Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 52 - Kehadiran yang mengejutkan


__ADS_3

Para Ranker yang datang untuk merebut sumber jiwa Zwachievior terdiam seketika menatap sesosok lelaki berjubah putih yang menutupi matanya dengan kain putih tengah berdiri di atas pedang terbang. Mereka semua menatap dengan kaki gemetar, hari mereka pun gentar untuk melangkah maju.


Akan tetapi Yinsha tahu bahwa Lug tidak mengizinkannya untuk membunuh siapapun selagi masternya itu menyerap sumber jiwa milik Zwachievior.


"Lebih baik kalian mundur!" suruh Yinsha dengan nada datar. "Jangan salahkan aku jika aku berperilaku kasar terhadap kalian apalagi melangkah maju!"


Ketegasan yang ditegakkan oleh Yinsha itu semakin membuat para Ranker ketakutan. Bahkan Franklyn pun sampai berkeringat dingin menatapnya. Hanya saja Ranker yang berdiri paling depan ini memiliki hati batu yang bersikeras untuk merebut sumber jiwa Zwachievior.


"Apa urusanmu sampai mengganggu kami? Memangnya ini wilayahmu?!" seru Franklyn.


Yinsha hanya diam saja. Selagi mereka tidak melangkah maju- selangkah pun! Aku tidak akan melakukan apa-apa terhadap mereka, apapun yang mereka katakan aku hanya akan diam, ucapnya dalam hati.


Axlon dan Wina memiliki pemikiran yang sama untuk sekian kalinya.


Lantas wanita itu membuka mulutnya, "Pendekar Pedang Buta, aku mungkin tahu hubunganmu dengan anak-anak itu sebelumnya. Tapi ketahuilah, tiga orang yang berdiri paling depan ini bersikeras untuk merebut sumber jiwa Monster Mistik besar tadi!"


Franklyn, Kevin, dan Bayangan Kilat menoleh kasar pada Wina. Tatapan mereka terlihat penuh dengan api kemarahan sekaligus terkejut dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu.


Yinsha mendongakkan wajahnya sedikit, namun ia tak berkata apapun.


Axlon tersenyum tipis melihat Wina yang berani mengatakannya dengan lantang. Tetapi hal itu dibenci oleh tiga Ranker Langit Merah. Maxleen juga hanya diam dan menatap ke arah Pendekar Pedang Buta tanpa henti.


Dan secara mengejutkan, Maxleen membungkukkan badannya dan berkata, "Jika Pendekar Pedang Buta mempunyai hubungan dengan anak-anak tadi, aku akan tunduk apapun yang terjadi."


Sejujurnya, aura mencekam dari Pendekar Pedang Buta tidak semengerikan dari anak yang tubuhnya bersisik tadi. Aku melihat potensi besar darinya, gumamnya dalam hati.


"Apa yang kaukatakan, Max?!" seru Kevin.


Sial, apa mereka semua membenci kami?! Mereka sampai berpihak kepada Pendekar Pedang Buta, gumam Franklyn dalam hati.


Yinsha tetap diam dan hanya mengawasi mereka, sementara para Ranker malah saling berseteru. Lelaki yang terbang dengan pedangnya itu sekilas tersenyum kecil memandang perseteruan yang ada di hadapannya.


Franklyn menyadarinya. Dia hanya ingin kita saling berselisih? Cih! "Kevin, Bayangan Kilat, dia memang menginginkan ini terjadi. Biarkan para idiot di belakang kita ini bersembunyi layaknya tikus-tikus yang takut dimangsa ular!" serunya.


Kevin juga langsung menyadarinya. "Baiklah, kita serang langsung saja!" sahutnya dengan lantang.


BAGH


Ketika para Ranker Langit Merah itu melangkahkan kakinya dengan berat, muncul lingkaran sihir hijau tua kebiruan di bawah kaki mereka. Dan muncul tangan raksasa dengan warna yang sama mencengkeram tubuh mereka bertiga dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Sudah kuperingatkan untuk mundur, kenapa malah maju?" tanya Yinsha.


"EEEKHH!!!"


Para Ranker itu digenggam erat oleh tangan-tangan raksasa itu, mereka bahkan hampir tidak bisa bernafas karena saking eratnya.


Apa-apaan ini?! Sihirnya ini ... ini terlalu kuat- aku tidak bisa lepas! Gumam Franklyn dalam hati, dia benar-benar kesakitan.


AAAAAAKKKKHHHH!!!!! SUARAKU .... SUARAKU TIDAK KELUAR! SEPERTINYA- SETELAH INI TULANGKU AKAN ADA YANG PATAH!!! Teriak Kevin dalam hati, dia tersiksa dengan apa yang dilakukan oleh Pendekar Pedang Buta terhadapnya.


KRAKK


"AAAAKHH!!!"


Benar saja, beberapa tulang rusuk Kevin patah karena genggaman erat dari sihirnya Yinsha. Dia merengek kesakitan, tapi apa daya suaranya tidak keluar sedikitpun.


Maxleen dan Ranker Langit Hitam lainnya menyaksikan kengerian dari sihir yang digunakan oleh Pendekar Pedang Buta. Mereka bahkan sampai melangkah mundur, namun tidak dengan Maxleen yang masih terus berdiri sambil menundukkan badannya.


Sebenarnya Wina dan Axlon cukup senang dengan apa yang mereka saksikan itu, namun tercipta ketakutan besar ketika melihat Pendekar Pedang Buta yang menggunakan sihirnya.


"GROOAAAAARRR!!!!!"


"Master sudah selesai," ujarnya sembari tersenyum senang.


Dan tercipta aura yang membentuk tentakel raksasa di tempat Lug berada, itu sangat mirip dengan tentakelnya Zwachievior.


Dengan sigap Maxleen langsung tahu apa hubungan Pendekar Pedang Buta dengan Lug. Mereka ... Mungkinkah mereka memiliki hubungan murid dan guru? Tapi tunggu, kenapa Pendekar Pedang Buta memanggilnya guru? Tak perlu dipikirkan lagi, yang pasti mereka punya ambisi besar yang mungkin saja benar akan menolong umat manusia. Lebih baik aku membantu, batinnya. Tapi dia tak berani berkata sepatah katapun, tekanan yang diberikan oleh Yinsha menekan lidahnya untuk terus diam seribu bahasa.


Yinsha langsung berbalik dan segera terbang menuju ke arah Lug. Akan tetapi, sihir yang ia gunakan untuk mengekang para Ranker Langit Merah itu tak langsung menghilang, hanya saja itu perlahan memudar.


Wina dan Axlon menghela nafas lega setelah kepergiannya Pendekar Pedang Buta, tapi mereka berdua yakin bahwa Franklyn pasti akan marah beserta Kevin dan Bayangan Kilat.


Tangan tangan raksasa itu berangsur-angsur lenyap, dan ketika itu Franklyn dan Bayangan Kilat sudah tak berdaya lagi. Apalagi Kevin yang beberapa tulang rusuknya dihancurkan. Karena sebelumnya dia berusaha untuk berteriak kencang, itu membuat rahangnya terluka dan juga tenggorokannya, sehingga membuatnya tak bisa berbicara apalagi berteriak. Marah terhadap Wina? Mereka pun bahkan tak sanggup untuk duduk.


Selain itu, meskipun dari sebelumnya Viordan tidak disebut sedikitpun, namun terdapat ketakutan yang luar biasa di balik raut wajahnya yang garang itu.


Maxleen masih terus membungkukkan badannya dan tidak mempedulikan apa yang telah terjadi. Namun setelah tahu bahwa Pendekar Pedang Buta telah pergi menjauh, dia sedikit kecewa karena seolah-olah dirinya tak dianggap sedikitpun.


Tak lama setelah itu, Pendekar Pedang Buta datang bersama dengan Lug. Mereka berdua menghampiri para Ranker yang hendak merebut sumber jiwa Zwachievior.

__ADS_1


"Apa kalian tidak jera?" tanya Lug.


Wina menggeleng-gelengkan telapak tangannya. "Tidak tidak! Bukan kami, di sini kami hanya mengikuti perintah saja- sejujurnya, kami tak ingin ikut merebutnya," sahutnya panik.


Lug melirik ke arah tiga Ranker yang terbaring lemas. Salah satunya, yakni Franklyn, menatap Lug dengan seringai jahat.


"Sialan ... Kau pasti iblis!" umpat Ranker itu.


WHUUU


Kesemua pedang milik Pendekar Pedang Buta terbang dan berhenti di atas Franklyn, ujung pedang itu seakan paku yang siap untuk ditancapkan ke papan.


Franklyn menelan ludah, dia merasa takut karena sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Apa aku punya masalah dengan kalian? Seakan dari tadi kalian terus menerus membuatku kesulitan, padahal aku tidak memiliki niat yang buruk terhadap kalian," jelas Lug seraya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


Iblis mana yang tak punya niatan buruk terhadap manusia? Dasar munafik! Batin Franklyn dengan seringaian sinis.


Meskipun dia mengumpat di dalam hati sebanyak ikan di laut, Lug tetap bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Tapi tiba-tiba saja dia merasa terkejut, seakan ada sesuatu yang membuatnya panik.


SRIIING


Tiba-tiba saja muncul cahaya yang memunculkan lima orang sekaligus, mereka adalah Leonardo, Cleo, Vernando, Romeo, dan Aldero–mereka adalah 5-O-V. Dan salah satu dari mereka membawa sebuah bola permata seukuran kepala anak kecil. Kehadiran mereka berlima membuat semua yang ada di sana terkejut, bahkan Yinsha pun juga terkejut.


Tanpa basa-basi, Yinsha membentuk lingkaran sihir yang mencakup kelima orang itu. Muncul cahaya hijau lurus di ujung lingkaran menjulang ke langit seakan pembatas. Lalu muncul dua sosok makhluk berjubah hitam yang hanya berkepala tengkorak dan membawa sabit besar di tangan mereka yang hanya tulang tanpa kulit. Itu adalah sihir enam lingkaran kelas rendah. "Siapa ... Kalian ini?" tanya Yinsha penuh kewaspadaan.


Kelima orang itu terkejut melihat diri mereka sudah terkurung di dalam sihir enam lingkaran yang sangat mengerikan. Dan ketika Vernando hendak membentuk lingkaran sihir yang memunculkan berbagai macam senjata, tiba-tiba saja sihirnya itu menghilang karena kalah terhadap tekanan dari sihirnya Yinsha.


Sialan, padahal baru keluar dari situasi yang mengerikan, kenapa tiba-tiba saja kami disambut seperti ini? Batin Leonardo kebingungan.


Sementara itu, masih menatap ke arah 5-O-V, Lug menghadang Yinsha dengan tangannya, mengisyaratkan kepadanya agar melepaskan sihir tersebut.


Sang murid paham dengan apa yang dilakukan oleh Lug, tetapi dia terheran-heran dengan isi kepala masternya itu.


"Mereka adalah anggotaku, jangan diserang apalagi sampai dibunuh," tutur Lug.


Yinsha mengangguk perlahan, menuruti perkataan masternya.


Tetapi 5-O-V tidak mengenali Lug, alias Nio, dengan wujud transformasinya yang mengerikan itu. Itu sangat wajar sekali karena Lug tidak pernah menujukkannya kepada mereka berlima.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2