sembari mengusap telinganya yang kesakitan. "Makhluk sialan itu dikendalikan oleh dewa iblis terkuat?! Wow, sungguh di luar nalar, coy! Bagaimana cara kita menghadapi makhluk ganas itu kalau kekuatannya semengerikan ini?!"


Raini melirik kesal ke arah Zephyr. "Kakak, bisa tidak kau diam?! Kita tidak akan menemukan solusinya jika kau hanya mengeluh begitu saja!" serunya.


Zephyr tersenyum masam. "Ya maaf," sahutnya.


Sementara wanita itu bingung ketika dirinya diturunkan. "Ada apa, kak? Kenapa kelihatannya kau senang?" tanyanya penasaran.


Lug menunjuk ke arah kepala Zwachievior dan menghitung mundur, "Tiga ... Dua ... Sa- tu!"


WUUUSH


BLAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR


Ada sebuah tebasan putih raksasa yang tiba-tiba saja menghantam Zwachievior dengan sangat keras hingga menimbulkan ledakan. Tebasan itu berasal dari arah kirinya Lug–sementara Zephyr dan Raini berada di sebelah kanannya.


Nagisa terkejut melihat kejadian tersebut. "Apa itu?! Siapa yang melakukannya?!" tanya Nagisa dengan mata terbelalak.


Lug mendesah dengan senyuman lebar. "Kau akan tahu siapa dia, dan sebenarnya kita sudah pernah membahasnya. Sebentar lagi kau akan tahu, Nagisa," sahutnya.


Nagisa menoleh ke arahnya, namun ekspresinya mengungkapkan bahwa ada pertanyaan yang tak terhitung jumlahnya sedang berkerumun di dalam kepalanya. Memangnya siapa yang pernah kami bahas sebelumnya? Apa orang ini membuat kakak Lug tertarik?


Lantas tercipta kobaran api besar di kedua tangan Lug. "Minggir, Nagisa! Aku akan menyerang," suruhnya.


Nagisa melangkah mundur. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.


Kobaran api yang ada di tangan Lug semakin lama semakin membesar. Lantas ia menghempaskan tangannya ke atas secara menyilang.


WUUUSH

__ADS_1


Lug menciptakan tebasan api besar yang membentuk huruf x yang membelah udara dengan cakar cakarnya.


BLAAAAARRRRR


Tercipta ledakan lagi ketika serangan tersebut mengenai Zwachievior. Ledakannya memang tak seberapa, namun itu sangatlah mematikan bagi manusia yang memakai zirah lengkap dari perlengkapan para Ranker Langit sekalipun. Bahkan Nagisa pun menduga bahwa serangan itu akan memberikan luka dan dampak yang luar biasa menyakitkan apabila mengenai dirinya, meskipun menggunakan wujudnya yang berupa cahaya itu.


"Fiuuuhhh ... " Lug mendesah lega.


Tak lama kemudian, ada sesosok pria berjubah putih yang terbang mnggunakan pedang di kakinya. Pria itu menutupi matanya dengan kain putih, memiliki rambut putih panjang, dan terdapat sepuluh pedang yang terbang melingkar di belakang punggungnya.


Nagisa terpukau dengan sosok lelaki berjubah putih tersebut. "Apa ... Apa serangan yang sebelumnya itu dari dia?" tanyanya dengan mata yang masih tertuju pada lelaki yang terbang dengan menggunakan pedang itu.


Lug mengangguk. "Kau benar, dan hampir semua Ranker mengenalnya," jawabnya.


Sontak hal tersebut membuat Nagisa tersentak. Dengan cepat ia menoleh ke arah suaminya itu dengan tatapan tak percaya. "Tak mungkin! Apa dia ... Dia ... "


"Benar," sahut Lug. "Dia adalah Pendekar Pedang Buta yang selalu menjadi bahan perbincangan para Ranker selama ini."


Pendekar Pedang Buta itu menundukkan kepalanya, dan wajahnya menghadap ke arah Lug dan Nagisa yang berada di bawah, seakan ia sedang menatap ke arah mereka berdua. Lelaki berjubah putih itu pun turun dan menghampiri pasangan itu–jadi sebelumnya dia memang tahu dengan keberadaan mereka berdua.


Ketika sudah berada tepat di atas tanah, Pendekar Pedang Buta melangkah ke tanah. Pedangnya itu terbang dan kembali ke tangannya.


Nagisa berjalan mundur karena takut, sementara Lug mendongakkan wajahnya dan menatap pria di depannya dengan senyuman angkuh.


Mereka terdiam sejenak, namun secara mengejutkan, tiba-tiba Pendekar Pedang Buta menancapkan pedangnya ke tanah dan menundukkan badannya hingga lututnya menyentuh ke tanah. "Selamat atas keberhasilan reinkarnasi anda, master!" serunya dengan sopan. Wajahnya menunduk memberikan penghormatan yang sangat layak dan formal.


Nagisa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Master? Apa maksudnya adalah guru? Tapi ... Tunggu sebentar- apa mereka punya hubungan seperti ini di masa lalu sebelum kakak Lug terlahir kembali? Batinnya dengan lebih banyak pertanyaan lagi di kepalanya.


Keangkuhan dalam senyuman Lug memudar, kini yang ada hanyalah senyuman hangat di bibirnya. "Kau sudah berjuang keras selama ini, Yinsha," ujarnya.


Tak lama, Pendekar Pedang Buta yang bernama Yinsha itu bangkit. Namun ia mengacungkan pedangnya ke arah Nagisa. Wanita itu menelan ludah karena tiba-tiba dirinya diancam.


Lug menatap tajam ke arah Yinsha yang bertindak secara tiba-tiba itu. "Apa yang sedang kauperbuat, Yinsha?!" tanyanya.


Yinsha menjawab, "Maafkan aku, Master. Tapi wanita yang ada di belakangmu itu hanya akan menjadi beban saja bagi anda, mungkin pada akhirnya akan bernasib buruk. Tidak ada salahnya jika aku membunuhnya."


Nagisa menunduk seakan ia malu terhadap dirinya sendiri. Apa aku memang setidak berguna itu sampai pantas untuk mati? Kakak Lug ... Apakah dia menyembunyikan hal itu sampai sekarang ini agar tidak menyakiti perasaanku? Aku sadar bahwa aku tidak sekuat dan sehebat kakak Lug, tapi ... Apa sampai seburuk itu sampai aku layak untuk dibunuh? Gumamnya sedih di dalam hati. Sebenarnya masih ada banyak pertanyaan pesimis lagi di dalam hati Nagisa yang kini telah terguncang hebat oleh perkataan Yinsha barusan.


Lug menghela nafas dan memejamkan matanya sejenak, lantas ia menatap santai ke arah Yinsha. "Sejujurnya, aku marah terhadap perbuatanmu ini, Yinsha. Aku cukup kecewa, kau mengancam istriku sendiri? Kau telah melukai hatinya."


Yinsha terkejut, lantas wajahnya mengarah jauh ke belakang Lug. "Dan wanita yang ada di sana itu? Bagaimana dengan lelaki itu juga?" tanyanya.


Lug menjawab lagi, "Wanita itu adalah istriku, dan lelaki itu adalah sahabatku, apa kau keberatan?"


Yinsha kini menurunkan pedangnya dan menunduk. "Maafkan aku, master, aku sangat ... Lancang kepadamu. Tapi ... Jika anda berkenan, saya tidak keberatan jika anda menghukum saya di sini," sahutnya. Terlihat kain putihnya basah, menetes air mata dari balik kain tersebut.


Melihat itu, Nagisa memiliki berbagai macam pertanyaan di kepalanya, apalagi Pendekar Pedang Buta terlihat sangat patuh sekali dengan Lug.


Lug melirik istrinya yang penasaran itu. "Kau seharusnya sudah menduga bahwa Yinsha ini adalah muridku di masa lampau- yap! Itu benar, dan usianya sekarang sudah lebih dari sepuluh ribu tahun," jelasnya.


Sontak Nagisa terperangah terkejut mendengarnya, "Itu tak mungkin!" serunya.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2