Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 26 - Nagisa dan Nivi


__ADS_3

Sepulangnya Nagisa di kerajaan Da Nuaktha, dia langsung pergi menemui Vans dan Nivi.


TOK


TOK


TOK


Nagisa langsung mengetuk pintu rumahnya dan menunggu seseorang untuk membukakannya. Gadis itu mengetuk untuk yang kedua kalinya–barangkali tidak ada yang mendengarkan suaranya. "Ayah! Ibu?!" Nagisa berteriak memanggil.


Tak lama kemudian, Nivi membukakan pintunya. "Nagisa?" Wanita itu terkejut melihat anak gadisnya telah kembali. "Kau sudah dari tadi sampai? Ayo masuk dulu," ajaknya sembari merangkul.


Nagisa menggeleng. "Aku baru saja sampai," sahutnya.


Mereka masuk ke dalam rumah. Dan ketika itu, mereka berdua mengobrol di ruang tamu.


"Nagisa, kau sudah selesai dengan tugasmu?" tanya Nivi.


Nagisa mengangguk. "Iya, bu. Tapi sayang aku dan seluruh rekan-rekanku gagal menyelesaikan tugas. Kami hanya sudah selesai saja," jawabnya.


"Apa kau sudah naik pangkat?" tanya Nivi.


Nagisa menggeleng. "Belum, bu. Aku langsung ke sini sebelum kembali ke kota kerajaan, karena ada hal penting yang ingin kusampaikan."


"Memangnya hal penting apa itu? Sampai-sampai kau rela datang ke sini terlebih dahulu sebelum pengangkatan pangkatmu itu, apa mungkin kau bertemu dengan kakak Lug? Haha, kau pasti bercanda," sahut Nivi sembari merapikan mejanya yang penuh dengan sulaman benang.


"Betul apa ucapanmu itu, bu. Aku memang benar-benar bertemu dengan kakak Lug di dataran Exter," sahut Nagisa balik.


Mendengarnya, seketika Nivi bengong hingga menjatuhkan sebuah bola benang di tangannya. Lantas menoleh cepat ke arah Nagisa dengan senyuman palsu yang tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Nagisa barusan. "Nagisa, jangan mengada-ada seperti itu," ujar Nivi.


Lantas Nagisa menjawab, "Ibu, permata yang dibawa oleh kakak Rakt itu memperlihatkan bahwa kakak Lug masih hidup sampai sekarang. Sungguh aku bertemu dengan kakak Lug pada saat itu- aku tidak berbohong, bu."


Lalu pada saat itu juga air mata Nivi menetes. Dia langsung memegang erat pundak Nagisa. "Nak, kau ... Tolong jangan bercanda, kau ini- membuatku menangis," ucapnya tersedu-sedu.


Nagisa bahkan sampai ikut menangis, mereka berdua sangat merindukan Lug. "Sepertinya- aku harus menceritakannya dari awal," sahut Nagisa.


Gadis itu pun menceritakan semua yang terjadi semenjak kedatangannya di dataran Exter hingga memasuki Dunia Kekacauan Arus Waktu–tak ada satu pun yang terlewat, bahkan pertarungannya di luar angkasa pun juga diceritakannya. Mulai ketika cerita memasuki tentang kedua orang tuanya Nagisa, Nivi mulai tertarik.

__ADS_1


"Kedua orang tuamu ... Sekarang mereka ada di mana?" tanyanya sembari mengusap ingusnya.


Nagisa tertawa kecil melihat ingus Nivi yang terus keluar meski sudah diusap berkali-kali, itu terlihat lucu di matanya meski mereka berdua sedang menangis.


"Aku sendiri tidak tahu- aku memindahkannya ke suatu tempat yang antah-berantah di luar sana, di tengah hutan yang tidak terlalu lebat. Di dekat sana ada pemukiman, tapi tak tahu pastinya," jelas Nagisa.


Nivi mengangguk. "Jadi begitu, ya? Aku ingin melihat ibumu, aku ingin melihat seberapa cantik ibumu itu sampai melahirkan anak secantik dirimu," pujinya menggoda.


Nagisa tersipu malu, ia memalingkan pandangannya. "Ibu ... Kau ini- bisa saja, deh ... " sahutnya.


Tak lama setelah digoda, Nagisa kembali bercerita lagi. Dan sesampainya inti ceritanya, yakni tentang Lug, Nivi sangat antusias mendengarkannya. Wajahnya seolah tak ingin berpaling–seakan tak ingin ada satu kosa kata pun yang boleh terlewat dari telinganya.


Dan setelah mendengar semuanya sampai tentang Empat Topeng–Nagisa tidak menjelaskan dengan nama Empat Topeng, ia mengatakan bahwa Lug menyamar menjadi seseorang yang berada di kota Pertus di kerajaan Eternan–Nivi benar-benar tercengang mendengar bahwa anak bungsunya itu sungguhan masih hidup hingga bahkan memiliki sebuah restoran mewah yang terkenal dan bisa dibilang sukses.


"Kapan dia akan pulang?" tanya Nivi.


Nagisa menjawab, "Aku tidak tahu, bu. Yang kudengar dari kakak Lug adalah dia akan segera kembali, namun mungkin akan membutuhkan waktu. Katanya tak akan sampai bertahun-tahun, tapi aku tak tahu kapan pastinya."


Nivi menghela nafas kecewa. "Tapi itu tidak masalah, asalkan Lug berkata akan segera kembali, kita hanya perlu bersabar sampai pada waktu dia akan benar-benar kembali ke sini."


"Kau benar, bu."


Tak lama Nagisa mengingat suatu hal yang hampir dilupakannya. "Oh iya, bu. Kakak Lug meninggalkan sesuatu untukmu," ujarnya sembari merogoh sakunya.


Nagisa bingung, ia memiringkan kepalanya. "Apa itu?" tanyanya.


Nagisa pun mengeluarkan sebuah benda yang mirip dengan sebatang pena, tetapi benda itu terlihat padat dan berwarna hitam. Gadis itu menekan tombol yang ada di bawah, Daan dibagian atasnya memancarkan sebuah cahaya hologram yang menampilkan Lug.


"Halo, bu, bagaimana kabarmu?" tanya Lug di dalam hologram.


Pada saat itu juga, Nivi menangis kencang karena terharu melihat anaknya masih hidup di luar sana. Air matanya semakin deras saja sampai mengalir hingga membasahi bajunya. "LUG! LUG!!!" teriaknya.


"Aku tahu, bu, kau sedang menangis di sana. Mungkin jika kau sedang menonton ini bersama ayah, apa kabarmu, ayah? Tenang saja, di sini aku baik-baik saja. Bahkan bisa dibilang aku sangat bahagia di sini, jangan cemaskan aku untuk sekarang, aku tak ingin kalian terlalu khawatir sampai membuat diri kalian sakit," ucap Lug.


"Iya, Lug ... Kembalilah- aku rindu denganmu ... Tak peduli apapun yang kaulakukan di sana, aku hanya ingin ... Kau segera kembali," ujar Nivi tersedu-sedu.


Nagisa bahkan juga sampai meneteskan air mata lagi.

__ADS_1


"Ibu, di sini aku memiliki sebuah restoran. Mungkin aku ingin kau ke sini untuk mencicipi masakanku, tapi sayang ini terlalu jauh."


Tatapan Nivi semakin lama semakin sedih, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia senang dan puas melihat anaknya yang dikabarkan telah tewas, ternyata kini masih hidup dan baik-baik saja.


"Maaf, bu. Aku tak bisa berlama-lama, di sini tempatnya kurang aman. Dan juga, sampaikan kabarku pada kakak, aku ingin dia melihat rekamanku ini," Lug melambaikan tangannya. "Mungkin hanya sampai sini saja, bu ... Sampai jumpa lagi, aku sayang ibu, ayah, kakak Rakt, kakak Teressa, dan Nagisa."


Tiba-tiba saja Lug menoleh ke kanan dan kiri, seakan ada seseorang yang sedang mengawasinya dan ia tahu. "Oh iya, bu. Mungkin ketika aku pulang, siapkan saja ritual pernikahan, mungkin aku akan menikahi Nagisa pada saat itu, hihihi ... "


"Kakaaaakkk ... "


Tiba-tiba terdengar suara Nagisa samar-samar. Nivi tersenyum sembari melirik ke arah anak gadis yang duduk di sampingnya. Sementara Nagisa sendiri malah tersipu malu sampai memalingkan wajahnya dan menggembungkan pipinya.


"Sampai situ saja, bu. Jaga kesehatanmu, dan jangan lupa dengan pesanku yang barusan, hihihi ... "


Rekamannya Lug telah berhenti.


Nivi mulai tersenyum hingga menampakkan giginya sambil menatap Nagisa. "Nak, bersiap-siaplah untuk pernikahan," ucapnya berpesan.


Nagisa merengek, "Ayolah, bu ... Jangan menggodaku- ibu ini memang mirip dengan kakak Lug, ya? Hmph!" Ia pun memalingkan wajahnya seraya melipat kedua tangannya.


Mereka pun saling menggoda satu sama lain setelah itu, Nivi benar-benar tak menyangka bahwa Nagisa sudah dewasa sekarang ini. Namun mungkin saja masih sangat labil dan terlalu feminim.


"Memangnya ayah sekarang di mana, bu?" tanya Nagisa.


Nivi menjawab, "Dia sekarang sedang menghantarkan pedang pedang yang telah dipesan oleh kepala desa."


Nagisa menggaruk kepala. "Memangnya ada masalah apa sampai kepala desa memesan banyak pedang?"


"Kepala desa membentuk sebuah organisasi untuk menjaga desa. Katanya mulai ada bandit yang sudah menjarah di berbagai desa di dekat sini. Kepala desa tak ingin desanya ini dijarah oleh para bandit itu," jelas Nivi.


Setelah berbincang hingga cukup lama, Nagisa ingin berpamitan dan kembali ke kota kerajaan.


*****


Besoknya, Nagisa sampai di dekat kota kerajaan di hari yang sudah mulai petang. Kini posisinya tepat berada di dekat lokasi di mana dirinya dulu pernah menembakkan sihir yang sangat masif.


Dan ketika mulai berada di depan gerbang, Nagisa memperlihatkan armornya dan mengacungkan token di tangannya untuk membuktikan pada prajurit yang menjaga gerbang kota kerajaan–sebenarnya kota kerajaan itu kecil, bahkan luasnya tidak sampai empat kali luas desa Nedhen. Nagisa langsung masuk ke dalam dan ingin segera kembali ke asramanya.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2