Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 48 - Pedang Penghubung Dunia


__ADS_3

Lug yang baru saja memasuki sebuah ruangan kubus, tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuatnya terhenti. Sebenarnya dia tahu bahwa akan ada sesuatu yang terjadi jika memasuki ruangan tersebut, dan sekarang yang sedang dialaminya adalah ilusi. Karena sudah mengetahuinya, Lug tidak merasa panik-hanya saja sedikit terkejut.


Dan sekarang ada sebuah ilusi yang membuatnya hampir tak bisa berkata-kata. Melihat ibunya yang tiba-tiba saja datang dan memeluknya.


Wanita yang telah melahirkan Lug itu berkata, "Nak, untuk apa kau jauh jauh ke sini? Ayo kembali."


Begitulah ajakannya.


Lug tahu bahwa siapa yang sedang memeluknya itu bukanlah hal yang nyata, hanya saja itu terasa sangat nyata.


Kulitnya yang halus, wajahnya yang masih cantik meski usianya kini tidak lagi muda, suaranya yang sudah mulai serak, hingga rambutnya yang panjang itu sangatlah mirip dengan ibu. Ilusi ini benar-benar menyelam pada ingatanku yang terdalam, namun ...


Lug memejamkan matanya, semuanya menjadi gelap walaupun ia telah membuka matanya. Ia tahu apa yang sekarang tengah terjadi.


Setelah kegelapan itu menghilang, muncul Raini yang sedang memeluknya. Ada juga Nagisa yang sedang meremas kepalanya sendiri karena pusing tak karuan, tangannya yang satunya lagi menggenggam tangan Lug dengan erat.


Raini tak menyadari bahwa Lug sudah sadar. Tapi ketika mendongak, dia langsung melihat Lug yang kini sedang menatapnya dengan senyuman hangat di bibirnya. "Sayang, akhirnya kau sadar," ucapnya.


Pelukannya itu semakin erat.


Ugh!


Tangan kiri Lug memegang dagunya Raini, lalu mendongakkan kepala istrinya itu sehingga mereka saling bertukar tatapan satu sama lain. Dan tiba-tiba saja, Lug menurunkan kepalanya dan membuat bibirnya berpelukan dengan bibirnya Raini.


Sialan, mereka malah membuatku iri saja! Batin Zephyr dari belakang mereka berdua. Dia melipat kedua tangannya dan mengalihkan pandangannya.


Lalu Lug melepaskan ciumannya itu, dan kemudian menoleh ke arah Nagisa–di sebelah kanannya. Lantas ia menggunakan sebuah sihir–Udara Ketenangan, untuk membuat Nagisa pulih kembali.


Dan setelah kembali pulih, Lug langsung mendaratkan ciumannya di bibir Nagisa. Dia bersikap adil pada kedua istrinya–mencium Nagisa lebih mudah daripada mencium Raini, karena Nagisa memiliki postur tubuh yang tinggi.


Oh, ayolah! Apakah Lug harus selalu seperti ini dengan kedua istrinya itu ketika berada di depanku? batin Zephyr kesal.


Kenapa aku jadi kesal sendiri?


Lantas Lug menoleh ke belakang. "Ayo, Zephyr!" ajaknya.


Zephyr mengangguk melihat tatapan temannya itu yang kini menjadi lebih tajam. Kemudian mereka semua masuk ke dalam ruangan yang gelap itu.


Akan tetapi ada beberapa corak garis di dinding yang menyala, sehingga membuat lorong yang gelap itu terasa sedikit lebih terang meski cahayanya redup. Zephyr sangat waspada dengan jebakan yang ada di setiap sudut lorong, dia bahkan sampai hampir tertinggal oleh Lug dan kedua istrinya. Zephyr berlari kecil untuk mengejar mereka.


Tibalah mereka di suatu tempat yang lebih luas. Di sana terdapat bola yang melayang di tengah tengah ruangan dan menyala terang, sehingga ruangan tersebut jauh lebih terang dari lorong yang sebelumnya dilewati oleh Lug.


"Itulah benda yang kucari," ucap Lug.


Nagisa berpikir bahwa bola cahaya yang berada di tengah ruangan itu adalah benda yang dicari oleh suaminya.

__ADS_1


Tetapi tidak dengan Raini, dia mampu melihat apa yang sebenarnya dicari oleh Lug dengan Mata Kehampaan miliknya.


Bola cahaya itu cukup besar dan di permukaannya mengalir petir yang sangat kuat, itu juga terlihat tidak stabil.


Zephyr bingung melihat Lug ternyata selama ini sedang mencari-cari benda aneh yang hanya berupa bola di sebuah ruangan yang mengerikan di dunia iblis. Cukup aneh juga jika Lug mengatakan bahwa dirinya meninggalkan benda di dunia yang mungkin ia benci, batinnya.


Lalu Lug melangkah maju. "Mundurlah!" suruhnya. "Raini, ikut bersamaku!"


Raini mengangguk.


Lantas mereka berjalan mendekati bola cahaya di depan mereka. Dan kemudian Lug mulai menyentuh bola cahaya tersebut.


Muncul banyak untaian cahaya yang tiba-tiba berkumpul pada bola cahaya yang disentuh oleh Lug itu. Semakin lama intensitasnya semakin meningkat, dan membuat mata menjadi silau. Lelaki itu tetap berdiri kokoh dan tidak mengedipkan matanya, justru tatapannya semakin tajam.


Raini tidak terpengaruh karena ia menggunakan Mata Kehampaan. Dan tiba-tiba saja bola cahaya itu membesar dan menelan Lug ke dalamnya.


Raini tahu bahwa dirinya dibutuhkan untuk melakukan sesuatu apabila kejadian seperti ini terjadi. Sehingga ia menggunakan sihir Otoritas Kehampaan untuk menyelamatkan Lug.


WUUUSH


Ketika cahayanya mulai memudar, angin berhembus kencang. Namun tak membuat Zephyr dan Nagisa bergeming sedikitpun.


Seusai itu, tampak Lug yang sedang berdiri membawa sebuah pedang berwarna merah. Pedang itu tidak terlalu besar ataupun panjang, namun di antara bilah dan gagangnya terdapat bola mutiara sebesar genggaman tangan yang di dalamnya terdapat lautan semesta dengan berbagai macam warna yang indah. Pedang itu berwarna merah, dan gagangnya berwarna hitam.


"Wah, apa itu pedang itu yang kau cari?" tanya Zephyr sembari berjalan mendekat.


Nagisa sedikit bingung dengan pemberian nama itu. "Kenapa sepertinya tidak masuk akal? Sebuah pedang dinamakan seperti itu, apa ada maksud lain yang berhubungan dengan pedang itu?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.


Lug tertawa kecil. "Sebenarnya ini adalah jembatan penghubung antar dunia yang kuubah menjadi sebuah pedang. Dan mutiara di tengahnya ini akan menjadi koordinatornya," jawabnya.


Nagisa, Raini, dan Zephyr terkejut mendengarnya. Mereka tak mengira bahwa Lug memiliki senjata yang dapat menghubungkan tiap-tiap dunia, apalagi dalam wujud pedang yang terdengar hampir tidak masuk akal.


"Sudahlah," kata Lug. "Ayo kita segera pergi dari sini!"


Mereka pun segera pergi dari ruangan tersebut. Hanya saja ketika mereka keluar, lorongnya telah berubah menjadi seperti labirin yang tak memiliki pintu keluar.


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Zephyr.


Lug menjawab dengan santainya, "Tidak usah banyak pikir lagi jika sudah seperti ini, hancurkan saja tempat ini. Aku memang membuat ruangan ini tidak memiliki pintu keluar ketika ada seseorang masuk ke dalamnya."


BLAAARR


Seketika ruangan itu hancur.


Muncul Lug yang menggunakan sihir Singularitas terbalik. Sehingga mereka dapat mendarat dengan aman sampai menyentuh tanah. Reruntuhannya tidak berjatuhan dan masih melayang-layang di udara. Tatapan wajah Lug seperti sedang bingung. Aku merasa ada yang janggal, batinnya.

__ADS_1


Setelah mereka mendarat, Lug mencabut rerumputan yang telah ia injak.


"Apa itu?" tanya Raini.


Lug menjawab, "Aku ingat kakakku memiliki kutukan, beberapa tanaman herbal di dunia iblis dapat digunakan untuk menghapus kutukan itu secara keseluruhan. Tapi tidak untuk diminum, jika itu terjadi, maka racun terkuat akan tercipta oleh tanganku."


DEG


Mendengar itu, Nagisa benar-benar terharu melihat Lug yang masih terus berusaha untuk menyembuhkan kakaknya.


Tapi tak lama, terlintas pertanyaan di kepala wanita itu. "Kakak, pada saat itu, aku belum mendengar apa yang ingin kaudapatkan dari para dewa itu?" tanyanya.


Lug menjawab, "Kristal Semesta Beku Mutlak."


Apa maksudnya?


Lug tidak menjelaskan lebih lanjut tentang 'Kristal Semesta Beku Mutlak' itu meskipun Raini menanyakannya, tapi satu hal yang pasti dirinya teramat sangat ingin mendapatkan benda itu untuk menyelamatkan alam semestanya.


Nagisa masih ingin bertanya lagi, "Jika kita pergi ke dunia dewa, pastinya mereka tak akan tinggal diam. Bisa-bisa dunia manusia dan yang lainnya akan terkena imbasnya- mereka pasti punya otoritas dan kendali di dunia kita melalui para pengikutnya, apa kita bisa melakukan sesuatu?"


Lug tersenyum mendengar pertanyaan bagus dari istrinya itu. "Aku sudah mengutus 5-O-V, kau tahu, kan?"


Nagisa dan Raini mengangguk.


"Nah, mereka akan mengambil sebuah benda yang sudah aku instruksikan kepada mereka, benda itu hanya aku yang bisa menggunakannya dengan sihir yang berbeda dari semua sihir yang ada di semesta ini. Dan benda itu dapat menutupi planet ini dengan kabut yang sangat tebal, sehingga dapat memutuskan koneksi antara para dewa dan para pengikutnya," jelas Lug.


Nagisa dan Raini benar-benar kagum dengan apa yang telah direncanakan oleh Lug, tapi lelaki itu malah melirik sinis ke arah langit.


"Para dewa itu sudah mulai bertindak, mereka mendengar rencanaku!" seru Lug sambil mengepalkan tangannya.


Mereka semua terkejut, Lug saja sampai merasa jengkel dengan kemampuan para dewa itu yang dapat mendengarkan setiap ucapan manusia di dunia.


"Karena itu lah aku sering menggunakan sihir gabungan untuk menutupi pembicaraan, tapi kali ini berbeda. Dan sudah jelas, pasti ada Lucifer di belakang mereka!" jelas Lug lagi dengan nada yang tinggi. "MENGHINDAR!!!"


BLAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR


Tiba-tiba saja ada ledakan yang muncul di belakang mereka. Dan muncul sesuatu dari ledakan itu.


Mereka semua menghindar, karena ledakan itu.


Lug terlihat sudah menduga itu akan terjadi, karena dia mampu membaca masa depan dengan Penglihatan Dunia dan Penglihatan Langit.


Di saat mereka sudah dalam posisi siap, kabut dari ledakan barusan pun ikut menghilang. Dan mereka melihat sosok besar dan mengerikan dari balik kabut tersebut.


"Perkenalkan, namanya adalah Zwachievior. Dia adalah Monster Mistik terkuat yang ada di dunia ini," ucap Lug dengan tajam menatap makhluk mengerikan di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2