Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 29 - Percakapan di atas meja


__ADS_3

Di restoran Vlamera, Nio sedang memasak seonggok daging sapi. Tetapi anehnya, tidak ada satupun pelanggan yang datang di restorannya. Di samping lelaki yang sedang memasak daging itu, ada Johan yang menemaninya.


"Jadi setelah eksperimen anda ini kita akan langsung membuka restoran?" tanya Johan.


Nio mengangguk dan menjawab, "Ya. Kata Alice, dia ingin mencoba masakanku yang baru. Aku sedang mencoba-coba, dan untuk sausnya, aku sudah mempersiapkannya. Sekarang sudah hampir saatnya."


Dan pada saat itu, dia mengangkat daging dari panggangan dengan menggunakan spatula logam. Dagingnya itu diletakkan di atas piring, dan di atasnya ditaruh dua buah daun mint. Lantas Nio menggoreng telur ayam setengah matang, sebelum itu ia melumuri dagingnya dengan saus yang telah disiapkannya. Lalu telur mata sapinya telah siap, Nio menaruhnya di atas pinggiran dagingnya. Lantas melumuri sedikit saus lagi di atas telurnya.


"Nah, sudah siap," ucap Nio senang.


Kemudian dia membuat minuman sebanyak dua gelas yang mana itu berwarna jingga. Dan di ujung gelasnya terdapat irisan lemon dan daun mint di atas permukaan airnya.


Lalu Nio membawa makanan dan minumannya di atas nampan. Dia membawanya ke atas. Sebelumnya Nio telah meletakkan satu pisau dan satu garpu yang diletakkan di dalam sebuah kotak.


Setelah itu, Johan menunggu sebentar untuk memastikan bahwa Nio sudah berada di lantai ketiga, yang di mana di lantai itu sedang ditutup. Itu dilakukan Nio untuk menuruti keinginan Alice. Gadis itu meminta kencan di lantai ketiga secara pribadi, maka dari itu sekarang Johan sudah mulai membuka pintunya dan memutar papan penanda masuk atau tutupnya menjadi bertuliskan masuk.


Dan sekarang, langsung ada beberapa orang yang langsung masuk ke dalam restoran.


"Wah wah, kukira restorannya tidak buka," terang salah seorang pengunjung.


Johan tersenyum dan menjawab, "Hahaha ... Tadi ada sesuatu yang harus dikerjakan oleh tuan muda Nio. Jadi kami belum membukanya."


"Ooh ... Jadi nanti yang akan menjadi kokinya tuan muda Nio?"


"Tidak, dia sedang mengurus sesuatu, masih belum selesai- tapi dia menyuruhku untuk membuka restoran. Dan lagi, jangan naik ke lantai tiga, sekarang tuan muda Nio sedang memakainya."


"Baiklah, terima kasih atas penjelasannya."


"Sama-sama."


Sementara itu, kini Alice tengah memotong sedikit dagingnya. Dia juga telah membuat kuning telurnya meleleh di atas dagingnya. Dan ketika mencobanya ...


"Hmmhh!" Alice mendesah seketika itu juga, dia merasakan kenikmatan tiada tara ketika mencobanya satu gigit–terlihat dari senyuman lebarnya yang menikmati daging di dalam mulutnya.


Nio tersenyum bangga melihat makanan kreasinya dinikmati dengan sepenuh hati. Bahkan tunangannya itu mengatakan bahwa makanan buatannya itu sangatlah enak. "Bagaimana rasanya? Apakah enak? Apa ada yang kurang dari masakanku?" tanya Nio penuh harapan, matanya bahkan sampai bersinar.


Alice juga tiba-tiba matanya bersinar, telapak tangannya juga mengepal. "Tak pernah aku merasakan makanan ini- intinya ini adalah makanan terbaik, aku merasa seperti sedang berada di taman bunga," ucapnya memuji.


"Waah- terima kasih, Alice," ucap Nio sembari menggenggam kedua telapak tangannya Alice.


"Iya, Nio. Sama-sama, tapi kau benar-benar menciptakan mahakarya dalam sebuah makanan," sahut Alice.

__ADS_1


Alice pun menikmati makanannya. Mereka berdua awalnya terdiam sejenak, Nio sendiri memandangi Alice dengan penuh perasaan. Dia berharap adanya reaksi lagi yang membuatnya terkesan lagi. Tapi tiba-tiba ada yang membuat wajahnya terlihat sedikit resah.


"Alice," panggil Nio.


Alice menoleh. "Iya? Ada apa, Nio?" tanyanya.


"Begini, Alice- jadi ... Kuingin kau jangan marah mendengarnya," pinta Nio.


"Hmm- "


Alice tidak mempedulikan apa yang terjadi, dia masih sangat ingin menikmati makanannya yang membuatnya seperti di taman bunga.


"Jadi begini, Alice- aku membuat makanan itu adalah karena percobaan. Sebenarnya itu adalah sampel, jadi kau lah yang pertama kali menco- "


"Dengar, Nio!" tiba-tiba Alice menyela. "Aku justru sangat bahagia bisa yang menjadi pertama untuk mencoba sebuah mahakarya darimu."


Dan mendadak ada sebuah ide yang terbesit di kepala Nio. "Alice, bagaimana jika ini menjadi menu spesial yang tidak pernah kubuatkan untuk siapapun. Jadi ini adalah menu khusus yang- mungkin saja akan kubuatkan untukmu saja," ujarnya.


Alice tersenyum bahagia. "Wah, benarkah? Aku- eh?" tiba-tiba Alice merasa ada yang aneh. "Kenapa kau mengatakan mungkin saja?" tanyanya.


Nio menjawab sembari menggaruk kepala, "Kau tahu, kan? Aku juga akan mempunyai ... Ekhem! Istri sebelum dirimu."


Alice menggembungkan pipinya sebal. "Kapan kita akan menemuinya?" tanyanya.


Alice melemparkan pandangannya. "Jelas saja aku sangat marah padamu. Sekarang aku adalah tunanganmu, jadi aku sangat cemburu ketika kau membicarakan wanita lain di depanku, bahkan kau membicarakannya denganku," jelasnya dengan nada yang sangat tegas.


Dan di lantai dua, tak ada yang mendengar obrolan mereka berdua sama sekali. Seakan suara yang berada di lantai tiga sudah diredam.


"Maafkan aku, Alice. Tapi ini adalah janji, aku juga sudah berjanji pada ayahmu, aku akan menikahimu meski bukan menjadi yang pertama," terang Nio.


Alice membenarkannya di dalam hati, tapi tetap saja, itu masih membuat hatinya kesal. "Begini, Nio ... Aku hanya ingin melihat siapa gadis yang telah kaujanjikan pernikahan itu," terangnya ragu-ragu. Air matanya mulai menetes, wajahnya juga terlihat sedih.


"Baiklah, kita akan segera menemuinya, jadi bersabarlah. Dan persiapkan dirimu untuk perjalanan berhari-hari," ucap Nio.


Dan ketika Alice mencoba satu irisan daging lagi, keceriaannya mulai kembali perlahan. Lantas mencoba minuman yang telah dibuatkan oleh Nio, dia merasa bahwa minumannya benar-benar sesuatu. "Ini ... Rasanya manis, dan membuat lidahku menari-nari, siapa orang yang mengajarimu memasak dan membuat minuman seperti ini?"


Nio menjawab, "Ini adalah makanan dan minuman yang kuambil dari dunia lain. Dan juga, aku terkadang hanya ingin berkreasi."


Alice tertawa kecil sembari memakan satu potong daging lagi. "Aku tahu kau memang ahli di bidang makanan, tapi ... Kau lucu- memangnya kau pernah pergi ke dunia lain? ... Oooh- pergi ke dunia elf?" tanyanya.


"Bukan, dunia yang kumaksud bukan dari dunia yang hanya dibatasi oleh pembatas raksasa itu. Meski aku menjelaskannya, kau mungkin tak akan paham," papar Nio.

__ADS_1


"Oh, benarkah? Kau ini bisa saja, Nio."


"Sungguh. Aku tidak bercanda."


"Oke oke, aku percaya padamu, kok."


"Aku tahu kau sedang berbohong ... Ah, sudahlah."


"Hehe- aku akan makan makanan dari dunia lain ini, siapa tahu bisa pergi ke dunia yang kaumaksud itu."


Nio tersenyum melihat keceriaan Alice yang telah kembali. Senyumannya membuat jantungnya berdebar-debar, hatinya juga terasa lebih hangat. Dia pun membatin, Sepertinya rencanaku berjalan dengan mulus. Aku jadi punya rencana untuk bisa kembali ke kerajaan Da Nuaktha secepat mungkin, jadi ... Ah, aku hampir melupakan Raini. Aku harus mempersiapkan alasan lagi, hancurlah aku. Aku juga sudah dijanjikan pernikahan oleh orang tuanya Raini. Jika aku kembali, pasti mereka akan sangat senang karena melihatku masih hidup, sehingga bisa melangsungkan pernikahannya. Ibu juga sudah mendambakan pernikahanku dengan Nagisa, bagaimana ini? Mereka juga pasti sudah tahu bahwa aku masih hidup, kakak Rakt pasti sudah memeriksa 'Mutiara Kehidupan-ku' dan memastikan bahwa aku masih hidup. Pernikahanku ... Apa mungkin aku akan mengecewakan beberapa pihak? Terlahir kembali di dunia ini memanglah menyenangkan, tapi ternyata juga sangat rumit apalagi menyangkut masa depan sebagai manusia, bukan sebagai 'Acestral' yang lebih mudah.


Seakan ada bayangan Lug di balik punggungnya.


Melihat Nio yang bengong dan terlihat sedang banyak pikiran, Alice berusaha menghiburnya. "Nio, jangan pikirkan yang barusan tadi," ujarnya.


Nio menoleh padanya. "Bukan masalah itu ... Aku sedang- memikirkan sesuatu hal tentang restoran ini. Jadi aku berpikir tentang menu baru yang mungkin akan kubuat, tapi tak tahu kapan akan benar-benar akan kuwujudkan," jelasnya berbohong.


"Lah, ternyata kau sudah punya ide lain? Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Alice.


"Apa kau tidak berpikir dengan bahan-bahannya? Aku harus membuat sampel untuk survei untuk melihat respon pelanggan, jika berhasil, aku akan meluncurkan menu baru. Tapi jika gagal, aku tidak akan berusaha lagi untuk mengembangkan resepnya."


"Kenapa begitu? Kau masih bisa mengembangkan resep yang lain."


"Nah, itu lebih tepatnya. Aku hanya tidak ingin mengembangkan resep gagal, tapi aku akan mencoba resep lain."


"Ooh, jadi begitu, ya? Kupikir kau akan berhenti untuk mencari resep terbaru."


"Haha, aku bisa memasak, jadi akan sangat mudah untuk menciptakan makanan baru yang mungkin belum pernah dicoba oleh koki koki lain."


"Kau benar-benar hebat, aku penasaran, awalnya siapa yang membuatmu tertarik untuk memasak?"


"Maaf, aku tidak bisa menyebutkannya sebelum kau bertemu dengannya sendiri. Tapi jujur saja, aku memang sudah bisa memasak sebelum bertemu dengannya, tapi yang membuatku tertarik memasak adalah dirinya. Restoran ini terinspirasi karena pernah terbesit ide ketika melihatnya memasak."


"Begitu, ya?"


Setelah menghabiskan makanannya, Alice mulai menghabiskan minumannya. "Lalu, bagaimana dengan minuman ini?" tanyanya lagi.


"Untuk minuman, aku sendiri memang belajar ketika awal mula membuka restoran ini. Memasak saja mudah, jadi kupikir membuat minuman akan lebih mudah menurutku," terang Nio.


"Wah ... Aku merasa beruntung bisa mencoba berbagai macam makanan dan minuman ketika bersamamu. Terima kasih atas semua ini," ucap Alice.

__ADS_1


"Sama-sama," sahut Nio.


Bersambung!!


__ADS_2