![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Semuanya terkejut mendengar bahwa Nio adalah seorang reinkarnator yang mana kehidupan sebelumnya adalah sesosok agung yang dipuja-puja oleh manusia karena menyelamatkan seluruh umat manusia dan ras lainnya dari kepunahan massal yang disebabkan oleh invasi para iblis.
Nio menjelaskan semuanya hingga menjadi masuk akal. Bahkan ia menceritakan semua yang terjadi ketika seluruh manusia belum terpecah menjadi berbagai kerajaan yang ada sekarang.
"Ini yang kumaksud tadi, aku butuh kepercayaan dari kalian, sehingga tidak ada keraguan lagi dari kalian. Inilah yang paling sulit kalian percayai daripada aku bisa menyelamatkan seluruh dunia ini," jelas Nio.
Semuanya mengerutkan dahinya. Mereka percaya bahwa reinkarnasinya Nio itu tidak hanya sekedar bualan saja.
Tiba-tiba mata Nio terbelalak, dia menoleh ke arah pintu, diikuti oleh Aldero dan Vernando yang mengetahuinya, tapi mereka berdua tak tahu apa yang sedang terjadi.
BRAK
Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu dengan sangat kasar.
"CLEO!"
Ternyata dia adalah Romeo yang tahu bahwa Cleo sedang sakit dan pingsan. Telinga kanannya terlihat berdarah, matanya terbelalak, keringat dingin mengucur di wajah dan pelipisnya, dan ekspresi wajahnya terlihat sangat panik. Dia terlihat sedang mengkhawatirkan Cleo. Tapi ketika melihat gadis yang disukainya itu bersama Vlamera lainnya yang sedang berkumpul, membuatnya tercengang. "Tunggu! Kalian ... Sedang apa kalian semua berkumpul di sini?" tanyanya penasaran.
Tatapannya melihat ke semua orang bergantian yang juga menatapnya. Lantas dengan cepat mendekati Cleo. "Cleo, apa kau baik-baik saja? Kudengar kau pingsan dan telingamu berdarah, apa sudah membaik?" tanyanya mengkhawatirkan.
Cleo mengangguk perlahan, dia tersenyum memandangi wajahnya Romeo. Wah, ternyata Romeo mencemaskan diriku- aku jadi terharu, batinnya. Wajahnya sedikit memerah sambil menatap haru ke arah lelaki yang mencemaskan ya itu.
"Syukurlah," ucap Romeo.
Kemudian lelaki itu memandangi semua yang ada di sana. "Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Apa kalian sedang menjenguk Cleo juga?" tanyanya.
Nio bertukar tatapan dengan Cleo.
"Kami di sini sedang membahas suara keras yang tadi, sebenarnya aku ingin kau juga di sini, tapi aku sudah mengirimmu kembali ke kuil. Dan kebetulan kau di sini, aku ingin meminta satu hal padamu," ujar Nio sembari menatap tajam mata Romeo.
Sementara lelaki yang dipandanginya itu menelan ludah, merasa bahwa situasi ini sangatlah serius. "Baiklah, kau ingin memintaku apa?"
"Kau lebih tua dariku, jadi aku akan memanggilmu kakak- kakak Romeo, apa kau mau memberikan seluruh kepercayaanmu kepadaku?" pinta Nio.
Romeo menghela nafas. "Nio ... Sejujurnya aku masih kurang mempercayai kalian, tapi apa boleh aku bertanya- situasi macam apa yang terjadi sekarang ini?" tanyanya.
__ADS_1
Lalu Nio menjelaskan seluruh kejadiannya. Itu membuat Romeo terdiam cukup lama sampai penjelasannya berakhir. Dia percaya begitu saja karena menurutnya suara yang tiba-tiba muncul begitu keras sangatlah masuk akal jika itu berasal dari luar angkasa dan akan menyebabkan kehancuran semesta.
"Nio, aku mempercayaimu," ucap Romeo berjanji. Ia mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Nio. "Jadi, kau sedang berdiskusi tentang apa di sini?" tanyanya.
"Kami sedang membahas bagaimana cara mencegah kiamat, aku punya caranya, tapi kalau kau percaya padaku, kita bisa diskusikan ini bersama. Ketika semua adalah Vlamera, tidak bisa berdiam diri begitu saja ketika seluruh umat manusia akan dilanda kehancuran," terang Nio yang juga mengerutkan dahinya, wajahnya sangat serius.
Itu membuat Romeo terkejut, dia merasa bahwa mereka sedang mendiskusikan hal yang tak mungkin. Tapi karena sebelumnya dirinya pernah berkata bahwa akan mempercayainya, maka Romeo membuktikan kepercayaannya.
"Romeo," panggil Nio sembari tangannya menunjuk santai ke arah Aldero. "Perkenalkan, dia adalah Vlamera keenam, dia adalah orang kepercayaan nomor satuku, namanya adalah Aldero Johan Vlamera."
Romeo pun berjabat tangan dengan Aldero. "Salam kenal, Aldero, namaku Romeo Potter Vlamera."
Aldero berdiri agar lebih sopan, dia mengangguk dengan tatapan mata mengarah pada lelaki yang berjabat tangan dengannya. "Salam kenal juga, kakak Romeo, namaku adalah Aldero Johan Vlamera. Aku adalah Vlamera baru yang dipercaya oleh tuan muda Nio," sahutnya.
"Kita kembali pada pembahasan utamanya," ujar Nio. "Dan lagi, Aldero, sekarang panggil saja aku kakak, jangan tuan muda, terasa sedikit menggelikan. Karena kita sesama Vlamera."
Aldero mengangguk. "Baiklah, kakak Nio."
"Yah, kita kembali ke pembahasan utama, aku ingin kita mendapat tiga buah benda yang dapat digunakan untuk memperbaiki alam semesta ini. Aku tahu di mana ketiga benda itu berada, tapi untuk mendapatkannya ... Itu sangatlah sulit," jelas Nio.
"Apa saja itu?" tanya Aldero.
*****
Pada saat ini, Nio yang sudah melewati perbatasan. Hari sudah gelap, bisa dibilang itu sangat cepat karena dia pergi sendirian tanpa rekan-rekannya. Dia hanya berlari lurus tanpa beristirahat sedikitpun.
Dan kembali lagi pada Nio ketika di rumahnya Cleo, dia menatap ke arah mereka semua dengan tatapan ragu. Tapi kemudian ia menghirup nafas dalam-dalam dan mulai berbicara.
"Aku ingin kalian bertiga yang mengurus pemuja dewa iblis sialan itu. Aku tahu kalian tidak mampu. Tapi aku bisa membantu kalian, hanya saja tidak banyak," ujar Nio. Dia mengeluarkan lima buah cincin berwarna perak mengkilap.
"Apa itu?" tanya Romeo yang duduk di bawah.
"Benda ini akan meningkatkan pemahaman kalian terhadap sihir. Di dalamnya juga terdapat pustaka sihir yang sangat banyak sekali sihir di dalamnya. Dari jenis, jumlah lingkaran, hingga atributnya, dan sebagainya. Tapi prosesnya akan sangat menyakitkan, aku juga tidak banyak waktu- ini saja yang bisa kuperbuat untuk membantu," jelas Nio sembari menatap satu persatu mata para Vlamera untuk memastikan kepercayaan mereka.
Romeo berdiri, dia mengacungkan tangannya ke arah Nio, membuka jari-jarinya, lalu berkata, "Berikan padaku! Aku akan memakainya untuk memastikan seberapa sakit prosesnya."
__ADS_1
"Sebaiknya kau sembuhkan terlebih dahulu telingamu itu, aku tahu kau membutuhkan penyembuhan selagi lukamu terbuka dan masih basah. Daripada ujung-ujungnya telingamu yang kanan itu menjadi tuli," kata Nio mengingatkan.
Romeo merapatkan bibirnya, lantas menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, biarkan aku yang mencobanya terlebih dahulu," pinta Aldero. Tatapan matanya terlihat percaya diri dan sangat mantap. Dia tidak ragu sama sekali, degup jantungnya juga tidak berdebar-debar yang berarti dia benar-benar percaya diri.
Nio menatap mata Aldero selama beberapa detik untuk memastikan keraguan yang ada di dalam hati Aldero. Tapi dia tersenyum dan berkata, "Baiklah, Aldero. Kau lah yang pertama untuk mencobanya, tapi ingatlah! Prosesnya sangatlah menyakitkan dan bisa membuatmu sangat menderita, kau mungkin tak pernah membayangkannya."
"Heh," Aldero menyeringai sombong. "Tidak ada yang semenderita diperbudak oleh para pemuja iblis. Aku yakin, proses yang kualami ini membuatku lebih kuat, bukan membuatku menderita. Kakak tidak perlu khawatir padaku," ucapnya sembari mengambil cincin yang diberikan oleh Nio.
Nio tersenyum ketika memberikan cincinnya. "Heh ... Pastikan kau tidak menyesal atas keputusanmu itu!" tuntutnya.
"Tidak akan!"
Aldero pun memakaikan cincinnya di jari manis tangan kirinya.
"Kuberitahu efeknya yang pertama, itu adalah pendarahan di hidung, mata, telinga, dan kuku-kuku jari tangan dan kaki," jelas Nio bersamaan dengan Aldero yang mengalami gejala yang barusan disebutkan.
Tetapi dia tetap kokoh dan belum merasakan apapun, hanya saja kepalanya sedikit pusing.
"Kepala akan terkena sengata listrik yang sangat kuat sehingga membuat penggunanya muntah darah. Siku, lutut, dan mata kaki akan merasakan kesemutan, sensasinya luar biasa menyakitkan," jelas Nio.
BRZZZTTTT
Muncul listrik yang mencuat di pelipis Aldero dan sekitarnya. Listrik itu berwarna biru terang. "HOEK!!!" Dia memuntahkan cairan merah yang mana itu adalah darah. Aldero terjatuh karena kakinya terasa sangat lemas. Ini ... Ini ... Sangat menyakitkan! Tapi ... Ini belum ada apa-apanya- aku masih bisa bertahan lebih lagi! Batinnya bersemangat.
Semua yang melihatnya langsung takut seketika. Mata mereka terbelalak ketakutan melihat Aldero yang sepertinya tersiksa seperti orang kejang-kejang hampir sekarat.
"Nio! Apa dia baik-baik saja?!" tanya Cleo merasa takut.
Nio mengangguk dan mengedipkan matanya perlahan. "Tenang saja, Aldero masih menahannya hingga sekarang. Setelah ini, dia bisa merasakan kekuatan yang didapatnya," jelasnya.
Hingga Aldero kini sudah baik-baik saja, kepalanya tidak lagi merasakan sengatan listrik. Dia terjatuh di atas genangan darahnya sendiri dan terlihat lemas serta tak berdaya. Matanya tak bisa fokus, dia seolah tak bisa bangkit lagi–wajahnya menghadap ke arah kiri–ke arah Nio.
Mereka yang memperhatikannya tak berani melakukan apa-apa, karena Nio tak memberikam perintah apapun.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja, Aldero berkedip dengan cepat, dan kali ini bola matanya terlihat sangat cerah seolah memancarkan cahaya terang. Mulutnya tersenyum seolah senang dan puas akan proses yang menyakitkan itu.
Bersambung!!