Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 19 - Mendapatkan Pusaran Angin Seribu Lengan


__ADS_3

Dua lingkaran sihir selanjutnya digabungkan, lantas Empat Topeng tangannya ke dalam lingkaran sihir gabungan tersebut dan seketika tangan kanannya itu dilapisi oleh sihir yang transparan seperti air.


Lalu Empat Topeng melepaskan semua sihirnya, dan ia maju ke depan yang mana tornado apinya masih belum menghilang meski lingkaran sihirnya menghilang.


WUUUSH


Dia menyentuh sihir tornadonya dengan tangannya yang telah dilapisi oleh sihir barusan. Seketika itu, muncul seperti jaring emas yang menutupi tornado apinya. Dan setelah tornadonya menghilang, Pusaran Angin Seribu Lengan berubah menjadi cakram putih yang masih terus berputar. Empat Topeng berusaha untuk menstabilkan mana di dalam cakram tersebut.


Terlihat mulai banyak serabut angin yang berkumpul, membentuk tubuh Pusaran Angin Seribu Lengan kembali.


Beberapa menit kemudian, prosesnya pun usai. Tapi tak semudah itu, ternyata rekan-rekan Empat Topeng sedang bertarung melawan para Ranker dari kerajaan Da Nuaktha.


"Haha, apa yang sedang kalian jaga?!" ucap salah seorang Ranker yang mana itu ternyata adalah Reno. "Aku tahu, di sana ada seseorang yang sedang menyucikan Pusaran Angin Seribu Lengan."


Para Ranker kerajaan Da Nuaktha dihadang oleh Topeng Hitam dan Topeng Jingga. Sementara Topeng Merah tidak ikut bergabung dikarenakan menjaga dari sisi yang lain.


"Bagaimana kalau kita serang langsung?" Reno menyarankan.


Salah seorang Ranker menjawab, "Jangan gegabah dulu, kita tidak tahu berapa jumlah mereka. Tidak mungkin hanya mereka berdua saja." Dia adalah yang memimpin para Ranker dari kerajaan Da Nuaktha itu.


"Jelas saja ada tiga, yang satunya lagi sedang menyucikan Monster Mistik itu," sahut Reno.


"Itu benar, kita harus segera menyerang dan merebut Pusaran Angin Seribu Lengan sebelum penyuciannya selesai," ucap salah seorang Ranker yang lain.


Dan semua orang setuju.


"Baiklah, ayo serang!" tegas sang pemimpin.


WUUUSH


Segera para Ranker itu bergerak dengan sangat cepat menyerang Topeng Hitam dan Topeng Jingga.


Namun disayangkan, hanya dengan mereka berdua, bener orang langsung kewalahan karena menghadapi sihir jarak jauh dari Topeng Hitam dan pertarungan jarak dekatnya Topeng Jingga yang sangat kuat hanya dengan menggunakan tongkat kayu yang sepanjang lengannya, serta sebesar kakinya yang bisa dibilang cukup besar untuk ukuran seorang lelaki.


Apa?! Mereka ... Sepertinya mereka adalah para Ranker yang benar-benar terlatih dalam pembunuhan seperti ini, batin Reno yang baru saja terjatuh karena terkena sihirnya Topeng Hitam.


Ranker yang memimpin pun sampai pingsan karena tidak mampu menghadapi Topeng Jingga.


"Kalian yang menyerang, kalian sendiri yang terpojok. Kasihan," ucap Topeng Jingga meremehkan.


Reno tidak terima diremehkan, diam-diam dirinya menyiapkan sebuah lingkaran sihir di balik tangannya yang berada di belakang punggungnya.


"Oh?! Marah?" tanya Topeng Jingga. Ia melihat sekila ke arah tangannya Reno. "Halah, munculkan saja sihir yang kau sembunyikan itu, aku sudah mengetahuinya. Bodoh sekali kau menyembunyikannya seperti itu, kaukira aku tidak melihatnya?"


SHUUU


Dengan sangat cepat tangan Reno diangkat ke atas dengan lingkaran sihir berwarna jingga di atasnya. Semakin lama lingkaran sihirnya membesar, dan itu memiliki empat garis lingkaran. "Hujan Komet!"


Lingkaran sihirnya itu menembakkan puluhan kerlipan ke langit, dan puluhan kerlipan itu jatuh seperti ribuan komat yang menghujani bumi, meski dengan ukuran kecil.

__ADS_1


NGUUUNG


Ada sebuah pelindung yang tiba-tiba muncul melindungi Topeng Jingga dari sihir Hujan Komet. Itu adalah sihirnya Topeng Hitam.


BLAAARR


BLAAARR


BLAAARR


Puluhan komet itu meledak ketika mengenai pelindung tersebut. Dan ketika selesai serta pelindungnya dihilangkan, itu memperlihatkan Topeng Jingga melipat kedua tangannya dengan penuh kesombongan.


"Kau ini ... Pikirmu ini mempan? Hahaha- " papar Topeng Jingga menertawakan.


Lantas dia mendekati Reno.


Dan orang yang didekatinya itu menyeret tubuhnya sendiri mundur ke belakang. "Mundur! Aku bilang mundur!" tegas Reno sembari mengacungkan sebilah pisau di tangannya.


"Coba lempar," ujar Topeng Jingga.


WUUUSH


"Hah?!" Reno semakin takut melihat pisau yang dilemparkannya itu dapat dengan mudahnya ditangkap oleh Topeng Jingga. Dan pada akhirnya Reno pun pingsan dalam keadaan mengompol ketakutan.


"Hahaha, lihat itu! Dia mengompol," ujar Topeng Jingga menertawakan sembari menunjuk Reno yang mengompol.


"Sudahlah, aku akan kembali berjaga saja," sahut Topeng Hitam. Dan ia segera pergi dari tempat itu dikarenakan sudah tidak ada urusan lagi di tempat Topeng Jingga berjaga.


Topeng Jingga dari atas pohon awalnya tak menyadari Empat Topeng mendatanginya. Tapi mendengar pertanyaan barusan, ia langsung menoleh karena suara serak tegas yang sangat khas dari seorang Empat Topeng–bukan Nio. "Ah, iya," jawab Topeng Jingga. "Mereka adalah para Ranker dari kerajaan Da Nuaktha. Barusan aku dibantu oleh Topeng Hitam untuk mengurusi mereka, dan sekarang dia telah kembali. Oh iya, apa kau sudah selesai?"


Empat Topeng menjawab, "Sudah. Tapi kita tidak pergi terlebih dahulu."


"Kenapa?"


"Aku ingin menunggu gadis yang bertarung tadi keluar."


"Apa kau tertarik padanya?"


"Bisa dibilang begitu."


"Wah wah, bagaimana dengan Alice di rumah? Jangan bilang kau akan mengkhianatinya, kasihan- "


BUGH


"Bedakan antara ketertarikan dan kepedulian!"


Akh ... Aku baru tahu kalau Nio bisa segalak ini ketika menjadi Empat Topeng, batin Topeng Jingga.


Empat Topeng memukulnya dengan sangat kuat hingga kepalanya benjol. Dan sekarang, lelaki dengan satu mata katarak itu pergi kembali menuju ke kawasan danau. Ia menyelam ke danau es dan menahan seluruh hawa dingin yang menusuk kulitnya. Dirinya berenang dengan sangat cepat ke dalam air, hingga tubuhnya merasakan tekanan yang sangat kuat. Dia berusaha menyelamatkan tubuh Potter yang tenggelam, dan kini lelaki tenggelam itu telah berhasil diselamatkan.

__ADS_1


Setelah berhasil diselamatkan, Empat Topeng memompa dada Potter agar seluruh air yang ada di dalam tubuhnya keluar.


"Kalk ... Khaaakhh- alkakh ... "


Mulut Potter dan hidungnya mengeluarkan air yang sangat dingin. Tubuhnya itu membiru karena kedinginan dan tak bisa bernafas. Perlahan matanya membuka dan melihat seorang pria dengan wajah mengerikan.


"Uhuk!" Potter terbatuk karena tenggorokannya masih terasa sangat tidak nyaman dan hidungnya sakit karena kemasukan air. "Kau ... Siapa- kau ini?" tanyanya sedikit takut.


"Empat Topeng."


Singkat, padat, dan sangat lugas, begitulah Empat Topeng.


Tapi kelihatannya Potter seperti kehilangan ingatannya sebagai Peter dan Petro. Dia menjadi individu baru meskipun sebelumnya mereka adalah dua insan yang berbeda. Dia terlihat bingung setelah mendengar jawaban dari Empat Topeng, justru pada saat itu ia mempertanyakan dirinya sendiri. "Siapa aku?" tanyanya.


"Kau?" Empat Topeng sendiri awalnya bingung, tapi dia tersenyum. "Namamu adalah Potter," jawabnya.


"Potter?"


Empat Topeng mengangguk.


"Dari mana asalku?" tanya Potter lagi.


"Kau berasal dari ... Memangnya kau tahu kita ini sedang berada di mana?" tanya Empat Topeng balik.


Potter tersenyum kecil, lantas menggaruk kepalanya dan menggeleng. "Aku tidak tahu," jawabnya.


"Aku akan ceritakan semuanya dengan detail."


Lantas Empat Topeng benar-benar menceritakan semuanya. Awalnya Potter terlihat sangat antusias dengan ceritanya, tapi pada akhirnya, ia sedikit menjauh dari orang yang bercerita itu.


"Kau berkata- kita ini sebenarnya adalah musuh?" tanya Potter.


Empat Topeng mengangguk.


"Lalu kenapa kau menyelamatkanku?"


"Kau tahu? Aku punya sebuah cerita menarik seperti kasusmu ini. Dulu ada dua orang anak kembar yang saling bersaing. Tapi tiba-tiba ada sebuah kejadian yang membuat sumber jiwa mereka bersatu, lantas tubuh mereka juga menyatu. Orang-orang di desanya mengolok-olok apa yang terjadi, keluarganya diusir karena dituduh telah membesarkan monster. Apa kau mau seperti itu?"


Mendengar cerita Empat Topeng, Potter menatap ke bawah. "Aku ... Tak tahu, tapi ... Kenapa kau menyelamatkanku?"


"Aku ingin kita kembali pada keluarga kita bersama-sama," ajak Empat Topeng.


Potter menatap kembali lawan bicaranya. "Kau juga jauh dari keluargamu?"


"Aku hanya ingin kita berteman saja, oke? Keluargaku? Itu tidak perlu kau pedulikan, apa kita tidak bisa berteman saja?"


"Baiklah."


Mereka berdua saling menjabat tangan satu sama lain dan berteman.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2