Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 22 - Teressa


__ADS_3

Rakt kini telah tertidur pulas di atas ranjang. Selama dia tidur setelah mengamuk, itu pasti akan sangat pulas sekali, bahkan mungkin akan tertidur satu hari penuh. Dulu Rakt pernah tertidur hingga satu setengah hari setelah mengamuk–beberapa bulan sebelum Lug terlahir.


Sebenarnya Teressa ingin menjaga Rakt, tetapi Rakt tidak mengizinkannya. Justru lelaki itu menyuruh Teressa untuk kembali mengambil dua rusa yang diburunya tadi, lantas kembali berdagang saja dan tak perlu mengkhawatirkannya. Gadis itu mengiyakan ucapan Rakt begitu saja tanpa pikir panjang, serta memberikan senyuman serta tatapan hangat yang seolah mengatakan, semoga cepat sembuh, Rakt.


Kemudian datanglah Nivi yang mendengar bahwa Rakt sempat mengamuk. Di depan beranda rumah, ia bertemu dengan Teressa. "Bagaimana keadaan Rakt sekarang?" tanyanya mengkhawatirkan. Akan tetapi tatapan matanya tidak terkesan mencemaskan, itu karena hal tersebut sudah sering terjadi sampai Nivi hampir merasa bosan. Namun tidak dengan hatinya, sebagai seorang ibu, apapun yang terjadi pada anaknya pasti selalu ia pikirkan, tak terkecuali apapun. Meski tatapan matanya biasa-biasa saja, namun dalam hatinya dia sangat mencemaskan anak sulungnya itu.


Teressa memberikan senyuman hangat, "Sekarang dia sedang tidur," jawabnya.


Nivi menghela nafas lega sembari mengelus dadanya, "Kupikir dia akan mengamuk hingga berjam-jam."


Teressa mendongak dengan cepat. Dia memahami apa yang dikatakan oleh ibunya Rakt itu. Itu berarti Rakt bisa mengamuk hingga berjam-jam lamanya? Bagaimana jika sekarang dia masih mengamuk? Rakt mungkin saja sudah mengejarku dan aku mungkin juga akan ikut terbaring di atas ranjang–mungkin untuk selamanya, batinnya.


"Baiklah," kata Nivi. "Biarkan aku yang menjaganya."


Teressa mengangguk dan kembali tersenyum. Sekarang senyuman adalah ikon utama dari ekspresi wajahnya, seakan itu memang menjadi hal yang natural. "Aku akan kembali ke bazar," ujarnya.


Teressa pun berbalik dan pergi menuju ke bazar. Nivi menatapnya dengan hangat dan penuh harapan. Tetapi masih terdapat rasa kesedihan di dalam hatinya–memikirkan kondisi Rakt. Lalu Nivi bergumam, "Andai saja ... Teressa, bisakah kau menjaga Lug?" Teressa telah pergi dan tidak mendengar ucapan Nivi. Lantas wanita yang hampir empat kepala itu memejamkan matanya sejanak dan membukanya perlahan. Kemudian berbalik dan segera menuju ke kamar Rakt yang sedang terbaring penuh luka.


*****


Hampir satu jam berlalu, Teressa telah membawa kedua rusa yang diburu oleh Rakt. Dia juga telah kembali membuka kedainya, seketika itu juga banyak orang-orang tua yang hendak bekerja mampir di kedainya. Dan mereka menunggu Teressa selesai membakar semua daging yang telah ia potong.


Memakan hampir sepuluh menit, orang-orang hampir pergi karena terlalu lama. Tetapi Teressa berusaha meyakinkan mereka agar menunggu lebih sabar lagi karena sebentar lagi dagingnya akan matang. "Tunggu sebentar, akan kuambilkan satu persatu," kata Teressa sembari mengambil beberapa tusuk daging yang telah matang. Kayu yang digunakan untuk tusuk satenya berukuran hampir sama besarnya dengan jari kelingking Teressa yang mungil. Dan dagingnya dipotong hingga hampir seukuran kepalan tangan Teressa–potongan dagingnya setara dengan kepalan tangan Lug. Setiap tusuknya, terdapat tiga potong daging.


Hampir semuanya memesan satu potong, tetapi ada juga yang memesan dua hingga tiga potong. Teressa merasa sangat kerepotan menangani pelanggan-pelanggannya, itu karena Rakt tidak ada untuk membantunya. Peluhnya kembali bercucuran, ruangannya juga pengap dan panas karena bara api di depan pintu yang panasnya masuk ke dalam. Beberapa kali Teressa menghela nafas letih, mondar-mandir dari dalam ruangan mengambil beberapa daging untuk dibakar dan keluar lagi untuk melayani pelanggannya.


Dan itu semua terus berlalu hingga siang hari.


Ketika pelanggan yang datang mulai berkurang, Teressa merasa bisa sedikit bersantai. Kakinya sudah begitu lemas–masuk ke dalam kamar untuk memotong daging, dan keluar untuk membakarnya dan melayani pelanggan. Kuharap mereka bisa sedikit bersabar ... Ah, letihnya, keluhnya dalam hati.


Pelanggan yang datang ke kedainya Teressa pada hari ini hampir lebih banyak dari hari pertama kali dibukanya bazar. Itu karena kebanyakan orang yang hendak bekerja itu memilih untuk tidak sarapan dan hanya makan siang saja. Apalagi para petani yang sering membawa makanan dari rumah, kini lebih memilih untuk membeli saja karena menurut mereka jauh lebih praktis.


Teressa masih terus mondar-mandir dan melayani pelanggannya. Hingga pada akhirnya, ketika hampir tengah hari ia dapat beristirahat. "Akhirnya," Teressa mendesah lega. "Kupikir ini masih belum berakhir."


Tetapi Teressa tidak bersantai begitu saja. Gadis pirang ini memilih untuk membersihkan daging mentah yang baru dipotongnya. Dan tanpa disadari, ketika Teressa memotong semua daging yang tersisa, ternyata persediaan dagingnya sudah sangat menipis–hanya tersisa 50 potong saja–tiga puluh potong daging rusa dan sisanya daging domba. Karena Teressa belum makan di siang ini, ia mengambil beberapa daging matang dan memakannya.


Setelah makan satu potong, perutnya terasa sudah penuh saja. "Padahal baru satu potong," gumamnya.

__ADS_1


Lalu Teressa kembali bekerja–mengambil potongan daging rusa dan membawanya keluar untuk dibakar. Dan di sana, ia melihat orang tua yang bersama dengan istrinya menuju ke kedai Teressa, dia adalah orang tua yang sebelumnya pernah bertemu dengan Teressa di hutan dan menceritakan tentang Rakt. Pasangan itu mengenakan pakaian yang sangat indah–pakaian keduanya memiliki corak yang hampir sama, yakni bunga yang berwarna-warni. Sang lelaki yang mengenakan kaos berlengan pendek dan celana kolor yang panjangnya sampai menutupi lututnya. Sementara istrinya mengenakan gaun, dan itu terlihat glamor apalagi jika anak muda yang memakainya.


Gadis pirang itu sudah menduga mereka akan datang ke kedainya, namun ketika dilihat dengan lebih cermat, di belakang pasangan tua itu terdapat banyak sekali orang yang berbaris, mengantri untuk membeli daging di kedainya Teressa. "Oh, tidak!" gerutunya. "Mulai lagi, deh. Huuuuh ... Letihnya hari ini." Teressa memasang senyuman yang di dalam terkandung rasa senang, sedih, dan letih secara bersamaan. Tatapannya yang rendah itu menunjukkan bahwa dia benar-benar lelah di hari ini.


"Padahal baru saja beristirahat, dan ini aku harus mencium aroma keringat dan arang terbakar bersamaan lagi?"


Dan benar saja, barisan panjang yang berbondong-bondong datang ke kedai Teressa itu hendak membeli daging. Sekarang adalah tengah hari, waktunya untuk makan siang. Dan Teressa juga sadar bahwa dirinya juga baru saja makan siang.


"Ternyata ini kedaimu, ya?" tanya pria tua yang sebelumnya pernah bertemu dengan Teressa.


Teressa mengangguk, "Iya."


"Kau pasti letih, soalnya dari pagi kulihat kedaimu ini sudah dipenuhi puluhan orang," tebak wanita tua yang bersama dengan pria tua itu.


"Haha."


Teressa enggan menjawab pertanyaan itu, tapi pasangan tua itu harusnya paham dengan tawanya itu. Wajahnya mengkilat, karena keringatnya yang diusap hampir merata ke seluruh mukanya.


Dan sekarang Teressa baru sadar bahwa pasangan tua itu memiliki fashion layaknya anak muda. Padahal mereka sudah tua, lho, gumamnya dalam hati. Dan sempat Teressa membayangkan ia sedang mengenakan gaun yang dipakai wanita tua di depannya itu. Dan itu sungguh indah sekali, hanya saja ia tak tahu siapa pria tinggi di sampingnya dengan wajahnya yang memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata itu.


"Sampai jumpa."


Teressa membanting pantatnya ke lantai, lantas menghela nafas lega sembari menghadapkan wajahnya ke langit-langit–matanya memejam. Wajahnya tampak lelah, peluh keringat masih mengucur di pelipisnya. "Letihnya," keluhnya.


Karena seluruh dagangannya telah habis, Teressa memutuskan untuk menutup kedainya. Sebelum itu, ia membersihkan ruangan dalamnya terlebih dahulu. Dimulai dari membuang sampah, mengepel lantai yang dipenuhi bercak darah dari daging yang dipotongnya, hingga merapikan seluruh ruangan. Setelah itu, Teressa menutup pintu dan menguncinya dengan gembok–pemberian dari Rakt, dan segera kembali pulang. Sekarang masih begitu terik, Teressa dapat melihat masih banyak orang yang masih terus berdagang di sekitarnya. Namun rasa letihnya membuat matanya terus terkunci pada arah jalan pulang.


Ketika melewati taman desa, Teressa menatap ke arah sebuah gang kecil yang ada di antara balai desa dan taman desa. Ketika masuk ke dalam gang kecil itu akan mencapai perpustakaan desa, yang mana tepat di sebelahnya terdapat rumah kediaman Rakt.


Teressa tetap melanjutkan perjalanannya, dan tak disangka ia bertemu Nivi yang keluar dari gang kecil tersebut. "Ibu, kau baru saja pulang?" tanyanya.


Sekarang Nivi tampak sedikit sedih, dia bahkan tak menjawab sampai berdiri di depan Teressa. "Seharusnya kau sudah tahu, bukan?!" tuntutnya. Teressa agak bingung dengan apa yang dimaksud oleh ibunya Rakt itu.


"Tentang apa?"


"Apa kau tak pernah mendengar cerita dari warga setempat?"


Kini Teressa menyadari apa yang sedang Nivi bicarakan. "Tunggu dulu, apakah maksudnya ... Tentang kutukannya Rakt?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Sudah kuduga, pasti ada orang lain yang memberitahumu-tak peduli siapapun itu, lambat laun kau juga pasti mengetahuinya. Tapi tak kuduga secepat ini," Nivi tampak bersedih, tatapannya turun perlahan, bahkan sekarang tatapannya mulai kosong. "Masa depan Rakt semakin suram saja-tidak! Yang kumaksud bukan pekerjaannya, mungkin ... Segalanya-entah itu jodohnya, kehidupannya, dan yang lainnya," gumamnya.


Teressa tak tahu pembicaraannya ini akan mengarah ke mana, tapi yang pasti Nivi sedang mengkhawatirkan Rakt. "Ibu, lebih baik kita bicarakan ini di rumah," bujuknya.


Nivi menoleh ke arah Teressa, memberinya tatapan bingung. "Bagaimana dengan kedaimu?" tanyanya.


"Semuanya sudah habis tak bersisa," jawabnya sembari tersenyum senang.


Tatapan bingungnya Nivi seketika tercampur dengan rasa kagum. Dia termenung pada saat itu juga–berpikir kenapa Teressa seperti seolah tak memperdulikan dengan ucapannya barusan. Bahkan sampai bertanya-tanya, apakah gadis ini menyukai Rakt atau tidak? Kebingungannya itu membuatnya pusing, jadi Nivi memilih untuk menanyakannya saja nanti ketika nanti sampai di rumah.


Di tengah jalan, Nivi bertanya lagi, "Teressa, apa dulu kau pernah bertemu dengan pria seperti Rakt?"


Teressa menoleh ke arah Nivi, tatapannya sedikit bingung. Dia bertanya-tanya kenapa ibunya Rakt ini selalu mengatakan hal atau menanyakan sesuatu yang aneh dan menyimpang. "Tidak, memangnya kenapa?" Teressa bertanya balik. Lantas ia melanjutkan ucapannya, "Pria yang kutemui itu masih bisa dihitung jari, termasuk ayahku, dan tetanggaku–Rakt, Lug, dan ayah Vans juga, kalau di desa Nedhen ini juga dihitung, mungkin juga ada beberapa, tapi aku tak kenal."


Nivi membelalakkan matanya, memasang wajah terkejut. "Kau serius?!" tanyanya memastikan.


Teressa kembali menatap ke depan, sebenarnya tatapannya kosong, tapi dia berusaha untuk tetap melihat arah jalan yang akan dilaluinya. "Serius," jawabnya singkat.


Melihat dari tatapan matanya, sepertinya apa yang dikatakannya itu benar, batin Nivi.


Hingga perjalanan itu terasa sangat membosankan. Nivi dan Teressa tidak saling berbicara satu sama lain, mereka saling merapatkan bibir mereka hingga sampai di rumah. Seperti biasanya, Teressa pasti selalu memeriksa adiknya yang berlatih di halaman belakang rumah. Nivi melihat bagaimana kepedulian Teressa terhadap Nagisa, mengingatkannya kepada Rakt yang sekarang sedang terbaring di atas ranjang keras yang di letakkan di atas dipan tipis yang sudah banyak retakan di permukaannya–seolah akan hancur kapan saja. Ketika itu juga Nivi berinisiatif untuk membuatkan sesuatu untuk pasangan kakak adik tersebut, segera menuju ke dapur dan memasakkan sesuatu.


Pada saat Nivi sedang memakai celemek, Teressa kembali masuk ke dalam rumah. "Ibu, apa kau sedang ingin memasak? Biar kubantu," Teressa menawarkan.


"Tidak perlu," jawab Nivi sembari tersenyum hangat.


Teressa menjadi sedikit bingung. Ia tak tahu apa yang ada di dalam hati Nivi, itu karena tiba-tiba saja perasaan ibu dua anak itu berubah tak menentu–sebelumnya sedih, sekarang tenang dan seperti sedang bersemangat. Teressa bahkan sempat mengira bahwa Nivi marah padanya karena alasan yang tak diketahui.


"Ibu, apa kau masih sedih tentang Rakt?" tanya Teressa sambil berjalan mendekati Nivi.


Tiba-tiba saja Nivi menundukkan kepalanya, tatapannya menjadi kesedihan, seolah terdapat kegelapan tak berujung pada tatapannya itu. Dan Teressa menyadarinya, bahwa itu pertanyaan yang amat sangat bodoh pada situasi seperti sekarang ini.


Dan ternyata, semua itu hanyalah khayalan Teressa saja. Sebenarnya dia sedang berpikir apa yang seharusnya dilakukan sekarang ini. Tapi justru pikirannya malah mengarah ke sesuatu yang buruk. Serta Teressa sekarang memutuskan untuk mendekati Nivi tanpa membahas Rakt sedikitpun. "Apa aku benar-benar tak boleh membantu?"


Lantas Nivi pun menoleh, dia terdiam sejenak, seakan otaknya sedang memikirkan beberapa hal secara bersamaan. Hingga beberapa saat kemudian, Nivi pun menjawab, "Temani saja adikmu. Kulihat latihannya akan semakin baik jika ada yang menemaninya."


Lalu Teressa menyadarinya. "Ibu benar," katanya. "Sejak dari kecil Nagisa memang sangat menginginkan teman, kenapa aku baru ingat sekarang?" Dia tertawa kecil dan kemudian berjalan cepat kembali ke halaman belakang.

__ADS_1


Nivi menggelengkan kepalanya, "Benar-benar mirip seperti Rakt," gumamnya berbisik.


Bersambung!!


__ADS_2