Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 57 - Kalung Misterius


__ADS_3

Hari di mana Nivi mendengar bahwa Lug meninggal pada insiden ledakan dahsyat beberapa hari yang lalu membuatnya syok berat. Dia hampir tak mau makan meskipun masih bisa diajak berbicara dan bercerita. Di malam itu, semalaman ia tak bisa tidur melihat istrinya yang tidak tidur–menangis semalaman sambil memeluk fotonya Lug.


Vans mendekati istrinya itu. "Nivi, apa kau tidak mau tidur?" tanyanya cemas.


Nivi menggeleng, lalu dia menoleh ke arah suaminya. "Rasa mengantukku ini semuanya telah direbut oleh Lug. Aku tak bisa tidur lagi sebelum dia bangun, kecuali jika aku mati," jawabnya.


Vans semakin khawatir dengan kondisi mental Nivi, istrinya itu seolah sudah tak memiliki semangat hidup setelah kematian anak bungsunya. "Jangan berkata seperti itu, bagaimana caraku hidup tanpamu? Rakt masih membutuhkan bimbinganmu, aku tak mampu melakukannya sendirian. Aku masih sangat menyayangimu," ujar Vans.


Nivi hanya terdiam. Mengingat bahwa dirinya masih memiliki satu anak lagi yang belum sepenuhnya dewasa.


"Sudahlah, Nivi- tenangkan dirimu," pinta Vans.


Tapi Nivi tetap diam saja dan menangis sembari memeluk foto anaknya–sebenarnya tidak ada yang namanya foto, manusia belum mengenali hal tersebut, namun Lug menjadi yang pertama menciptakan yang namanya foto dengan mengubah pantulan cahaya menjadi cairan berwarna yang langsung mengering ketika mengenai sebuah kertas melalui alat buatannya. Kertas itu dibingkai sedemikian mungkin dengan kayu yang dicat emas dengan ukiran yang indah.


Pada akhirnya, Vans tertidur sambil duduk. Dia tak kuasa menahan kantuknya karena kelelahan seharian penuh harus menempa. Sementara Nivi masih tidak tidur atau bahkan tidak mengantuk sama sekali.


Setiap beberapa menit sekali, Vans terbangun dan masih melihat istrinya menangis. Kerap kali dia melihat Nivi memeluk foto Lug hingga menempelkan ke pipinya, lantas berputar-putar layaknya menggendong anaknya. Vans selalu menangis ketika melihatnya, lantas memeluknya dan membawanya ke atas ranjang. Tapi Nivi secara tidak sadar kembali berdiri dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.


*****


Hingga ketika fajar tiba, Vans bangun dan tidak tidur lagi. Tapi dia masih melihat istrinya berputar-putar sembari memegang foto anaknya. "Nivi ... Kau jangan membuatku tambah sedih," bujuknya.


Nivi tak menjawab sama sekali. Dia hanya menoleh, lalu mendekati suaminya itu. "Kau harusnya mengerti perasaan istrimu ini! Kau juga seharusnya bersedih atas kepergian anakmu! Kulihat kau sama sekali tidak bersedih, APA KAU BENAR-BENAR SEORANG AYAH?!!! bentak Nivi sembari menuding suaminya.


Vans awalnya diam, tapi dia kemudian berkata, "Kau pikir aku tidak sedih?! Aku juga sedih! Tapi untuk apa aku harus larut dalam kesedihan? Meskipun aku kehilangan anakku, tapi apa yang bisa kuperbuat?! Larut dalam kesedihan hanya akan membuatmu sakit-sakitan! Kumohon, aku tidak ingin kehilangan anak dan istriku, tolong dengarkan aku, Nivi," tegasnya.


Nivi tak mau tahu alasan suaminya, tapi mendengar itu dia paham apa arti dari kehilangan.


Vans juga tak mau menyakiti hati istrinya dengan membentak seperti itu, jadi dia langsung berdiri dan memeluknya. Mereka berdua menangis meratapi kesedihan masing-masing. Hati mereka terikat, saling memahami satu sama lain.


Beberapa menit kemudian, Vans melepaskan pelukannya. "Sayang, ayo makan. Dari kemarin kau tidak makan sama sekali," ajaknya.


Nivi sangat ingin sekali menolaknya, dirinya sama sekali tidak memiliki nafsu makan untuk saat ini. Tapi dia mengerti perasaan suaminya, jadi sekarang menerima ajakannya adalah keputusan yang benar. "Baiklah, aku akan memasakkan makan kesukaanmu," ucapnya.


"Terima kasih," sahut Vans.


Beberapa saat kemudian, masakan Nivi pun siap. Semuanya terlihat lezat, tapi Nivi sama sekali tidak menganggap semua masakan itu enak karena tidak ada Lug. Ya, memang bukan karena Lug di sana, tapi karena kabar tentang tewasnya Lug.


Mereka berdua memakan makanannya secara perlahan. Nivi makan dengan sangat lambat, hingga setelah beberapa sendok makan, dia berhenti.


"Sayang? Kenapa kau tidak menghabiskannya?" tanya Vans khawatir.


Nivi menggeleng. Makanan yang ada di piringnya itu masih cukup banyak, ia hanya makan lima sendok makan saja.


"Tolong, sayang- jangan buat aku cemas," ujar Vans. "Makanlah sedikit lagi, kumohon."

__ADS_1


Mendengar permintaan dari suaminya, Nivi mengangguk. Dia memenuhi keinginan suaminya dan makan dia sendok lagi. Itu memang membuat Vans menjadi sedikit lega, tapi rasa khawatirnya tidak berhenti begitu saja.


"Sayang, minum dulu. Tenggorokanmu bisa kering nanti," ujar Vans lagi.


Nivi tidak meresponnya, tapi ia mematuhinya. Wanita itu mengambil gelas yang ada di sebelah piringnya tanpa berbalik dan melihatnya. Lantas meminum air di dalamnya.


Setelah selesai makan, Vans mendekati Nivi, lantas membelai rambutnya. "Sudahlah, bagaimanapun juga kita sudah tak bisa berbuat apapun lagi. Kita sendiri yang mendorongnya masuk ke akademi sihir kerajaan, aku tahu, mau itu Rakt ataupun Lug, mereka berdua mewarisi kemampuanmu dalam menggunakan sihir. Mereka berdua dan kau sangat cemerlang dan luar biasa. Aku sangat bersyukur akan semua itu," terangnya.


Kalimat terakhir memang sedikit menghibur Nivi, tapi itu hanya sesaat saja. Dalam hitungan detik, wajahnya itu kembali murung.


"Kutegaskam padamu untuk tidak mogok makan!" seru Vans.


Nivi menoleh padanya. "Baiklah, nanti aku akan makan lebih banyak lagi."


Vans tersenyum. "Lebih baik memang begitu."


Setelah itu, Vans menuju ke bilik penempaan. Di sana dia langsung mempersiapkan alat penempaan dan mempersiapkan perapian. Pada saat ini, suasana hati pria itu sedang sedih. Sebenarnya dia tidak ingin menempa terlebih dahulu, tapi dirinya ingin membuat sebuah kenang-kenangan tentang anaknya. Vans menempa bukan karena pekerjaan, melainkan karena ingin memperbaiki suasana hati dan lebih mengingat tentang anaknya, meskipun itu malah membuatnya tambah sedih. Dan ketika semuanya sudah siap, Vans mulai mengangkat palunya. Tak terasa air matanya menetes, air matanya itu jatuh ke besi yang hendak di palunya bersamaan dengan palu itu dihantamkan.


Tak berselang lama, Vans mengambil rantai kecil di lemarinya yang berisikan banyak sekali kreasinya dari menempa.


Kemudian memasangkan rantai itu ke logam yang telah ditempanya, dan jadilah sebuah kalung. Di tengahnya itu adalah lingkaran, di tengahnya ada lingkaran, dan begitu seterusnya–ada lima lingkaran. Kelima lingkaran itu dihubungkan dengan dua buah garis di tiap celahnya, dan tidak segaris dengan celah berikutnya.


SRIIING


Namun tiba-tiba kalung itu bersinar sangat terang. Vans bahkan sampai menutup matanya.


"A-apa ini?" tanya Vans pada dirinya sendiri yang kebingungan.


Lantas dia memegang lingkaran terluar dan melepaskan rantainya. Lingkaran lingkaran yang ditempanya itu tidak berubah sama sekali–masih terus berputar-putar.


Tiba-tiba saja, kelima lingkaran itu membesar. Vans yang ketakutan berjalan mundur sampai terjatuh. Benda apa yang barusan kuciptakan ini? Bahkan yang kugunakan saja hanya besi biasa, batinnya.


Lingkarannya itu membesar dan kini ukurannya sama besarnya dengan perut Vans yang sedikit buncit. Di tengahnya muncul cahaya biru yang tiba-tiba saja menembakkan sinar lurus dengan sangat cepat hingga ke kepala Vans. Dia tak bisa melakukan apa-apa dan sudah tak sadarkan diri dengan mata yang melotot berwarna putih keseluruhan serta mulut menganga. Namun ada yang terjadi secara tiba-tiba pada Vans lagi, yakni terlintas berbagai macam gambaran suatu hal yang terjadi di sebuah tempat. Gambaran itu berganti hanya dalam sepersekian detik saja, dan jumlahnya cukup banyak.


Gambaran yang pertama adalah sebuah tempat yang dipenuhi oleh orang-orang berjubah hitam; yang kedua adalah bukit yang sangat lapang dan hijau; yang ketiga adalah seseorang yang mengenakan jubah hitam sedang berdiri di bukit yang sama; yang keempat adalah gambaran sebuah kota yang cukup besar dan maju–Vans sadar bahwa kota itu bernama Vloesia yang bukan berada di kerajaan Da Nuaktha; yang kelima adalah orang-orang berjubah hitam sebelumnya yang tersebar di kota Vloesia; yang keenam adalah gambaran tentang hancurnya organisasi dari orang-orang berjubah itu; yang ketujuh memperlihatkan bahwa masih ada satu orang saja yang berdiri di antara mayat-mayat berjubah lainnya yang mati mengenaskan; yang kedelapan adalah sebuah ruangan yang dipenuhi orang yang saling berkomunikasi satu sama lain; dan yang terakhir adalah gambaran kota Vloesia lagi, namun ada yang berubah, yaitu adalah orang-orang yang ada di sana menjadi cukup banyak.


Dan setelah semua gambaran itu berlalu, mata Vans terbuka. Di sana ia mendapati dirinya sedang tertidur di lantai dan lingkaran yang ditempanya tadi sudah tergeletak di atas meja catatannya dan tidak berputar-putar.


Tapi anehnya ada belasan pedang yang sangat bagus diberdirikan di tembok. Pedang pedang itu jauh lebih bagus dari buatan Vans selama ini.


"Siapa yang membuat semua ini? Cantik sekali, sebuah mahakarya yang luar biasa, ketajamannya benar-benar melampaui pedang biasa pada umumnya. Tangan yang membuat pedang ini pasti sangatlah mahir .... Tapi siapa dia? Siapa yang masuk ke dalam ruangan ini?" gumam Vans bingung sembari mengambil salah satu pedangnya.


Dan pada saat itu juga, dia melihat ada tiga pedang yang berbeda dari pedang yang lainnya–pedang hitam, pedang emas, dan pedang putih–pedang pada umumnya berwarna perak atau abu-abu mengkilap.


"Tunggu!" Vans melihat sesuatu pada salah satu pedangnya. "Ini ... Ini kan ... "

__ADS_1


Pedang itu diambil oleh Vans dan dilihatnya lamat-lamat. Pada salah satu mata pedangnya yang sangat tajam itu berwarna hitam dan bergerigi, di setiap geriginya itu membengkok ke ujung mata pedang dan setiap geriginya sangatlah tajam layaknya deretan gigi monster. Bilah pedangnya berwarna ungu gelap yang hampir berwarna hitam. Begitupun dengan gagangnya yang bahkan memang berwarna hitam kelam. Pada ujung gagangnya terdapat dua belah ketupat yang tidak terlalu kecil dengan warna yang sama dengan gagang pedang. Lantas ada kristal ungu gelap yang ditanamkan pada bilah pedangnya di dekat gagang. Ukuran kristalnya seukuran kepalan tangan lelaki remaja pada umumnya. Ukuran bilah pedangnya sendiri adalah dua kali ukuran lengan lelaki dewasa pada umumnya dan panjang bilahnya hampir sama dengan panjang tangan Vans. Dengan ada gagang pedangnya yang juga tidak pendek, pedang itu panjangnya hampir satu setengah kali tangannya Vans.


"Kristal ini kan ... " gumam Vans.


Lalu dia berlari keluar dari ruangan tersebut sembari membawa pedang hitam itu. Dia mencari Nivi di ruang tamu dan istrinya itu tidak ada di sana. Lantas ia mencarinya di kamar, di sana dirinya pun menemukan Nivi yang sudah tidak lagi murung, namun istrinya itu menangis bahagia.


Di kamarnya itu bukan hanya ada Nivi saja, melainkan ada juga Rakt dan Teressa yang menggendong anaknya. Di sana mereka berdua tampak sedang menghibur ibunya.


Vans menghela nafas.


"Rakt? Teressa? Kalian berdua ... Ada apa kalian kemari?" tanyanya penasaran.


Teressa menjawab, "Kami di sini sedang menghibur ibu. Kami berdua juga membawa kabar baik. Ayah sendiri- ada apa? Kenapa tampak tergesa-gesa begitu? Dan pedang itu ... " tanyanya balik.


"Ah, pedang ini- " jawab Vans. "Tadi aku membuat sesuatu- kalung ... Dan mendadak kalung itu terbang dan berputar-putar- seolah hidup. Lalu tiba-tiba saja menembakkan cahaya dan aku pingsan. Lalu ketika aku bangun, pedang ini sudah ada dan tertata rapi dengan pedang yang lainnya. Semua pedang yang tertata rapi di sana bukan aku yang membuatnya, tapi semuanya ... "


Rakt merasa ada yang aneh. Dia menatap ke arah kristal hitam yang ada pada pedang yang dibawa ayahnya. "Bukankah kristal itu milik Lug?" tanyanya memastikan.


Vans menoleh ke arah Rakt. "Nah, benar- itu yang membuatku bingung, aku bahkan tidak tahu di mana Lug menyimpannya. Aku hanya pernah lihat saja, tapi tiba-tiba saja kristal ini sudah menempel di pedang ini," jelasnya.


Rakt terdiam, wajahnya tampak seperti dia sedang memikirkan banyak hal.


"Justru aku mencari Nivi karena ingin bertanya, apakah ada yang masuk ke dalam ruanganku atau tidak, selagi diriku pingsan?" ujar Vans lagi.


Nivi menggeleng. "Tidak ada yang ke ruanganmu. Aku sedari pagi sampai siang tadi di ruang tamu, tapi di saat aku hendak masuk ke kamar, Rakt dan Teressa datang. Sekitar setengah jam-an, kau datang kemari," terangnya.


Vans malah tambah bingung. "Siang?" tanyanya kebingungan. Bukankah ini masih pagi?


"Tidak, sekarang justru sudah sore," sahut Nivi.


"Apa?!"


Vans pun segera pergi keluar dan melihat ke langit. Benar saja, matahari sudah hampir menyentuh cakrawala sebelah barat. Benar-benar sudah sore, ini ... Padahal kilatan cahaya tadi rasanya bahkan tidak sampai satu detik. Kenapa tiba-tiba saja sudah sore? Gumamnya lagi dalam hati.


Akhirnya Vans kembali masuk ke kamar. Di sana dirinya melihat istrinya sudah bisa tersenyum meskipun masih menangis. Kini Nivi dipeluk oleh Teressa dan seperti sedang membicarakan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Vans dari depan pintu yang terbuka.


Vans tiba-tiba bertanya, "Apa kabar baik yang kau maksud tadi, Rakt?"


Rakt menoleh. "Oh itu," sahutnya. "Mari kita bicarakan di ruang tamu saja, mungkin juga tidak akan membuatmu sedih atas kepergiannya Lug."


Mendengar nama Lug disebutkan oleh Rakt, Vans langsung bersemangat. "Baiklah, ayo kita ke ruang tamu," ajaknya


Rakt juga tersenyum melihat ayahnya yang terlihat bersemangat. Teressa masih asik mengobrol sendiri dengan Nivi, mereka juga tampak sedang membicarakan Lug.


Rakt dan Vans pun pergi ke ruang tamu.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2