Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 20 - Amukan Rakt


__ADS_3

Teressa mendapatkan perasaan aneh semenjak perginya Rakt. Ia menutup kedai dagingnya, dan segera pergi mencari kakaknya Lug itu. Teressa berlari sekuat tenaga menuju ke hutan, ia tahu bahwa pria itu pasti berada di dalam hutan–itu sudah jelas, bukan?


Matahari telah menampakkan dirinya, langit mulai cerah dihiasi awan-awan putih. Tapi dalam sekejap, awan yang putih itu berubah menjadi hitam, disertai petir petir berwarna merah yang menyambar dengan sangat keras dan beruntun. Teressa tidak takut jika itu hanya awan mendung biasa, tetapi firasatnya mengatakan bahwa itu adalah pertanda buruk. Bukan hanya itu, angin pun berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering dan menerpa wajah Teressa. Ada apa ini? Kenapa hutan ini seperti sedang mengamuk? Apa aku sudah berbuat salah?


Sesampainya di bukit yang lapang, Teressa berhenti sejenak untuk mengistirahatkan tubuh. Nafasnya tersengal-sengal, berlarian ke sana kemari mencari di mana Rakt berada. Setelah berhasil mengatur nafasnya, Teressa berteriak sekencang-kencangnya.


"RAKT!!! KAU DI MANA?!!!"


Suaranya itu seperti memperburuk keadaan. Angin yang berhembus semakin kencang, awan hitamnya pun semakin tebal. Teressa benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dia hanya berpikir bahwa ada sesuatu yang buruk–mungkin menyerangnya.


Teressa bahkan sampai berkhayal pepohonan rindang yang mengepung bukit lapang itu menjadi monster, tumbuh kaki dari akar-akarnya dan tangan dari dahan dahannya, serta muncul mata dan mulut di batang batangnya. Teressa segera menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha membebaskan diri dari khayalannya yang begitu mengerikan.


Di suatu tempat, terdapat sosok yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh bayangan hitam, sementara matanya berbinar memancarkan sinar merah yang sangat cerah. Niat pembunuh yang kuat terpancar darinya. Sosok itu menoleh ke belakang sesaat setelah mendengar suara teriakan, matanya itu menyorot tajam, seolah dia berkata, ada mangsa baru.


Sosok itu langsung menyambar rerumputan, berlari laksana singa yang sedang mengejar mangsanya. Lajunya teramat cepat, sorot matanya yang merah menyala itu membekas di udara dan memudar dengan cepat.


"Apa itu?!" Teressa menyadari kehadiran sosok asing yang mendekatinya. Seketika dia mengangkat tangannya setinggi dada, lingkaran sihir bercahaya di ujung jarinya, berputar dan mengarahkan tangannya di sepanjang pandangannya, sebagai senjata untuk memperingatkan sosok yang mungkin saja akan menyerangnya. Pada saat yang bersamaan, Teressa menyesali suatu hal. Kurasa apa yang ayah katakan itu benar, aku harus berlatih sihirku. Wajahnya sedikit memelas, mengasihani dirinya sendiri seandainya ia tak dapat melarikan diri dalam situasi yang menyangkut hidup dan matinya.


SHREEKH


Terdengar suara berderap di antara rerumputan liar yang tumbuh sepinggang. Teressa menoleh dan mengacungkan tangannya ke arah suara itu datang.


"SIAPA ITU?!"


Sosok itu bergerak ke arah lain. Pergerakannya terbaca dengan jelas karena bersenggolan dengan rerumputan yang tinggi, dan itulah yang menyulitkan, sosok itu tertutup rerumputan, sulit untuk melihat sosok aslinya. Gerakannya sangat cepat, bergerak ke sana kemari. Teressa sulit untuk menentukan akan ke mana makhluk itu akan pergi.


Tiba-tiba saja suasana menjadi hening, sosok itu tak lagi menunjukkan pergerakannya. Teressa bingung di mana makhluk itu menghilang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari di mana makhluk misterius itu bersembunyi. Tetapi Teressa tak menyadari, sosok itu mengintip dari belakang bahunya. Mata sosok itu berbinar, menyorotkam sinar merah menyala. Dan tubuhnya ditutupi oleh bayangan hitam pekat yang mirip seperti kabut.


Tepat ketika Teressa menoleh, dia melihat sosok yang sangat familiar di matanya. Ya, dia adalah Rakt, lelaki yang sempat menjadi suaminya di dalam khayalannya–ah, bukan itu. Maksudku lelaki yang membantunya berjualan di bazar, hehe.


"RAKT?!"


Teressa terkejut hingga terjatuh. Rakt menatapnya dengan sangat tajam dan tidak membantunya berdiri. Wajahnya seperti serigala yang kelaparan dan telah mendapatkan mangsanya, matanya merah menyala, dan pembuluh darahnya pun membesar dan bercahaya, memancarkan sinar berwarna merah.


"Apa yang kau lakukan?!" seru Teressa. "Ini aku! Teressa! Apa yang terjadi padamu?!" Rakt sama sekali tidak bisa diajak bicara, Teressa ketakutan hingga tak bisa berdiri.


SHRAAAK


Rakt menghantam Teressa dengan cakarnya yang panjang. Teressa terlempar hingga berguling jauh. Ia mengerang kesakitan, menangis meratapi peristiwa yang menimpanya saat ini. Apa aku akan mengalami kejadian yang seperti itu untuk kedua kalinya? Teressa kembali mengingat di saat dia dikejar oleh beruang besar yang pada akhirnya dibunuh oleh seorang anak kecil. Tetapi Teressa tahu bahwa Lug tidak akan datang.


Rakt kembali menunduk dan berjalan laksana seekor serigala. Dan Teressa sudah tak mampu untuk berdiri lagi, kakinya terluka karena terkena suatu benda keras yang tajam–batu yang runcing pada saat berguling barusan. Membekas empat luka gores yang besar di pipinya, darahnya mengalir hingga menetesa jatuh ke tanah. Bajunya menjadi sangat kotor–dipenuhi oleh tanah dan bercak darahnya.

__ADS_1


Teressa bersusah payah untuk berdiri, tapi kondisi tubuhnya sudah tak berdaya lagi. Rakt berjalan merangkak perlahan ke arah gadis pirang itu. Memberikan intimidasi yang lebih parah dengan cara menghembuskan nafasnya yang teramat berat, seolah nafas yang keluar dari kedua lubang hidungnya itu adalah awan panas berwarna putih pucat.


Dan tiba-tiba saja, ada seekor rusa yang menyelamatkan Teressa. Rakt langsung menoleh ke arah rusa tersebut, lantas ia lekas mengejar hewan itu secepat mungkin. Selagi Rakt pergi, Teressa kembali bersusah payah untuk berdiri, dan akhirnya kakinya sudah sanggup untuk menopang seluruh tubuhnya. Hanya saja Teressa tak dapat berlari, dia hanya berjalan perlahan dengan langkahnya yang tersendat-sendat. Segera menuju ke sebuah pohon besar, menyandarkan badannya di batang pohon tersebut sembari menahan rasa sakit pada kakinya.


Apa yang terjadi padanya? Bukankah mulanya Rakt baik-baik saja? Pikir Teressa. Gadis itu masih sempat-sempatnya memikirkan apa yang terjadi pada Rakt, sementara dirinya yang baru saja terluka akibat pria itu.


Untung saja Teressa pernah mempelajari sihir penyembuhan, menjadi sihir terakhir yang dikuasainya dari semua sihir yang telah ia kuasai. Sihir tiga lingkaran, Telapak Tangan Cahaya. Seperti namanya, telapak tangan penggunanya akan memancarkan cahaya dan menyembuhkan bagian tubuhnya yang terluka. Teressa berusaha untuk menyembuhkan kakinya terlebih dahulu, agar dia dapat melarikan diri dari Rakt yang entah sedang kerasukan apa.


Tak berlama-lama, setelah merasa sedikit nyaman Teressa segera pergi menjauh selagi Rakt masih belum mendatanginya. Tetapi pemikirannya terlalu naif, Teressa sudah menghabiskan waktu sebanyak sepuluh menit untuk menyembuhkan diri, dan itu cukup bagi Rakt untuk segera kembali mendatanginya. Hanya saja Rakt masih belum datang, dan Teressa memanfaatkan situasinya.


Awan hitam di langit sudah sedikit memudar, akan tetapi bukan berarti sudah tidak ada. Awan hitam di langit hanya sedikit memudar, dan guntur masih menggelegar.


Dirasa sudah cukup jauh berlari, Teressa pun beristirahat di balik semak belukar yang cukup lebat. Di sana ia meluruskan kakinya dan segera menyembuhkannya. Pergelangan kaki, betis, hingga paha dipenuhi oleh rasa kesemutan. Dan lutut kaki kirinya yang terluka menjadikan kondisinya lebih parah.


Kupikir kejadian hari ini tak akan bisa menjadi lebih buruk lagi, batin Teressa. Semua yang terjadi padanya sudah sangat buruk, terlebih dia terluka berat pada kaki dan wajahnya. Rakt yang tiba-tiba mengamuk dan menyakitinya itu telah melukai hatinya. Rasa takut sudah memenuhi pikiran dan batin Teressa. Gadis itu terus menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak mempercayai semua yang terjadi pada hari ini, sesekali memejamkan matanya dan mengerang mendesah kesakitan karena lukanya.


"Jika saja ada Lug ... Mungkin saja itu lebih baik," gumam Teressa. Lantas gadis itu menggelengkan kepalanya, "Mungkin tidak. Anak itu masih kecil, kurasa dia juga belum pernah mengetahui semua ini. Atau kupikir ... " Secara tidak langsung, gadis ini telah mempercayai dan mengakui kebaikan Lug.


Tiba-tiba saja terdengar suara berisik yang asalnya dari bukit lapang sebelumnya. Teressa yakin itu adalah Rakt yang sedang mencarinya. Apa dia sudah menemukanku? Secepat ini? Seberapa cepat kakinya itu berlari? Oh tidak, dia merangkak. Sialan, dia berlari dengan dua kaki dan dua lengannya. Dia seperti seekor serigala.


Teressa berdiri dan kembali mencari tempat persembunyian lagi, namun suaranya semakin mendekat. Apabila dia banyak bergerak, maka itu akan menimbulkan banyak suara, sama saja dengan mengungkapkan tempat persembunyiannya.


Teressa mengangkat kakinya, berjinjit secara perlahan, menuju ke tanah yang membukit, di sampingnya terdapat pohon besar menjulang tinggi. Dan ketika hendak sampai, ada sesosok yang membuka semak-semak dengan kasar. Teressa melompat terkejut hingga terjatuh, pantatnya menghantam tanah dengan kasar.


Dan ternyata yang membuka semak-semak itu adalah pria sebaya yang hendak berburu. Pria itu berkulit agak gelap yang dipenuhi dengan keringat di sekujur tubuhnya, memiliki kumis dan janggut yang tipis, beberapa helai rambutnya masih hitam dan yang lainnya telah memutih, tubuhnya agak kurus namun tidak seperti orang yang kekurangan gizi. Pria itu membawa belati yang disarungkan di pinggangnya, sarung pisaunya itu terbuat dari kayu tua yang diikat dengan tali tampar berwarna biru tua yang warnanya sudah mulai memudar. Mengenakan kaos tipis tak berlengan berwarna putih kotor yang tidak terlalu panjang, bahkan sesekali pusarnya nampak, dan celana pendek berwarna coklat lumpur dengan kain tebal yang sudah banyak yang robek. "Hei," panggilnya. "Kenapa kau di sini? Apa yang kau lakukan di sini sendirian?"


Teressa mendongak, dia bersyukur bukan Rakt yang menghampirinya. "A-aku ... Aku sedang mencari seseorang," sahutnya tergagap. "Dia pergi ke hutan dan ... Tiba-tiba dia mengamuk."


"Rakt?! Putranya si Vans itu?"


Teressa terkejut, "Anda kenal?" tanyanya.


"Jelas saja. Dia sangat terkenal di desa, suka mengamuk seperti yang kau katakan, karena itu banyak yang menjauhinya."


"Apa?" Teressa terperangah. Dia belum pernah mendengarnya dari siapapun, baru kali ini dia mendengarnya dari mulut orang asing–sebenarnya Teressa pernah bertemu dengan pria itu sekali di hari bazar pertama kali dibuka–bersama dengan seorang wanita, mungkin saja istrinya di saat membangun kedainya dan mereka sepertinya adalah penjahit yang menjual kain tenun dan rajut.


"Kau adalah keluarganya, bagaimana kau bisa tidak tahu?" Sesaat setelah pria itu mengoreksi ucapannya sendiri, dia memahami bahwa gadis berambut pirang di hadapannya adalah anak angkat yang asal usulnya tidak diketahui. "Ah, kupikir kau belum diberitahu."


Teressa mengangguk cepat, dan itu membuat leher belakangnya kesakitan. Akhirnya dia menyembuhkannya perlahan dengan sihirnya. "Apa itu semacam kutukan?" tanyanya sembari mengusap leher belakangnya.


"Iya," jawab pria sebaya yang sedang membenarkan tali yang mengikat sarung belati di pinggangnya.

__ADS_1


"Kutukan apa itu?"


"Aku tidak begitu mengerti, tapi katanya kutukan itu bernama Pembusukan Darah. Katanya kutukan itu akan keluar jika dia mulai tak sadarkan diri, hal yang dapat memicunya itu seperti kelelahan yang berlebih. Aku tak tahu, tapi kurang lebih seperti itu penjelasannya."


Teressa mulai paham setidaknya sedikit. Walau begitu, dia bisa mengerti maksud yang sebenarnya–setidaknya dapat menyimpulkan maksudnya. "Kutukan itu dibawa sejak lahir?"


Pria yang rambutnya hampir memutih keseluruhannya itu mengangguk. Lantas pandangannya kembali pada Teressa, "Aku tidak tahu secara detailnya, hanya itu saja yang kutahu. Tapi yang pasti, kutukan itu katanya memang diderita sejak Rakt dilahirkan."


Teressa yang sebelumnya tenggelam dalam ketakutan, kini hatinya justru dipenuhi oleh rasa simpati. Tatapannya juga mulai sedikit berubah yang awalnya penasaran berubah menjadi penuh kesedihan.


"Tapi rumor itu mulai mereda," lanjut pria itu. "Semenjak Lug lahir, kakaknya itu sudah bukan menjadi hal yang ditakutkan. Banyak hal terjadi pada saat kelahirannya, bahkan bisa dikatakan bahwa kutukan yang Rakt miliki sekarang sudah sangat jauh lebih mendingan."


Teressa kembali terperangah. Di kepalanya mulai membayangi Lug dan bahkan Lug pada saat masih bayi sesaat dilahirkan. Jika itu keberuntungan, ya, Teressa merasa itu benar. Dia bertemu dengannya dan diselamatkan, beruang yang hendak menyerangnya itu tiba-tiba saja jatuh hingga tak bisa berdiri lagi. Dan anak itu juga memiliki berbagai macam sihir unik tiga lingkaran yang mana dalam catatan sejarah tak pernah ada anak kecil berusia lima tahunan yang mampu memiliki sihir tiga lingkaran apalagi dalam jumlah yang banyak. Anak itu ... Dia seperti keberuntungan dari desa ini- tidak! Tapi mungkin keberuntungan untuk keluarganya dan desa ini mendapatkan secuil keuntungannya.


"Apa kau pernah dengar Lug pernah memiliki sihir tiga lingkaran? Kau tahu? Itu mustahil terjadi, anak lima tahunan memahami sihir tiga lingkaran dan menguasainya, sangat ajaib. Bahkan banyak yang berpikir dia adalah titisan dewa yang diingkarnasikan (dilahirkan) ke desa Nedhen." Wajah pria itu berbinar-binar, seakan dia benar-benar mengagumi Lug.


Mendadak sebuah pertanyaan terbesit dalam pikiran Teressa sesaat setelah melihat belati di pinggang pria di depannya. "Oh iya, tuan, bagaimana bisa anda ada di tengah hutan? Anda sedang berburu?" tanyanya penasaran.


Pria itu menjawab, "Ya. Tadi aku memang sempat melihat Rakt dan kabur, dia seperti sedang memangsa sesuatu. Tapi dia sempat melihatku, jadi aku memancingnya dengan memanah rusa dan rusa itu membuat keributan, lantas aku melarikan diri ke sini."


Mendengar jawabannya itu, Teressa terkejut dan langsung menjabat tangan pria itu. "Terima kasih, tuan, anda menyelamatkanku," ucapnya.


Mata pria tua itu membelalak, "Apa?!" serunya. "Jadi yang hampir dimangsa itu kau?! Syukurlah aku, tidak salah bertindak tadi."


Dan setelah itu, awan hitam di langit perlahan mulai memudar. Kilat dan guntur yang menggelegar pun sudah menghilang sepenuhnya. Pria tua itu adalah menyadari suatu hal. "Kalau tidak salah, setiap kali Rakt mengamuk pasti akan ada awan hitam di langit."


"Mirip seperti kutukan dari iblis," Teressa menimpali.


"Benar, tapi bagaimana kau bisa tahu kalau itu mirip dengan kutukan iblis?"


Teressa menelan ludah, ia sudah keceplosan. Teressa melempar-lemparkan tatapan matanya, lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Y-ya ... " katanya tergagap. "I-itu ... Itu karena dulu di saat ibuku masih hidup, dia menceritakan kisah nenek moyangku yang pernah melawan kutukan iblis. Setiap kali terdapat sebuah sihir yang memunculkan awan hitam, itu mungkin saja adalah sihir iblis atau semacamnya."


Pria tua itu tiba-tiba tersenyum tipis. "Cerita seperti itu memang sudah biasa diceritakan pada anak kecil, wajar saja," ujarnya.


"Haha ... "


Dan tepat setelah mereka selesai berbincang, awan hitam di langit telah lenyap sepenuhnya. Pria tua yang membawa belati di pinggangnya itu membantu Teressa berdiri, dia tahu bahwa kaki gadis itu sedang terluka. Tapi Teressa sedikit sungkan dengan bantuan yang diterimanya, ia juga sudah merasa lebih mendingan.


"Sepertinya anak itu sudah sadar kembali, sekarang sudah aman. Sepertinya kau punya urusan dengannya, kau bisa menemuinya sekarang."


"T-tapi aku ... Aku tak yakin aku bisa, kupikir dia masih mengamuk," gerutu Teressa. Ia masih ragu-ragu untuk menemui Rakt, tetapi pria tua itu memasang senyuman lebar dan mata sipitnya itu memberikan keyakinan. Teressa menggenggam erat telapak tangannya sendiri di depan dadanya. Meskipun tatapan matanya yang terus menatap ke tanah yang seolah dapat melihat seluruh isinya itu masih terlihat ragu, tetapi di dalam lubuk hatinya, Teressa sangat yakin untuk dapat membawa Rakt kembali. Langkah kakinya memang penuh keraguan, dan ketika matanya menatap ke depan Teressa sudah sangat yakin dengan keputusannya. "Baiklah, aku akan pergi," ucapnya.

__ADS_1


Pada akhirnya Teressa melangkah maju ke depan dengan penuh keyakinan, mulai menyibak semak belukar yang menghalangi jalannya. Pria tua di belakangnya itu merasa senang dan berbalik. Dia juga sebelumnya telah mendapatkan beberapa babi hutan yang ditangkapnya sebelum hendak berburu rusa di bukit.


Bersambung!!


__ADS_2