Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 47 - Naga dan Phoenix


__ADS_3

Di sebuah planet yang jauh dari peradaban manusia, terdapat tiga peradaban tingkat tinggi yang telah menjadi legenda bagi manusia. Mereka adalah burung phoenix, ular naga, dan kuda pegasus. Mereka hampir tak pernah menampakkan diri mereka kepada manusia, karena terpaut jarak yang terlalu jauh dan hamir mustahil untuk dapat bertemu.


Burung phoenix dikenal sebagai makhluk abadi yang sangat luar biasa. Mereka dapat melahirkan diri mereka kembali ketika mati. Tubuh phoenix adalah api, dan hanya api yang ada pada sekujur tubuhnya.


Naga, dikenal dengan keganasan, kengerian, dan kekuatannya yang dahsyat. Mereka memiliki berbagai spesies seperti wyvern, hydra, dan naga biasa. Tak seperti legenda yang mengatakan bahwasannya naga dapat mengeluarkan api, itu tergantung dari spesies dan karakteristik pada naga tersebut.


Sementara yang terakhir, Pegasus, mereka adalah sejenis kuda yang memiliki sebuah tanduk panjang di dahinya, memiliki kulit putih dan bersih, dan juga memiliki sepasang sayap. Makhluk ini dikenal karena karakterisiknya yang indah, namun mereka adalah makhluk yang sangat kuat.


Dan sekarang, Lug menunjukkan wujudnya yang sangat mengerikan. Kulit di sekitar matanya telah berubah menjadi kulit yang keras, berwarna gelap, dan sangat kasar. Tak hanya itu saja, tiba-tiba saja muncul sepasang mata tambahan di bawah matanya.


"Masih terus diam saja?!" tanyanya dengan suara yang tidak terlalu keras.


Maxleen hanya diam saja.


WUUUSH


Tiba-tiba saja pria itu melesat sangat cepat ke arah Lug dengan sepasang sayapnya itu. Kobaran api di tubuhnya itu sangatlah kuat sampai membakar udara di sekitarnya.


"Bersemangat sekali," gumam Lug.


Muncul beberapa lingkaran sihir berwarna jingga yang terbakar di belakang Maxleen. Lantas muncul bulu bulu berapi yang sangat tajam melesat mengarah pada Lug.


Meskipun bulu berapi itu sangatlah cepat, namun dengan mudahnya Lug menghindar dan menangkisnya.


"Tidak selalunya kita harus bertarung jarak dekat, iya kan?" tanya Lug sambil menunjukkan jari-jarinya yang mengerikan.


Lantas dia mengayunkan tangannya itu dari bawah ke atas. Dan yang terjadi adalah muncul retakan yang memuncratkan cairan lava ke udara. Retakan itu dengan cepat mengarah pada Maxleen.


Pria dengan tubuh yang dilapisi oleh api phoenix itu mudah menghindarinya meski serangan tersebut sangatlah cepat.


"Ranker Langit terhormat, keponakan dari raja di kerajaan Tigerion, Maxleen Clark. Tapi untuk sekarang, kau tidak akan bisa terbang lebih jauh lagi!" tegas Lug dengan nada rendah.


BWOOOOSH


Tiba-tiba saja muncul kabut gelap di sekitar Lug dengan beberapa di antaranya yang berwarna jingga terang. Itu berukuran sangat besar, dan seketika membuat Maxleen terhenti. Aura di sekitar berubah menjadi sangat mengerikan, bahkan Nagisa, Raini, dan Zephyr sekalipun menjauh karena saking takutnya.


Berbentuk seperti bayangan makhluk raksasa yang sangat mengerikan. Hanya tampak kepalanya saja, terlihat bahkan ukuran tubuhnya Lug tidak lebih besar dari iris matanya yang sangat tajam itu. Itu adalah aura naga yang ditunjukkan oleh Lug, terlihat sangat mengerikan dan ukurannya yang sangat besar.

__ADS_1


"Ukuran ini saja masih belum sama dengan ukuran dari setengahnya. Aku tidak ingin memunculkannya karena bisa membuat kalian semua yang ada di sini mati ketakutan," ujar Lug yang masih berdiri tegak di bawah siluet naga itu.


Maxleen menelan ludah, kakinya bergemetaran hebat, terlihat ketakutan yang sangat jelas pada matanya, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.


"Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk, kupikir lebih baik jika tidak ada pertikaian di antara kita, sudahi saja sampai di sini," pinta Lug pada keempat Ranker yang ada di hadapannya. Wajahnya memang tampak santai, namun auranya itu terlalu menakutkan.


Maxleen berhenti dengan sendirinya. Aku tak ingin berhenti menerjangnya, tapi ... Tatapan matanya itu menandakan ketakutan yang luar biasa, keringat dinginnya itu sudah membasahinya sekujur tubuhnya. Instingku ini mengatakan bahwa dia adalah makhluk yang tak bisa kulawan, akan berakhir buruk jika aku melanjutkannya. Sebenarnya aku tak ingin terhenti hanya sampai di sini saja, tapi kakiku tak bisa bergerak ketika aku menatap matanya, ucapnya dalam hati ketakutan. Mulutnya menganga seakan rahang bawahnya akan jatuh.


Seketika itu juga, api yang menyala-nyala di tubuh Maxleen lenyap di luar kehendaknya.


Situasi itu berlangsung cukup lama sampai Lug benar-benar yakin bahwa keempat Ranker di hadapannya itu sudah tak bisa melawan lagi.


"Baiklah, kita berdamai saja," ajak Lug seraya melepaskan aura naga miliknya yang mengerikan itu.


Setelah itu, semua orang dapat bernafas lega. Semuanya sampai jatuh terduduk kecuali Lug sendiri. Mereka tahu ada makhluk yang sangat mengerikan sedang berdiri di hadapan mereka, seakan mereka sedang melihat sesosok dewa yang turun ke dunia manusia.


Lug berjalan mendekati Maxleen yang kini tatapannya kosong menghadap ke tanah. Lantas matanya itu melihat kakinya Lug yang sudah berdiri tepat di depannya. Maxleen mendongak menatap ke arah pria di depannya.


Lug berkata, "Aku tak ingin mengajak kalian untuk ikut bersamaku. Tapi aku memohon kepada kalian untuk menjaga umat manusia, kalian lah harapan manusia untuk menjaga keamanan dari para iblis. Dan ketahuilah- tak lama lagi pembatas besar itu akan segera hancur. Aku harus melakukan sesuatu di sini bersama dengan rekan-rekanku."


"Baiklah, aku mempercayai kalian," ujar Lug sekali lagi sembari berjalan melewati Maxleen. Dia menoleh ke arah Nagisa, Raini, dan Zephyr, lantas mengangguk mengisyaratkan untuk segera bergegas.


Mereka bertiga segera mengikuti Lug dengan berlari kecil. Mereka meninggalkan keempat Ranker itu tanpa menoleh ke belakang.


Kemudian Maxleen bangun dan menoleh ke arah Lug dan yang lainnya. Tak lama, Wina, Axlon, dan Viordan berjalan mendekatinya. Mereka bertiga juga menatap ke arah yang sama.


Maxleen berkata, "Dia ... Sepertinya punya ambisi dan misi yang besar. Mereka akan membahayakan diri mereka sendiri."


*****


Perjalanan memakan waktu beberapa jam, namun sangat tidak terasa dan kini Lug sudah berada sangat dekat dengan tanah terapung yang menjadi tujuannya.


Pertama kali aku mengeluarkan Aura Naga Sejati, itu justru membuat transformasiku semakin meningkat, gumam Lug dalam hati sembari menatap ke arah lengannya. Lantas ia mendongak, tatapannya beralih pada tanah apung yang berada di atasnya.


"Di atas sana itu- apa itu tujuan kita, sayang?" tanya Raini yang juga menatap ke arah tanah terapung.


Lug mengangguk. "Di sana ada sesuatu yang kubutuhkan," jawabnya.

__ADS_1


Lantas dia menciptakan sebuah lingkaran sihir berwarna hitam di bawah kakinya. Dan tiba-tiba lingkaran sihir itu berubah warna menjadi putih. Itu adalah sihir Singularitas yang telah dimanipulasi oleh Lug. Sekarang dirinya dan yang lainnya mengapung di udara.


"Wah, kita terbang," Zephyr sedikit terkejut ketika tubuhnya melayang di udara.


Semakin lama mereka terbang semakin tinggi. Mereka bahkan bisa melihat banyak hal ketika di udara.


Dan sesampainya di tanah terapung, mereka berempat melihat adanya banyaknya puing-puing bangunan yang mirip seperti kuil–ada sebuah altar yang hancur, pilar pilar yang roboh, bahkan ada banyak kerangka dari makhluk-makhluk yang tak diketahui. Akan tetapi, ada satu hal yang menarik perhatian Lug, yakni ada sebuah ruangan yang bentuknya adalah kubus, pada dindingnya terdapat banyak ukiran kubistik yang pada tiap garisnya itu terkadang ada yang menyala-nyala dengan warna putih atau jingga, atau bahkan merah.


"Ayo kita bergegas ke dalam," ajak Lug. Mereka semua mulai berjalan menyusuri puing-puing kuil tersebut. Bahkan Raini saja sampai merasa takut dengan kerangka yang baru saja diinjaknya secara tak sengaja


Hiiiii ...


Ketika Lug menginjakkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Tatapan matanya seperti orang yang terkejut melihat sesuatu di depannya, tapi entah kenapa semakin lama tatapan matanya semakin kosong.


Nagisa mendekati Lug karena penasaran apa yang terjadi. Namun alangkah terkejutnya bahwa tiba-tiba penglihatannya dipenuhinya oleh cahaya putih yang sangat terang.


"AKH!"


Wanita itu langsung mundur karena matanya sangat silau–meskipun Lug pernah mengatakan bahwa Nagisa memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap sihir cahaya dan matanya hampir tidak bisa mengalami kesilauan hingga kebutaan.


"SAYANG! NAGISA!!!" Raini berteriak melihatnya. Tatapannya panik.


Zephyr menariknya karena berusaha untuk mendekatinya. "Tidak, Raini!" tegasnya. "Kau hanya membuat keadaan semakin buruk jika mendekati mereka!"


Raini menoleh dengan sangat cepat ke arah Zephyr. "LALU APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!" tuntutnya dengan nada yang tinggi. "TAK MUNGKIN KITA DIAM SAJA! AKU BISA MELAKUKAN SESUATU! LEPASKAN TANGANKU!!! LEPASKAN!!!"


Zephyr menggenggam tangan Raini semakin erat, dan wanita itu masih terus menerus menarik tangannya agar dilepaskan.


Tapi dirasa sangat enggan dan tak mungkin dilepaskan jika hanya terus menariknya seperti itu, Raini menggunakan sihir Tubuh Kehampaan.


BRAAAZSTT


"ARGGKK!!!"


Secara mendadak Kulit Iblis Zephyr menyala, hanya saja tangannya terasa terbakar dan muncul aliran petir yang menyerang dirinya sendiri. Bahkan tangannya itu memerah hingga bengkak, serta mengeluarkan asap yang cukup tebal karena efek dari petir barusan yang menyerang dirinya. Tak kusangka ternyata Raini senekat ini- bahkan sepertinya jika aku tak melepaskannya, mungkin saja aku tanganku ini bisa meledak dan aku bisa saja mati, batinnya resah. Matanya juga tampak terkejut melihat ketika melihat wajah marahnya Raini.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2