![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Di sebuah kerajaan yang bernama Eternan, terdapat sebuah kota bernama Pertus. Di kota tersebut cukuplah ramai. Orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan pun juga ramah, mereka saling menyapa satu sama lain. Di kota itu pula terdapat sebuah restoran besar yang dikelola oleh seseorang yang menyandang nama belakang Vlamera. Pengelolanya bukanlah satu keluarga, namun satu individu saja.
Meski begitu, restoran itu dibantu oleh beberapa orang yang bekerja di dalamnya. Bahkan juga ada keluarga besar dari kerajaan Eternan yang membantu dari belakang untuk segi politik maupun ekonomi.
Seseorang dari keluarga Vlamera itu bernama Nio Vlamera. Dia adalah seorang anak berusia empat belas tahun. Rambutnya berwarna cokelat terang dan memiliki gaya 'short and spiky' yang terlihat sangat keren. Didukung oleh wajahnya yang tampan, menjadikannya seperti sesosok lelaki yang garang. Memiliki tubuh bagus seperti perutnya yang six pack, badannya tinggi, lengannya sedikit berotot, dan kulitnya putih bersih. Walaupun memiliki paras yang garang dan tatapan mata yang tajam, namun ia sangatlah murah senyum. Ia memiliki mata cokelat kemerahan. Dirinya dikagumi oleh banyak sekali gadis di kota Pertus. Serta restorannya itu bernama restoran Vlamera.
Sekarang ini Nio sedang berada di restorannya dan memasakkan daging sapi untuk pelanggannya. Ia kini tengah mengenakan celemek untuk memasak agar tidak ada noda yang mengenai pakaiannya.
Lantas ada seorang pelayan laki-laki yang datang untuk mengambil pesanan tersebut.
Nio memberikan masakannya. Pelayan tersebut pun membawakan makanannya untuk pelanggan.
"Uahhh ... Cukup melelahkan," gumam Nio.
Tak lama setelah itu, ada seorang pria yang sedikit lebih tinggi darinya. Wajahnya terlihat seperti sudah berusia dua puluh tahunan–seperti seorang bapak-bapak. Pria itu memiliki rambut hitam berkilau yang panjangnya sebahu–rambutnya diikat, matanya berwarna cokelat tua, dan memiliki otot yang cukup besar meskipun tubuhnya sedikit kecil. Dia bernama Leonardo Vlamera, sering dipanggil Leo.
"Hai, paman Leo," Nio menyapa. "Bagaimana kabarmu?"
Leo membalas, "Hai juga, aku baik."
"Syukurlah, lantas ada apa kau ke sini?"
"Kelopak bunga, kau tahu lah."
Tiba-tiba raut wajah Nio berubah menjadi lebih serius. "JOHAN! KEMARILAH!" teriaknya memanggil seseorang.
Dan datanglah seorang pria berusia tujuh belasan tahun berambut pirang yang keseluruhannya dipotong hingga sangat tipis. Matanya lumayan lebar dan kulitnya sawo matang, serta matanya berwarna cokelat tua. Dia tidak lebih tinggi dari Nio. Dia bernama Johan Stevenberg.
"Iya, tuan muda Nio? Ada gerangan apa anda memanggil saya?" tanya Johan.
Nio tersenyum. "Seperti biasa, gantikan aku memasak."
"Baiklah," sahut Johan.
Lantas Nio dan Leonardo pergi ke gudang yang ada di balik pintu belakang dapur. Lantas anak lelaki belasan tahun itu mencari sebuah benda dan itu adalah sebuah patung yang tertutupi oleh kain biru tua kusam yang berdebu. Lantas ia menggeser kedua bola mata patung itu sampai tidak memperlihatkan kornea matanya–bola matanya dibalik.
__ADS_1
Dan tiba-tiba lantai di pojokan gudang terbuka, di sana terdapat ruangan di dalamnya dan ada juga anak tangga menuju ke lantai bawah tanah. Lantainya itu sangat jauh ke dalam, bahkan anak tangganya lebih dari delapan puluh–setiap anak tingginya dua kali lebih tinggi dari mata kaki Nio.
Sesampainya di bawah, terdapat ruangan yang sangat luas sekali. Terdapat banyak sekali pilar pilar, di setiap pilar terdapat dua buah obor untuk menerangi ruangan.
Nio dan Leonardo masih berjalan terus ke depan, hingga mereka sampai pada sebuah lorong. Perjalanan mereka cukup jauh hingga memakan waktu selama sepuluh menit dengan berjalan. Di ujung lorong, terdapat ruangan yang memancarkan sinar berwarna cyan yang mamancar dari dindingnya yang berupa kaca seperti kristal.
Ketika Nio dan Leonardo masuk, di sana terdapat meja melingkar dengan empat kursi yang sudah ada dua orang duduk di sana. Dan juga ternyata dindingnya benar-benar berupa kristal. Langit-langitnya berwarna biru gelap yang dipenuhi oleh kerlip laksana pemandangan langit malam.
"Wah wah, kalian datang cepat sekali, ya?" ucap Nio terhadap dua orang yang sudah duduk di depan meja melingkar.
Keduanya itu sama-sama memiliki nama belakang Vlamera, dan hanya mereka berempat saja yang menyandang nama belakang tersebut. Ada yang memiliki mata biru laut, rambutnya biru tua yang tidak terlalu panjang namun diikat, memiliki tubuh yang besar dan berotot, namun pendek, raut wajahnya selalu terlihat datar dengan tatapan matanya rendah, dan memiliki luka di pipi kanannya yang membentuk huruf x. Ia mengenakan jas hitam dan wajahnya terlihat seperti berumur dua puluh lima tahunan. Namanya adalah Vernando Vlamera.
Sementara yang satunya adalah seorang wanita ceria, tatapan matanya mirip seperti Vernando tapi ia murah senyum. Gadis itu memiliki tinggi yang sama dengan Vernando. Tubuhnya seksi dan sangat menggairahkan, kukunya panjang dan dicat hitam, matanya berwarna merah begitu juga dengan rambutnya yang berwarna merah tua yang di ujungnya berwarna hitam–panjang rambutnya sepinggang dan juga lurus. Ia mengenakan gaun ketat berwarna merah berkilau dengan pernak-pernik yang berkilauan. Pakaiannya itu hanya menutupi sampai pahanya saja dan tidak menutupi ketiaknya. Dan wajahnya seperti seorang wanita dua puluh tahunan. Namanya adalah Cleo Vlamera.
"Yah, kalian yang terlalu lambat untuk berkumpul. Kami memang selalu tepat waktu," sindir Cleo.
Vernando mendengus sambil tersenyum sinis.
"Maaf, aku tadi memang punya banyak urusan, lupa memberitahu Nio tentang perkumpulan ini," ujar Leonardo.
"Haha, maaf."
Mereka berempat memiliki peran masing-masing di dalam nama Vlamera.
Nio sebagai pengurus sekaligus pemilik beberapa restoran yang menjadi penarik opini publik dan informasi kasar dari dalam kerajaan Eternan. Target utamanya adalah gadis muda dan para remaja.
Leonardo sebagai ketua keamanan di kota Pertus yang mendapatkan informasi dari luar. Dia juga yang diutus sebagai pengintai para anggota pemuja dewa iblis. Selain itu, dia juga adalah pemilik dari sebuah penginapan yang cukup terkenal di kota Pertus yang berlokasi tepat di sebelah restoran miliki Nio–restoran yang diceritakan barusan. Target utamanya adalah para pelancong atau turis.
Cleo sebagai seorang pemilik bar yang cukup terkenal di kota Pertus, namanya menjulang ke langit hingga terdengar di tiga kota besar kerajaan Eternan, yakni Pertus, Henjin, dan Bacon. Bahkan dirinya memiliki banyak penjaga (bodyguard) yang menjaga barnya–setidaknya tiga puluhan penjaga bertubuh kekar dan besar. Mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Target utamanya bebas, dari orang tua, turis, anak remaja, atau bahkan orang-orang terkenal atau orang-orang berpengaruh di kota.
Sementara Vernando sebagai pengendali kekuatan utama nama Vlamera yang mana itu dirinya memiliki pasukan sebanyak ratusan yang dapat dipekerjakan. Bahkan dirinya bisa mendapatkan informasi dari luar kerajaan karena statusnya sendiri sebagai ketua dari sebuah asosiasi pembunuh bayaran. Semua anggotanya adalah pembunuh bayaran yang sangat patuh dan loyal, bahkan di antara mereka pun ada juga yang Ranker dengan pangkat yang bermacam-macam. Dan lagi, seluruh pekerja yang ada di restoran Nio, bar milik Cleo, dan beberapa bawahan Leonardo adalah anggota dari asosiasinya Vernando. Dan juga dirinya adalah seorang pedagang antar kerajaan yang menjual berbagai macam benda.
Mereka berempat disebut dengan 4-OV, karena nama depan mereka berempat yang diakhiri dengan haruf o dan huruf v sendiri merujuk pada huruf depan nama Vlamera.
"Kau sudah tahu tentang kabar itu, Nio?" tanya Cleo.
__ADS_1
Nio mengangguk. "Tentu saja aku sudah tahu," sahutnya.
Leonardo menoleh pada lelaki muda itu. "Tunggu, aku kan belum memberitahu kepadamu tentang apa yang terjadi?" katanya.
Nio menyeringai. "Aku sudah tahu kabarnya, hanya belum tahu bahwa kita akan mengadakan pertemuan secara mendadak seperti ini," sahutnya lagi.
"Ooh."
Sedari datang, Vernando memang menyimak. Kini gilirannya membuka mulut. "Sudahi basa-basinya, langsung bahas ke intinya saja!" tuntutnya.
Semuanya mengangguk setuju.
"Paman, menurutmu kekuatan besar yang akan datang dari kerajaan mana," tanya Nio kepada Vernando.
"Salah satu bawahanku mengatakan bahwa kerajaan Jiura telah mempersiapkan lima belas Ranker Emas untuk berpartisipasi. Untuk mempertahankan martabatnya, tak ada Ranker Kristal yang ikut serta di dalamnya," Vernando menjelaskan.
"Apakah kerajaan Tigerion akan mengirim 'si Kembar Gila' itu? Mereka sedang naik daun," ujar Cleo.
Vernando menjawab, "Benar. Untuk meningkatkan reputasi mereka, dan menunjukkan kekuatan mereka, kerajaan Tigerion hanya mengutus empat Ranker Emas untuk berpartisipasi. Dua lainnya adalah si Wajah Berdarah dan Taring Iblis."
Sebutan Wajah Berdarah dan Taring Iblis berasal dari sumber jiwa mereka, dikatakan Wajah Berdarah adalah sumber jiwa dengan kelangkaan wujud super. Selain itu, kekuatan yang lebih mengerikan adalah dari si Kembar Gila, atau nama sumber jiwa mereka adalah Rajutan Bola Emas dan Rajutan Bola Perak. Meski jika satu di antara mereka dipisahkan akan kalah melawan Wajah Berdarah, tapi jika mereka berdua bersatu, sekalipun ada dua Wajah Berdarah dan dibantu oleh Taring Iblis, si Kembar Gila tetaplah lebih unggul. Koordinasi mereka di dalam pertarungan sangatlah bagus, entah itu di dalam segi defensif maupun ofensif. Untuk Taring Iblis sendiri tidak keistimewaan darinya, hanya saja dia adalah yang terkuat di kelasnya dalam pertarungan jarak dekat dan menengah, batin Nio berpikir keras.
PLUK
Leonardo menjentikkan jari, ia tahu bahwa anak lelaki yang duduk di sampingnya itu sedang melamun. "Hei hei, jangan melamu!" tuturnya.
Nio menoleh. "Aku tidak sedang melamun, hanya sedang berpikir saja," ujarnya.
"Haha, kau tak perlu kebanyakan berpikir," sahut Leonardo. "Nanti wajahmu keriputan, cepat tua. Kalau wajahmu keriputan, Cleo jadi enggan untuk tidur seranjang denganmu lagi."
"Jaga bicaramu, Leo!" seru Cleo sembari menuding Leonardo. "Um ... Ya, tapi Nio memanglah tampan, aku hanya belum mendapatkan kesempatan saja untuk memberinya 'kenikmatan' di atas ranjang."
"Apa yang kalian bicarakan?! Sudahlah! Terima kasih atas perbuatanmu yang sudah susah payah mengalihkan topik, paman Leo. Mari kita kembali pada pembahasan utama kita, yaitu Pusaran Angin Seribu Lengan," ucap Nio dengan serius.
Bersambung!!
__ADS_1