Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 55 - Kesedihan Mendalam (2)


__ADS_3

Terungkap sudah apa yang sebenarnya terjadi. Logan yang sempat dibanting oleh Nagisa itu telah mendapatkan jawabannya setelah menguraikan cerita yang disampaikan gadis itu. Dan ditetapkan adanya satu korban yang seorang anak laki-laki yang lenyap pada saat itu juga.


Nagisa sempat dipanggil untuk diadili karena membunuh seseorang, tapi dia tidak mendapatkan hukuman berat karena telah menyingkirkan pemuja dewa iblis. Meski begitu, Nagisa tidak ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan Lug, akan tetapi pemuja dewa iblis lah yang menjadi pelakunya. Hal ini dilakukan agar gadis tersebut tidak dijauhi oleh orang lain dan masih bisa hidup dengan baik. Dan agar citra akademi sihir kerajaan tidak menjadi buruk di mata orang lain.


Beberapa hari kemudian, Nagisa mendapatkan hukumannya, yaitu dirinya diskors dari akademi sihir untuk selama satu Minggu lamanya. Dan kabar tentang tewasnya Lug telah terdengar sampai ke desa Nedhen.


Nivi menangis berhari-hari karena kehilangan anak bungsunya itu. Rakt juga hampir sama seperti ibunya itu, Teressa pun turut berduka. Bahkan Vans memutuskan untuk tidak lagi menempa dalam beberapa Minggu berikutnya. Namun berbeda dengan Nagisa, Nivi tetap masih bisa diajak berbicara dan tersenyum. Jangan kalian menganggap bahwa Nagisa adalah seseorang yang paling kehilangan, namun Nivi lah yang paling kehilangan–walapun dia terlihat mengikhlaskan kepergian anaknya, tapi dalam hatinya, dia masih terus menangis setiap saat.


Di malam harinya, Nagisa mengelus koin yang ada pada kalung Lug. Kalung itu ia mainkan berkali-kali sembari membayangkan wajah Lug di dalam koin tersebut.


Dan tiba-tiba saja, muncul karet hitam yang melekat pada pinggiran koin tersebut dan karet hitam tersebut memancarkan cahaya yang mengitari koin itu. Nagisa terkejut melihatnya.


Tiba-tiba terdengar suara dari karet yang melingkari koin itu.


"Siapa kau? Oh, wajahmu ... Nagisa! Ya, kau adalah Nagisa."


Suaranya itu adalah suara Lug, Nagisa sangat senang mendengarnya. Dia menangis bahagia pada saat itu dan mengira bahwa Lug sebenarnya masih hidup di tempat lain yang tidak diketahui. "Iya, iya, aku Nagisa ... Kakak, bagaimana kabarmu?" tanya Nagisa.


"Nagisa, dengar ini. Suara yang kau dengar ini adalah rekaman suaraku di masa lampau. Jika kau bertanya kepadaku, aku tidak bisa menjawabnya karena ini akan berbicara sesuai apa yang kubicarakan pada waktu lalu."


Seketika itu, Nagisa menjadi kecewa karena suara yang didengarnya itu hanyalah sekedar rekaman. Yang berarti bahwa itu bukanlah Lug sekarang ini.


"Nagisa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jika kau membawa kalung ini ... Ya, aku tak tahu kenapa kalung ini bisa ada di tanganmu. Tapi yang pasti, kenakan saja kalungnya, jika mungkin aku sedang pergi, maka ingatlah aku melalui kalung yang kau kenakan ini. Pesanku, jangan jadi gadis yang cengeng jika aku tidak ada di sampingmu. Tetap menjadi wanita yang tegar selalu. Terus berlatih, jangan malas! Jika kau melakukan kesalahan, bertanggung jawablah. Dan lagi, jika tak mau bertanggung jawab, jangan membuat masalah atau kesalahan. Hiduplah seperti apa yang kau mau apabila aku tidak ada di sisimu. Jangan lupa menabung, bahagiakan ayah, ibu, kakakmu, dan kakak Rakt. Itu juga akan membuatku bahagia."


Tak terasa air mata Nagisa menetes lagi.


"Mungkin terlalu panjang, ya? Haha, mungkin sampai sini saja ya, Nagisa."


"Tidak, kak! Tidak! Aku masih belum cukup mendengar suaramu! Aku ingin ... Aku ingin ... Kau kembali," ujar Nagisa sambil menangis.


"Jaga dirimu baik-baik, Nagisa! Aku tak mau melihat dirimu sakit di kemudian hari, makan yang teratur, ya- kau itu gadis cantikku, aku cinta padamu, sampai jumpa lagi, Nagisa."


Pada saat itu juga, tangisan Nagisa semakin menjadi-jadi. "Kalau kau mencintaiku, kenapa kau meninggalkanku?! Kau seharusnya tak pergi semudah itu! Kau adalah orang terkuat yang pernah kutemui! Kala itu aku hanya ingin membantumu, tapi kenapa kau ikut mati?! Seharusnya kau bisa bertahan sedikit! Kala itu, kau menolongku, aku bertahan demi dirimu! Tapi kenapa kau tak bisa bertahan demi diriku?! Kenapa? Kenapa?!" gumamnya sedih.


Mau bagaimanapun juga, perasaan Nagisa sudah sangat sulit untuk dihilangkan. Sosok lelaki itu, Lug Vincent, akan terus melekat di dalam hati dan pikirannya.


Untung saja, pada saat itu Riani sedang tidak ada di kamarnya bersama dengan Nagisa. Jika dia ada di sana, mungkin gadis itu juga ikut menangis mendengarnya–Nagisa masih tinggal bersama dengan Raini di kediaman Azamuth.


*****


Keesokan harinya, Nagisa mendapatkan panggilan dari asosiasi keamanan kerajaan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia akan dikirim ke beberapa desa untuk melakukan perbaikan yang ada sebagai hukumannya.


Asosiasi telah menghitung total kerusakan yang ada, yakni tiga desa telah hancur. Dan lagi, kehancuran fasilitas alam seperti hutan, sungai, gunung, bukit, dan lain-lain, telah dihancurkan sejauh 5500 regrit.


Nagisa pun sampai di desa pertama yang berada di dekat tambang yang dikelola oleh keluarga Azamuth. Desa itu bernama desa Fourem, sebuah desa kecil yang bisa dibilang cukup miskin.


Sesampainya di sana, banyak sekali orang yang merasa sedih atas hilangnya tempat tinggal mereka. Ada juga yang berduka atas meninggalnya salah satu atau beberapa bagian dari keluarganya atas insiden yang terjadi itu. Nagisa ikut merasa sedih melihat mereka yang kehilangan orang-orang tercinta mereka, mengingatkan dirinya sendiri kepada Lug. Seakan gadis itu sangat ingin menghukum dirinya sendiri.


Nagisa ke tempat itu dihantar menggunakan pedati milik keluarga Azamuth.


Ada seorang pria yang bertanya kepada kusirnya, "Siapa gadis itu?"


Kusirnya menjawab, "Dialah yang akan bertanggung jawab atas apa kerusakan yang terjadi."


Semua orang langsung berpikiran sama bahwa Nagisa lah pelakunya, tapi ada beberapa orang yang berpikir rasional.


"Gadis lemah sepertinya itu yang menghancurkan desa kami? Aku tidak percaya! Lihatlah gadis itu! Dia terlihat lemah lembut, seakan-akan dia memang dipaksa untuk bertanggung jawab atas kerusakan separah ini."

__ADS_1


"Iya, aku setuju denganmu. Lagipula sepertinya tak mungkin baginya menghancurkan hutan sampai lima hipagrit."


"Anak sekecil dia bisa menggunakan sihir enam lingkaran? Haha, bukankah itu tidak masuk akal? Menurutku, dia mungkin hanya dikambing hitamkan."


Hampir semua orang mulai setuju dengan pendapat itu. Mereka sekarang malah merasa kasihan dan bersimpati kepada Nagisa.


Nagisa pun turun dari pedati. Dia menatap mata semua orang satu persatu dari kanan ke kiri. Dalam satu tarikan nafas, dia pun mulai berbicara, "Maafkan aku atas apa yang kuperbuat. Kalian mungkin merasa semua ini tidak masuk akal, tapi kenyataannya- ya, memang aku lah pelakunya. Aku memang bisa menggunakan sihir enam lingkaran, aku bisa menggunakan sihir Pusaran Badai Cahaya yang kuubah menjadi sihir enam lingkaran dan menghancurkan segalanya. Jadi kupikir, aku layak untuk dihukum seperti ini, memang sudah sepantasnya."


Meski begitu, ada beberapa yang tak percaya dengan ucapannya. Adapun yang percaya, tapi tetap bersimpati padanya.


"Nak, mungkin kau membuat keputusan yang buruk pada hari itu. Tapi yakinlah, kau adalah seorang gadis yang bertanggung jawab. Kau memberikan manfaat yang besar pula dengan menyingkirkan para pemuja iblis itu. Kami sudah mendengar semuanya."


Tapi ada juga yang memang sedari awal sudah tidak menyukai Nagisa dan menganggap insiden yang diperbuatnya itu adalah kesengajaan.


"Tapi jangan kaupikir kami akan memaafkanmu begitu saja! Bagaimana kau mengembalikan saudara, orang tua, kerabat, dan seluruh keluarga kami yang sudah kau bunuh?!"


Pemikiran tiap orang juga ada yang dapat berubah dengan sangat cepat. Beberapa dari mereka juga masih menuntut atas kehancuran yang telah dilakukan oleh Nagisa.


Sehingga pada saat itu, gadis tersebut langsung disuruh untuk membantu membangun kembali tiap rumah yang telah runtuh. Nagisa mengikuti arahan dari berbagai orang, dan dia hanya diberi makan dan minum saja.


Di siang harinya, Nagisa sedang beristirahat karena siang ini sangatlah panas. Ada seorang anak laki-laki kecil bersama ibunya yang terlihat masih muda. Anak itu masih berusia satu setengah tahun dan sudah bisa berbicara. Dan ibunya meski masih terlihat muda, tapi rambutnya yang hitam sudah beruban–turunan genetik dari orang tuanya. Mereka menghampiri Nagisa. Anak itu menatap Nagisa, lantas dia tersenyum dan tertawa. Tawa itu menyenangkan hatinya Nagisa, lalu ia menoleh pada ibu sang anak. Ibunya itu juga tersenyum melihat anaknya tertawa.


Kemudian ibunya itu duduk di samping Nagisa dan membiarkan anaknya bermain di sekitar, dia menatap gadis di sebelahnya. "Nak, sejujurnya aku marah padamu," paparnya.


Nagisa terlihat murung lagi. Dia paham alasan kenapa wanita itu marah padanya. "Aku layak untuk mendapatkannya," gumamnya.


"Kau tahu? Pada saat itu, suamiku sedang berburu di hutan. Biasanya dia menjual kulit serigala atau tulang hewan buas yang tahan lama untuk dijadikan aksesoris. Tapi tiba-tiba saja, ada ledakan besar yang mengarah pada dirinya dan tewas seketika itu juga. Awalnya aku sedih dan mengutuk pelakunya, namun mendengar bahwa seorang gadis yang sedang berusaha membunuh pemuja dewa iblis, aku pun mampu mentolerirnya, meskipun sebenarnya aku masih mencintai suamiku," terang sang ibu.


Pada saat itu, Nagisa juga mulai bercerita, "Maafkan aku, karena pada saat itu aku juga tidak punya pilihan lain lagi."


Wanita dua puluh tahunan itu seolah memahami apa yang ada di dalam pikiran Nagisa.


Mendengar itu, wanita yang di sampingnya Nagisa merasa bahwa semua ini semata-mata bukan hanya pertarungan yang bertujuan untuk menghapuskan pemuja dewa iblis.


"Kakakku sudah tidak berdaya lagi, dia ... Dia ditindas habis-habisan oleh makhluk mengerikan itu. Aku tahu kakakku tidak menginginkan aku menggunakan sihir ini, tapi dia seolah sudah berkorban terlalu banyak untuk menyelamatkanku. Aku berpikir untuk menyelamatkannya, tapi ternyata ... Dia ikut tewas pada insiden hari itu. Tak kupikir dampaknya akan semengerikan ini, aku memang bodoh dan tidak berpikir panjang kala itu, bodohnya aku!" Nagisa berterus terang.


"Kau tidaklah salah," ucap wanita di sampingnya. "Jika aku jadi kau dan punya kekuatan seperti itu sebagai solusi terakhir, aku akan lakukan hal yang sama sepertimu."


Nagisa terhibur pada saat itu, sudut bibirnya naik. "Aku tidak tahu, ternyata ada orang yang memiliki pendapat yang sama denganku."


"Lagipula kau memiliki seorang kakak yang ingin kaulindungi."


"Itu benar, terima kasih telah menghiburku."


"Sama-sama."


Lalu wanita itu menatap ke langit. Bibirnya rapat, dan dia tersenyum. "Aku sebenarnya tak pernah menceritakan ini kepada siapapun, tapi jujur saja, aku dan suamiku itu dulunya sangatlah asing. Kami bertemu di hutan karena dia adalah seorang pengembara. Pada saat itu aku sedang berburu rusa, tapi tiba-tiba saja ada dua ekor harimau yang tahu keberadaanku,lantas mereka mengejaku. Dan dia datang dan menyelamatkanku. Aku tak akan pernah melupakan kejadian itu selamanya." Matanya mulai berkaca-kaca, namun dia tetap menahan tangis itu.


"Itu mirip sepertiku dengan kakakku itu," sahut Nagisa.


"Oh, ya? Apa kakakmu itu menyelamatkanmu di hutan?"


"Ya, dia menyelamatkanku dari kejaran seekor beruang besar."


"Wah, mengerikan juga, ya?"


"Iya. Tapi, apa kejadian itu yang membuatmu jatuh cinta padanya?"

__ADS_1


"Benar, tapi saat itu aku benar-benar bodoh. Aku malah menolaknya berkali-kali, dia suka padaku. Itu karena dulunya dia diusir dari desanya sendiri yang bisa dibilang banyak sekali prianya. Aku merasa sangat jijik mendengar di desa itu banyak sekali yang menjadi homoseks."


"Homoseks? Apa itu?" Nagisa terlihat tertarik, tapi mendengar wanita di sampingnya itu merasa jijik, dia sudah membayangkan semua hal jijik yang ada di imajinasinya.


"Homoseks itu adalah ketika seorang pria menyukai sesama pria, begitupun dengan wanita. Itu menjijikkan, bukan?"


Ugh, itu sangat menjijikkan. Seketika itu Nagisa sudah bisa membayangkan bagaimana hal semacam itu bisa terjadi di dunia. Padahal secara alami manusia diciptakan ada yang lelaki dan juga wanita untuk berpasangan, tapi ada juga dari mereka yang malah menyukai sesama. Itu sangat menjijikkan, batin gadis itu.


"Kulanjutkan ceritaku," ucap wanita beranak satu itu.


"Haha, iya, lanjutkan saja- aku penasaran dengan kelanjutannya," sahut Nagisa lagi.


"Kau suka kisah romantis, ya? Kisah romantis memang sangat menarik, apalagi bagi seorang gadis muda sepertimu."


Nagisa mengangguk setuju.


"Suamiku itu sudah berkali-kali meminangku dengan datang ke rumahku, tapi aku sangatlah malu. Pada saat itu aku berusia 19 tahun- ya, di usia itu, sudah sangat banyak gadis yang menikah dan mempunyai anak. Tapi aku masih ragu untuk menikah di usia itu. Apalagi selama ini aku selalu menunjukkan sikap kasar, tapi dia selalu meyakinkanku bahwa dirinya tak masalah bila aku kasar padanya. Dia sangat menyukai wanita sepertiku dan berjanji untuk setia padaku selamanya. Dan dia sudah membuktikannya padaku, hingga akhir hayatnya pun tak ada wanita lain yang ada di hatinya kecuali diriku."


Air mata wanita itu menetes pada saat itu juga, tapi dia masih tetap tersenyum seraya menatap ke langit.


"Aku sungguh meminta maaf kepadamu, aku tidak bermaksud sengaja. Aku juga tak tahu bahwa sihir enam lingkaran punya kekuatan semengerikan itu."


"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu sedari tadi. Aku juga berduka atas kematian kakakmu."


"Benarkah? Aku merasa terhibur."


"Kita ini kehilangan seseorang untuk disayangi, jika aku meluapkan marahku kepadamu, aku juga sadar bahwa itu tak akan membuat suamiku hidup kembali. Lagipula, aku ingin mendengarkan bagian di mana kau diselamatkan oleh kakakmu."


"Baiklah, aku akan ceritakan."


Pada saat itu, Nagisa menceritakan kisah lengkapnya di mana awal pertemuannya dengan Lug Vincent di hutan. Tapi dia tak menyebutkan dirinya berasal dari desa yang mana.


"Wah, jadi kau dan kakakmu, Lug, itu bukan saudara kandung, ya? Ini sangat mirip dengan ceritaku, haha- kau memang benar."


"Apa kau tahu? Dia bahkan sempat mengintipku ketika aku sedang memakai baju selepas mandi, dia berkata padaku bahwa itu ketidak sengajaan. Hmph, aku tidak percaya padanya."


"Aku setuju denganmu, lelaki itu adalah perwujudan dari dewa mesum."


"Kau benar, hahaha ... "


Mereka pun mengobrol sangat lama sekali. Hingga pada akhirnya ada seorang lelaki kasar yang menghampiri Nagisa. "KAU! KENAPA MALAH BERSANTAI DI SINI?! CEPAT BANTU YANG DI SANA! SEMUA INI TERJADI ATAS PERBUATANMU! JANGAN KIRA KAU BISA TERUS BERSANTAI SAMPAI NANTI MALAM!!!"


Lelaki itu langsung menarik tangan Nagisa dengan kasar, tapi dia terkejut bahwa gadis itu punya lengan yang sangat kuat. Dia tak bisa menariknya, lantas melepaskan tangan gadis itu. Apa-apaan tangan itu? Keras sekali, itu buka seperti tangan gadis pada umumnya, batinnya.


Padahal tangan Nagisa itu sangatlah lembut, tapi dia mengencangkan otot-ototnya agar terasa seperti tangan pria yang sangat kuat dan kasar. Sehingga ketika pria di depannya itu menarik tangannya akan langsung merasa heran. Apalagi dalam hal kekuatan, Nagisa sudah menang telak.


"CEPATLAH!" suruh lelaki kasar itu. Lantas dia pergi terlebih dahulu.


Nagisa pun berdiri, dia menoleh ke arah wanita di samping itu dengan senyuman manis. "Terima kasih telah menghiburku," ucapnya.


"Sama-sama, kau juga menghiburku," sahut wanita itu.


"Sama-sama lagi, haha ... "


"Hahaha- "


Setelah itu, Nagisa mulai ikut membantu pembangunannya lagi sampai malam. Di desa itu rumah yang tersisa tidaklah banyak dan hanya belasan saja. Di sana ada sekitar lima belas rumah yang hancur, Nagisa akan ikut membantu di sana selama tiga hari lamanya.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2