![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Pendekar Pedang Buta melepaskan sihirnya yang hampir membunuh 5-O-V. Setelah itu mereka berlima dapat bernafas dengan lega, seakan mereka baru saja dikejar oleh monster yang sangat mengerikan.
Lug menyadarinya. "Apa yang terjadi pada kalian?" tanyanya.
Ketika melihat Lug yang berwujud tidak seperti manusia, 5-O-V merasa bahwa dia adalah monster atau iblis. Tapi mereka cepat sadar bahwa cincin yang mereka kenakan terhubung oleh sumber mana milik Lug yang berada tepat di depan mereka berlima.
Vernando telah menenangkan dirinya sendiri, dia maju beberapa langkah melewati Cleo dan Leonardo. "Kami melihat para Ranker yang ada di sana tiba-tiba saja mengamuk. Kami tidak tahu apa yang terjadi, awalnya hanya satu dua orang yang seperti itu, tiba-tiba semua Ranker di sana mengamuk. Dan yang lebih anehnya, beberapa dwarf juga mengalami hal yang sama, menyulitkan kami untuk menyelematkan diri. Dan dengan cincin yang kauberikan, itu menyelamatkan kita berlima dan sampai di tempat in ... Tunggu!"
Vernando melihat di sekitarnya yang tidak tampak seperti dunia manusia, bahkan awan di langitnya berwarna gelap. "Di mana kita ini? Apa kita ... Ada di dunia iblis?" tanyanya penasaran, sedikit ada rasa ngeri ketika melihat sosok Lug yang bersisik dan memiliki sepasang sayap di punggungnya.
Lug menjawab, "Benar sekali, kita berada di dunia iblis. Aku sudah selesai dengan yang kukatakan pada kalian sebelumnya, masih ingat?"
Vernando berpikir sejenak, lantas mengangguk. "Iya, aku masih ingat. Jadi kau sudah selesai?" tanyanya lagi.
"Yap," jawab Lug singkat.
Sedari tadi, Leonardo memperhatikan sosok berjubah putih yang baru saja mengancamnya akan membunuhnya bersama 5-O-V yang lain. "Siapa pria yang menutupi matanya dengan kain putih ini?" tanya Leonardo.
Lug menoleh ke arah pria itu. "Oh? Kau pasti mengenalnya, desas-desus tentangnya sudah tersebar luas di kalangan para Ranker. Dia adalah Pendekar Pedang Buta," ujar Lug memperkenalkan.
Yinsha merasa keberatan. "Seharusnya master tidak perlu memperkenalkanku, saya bisa perkenalan sendiri. Mereka tidak layak untuk berbicara langsung dengan anda," ucapnya meremehkan 5-O-V.
Cleo sedikit terkejut ketika mendengar bahwa pria angkuh berjubah putih itu adalah Pendekar Pedang Buta, begitupun dengan Vernando. Hanya saja Leonardo, Romeo, dan Aldero tidak pernah mendengar namanya.
"Yinsha!" seru Lug yang mulai kesal dengannya. "Lama aku tak berjumpa denganmu, kau jadi semakin angkuh setelah ribuan tahun berlalu! Apa dulu aku mengajarimu untuk angkuh seperti ini?!"
Yinsha menunduk lagi, dia merasa malu akan kelakuannya yang sudah membuat masternya muak. "Master, anda dapat menghukumku. Tolong maafkan saya," pintanya.
Lug menghela nafas frustasi. "Sudah sudahlah, yang penting kurangi sikap angkuhmu itu, aku benci!" serunya.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Yinsha.
Kembali pada pembahasan sebelumnya, Lug mengatakan bahwa Lucifer lah yang bertindak karena Zwachievior telah kembali direbut. "Dia kini sedang murka, dan mungkin telah mendengar rencanaku untuk mengambil suatu benda darinya. Yang pasti, kita sudah bisa pergi ke dunia para dewa untuk sekarang ini, hanya saja aku lelah. Lebih baik beristirahat terlebih dahulu," ujarnya.
Mendengar bahwa Lug dan yang lainnya hendak pergi menuju ke dunia dewa, para Ranker yang ada di belakang 5-O-V itu terkejut.
"Kalian ... Tunggu! Ke dunia dewa?" tanya Maxleen keheranan.
Lug mengangguk. "Memangnya kenapa? Kami punya urusan penting," ujarnya.
Tiba-tiba saja tatapan Maxleen menjadi seperti ragu–matanya menatap tanah. Tapi tak lama kemudian, dia memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya dengan kuat, setelah membuka matanya, terlihat tatapannya menjadi lebih tajam dan penuh keyakinan. "Sebelum aku memutuskan sesuatu, aku ingin bertanya. Apa yang ingin kalian lakukan di dunia dewa?" tanyanya.
Lug menjawab, "Sudah kubilang, kami ada urusan penting. Aku tidak bisa memberitahunya kepada orang lain."
"Apa aku boleh ikut?" tanya Maxleen lagi.
Pertanyaan itu membuat semua orang terkejut. Jelas sekali, untuk apa Maxleen ingin ke dunia para dewa? Bukankah itu mengejutkan? Memangnya dia punya urusan apa dengan para dewa?
Maxleen terdiam seketika itu juga. Tapi tiba-tiba, Lug melemparkan sesuatu padanya–itu adalah cincin yang sama yang telah membuat semua orang yang mengikuti Lug sampai sekarang ini terkena sengatan petir yang sangat luar biasa dari cincin itu. "Apa ini?" tanyanya penasaran.
Lug menghembuskan nafasnya dan menjawab, "Aku juga masih membutuhkan beberapa kekuatan untuk pergi ke dunia dewa. Tapi yang pasti, aku butuh kesetiaan! Apa kau sungguh bersedia?"
Ia memastikan agar Maxleen benar-benar tidak ragu untuk mengikutinya, karena pergi ke dunia para dewa akan dipenuhi oleh bahaya dari mana saja dengan resiko yang mematikan.
Maxleen mengangguk.
Tetapi Viordan, Wina dan Axlon tidak ingin mengikutinya. Hanya saja mereka penasaran dengan keputusan dari rekannya yang tiba-tiba saja ingin pergi ke dunia dewa.
"Kau adalah anak dari Raja Clark, bagaimana jika mereka mencarimu dan tahu bahwa kau pergi ke dunia para dewa?" tanya Franklyn.
__ADS_1
Maxleen meliriknya. "Aku tidak butuh pendapatmu. Aku menjadi Ranker saja karena aku kabur dari kedua orang tuaku agar aku tidak terjerat dalam perebutan posisi Putra Mahkota!" jawabnya ketus.
Menjadi Putra Mahkota, berarti menjadi pewaris sah yang resmi akan menjadi raja penerus selanjutnya. Maxleen tahu bahwa menjadi raja itu sangatlah susah dan rumit, bahkan perebutannya saja sudah memuakkan. Dia lari dari situasi itu dan menjalani pelatihan di akademi sihir untuk menjadi Ranker. Dan tanpa diduga, Maxleen malah mendapatkan banyak sekali prestasi serta kini dia menjadi Ranker Langit.
Lug berjalan mendekati pria itu. "Aku tahu alasan khususmu, pasti karena masih penasaran kenapa kau bisa ketakutan hingga tak dapat bergerak kala itu, kan?" ucapnya menebak-nebak.
Maxleen mengangguk. "Memang benar, tapi aku ingin menjadi lebih kuat lagi! Hidup di bawah tekanan itu sangat memuakkan!" serunya dengan nada tinggi.
"Pengkhianat!" tiba-tiba saja Kevin bersuara. "Dasar kau pengkhianat! Kau malah berpihak pada iblis itu dan Pendekar Pedang Buta! Akan kulaporkan perbuatanmu ini kepada asosiasi! Kau akan mendapatkan hukuman yang berat beserta sanksinya!" serunya pula dengan nada yang tinggi pula.
Maxleen tidak peduli pada ocehan si Kevin itu, dia tahu bahwa pengaduan itu tak akan mempan untuk seorang pangeran yang menjadi keturunan langsung dari raja kerajaan terbesar di dunia manusia, Kerajaan Tigerion.
"Sudahlah," ucap Lug memecah suasana. "Ayo kita pergi, yang tak ingin ikut silahkan pergi, yang bersedia ikut, ayo- kita pergi juga!"
Setelah itu, mereka berpisah, hanya saja Pada Ranker Langit Merah masih belum sanggup untuk bangkit. Mereka terus mengeluh karena tidak bisa berdiri maupun berjalan, bahkan merangkak pun hanya akan membuat mereka terjatuh untuk kesekian kalinya.
Tak lama setelah itu, Lug menghampiri Nagisa dan yang lainnya. Dia melihat cahaya terang di tempat itu. Dan terlihat bahwa rupanya kini Pusaran Angin Seribu Lengan telah jatuh di tangan Zephyr–itu karena Lug memang memberikannya kepadanya.
"Bagaimana, Zephyr?" tanya Lug. "Apa kau sudah membiasakan diri?"
Romeo yang melihatnya itu langsung melongo karena tahu tentang Pusaran Angin Seribu Lengan. Wah, kenapa sekarang Pusaran Angin Seribu Lengan ada di tangan orang lain, ya? Apa Nio memberikannya kepada orang lain? Eh, tunggu- Nio? Bukan, tapi kayaknya ... Siapa, ya? Kenapa aku lupa dengan nama aslinya Nio? Dia malah kebingungan sendiri karena namanya Lug.
Zephyr tersenyum dan menjawab, "Sedikit sulit karena anginnya sangat kuat. Aku bisa langsung tahu kalau salah sedikit saja bisa menimbulkan badai yang hebat."
Lug tertawa kecil dan menggeleng. "Makanya itu aku meminta Raini untuk menjagamu, aku takut itu terjadi," sahutnya.
Lalu Lug meminta Maxleen untuk mengenakan cincin pemberiannya itu. Lelaki bertubuh besar itu merasakan sakit yang luar biasa, seperti apa yang dirasakan oleh semua yang memakai cincin pemberian dari Lug. Setelah merasakan penderitaan yang luar biasa, Maxleen diperbolehkan untuk beristirahat.
Mendapatkan kepercayaan dari satu orang lagi, pada akhirnya Lug menceritakan tujuannya kepada Maxleen–kenapa dirinya hendak pergi ke dunia para dewa. Maxleen menyadari apa yang telah terjadi, dan menurutnya itu adalah keputusan yang tepat. Lug berterima kasih karena mendapatkan respon yang bagus, mereka saling berjabat tangan dan berbagi kesetiaan.
__ADS_1
Hingga Lug memberi perintah untuk membangun pondok atau membuat tenda. Karena tidak ada yang membuat perlengkapan tenda, semuanya membuat pondok bersama-sama dengan mengumpulkan berbagai bahan yang ada. Lug bahkan ikut mengumpulkan banyak tanaman herbal untuk menetralkan serta membersihkan kutukan yang bersemayam di tubuh kakaknya.
Bersambung!!