![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Tepat setelah Lug menyebutkan nama tempat yang kini ia pijaki–Altar Bintang, Gerbang Dunia Perbintangan, Dewa Leo tersenyum menatapnya. "Sebuah kehormatan bagi kami para Dewa Konstelasi karena anda masih mengingat akan tempat ini," ucapnya bahagia.
Lug menyeringai.
Lantas Dewa Leo merubah wujudnya kembali seperti manusia berlengan empat. Garis di dahinya bercahaya, lalu simbol rasi bintang Leo yang melayang-layang di sekitar mereka juga ikut bersinar.
Tiba-tiba dunianya berubah, itu menjadi seperti hutan belantara yang sangat luas hingga tak berujung. Di langitnya terdapat tiga buah planet besar dan salah satunya bercincin sebagaimana cincin Planet Saturnus. Dan tepat di atas cakrawala yang ada di arah depan Lug, belakangnya, serta kiri dan kanannya, terdapat 9 bintang yang apabila ditarik garis, maka akan membentuk simbol rasi bintang Leo seperti yang ada di dahinya Dewa Leo. Bintang bintang itu kerlipnya bersinar terang, padahal langit biru terlihat sangat cerah, dan keajaibannya adalah tak ada matahari yang menyinari dunia tersebut.
"Wow ... Ini- indah sekali," ucap Nagisa terpukau melihat langit.
Mereka berada kini berpijak di atas gunung yang tinggi, tepat di depan mereka adalah sebuah tebing yang curam, namun di bawahnya adalah hutan belantara.
Dewa Leo menoleh pada Nagisa setelah mendengar pujiannya. "Nona, anda ingin melihat sesuatu yang lebih indah lagi?" tanyanya dengan nada menawarkan.
Nagisa menoleh dengan tatapan berharap. Hanya dengan sekali lihat, Dewa Leo langsung tahu bahwa wanita itu mengharapkan sesuatu yang lebih indah lagi. Dan dewa itu pun menjentikkan jarinya, seketika melintaslah sebuah meteor dari belakang mereka dan memotong langit menjadi dua, membuat kedua belah langit tampak berbeda. Di sebelah kiri, suasana langit terlihat sedikit memerah seperti menjelang senja, dan di sebelah kanan langitnya berubah menjadi malam yang dihiasi oleh aurora yang berpendar kehijauan.
Melihatnya saja membuat semua orang hampir tidak berkata-kata, namun tidak dengan Lug. Di kepalanya tersirat sebuah kata bahwa dirinya mampu melakukan hal tersebut jauh lebih mudah daripada mengedipkan matanya, akan tetapi kekuatan seperti itu hanya ada ketika dia belum bereinkarnasi.
Dewa Leo dapat melakukan keajaiban seperti itu dengan mudahnya karena dunia tersebut adalah otoritas pribadi miliknya.
Lug menepuk pundak Dewa Leo, ia berkata, "Kita tak punya banyak waktu lagi, kau tahu?!"
Dewa Leo mengangguk ketika mendengarnya. "Namun- perang besar akan terjadi, tuan Acestral," ucapnya pesimis. Tatapannya mengatakan dirinya takut akan suatu hal yang akan terjadi di masa depan.
Lug mendengus, tapi ia malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia berbalik membelakangi Dewa Leo, berjalan dua langkah dan berkata, "Asalkan Sang Malaikat Yang Terjatuh benar-benar terjatuh, akibat dari peperangan besar dapat dengan mudah diperbaiki."
Tatapan Dewa Leo masih tampak resah, kegelisahan melandanya. "Tuan ... Kekalahan Lucifer pada perang ini ... " ucapnya terpotong.
__ADS_1
Lug memejamkan matanya, dia dengan cepat mulai berbicara lagi, "Tak perlu risau!" Ia berbalik badan, "Segalanya dapat diperbaiki, mencegah hancurnya struktur alam semesta ini adalah prioritas kita yang paling utama!" tegasnya.
Tetapi terlihat dari mata Dewa Leo yang masih memiliki keraguan, seakan di kepalanya banyak sesuatu yang ingin ia katakan tetapi itu terlalu kacau dan terlalu sulit untuk dijelaskan.
Lug kembali membelakangi Dewa Leo, dan berkata, "Baiklah, apa hanya kau saja yang menyambutku?"
Tak mungkin hanya Dewa Leo saja yang datang menyambut Lug, pasti ada dewa dewa lain yang telah menunggu kehadirannya. Dan Dewa Leo pasti yang diutus untuk menyambut dan menghantarkan Lug ke dalam Singgasana Para Bintang. Menghantarkanku ke dalam dunia pribadinya, mustahil jika ini terjadi tanpa sepengetahuan dewa lain. Bahkan mengatakan penggunaan Bola Ramalan Suci yang merupakan artefak kuno kebanggaan para Dewa Konstelasi yang telah meramalku- Dewa Leo tak memiliki otoritas atau kekuatan yang membuat dirinya dapat seenaknya menggunakan artefak tersebut. Pastinya penggunaan Bola Ramalan Suci sudah disetujui dan digunakan tidak hanya satu dewa, batin Lug.
Benar saja–dengan patokan bahwa di hadapan Lug sekarang adalah utara–di sebelah timur laut, muncul sepuluh bintang bersinar terang yang apabila ditarik garis hampir membentuk segitiga, dan itu adalah simbol rasi bintang Capricorn. Ada juga di langit sebelah barat laut muncul delapan bintang yang apabila ditarik garis akan membentuk seperti gambar rumah, dan itu adalah simbol rasi bintang Libra.
Pada rasi bintang Capricorn, tiba-tiba muncul retakan dimensi di tengahnya kesepuluh bintang tersebut, dan benar saja retakan dimensi tersebut meluas sampai garis tepi rasi bintangnya yang hampir membentuk segitiga. Dan muncul seseorang yang menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya. Dia mengenakan topeng yang menutupi seluruh kepalanya, dan pada tampilan depannya yang tersusun oleh dua segitiga siku-siku, dan terdapat garis bercahaya ungu terang di antara keduanya. Dia mengenakan jubah, dan postur tubuhnya tinggi–dari kejauhan terlihat bahkan lebih tinggi dari Dewa Leo. Lalu retakan dimensinya memudar dan kesepuluh bintangnya terbang di belakang punggungnya sesosok yang keluar dari retakan dimensi itu. Dia pun terbang ke bawah.
Sementara pada rasi bintang Libra, muncul siluet kepala wanita raksasa dengan mata yang bercahaya emas dan ungu. Kedelapan bintangnya tepat berada di dahi siluet wanita tersebut, saking besarnya ukuran wanita itu yang terlihat hanyalah sampai lehernya saja di batas cakrawala. Namun siluet itu memudar, dan ternyata di sana ada seorang wanita yang matanya bersinar seperti siluet sebelumnya. Ia mengenakan tudung yang menutupi kepalanya, tangannya seperti memiliki dimensi lain yang terdapat alam semesta pada kulitnya, serta dia mengenakan pakaian yang sangat tertutup dan rok yang cukup ketat hingga menutupi mata kakinya. Dia berjalan ke bawah di atas udara, setiap langkahnya, di bawah kakinya terdapat kerlip rasi bintang Libra yang muncul sebagai pijakannya, dan menghilang setelahnya.
Terkecuali Lug dan Dewa Leo, semuanya terkejut melihat kehadiran Dewa Capricorn dan Dewi Libra yang kemunculannya sangatlah fantastis.
"Selamat datang, Capricorn, Libra," Dewa Leo menyambut dengan ramah.
Kedua dewa dewi tersebut mengangguk membalas keramahan Dewa Leo. Dan perhatian mereka seketika teralihkan pada Lug yang ada di depan mereka berdua.
"Salam hormat, tuan Acestral yang agung, selamat berjumpa kembali," ucap Dewa Libra.
Lug mengangguk kecil, "Salam juga, Dewi Libra, Dewa Capricorn, lama tak jumpa," sahutnya.
Lug mengeluarkan nafas panjang, lalu ia berkata lagi, "Sudahi omong kosong tentang penyambutan ini, situasi pada saat ini sangat krusial dan aku tidak bisa berdiam diri karena menyangkut kehidupan di seluruh penjuru semesta. Kalian sendiri pasti merasakannya, dentuman luar biasa yang membuat semua telinga meledak."
Ketiga dewa itu mengangguk, mereka tahu apa mengerti akan situasinya.
__ADS_1
"Tuan Acestral, kami mempunyai kabar buruk dan juga kabar baik," ucap Dewi Libra. Suaranya terdengar datar, namun sangat lantang, dan cukup berbeda jika dibandingkan dengan suara manusia, serta sangat tidak terdengar feminim layaknya seorang wanita meskipun dirinya adalah seorang dewi.
"Kabar buruk," sahut Lug, "Aku ingin mendengarnya terlebih dahulu."
Dewi Libra dan Dewa Capricorn saling menatap satu sama lain. Sementara itu, Lug memperhatikan langit, dan di sebelah timur laut, muncul lagi rasi bintang baru dengan 4 bintang. Itu adalah rasi bintang Aries. Kehadiran bintang bintang tersebut disertai dengan garis siluet yang membentuk kepala kambing dengan tanduk melengkung. Dan ketika itu memudar, muncul kambing raksasa dengan tanduk melengkung, namun itu hanya berupa cahaya yang membentuk tubuh kambing raksasa. Hingga kambing itu hendak menginjakkan kakinya di tanah, ia berubah menjadi sesosok dewa dengan dengan tubuh yang berupa batang pohon dengan banyak lilitan ranting di badannya itu, serta ada tumbuhan rambat yang tumbuh di beberapa bagian, seperti di lehernya selayaknya kerah baju. Kepalanya memang selayaknya manusia, hanya saja memiliki tanduk melengkung sebagaimana tanduk kambing, sama halnya dengan dewa Leo, di dahinya terdapat garis simbol rasi bintang Aries yang berpendar. Dia memiliki tubuh yang besarnya sedikit lebih besar dari Dewa Leo.
Apakah para dewa menang selalu semegah ini ketika hadir di suatu tempat? Batin Raini terheran-heran. Namun pada lubuk hatinya yang terdalam, ia kagum dan takut secara bersamaan.
Luar biasa! Para dewa yang sekuat itu menundukkan kepalanya dan memberikan hormat kepada kakak Lug ... Maksudku suamiku, batin Nagisa senang. Ia benar-benar tak menyangkanya, tetapi juga sangat kagum terhadap Lug, suaminya.
Ketika Dewa Aries menginjakkan kakinya di hadapan Lug, ia pun menunduk dan memberikan hormat. Seketika itu juga muncul di belakang badan Dewa Aries sebatang pohon besar yang tumbuh dengan cepat. Pohon itu tampak subur dengan begitu banyak cabang dan dahan di batangnya, dedaunannya yang hijau dan sangat lebat, serta pohon tersebut begitu tinggi, itu bahkan mencapai 15 meter tingginya. Entah pohon apa yang tumbuh itu.
Dewa Leo menyeringai sinis kepada Dewa Aries, tepat di saat pohon besar nan tinggi itu tumbuh. "Kau menyalahi otoritas dunia pribadi milikku, Aries. Berani sekali kau, ya?" sindirnya.
Hanya saja Dewa Aries tersenyum sinis pula membalas melirik Dewa Leo. Namun dengan segera pandangannya kembali pada seorang manusia yang berada tepat di depannya. "Selamat datang, tuan Acestral, terimalah salam hormat dari saya," ucap Dewa Aries.
Lug mengangguk, "Tak perlu bersalam-salaman lagi, aku ingin mendengar kabar buruk yang hendak kalian katakan," ujarnya dengan nada cepat.
"Baiklah, tuan Acestral," sahut Dewa Aries, "Saya meminta maaf sebesar-besarnya apabila cukup mengganggu. Saya persilahkan Dewa Capricorn."
Dewa Capricorn mengangguk, lalu ia mulai memberitahu kabar buruk yang sangat ingin didengar oleh Lug, "Ini mungkin berat bagi anda- Bola Ramalan Suci telah meramalkan bahwa anda sudah dipastikan untuk bertarung dengan Sang Malaikat Yang Terjatuh (The Fallen Angel, Lucifer), brutal, dahsyat, menggelegar sekaligus mengerikan, menimbulkan banyak bencana dan kerusakan bahkan sekalipun di dunia manusia. Namun- itu bukan kabar buruk yang sebenarnya, di masa depan ... Bola Ramalan Suci memberikan kami penglihatan bahwa ... "
Ucapannya itu terhenti begitu lama, hingga membuat semua orang menunggu dan bertanya-tanya, bahkan Lug sekalipun. Hingga dalam beberapa detik kemudian, mata Lug melotot, menunjukkan ekspresi terkejut, dan syok di saat yang bersamaan.
"Benar," Dewa Capricorn menambahi, dia tahu Lug telah menebak apa berita buruknya ketika melihat ekspresi wajahnya. "Semua rekan anda- termasuk kedua istri anda ... Akan tewas dalam peristiwa tersebut."
Bersambung!!
__ADS_1