![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Setelah Lug membentuk gerbang antar dunia, semuanya pun masuk setelah Lug itu sendiri. Dan setelah melewatinya, gerbang yang memotong ruang itu pun tertutup dengan sendirinya. Rupanya ketika distorsi ruangnya menghilang, gerbang itu kembali berubah menjadi lubang hitam dan kembali menjadi bilah pedangnya Penghubung Dunia.
Semua orang tiba di sebuah tempat yang sangat asing di mata mereka. Tempat pijakan mereka seperti kaca raksasa yang di bawahnya terdapat sebuah mekanisme seperti jarum jam, roda gigi, atau benda mekanis lainnya, namun mereka berukuran raksasa. Lug dan yang lainnya seperti berada di langit, karena tidak ada awan dan di atas mereka terlihat banyak bintang bersinar yang jumlahnya tak terhitung.
"A-apa kita ... Sudah sampai, kak?" tanya Nagisa sambil menggenggam erat tangannya Lug. Pertanyaan itu mewakili pertanyaan semua orang di sana.
Lug mengangguk dan menjawab, "Iya, kita sudah sampai."
Tatapannya menjadi lebih tajam dan waspada setelah memasuki dunia para dewa. Para dewa saja bisa dengan mudah mendengar dan memperhatikan makhluk-makhluk yang berada di Planet Voinee, apalagi di planet mereka sendiri.
"Aku akan sedikit menjelaskan, dunia dewa terbagi menjadi tiga wilayah," jelas Lug dengan tatapan ke kaca pijakannya. "Wilayah yang pertama dan yang disinggahi oleh Lucifer adalah Devilion, aku lebih suka menyebutnya Neraka. Lalu ada Istana Besar Olympians, istana para dewa penyuka ketelanjangan. Dan yang terakhir, yang ada tepat di bawah kaki kita ini ... "
Semua orang langsung memandang ke bawah, dan ada juga cahaya yang menyembur dari bawah. Beberapa mekanisme terlihat seperti sedang membuka, dan terlihat apa yang ada di bawahnya. Itu seperti ruang dengan cahaya biru di mana-mana, yang lebih mengejutkan ialah ada beberapa planet yang berterbangan di sana–ada juga yang mirip seperti Saturnus yang memiliki cincin yang luas.
"Singgasana Para Bintang!"
Tepat ketika Lug menyebutkan hal tersebut, ada debu debu yang berkilauan laksana bintang-bintang, debu itu membentuk sebuah singa berukuran sangat besar, ia memiliki sayap besar yang memungkinkannya terbang di di lorong vertikal itu. Lalu menyeruak dari bawah lantai kaca dan itu terbang ke atas lalu mendarat. Terasa kekuatan yang sangat besar dan luar biasa dari singa itu, hingga menghempaskan angin angin di sekitarnya.
"A-apa ... Itu?" tanya Zephyr ketakutan.
Tak hanya Zephyr, begitupun yang lainnya penasaran sekaligus penuh kewaspadaan yang disertai ketakutan dalam hatinya. Namun itu tak berlaku bagi Lug, justru ia menyeringai senang seperti ada sesuatu yang bagus tengah menghampirinya.
__ADS_1
Lug berjalan maju mendekati pusaran debu tersebut, lalu ia berseru, "Lama tak berjumpa, Leo! Kedatanganku kemari disambut dengan kehadiranmu!"
Singa itu mulai berubah wujud dan membentuk tubuh manusia, namun memiliki empat lengan yang besar yang mana keempat lengannya itu mengenakan armor besi tebal yang berbentuk kepala singa dengan matanya yang membara oleh api, ketebalan dan ukurannya berkali-kali lipat dibandingkan tangan manusia biasa. Ia juga mengenakan pelindung kepala yang mana berbentuk kepala singa juga dengan mulut terbuka lebar, kepalanya makhluk itu berada dalam mulut singa tersebut seakan itu adalah armor baginya. Kedua bola matanya menyerupai bola yang di dalamnya terdapat nebula dan bintang-bintang. Serta di dahinya terdapat garis simbol rasi bintang Leo yang berpendar dengan sinar biru. Ketika tubuhnya terbentuk, ia memiliki postur tubuh besar dan tingginya mencapai 200 cm.
Makhluk itu tersenyum kepada Lug. Dia membungkukkan badannya, menyambut dengan gemulai menawannya seolah-olah menyambut bangsawan, mengayunkan salah satu tangannya dan tangan yang lainnya berada di belakang badannya. Lalu ia berkata, "Selamat datang kembali, Acestral yang agung, Lug Vincent."
Lug tersenyum ketika melihatnya. "Leo, Dewa Konstelasi Kelima, Dewa Kepemimpinan, lama tak berjumpa. Terima kasih telah menyambutku," ucapnya dengan senyuman tipis.
Lantas Lug mengayunkan pergelangan tangannya ke bawah, yang menandakan kepada sang Dewa Konstelasi Kelima untuk mengangkat kembali kepalanya.
"Tak perlu repot-repot dengan memanggil seluruh nama lengkapku, panggil saja saya Leo sudah menjadi kehormatan bagi saya, tuan Acestral," ucap Leo yang masih rendah diri. Dia terlihat begitu menghormati sesosok Lug, seakan mereka pernah bertemu.
Semua orang langsung menelan ludah dan menatap Lug, tak percaya bahwa seorang anak lelaki itu telah berteman dan dihormati oleh seorang dewa.
Sementara Leonardo Vlamera sendiri malah terpikirkan bagaimana bisa namanya sama dengan para dewa? Apakah sebuah konspirasi?
Tak lama setelah itu, muncul singa singa yang hampir sama dengan wujud Sang Dewa Konstelasi Kelima itu ketika menjadi singa, namun ukuran singa singa yang baru datang itu sedikit lebih kecil. Lug mengisyaratkan kepada semua orang di balakangnya untuk tidak takut terhadap singa tersebut dan segera naik ke atas para singa itu. Sementara Lug sendiri merubah wujudnya menjadi wujud naga dengan sayap yang lebar.
"Hei! Kau merusak koleksiku lagi?!" seru Cleo marah.
Lug menoleh ke arah wanita itu, lalu menyodorkan tangannya dan kembali merubah tangannya dalam wujud manusia, terlihat bahwa ada suluran kain yang mana itu adalah bagian dari baju yang dikenakan oleh Lug. Ia pun berkata, "Tak perlu khawatir, Cleo. Perubahan wujudku ini menjaga pakaian yang kukenakan."
__ADS_1
Cleo bernafas lega, namun dahinya masih terlipat karena masih tidak percaya kalau baju yang dikenakan oleh Lug tidak akan mengalami kerusakan.
"Sudahlah, ayo pergi!" suruh Lug mengajak semuanya. Ia mulai mengepakkan sayapnya, lantas terbang bersama dengan Dewa Leo yang berubah menjadi singa lagi.
Ketika semua orang telah naik ke atas singa singa itu, mereka segera turun dan menembus lantai kaca itu. Lalu mekanismenya kembali menutup. Akan tetapi, setelah kepergian mereka, ada lusinan pasukan terbang yang baru saja hadir ke tempat kehadiran Lug sebelumnya. Mereka semua terlambat, Lug telah masuk ke dalam wilayah Singgasana Para Bintang. Pasukan itu berwarna gelap hingga tak terlihat ketika terbang di langit.
*****
Kembali pada Lug, kini dirinya sedang terbang turun ke bawah, dia menoleh ke arah Dewa Leo. "Terjadi sesuatu di atas? Aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di luar tadi, bahkan ... Jumlahnya cukup banyak," ucapnya serius.
Dewa Leo menjawab, "Bola Ramalan Suci telah memberikan kami kabar, lusinan pasukan iblis akan menyerang pada saat kehadiran anda. Maka dari itu saya langsung membawa anda ke sini tanpa basa basi.
"Bola Ramalan Suci, ya? Mereka bergerak cepat, juga," gumam Lug.
Setelah itu, mereka mendarat di sebuah piringan besar yang tergambar 12 simbol rasi bintang secara melingkar, simbol simbol itu berputar searah jarum. Di sekitarnya terdapat banyak garis garis yang membentuk rasi bintang di langit, garis garis tersebut melayang layang di sekitar piringan tersebut.
Manusia biasa selain Lug terpukau dengan keindahan di sekitar mereka. Mereka melihat adanya replika bintang dan planet yang berterbangan, namun mereka tak bisa menyentuhnya karena terlalu jauh.
Nagisa bahkan membayangkan dirinya bersama dengan Lug nya tercinta itu berjalan bersama di dunia yang indah itu, hanya saja dunia ini terlalu sepi. Tak banyak yang ada di sekitarnya, hanya sebuah kekosongan yang diisi oleh benda benda mati yang tak tahu apa fungsinya.
"Apa anda ingat ini tempat apa, tuan Acestral?" tanya Dewa Leo yang menoleh ke arah Lug.
__ADS_1
Lug tersenyum, ia pun menjawab, "Tentu saja aku mengingat tempat ini. Altar Bintang, Gerbang Dunia Perbintangan."
Bersambung!!