![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Beberapa hari kemudian, Lug sedang berada di akademi. Kini adalah hari kelima belasnya di akademi sihir kerajaan. Tapi sekarang di jam istirahat, Lug dipanggil ke ruang praktek sihir oleh seorang guru. Kenapa di jam santai seperti ini aku malah dipanggil ke ruang praktek sihir? Gumamnya kesal dalam hati.
Tapi tak disangka, ketika Lug membuka pintu ruang praktek sihir, ia melihat ada seorang gadis yang mana itu adalah senior yang sempat bermasalah dengannya.
"Wah wah, ini dia si 'Debu Bintang' akademi," sambut senior tersebut.
Lug dipanggil dengan sebutan Debu Bintang karena token sumber jiwanya. Rovers Luminously sebagai pengurusnya mengusulkan nama tersebut dan disepakati oleh guru pembimbing Lug dan beberapa guru pembimbing lainnya. Hingga pada akhirnya sebutan Debu Bintang ini terdengar sampai ke telinga siswa siswi di akademi.
Di sana ada juga beberapa gadis lainnya dan seorang guru wanita yang mana itu adalah guru pembimbingnya Fana. Lug sangat tidak senang dengan guru tersebut.
"Kenapa aku dipanggil ke sini?" tanya Lug penasaran. Sebenarnya ia merasa bahwa yang dilakukannya sekarang ini sangatlah membuang waktu, makanya itu dia sangat malas. "Kalau hanya sekedar sambutan receh seperti ini, aku balik saja ke kelas," imbuhnya.
Sepersekian detik sebelum Lug berbalik, senior yang menyambutnya itu berteriak, "JANGAN PERGI!"
Lug menoleh lagi pada senior itu dengan tatapan malas. "Memangnya aku di sini mau diapakan?" tanyanya kesal.
Sebenarnya, Lug sangat tahu apa alasan dirinya dipanggil ke ruang praktek sihir ini. Gadis senior itu pun memperkenalkan dirinya. "Hei bocah, kau bisa memanggilku nona muda keluarga Lionel, namaku Eveline, Eveline Lionel," ucapnya.
Lug sangat ingin menghiraukannya dan dengan rasa sebal ia berkata, "Terus? Aku tidak peduli dengan namamu, kenapa sih orang-orang yang ada di sini suka memperkenalkan diri?" Dan juga dalam hatinya dia mengeluh, di dunia yang lainnya malah kebanyakan orang saling menyembunyikan nama mereka seolah lebih berharga dari permata.
Lug benar-benar ahli dalam membuat orang lain kesal, bahkan keahliannya itu tak pandang bulu sekalipun orang yang disinggungnya adalah bangsawan.
Eveline merasa bahwa juniornya itu malah semakin menjadi-jadi, ia sangat kesal. "Jaga ucapanmu itu!" serunya.
Lug melirik dengan mata malas. "Terus kenapa?"
Lantas Eveline tersenyum dan berjalan mendekati Lug dengan lenggak-lenggoknya yang dibuat semenawan mungkin. "Bagaimana kalau kau menerima sedikit pelajaran dariku?" ujarnya sembari mendekatkan bibirnya ke telinga juniornya itu.
Ih, apa-apaan lacur satu ini? Lug merasa risih merasakam adanya nafas bau di telinganya, hahaha. "Oke, lalu?"
Eveline tak menyangka akan semudah itu. "Oh, kau tidak memberikan penolakan sedikitpun?" tanyanya yang bingung.
Lug menggeleng dengan wajah malas. Sebenarnya ia hanya ingin cepat pergi dari tempat itu dan kembali ke kelas bersama teman-temannya. Tapi apa daya, jika Lug melarikan diri, orang-orang akan tahu bahwa ada seorang murid dari desa Nedhen yang sangat pengecut.
Hingga pada akhirnya, teman-teman Eveline langsung membentuk pembatas lingkaran seperti biasanya kalau bertarung.
Lug menguap karena pembentukannya cukup lama, bahkan ia tahu bahwa pembatas itu sebenarnya adalah domain pertarungan yang menguntungkan satu pihak saja dan sudah ditujukan kepada Eveline.
Pada saat garis pembatasnya selesai, gadis itu mulai mempersilahkan. "Debu Bintang, silahkan masuk terlebih dahulu, aku menyambutmu," ucapnya ramah dengan senyuman penuh trik.
Membalas senyuman dengan sebuah seringai, Lug dengan santainya menyahuti, "Kenapa tidak kau dulu yang masuk? Bukankah seharusnya tuan rumah lah yang memulai?"
Eveline tampak ragu-ragu. "Tapi aku mempersilahkanmu, kenapa kau tidak masuk?"
"Tidak tidak!" ucap Lug menoleh seraya menggelengkan kepalanya. "Kau dulu yang masuk, aku merasa tidak enak hati" imbuhnya.
Cih, apa dia melihat trikku? Batin Eveline.
Formasi sihir yang ada pada pembatas yang diciptakan oleh teman-temannya Eveline membuat sumber mana pihak pertama yang masuk akan melemah sebesar 50 persen. Sebenarnya Lug sama sekali tidak takut dengan formasi tersebut, tapi ia hanya ingin turut campur dalam permainannya Eveline saja. Sehingga itu dapat memutar balikkan alur permainannya, sehingga Lug tidak perlu menang dengan sumber mana yang dilemahkan.
Sihir pelemahan itu berbeda dengan sihir kutukan. Pada umumnya sihir kutukan itu adalah sihir yang ditanamkan dan akan terus aktif meskipun penggunanya tidak lagi mengalirkan mana pada lingkaran sihirnya. Sementara sihir pelemahan harus selalu mengalirkan mananya terhadap lingkaran sihirnya, meskipun tidak perlu terlalu banyak, tapi tetap harus terhubung dengan sumber mana penyihirnya. Dan sihir kutukan sendiri membutuhkan keahlian khusus serta lingkaran sihir sekurang-kurangnya adalah lima lingkaran sihir. Tapi kualifikasi lima lingkaran sihir itu hanya terjadi di dunia umum saja, berbeda jika sihir kutukan itu adalah sihir bawaan, atau kondisi khusus seperti Lug. Serta sihir pelemahan tidak memiliki keahlian khusus yang konsepnya hanya terbalik dengan sihir penguatan.
Sedikit catatan, semua sihir yang ada di dalam Semesta Sihir milik Lug tidak terikat dengan aturan dunianya sekarang ini.
Tetapi karena Lug tidak terlalu perlu untuk mengungkap kebenarannya, dia pun langsung masuk ke dalam arenanya. "Ini lucu, tubuhku sedikit berat ketika berada di tempat ini," sindirnya.
Eveline senang melihatnya. Ia juga tak peduli dengan sindiran itu. "Ya, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Dan kau tahu, aku menyambutmu, Debu Bintang."
"Itu sedikit memalukan, jangan memanggilku dengan sebutan it- oh iya, kau tahu namaku, kan?"
"Lug, benar kan?"
"Nah, panggil saja dengan nama itu, terdengar jauh lebih baik."
Segera Eveline masuk ke dalam arenanya. Dia mulai membentuk lingkaran sihir di tangan kanannya yang diarahkan kepada Lug.
__ADS_1
Lug sendiri tidak merasa terbebani dengan sihir pelemahan yang ditujukan padanya. Sumber mananya yang luar biasa besar hampir tidak terpengaruh dengan sihir kecil biasa seperti itu. Karena sihir pelemahannya hanya memiliki tiga lingkaran sihir saja.
WHUUUSH
Tanpa aba-aba, Eveline langsung menembakkan sebuah sihir yang berupa peluru angin.
Hanya dengan sibakan tangan saja, Lug menghempaskan sihir itu sampai ke luar arena. "Kau bermain-main denganku, ya?" sindirnya lagi. Tapi dia tampak tidak tidak senang karena lawannya itu meremehkannya. "Sihir dua lingkaran, ini seperti mainan anak kecil saja. Kau bercanda?"
Eveline sedikit kesal dengan itu. "Baiklah jika itu maumu, jangan menyesalinya, ya?!" tuntutnya.
Tanpa basa-basi lagi, gadis itu segera menembakkan sebuah sinar putih lurus ke arah Lug. Mirip seperti Cahaya Penembus milik Nagisa, hanya saja sihir Eveline terlihat lebih solid dari sihir dua lingkaran itu.
Dirasa serangan tersebut berbahaya, Lug menggunakan sihir Lengan Bayangan untuk menangkisnya.
Alhasil serangan tersebut dapat ditahan, namun sihir Eveline tidak menunjukkan bahwa itu akan berhenti ketika ditahan. Sihir tersebut masih terus berlanjut meskipun gadis itu tampak khawatir. "Lug, menyerah saja! Kau takkan bisa menghentikan sihirku ini!" serunya.
"Oh, ya? Bukankah kau yang terlihat cemas ketimbang aku?" tukas Lug.
Eveline terdiam, ia tak dapat membalas ucapan Lug.
"Dengar ini, aku akan selesaikan ini dengan tiga sihir saja. Dan sihir yang kugunakan ini sudah dihitung satu," terang Lug dengan sombongnya.
"Hahaha," Eveline tertawa. "Kau lucu, coba kulihat apa kau benar-benar bisa melakukannya."
Dan benar saja, Lug langsung menggunakan Lengan Bayangannya untuk menekan sihir Eveline dan membuat gadis itu terjatuh. Segera ia bangkit lagi dan sudah melihat bahwa anak lelaki yang membuatnya jatuh itu tak ada di hadapannya.
"AWAS!" teriak salah seorang temannya Eveline.
Eveline segera menengok ke kanannya dan melihat sebuah bola petir yang sudah ada di depannya. "AARGH!!!" Gadis itu sontak berteriak dan membuat kegaduhan, beberapa orang yang melewati ruang praktek sihir terkejut, tapi mereka menghiraukannya–berpikir bahwa mungkin ada seseorang yang kesal karena sedang berlatih.
Dan entah darimana Lug bergerak, tiba-tiba saja ia sudah berada di samping kanan Eveline. "Singularitas!"
Dengan sihir bola hitam di tangan kanannya itu, ia menarik tubuh Eveline hingga terbang ke udara. Lug segera membatalkan sihirnya dan gadis yang tertarik itu terlempar hingga keluar dari arena.
Eveline merasa kesakitan hingga menangis.
Seorang guru yang menyaksikannya itu langsung mendekati Lug dan membentak, "APA-APAAN DENGANMU ITU?! KAU TERLALU KASAR DENGAN SEORANG GADIS! BAGAIMANA BISA KAU SEKASAR ITU DAN MEMBUAT SENIORMU MENANGIS?!!!"
Lug merasa dirinya tak mendapatkan keadilan di ruangan itu. "Lantas?" ujar Lug dengan santainya. "Hal seperti ini bukannya wajar kalau hanya sekedar untuk berlatih tanding?"
"Apa kau ini tak pernah diajarkan sopan santun?!"
"Maaf, kau menyinggung orang tuaku?! Bagaimana dengan hak khusus yang kudapat dengan berada di dalam akademi ini?"
"Persetan dengan itu!" Segera setelah membentak Lug, guru wanita itu menoleh ke arah Eveline yang masih menangis.
"Aku tidak percaya! AKU TIDAK PERCAYA AKU AKAN KALAH DENGAN ANAK KAMPUNGAN ITU!!!" teriak Eveline. "Dia pasti curang," gadis ini menuding Lug dengan penuh emosi.
"Lalu tubuhku yang menjadi lebih berat dan sirkulasi manaku yang berubah menjadi sedikit kacau ini siapa yang menyebabkannya? Kalau bukan karena teman-temanmu yang membuat lingkaran sihir pelemah itu, mungkin kau bisa jatuh dalam kondisi yang lebih menyedihkan lagi. Berterima kasihlah pada rencana busukmu itu!" jelas Lug yang telah mengungkap kebenaran Eveline. Sementara gadis itu tak bisa berkata-kata lagi dan hanya menangis.
"Jangan asal menuduh!" guru itu masih membela Eveline.
"Oh?" Lug merasa dirinya sedang ditantang untuk memperlihatkan buktinya. Dengan cepat ia menggunakan sihir Cahaya Pembalik dan membuat warna lingkaran sihir pelemahnya terpampang dengan jelas. Keduanya langsung menghilang seketika itu juga. "Itu apa?"
Guru wanita itu hanya bisa menggertakkan giginya saja. Dia tahu bahwa murid bangsawan yang dibelanya itu sedang berbuat curang.
"Karena tidak ada hal penting lagi di sini, aku pergi saja. Lagipula pertandingan tadi hanya membuang-buang waktu saja," terang Lug seraya keluar dari ruang praktek sihir.
Eveline masih menangis dan dihibur dengan teman-temannya. Sebenarnya dia sudah tidak lagi menangis karena kesakitan, tapi karena rasa malu yang didapatnya akibat kalah dari seorang junior dari desa yang telah ia remehkan.
Kembalinya Lug di kelas, pelajaran pun langsung dimulai kembali. Ck, sialan! Sudah kuduga kalau aku ketinggalan jam istirahat, mereka benar-benar sangat menyebalkan, umpat Lug dalam hati.
Hingga waktu pulang pun tiba. Dikabarkan esok harinya adalah ujian mingguan antar kelas yang katanya akan dihadiri oleh kepala keluarga Azamuth, keluarganya Zephyr. Sebenarnya bukan acara khusus atau semacamnya, hanya saja kepala keluarga tersebut hendak melihat-lihat akademi dan mengunjungi anaknya yang sedang belajar di akademi. Dan lagi, kabar bahwa kepala keluarga Azamuth berkunjung ke akademi sama sekali tidak terdengar oleh bangsawan lain, guru-guru, dan para murid kecuali junior dari kelas S serta guru pembimbingnya.
Sekarang Lug diundang oleh Zephyr untuk mengunjungi keluarganya. Dan Zephyr juga mengatakan bahwa nanti ketika Lug pulang akan dihantar oleh seorang prajurit khusus dari keluarganya.
__ADS_1
Lug kini sudah berada di depan gerbang emas yang di dalamnya terdapat rumah bak istana yang sangat megah, taman taman yang hijau dan indah, jalanan yang tersusun rapi oleh beton abu-abu, serta sebuah air mancur tepat di depan beranda yang membuat jalan betonnya melingkarinya. "Tanah seluas ini lebih baik buat latihan sihir lima lingkaran saja!" gumamnya.
Tak lama kemudian, ada seorang prajurit yang datang membukakan pintu gerbangnya. "Selamat datang, tuan Debu Bintang," sambutnya.
Lug menyeringai risih mendengar panggilan tersebut, "Terima kasih, dan tolong, jangan panggil aku tuan," sahutnya.
"Maaf, panggilannya akan terdengar kasar nantinya."
"Itu tidak apa-apa, jika kau bersikeras, panggil saja dengan nama belakangku, Vincent."
"Baiklah, silahkan masuk, tuan muda Vincent."
Prajurit itu langsung tahu bahwa Lug berasal dari keluarga Vincent, itu karena nama belakangnya diberi tahu oleh Lug. Dan secara turun temurun, nama keluarga selalu ditempatkan di belakang.
Lug pun masuk ke dalam. Dia dihantar oleh prajurit itu hingga sampai di beranda rumah keluarga Azamuth. Sedikit gugup, karena pertama kalinya berada rumah bangsawan. Tetapi Lug sama sekali tidak memperlihatkan rasa gugupnya itu.
KRIEEET
Pintu putih yang tinggi nan lebar terbuka, pintu itu dibukan oleh Zephyr. "Masuklah," sapanya ramah.
"Terima kasih."
Lug segera masuk setelah disambut. Tak disangka, bagian dalam rumah Zephyr tampak amat sangat mewah. Tangga yang dilapisi karpet merah, meja kaca yang terlihat sangat kokoh, lukisan lukisa besar dengan bingkai elegan yang dipampang di beberapa sudut dinding yang tinggi, dan perabotan yang lainnya.
Lug sempat melongo melihat semua itu. "Kau tahu, hidupmu ini sungguh dipenuhi oleh kemewahan," pujinya.
Zephyr hanya bisa tersenyum. "Ya- beginilah hidup seorang bangsawan, tapi tak semuanya benar-benar dalam kemewahan," balasnya.
"Meski hidup sederhana, tetap saja mereka bergelimang harta. Kau tak tahu rasanya hidup di kalangan rakyat biasa tanpa kekayaan yang menopang," jelas Lug yang masih menatap semua yang ada di dalam kediaman keluarga Azamuth itu.
"Mungkin saja, aku sendiri tak pasti."
Setelah itu, Lug dipersilahkan duduk di kursi sofa yang sangat empuk. Dia bahkan sempat menaik-turunkan tubuhnya karena saking empuknya, akan tetapi demi menghargai tuan rumah, Lug tidak melanjutkan perbuatannya yang tidak sopan itu. "Maaf, aku terlihat norak," ucapnya.
Zephyr hanya tertawa.
Tak lama berselang, ada seorang pria tua dengan tubuh kurus, janggut putih, rambut putih, setelan berwarna abu-abu gelap, dan topi bundar berwarna putih mendatangi mereka berdua. Meskipun terlihat tua, tapi pria itu masih berusia setidaknya tiga puluh tahunan saja.
"Oh?" Zephyr sedikit terkejut. "Ayah? Kau baru saja pulang?" tanyanya.
Pria itu ternyata adalah ayahnya Zephyr, kepala keluarga Azamuth. "Iya, aku baru saja pulang dari tambang," sahutnya.
Di meja telah disajikan sebuah minuman yang ada dalam teko air yang berupa kaca berwarna perunggu gelap. Sehingga air yang ada di dalamnya terlihat. Dan Lug mengambil gelas kaca yang ada di sebelahnya, lantas menuangkan air di gelas tersebut dan meminumnya. Dia berusaha untuk tidak mencampuri urusan keluarga Azamuth.
"Ini temanmu?" tanya ayahnya Zephyr.
Zephyr menjawab, "Iya, dia teman sekelasku."
"Wah, kelas S. Anak dari desa? Berarti dia sangat bertalenta."
"Aku bahkan kalah dengannya."
"APA?!"
Hanya satu kata, 'apa,' dan itu diteriakkan dengan sangat lantang, membuat Lug tersedak hingga terbatuk-batuk. Sebenarnya ia sudah tahu, tapi berusaha menjiwai perannya, sehingga ia malah tersedak sungguhan.
"Nak, kau sungguh mengalahkan Zephyr?" tanya ayahnya Zephyr.
"Uhuk- i-iya, pak ... Huk-uhuk!" jawab Lug yang masih terbatuk-batuk.
"M-maaf, jangan banyak bicara dulu, kau masih tersedak seperti itu."
Lug mengangguk dengan wajah yang sedikit memelas. Bukan karena apa, tapi ia sangat tak menyangka bahwa tersedak itu mempunyai rasa sakit yang berbeda dari yang lain. Rasanya sangat menyiksa apalagi tersedak ketika sedang minum. Lug memang pernah tersedak di saat makan, tapi ia tak tahu seberapa menyiksanya tersedak ketika sedang minum.
Bersambung!!
__ADS_1