![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Setelah berbincang begitu lama, Nagisa pun segera berpamitan dengan kedua orang tuanya dan kakaknya, Teressa. Gadis itu juga sudah menjelaskan alasan kepulangannya yang sebentar itu.
"Kau tidak tinggal di sini dulu, Nagisa?" ucap Teressa menawarkan.
"Tidak usah, kak," sahut Nagisa. "Setelah misiku ini selesai, aku akan kembali sebagai seorang Ranker Emas- sekalipun aku gagal dalam menjalankan misi ini."
Teressa menghela nafas. "Kalau begitu, berangkatlah. Terima kasih karena sempat berkunjung, berhati-hatilah. Jangan terpaku pada misimu, prioritaskan kesehatan da jaga dirimu sendiri," ucapnya berpesan.
Nagisa mengangguk. "Baiklah, kak."
"Tunggu, nak!"
Tiba-tiba saja ada yang menahan gadis itu pergi. Dia adalah Vans.
"Ada apa, ayah?" tanya Nagisa.
Vans menatapnya lamat-lamat, gadis itu merasa seperti ada sesuatu yang harus dilihat dan dibicarakan. Dan tanpa berkomunikasi pun, Nagisa mengangguk dan mengikut Vans pergi, yakni pulang ke rumah.
"Kakak, sampaikan salamku pada kakak Rakt," ujar Nagisa.
"Baiklah," sahut Teressa.
Nagisa dan Vans pun pergi, diikuti Nivi dari belakang yang bingung. Dirinya tak berani bertanya karena menurutnya akan ada hal serius yang akan dibicarakan sesampainya di rumah.
Dan sesampainya di rumah, Vans langsung membawa Nagisa ke ruang penempaan. Pria tua itu menunjukkan rentetan pedang yang sangat bagus di ruangan tersebut. "Nagisa, pilih salah satu dari belasan pedang ini- oh, kalau kau mau, ambil saja beberapa untukmu," ujarnya.
Nagisa melihat begitu banyak pedang yang sangat bagus. Namun ada beberapa pedang yang menarik perhatiannya. "Ayah, bagaimana dengan ketiga pedang ini?" tanya Nagisa.
Vans terkejut melihat gadis tersebut langsung mengarah pada tiga pedang yang terbuat dari kristal milik Lug–pedang hitam, pedang putih, dan pedang emas.
Nagisa mengambil pedang yang berwarna putih, ia melihat-lihat pedang tersebut. Dan pada saat itu juga, mana yang ada di dalam tubuh gadis itu beresonansi dengan mana yang ada di dalam pedang putih tersebut–pedang itu ternyata memiliki mana yang sangat banyak.
Pedang putih itu memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan dengan kedua pedang lainnya. Panjangnya hampir sama dengan panjang kedua tangan Nagisa yang direntangkan. Pada gagang pedangnya berwarna putih, di ujung gagangnya terdapat bola mutiara yang diikat oleh rantai perak. Bilah pedangnya berwarna putih mengkilap dan lebarnya tiga kali lipat dari tangan Nagisa. Di tengahnya terdapat material berwarna putih mengkilap, sementara di sisi mata pedangnya–kanan dan kirinya, berwarna perak mengkilap. Di antara bilah dan pedangnya, terdapat mutiara berwarna putih yang di samping kanan dan kirinya terdapat dua pasang sayap–sepasang sayap di atas berwarna emas, sepasang sayap di bawah berwarna putih.
Ketika kedua mananya saling beresonansi, terlihat dari mutiara yang ada di antara bilahnya memancarkan cahaya. Dan mutiara tersebut memancarkan mana tampak di sekitarnya yang mirip seperti kobaran api putih transparan.
"Wow- pedang ini berat sekali," papar Nagisa.
"Aku tidak tahu siapa yang membuat pedang itu," ujar Vans.
__ADS_1
Nagisa menoleh padanya. "Bukan ayah yang membuatnya? Ah, sudahlah. Aku tidak ingin berlama-lama di sini, maaf, ayah."
"Tidak apa-apa, aku tahu keadaanmu, dan kau ingin mengambil yang itu? Kenapa tidak pedang yang berwarna emas saja? Pedang itu ramping dan jauh lebih ringan," tutur Vans.
Lantas Nagisa membentuk lingkaran sihir. Dari lingkaran sihir tersebut muncul sebuah pedang yang juga cukup besar. "Pedang yang kupilih ini beratnya hanya dua kali pedang sihirku, jadi tak masalah. Lagipula aku hanya perlu mengerahkan tenaga yang setara aku melakukan push up sebanyak sepuluh kali," sahutnya.
Vans menyeringai, dirinya saja tak bisa melakukan push up lebih dari lima kali.
"Nak, apa kau baik-baik saja membawa pedang seberat dan sepanjang itu?" tanya Nivi mencemaskan.
Nagisa mengangguk. "Tidak apa-apa, bu. Lagipula aku sudah terbiasa membawa barang berat seperti ini. Lagipula setelah mutiara tadi bersinar, beratnya menjadi berkurang hampir setengahnya," sahutnya lagi.
Nivi tersenyum. Kau ini benar-benar mendalami latihan yang Lug berikan, seolah kau benar-benar menjadi Lug, batinnya.
Setelah itu, Nagisa berpamitan–pedangnya diberi rantai kecil agar bisa ia bawa seperti membawa ransel. Ia ingin segera kembali ke kota kerajaan secepatnya. Tapi sebelum itu, ternyata Teressa datang bersama dengan Rakt dan anak mereka yang digendong oleh sang ayah.
"Waah- kau ini hebat sekali Nagisa," puji Rakt. "Aku saja masih teringat ketika aku mengangkat pedang itu, dan itu sangatlah berat. Dan kau- ckck, aku tak tahu kau punya kekuatan dari mana, tapi kau membawanya seperti sedang membawa tas ransel."
"Terima kasih, kak, ini tidak seberapa. Dan maaf, aku tak bisa berlama-lama di sini, aku harus segera kembali," sahut Nagisa.
"Baiklah," sahut Rakt balik.
Nagisa pun segera menunggangi kudanya, segera ia berangkat.
Nagisa pun melambaikan tangannya.
*****
Hari keberangkatan Nagisa pun tiba. Kini dirinya bersama dengan enam Ranker Emas lainnya sedang berangkat menuju ke kerajaan Tigerion. Kerajaan tersebut berada di sebelah Timur Laut kerajaan Da Nuaktha–ujung perbatasan kedua kerajaan tersebut dijepit oleh kerajaan Jiura yang berada di sebelah Timur kerajaan Da Nuaktha, dan kerajaan Tengen yang berada di sebelah Utara kerajaan Da Nuaktha. Sementara kerajaan Tigerion sendiri adalah satu-satunya negara yang berada di tengah dalam peradaban manusia. Kerajaan tersebut dikelilingi oleh lima kerajaan, namun di sebelah Timur dan Tenggara kerajaan tersebut adalah perbatasan antara ras manusia dengan ras orc dan ras elf sedikit. Serta menjadi kerajaan dengan wilayah terluas di antara kerajaan lainnya.
Mereka mulai memacu kuda masing-masing. Ada beberapa yang Nagisa kenal, seperti Mata Putih, Pedang Biru, dan Wajah Serigala.
Dan kini mereka sudah berada di perbatasan antar kerajaan.
Kerajaan Tigerion dipenuhi oleh berbagai macam kota yang dipegang oleh kepemimpinan Count dan diatur serta dijaga oleh Viscount dan Baron. Tiap kota memiliki satu Count, Viscount, dan Baron. Dan kerajaan Tigerion memiliki belasan kota.
Sekarang Nagisa dan para Ranker lainnya sedang berada di kota Eloin–kota yang berada di perbatasan. Mereka membutuhkan waktu dua hari satu malam untuk sampai di kota tersebut.
Selama dua hari satu malam, tidak ada waktu untuk mereka beristirahat. Tujuan mereka adalah kota Eloin itu sebagai titik peristirahatan. Tak ada apapun yang terjadi selama beristirahat, mereka semua mengenakan jubah hitam bertudung.
__ADS_1
Setelah selesai beristirahat selama setidaknya dua jam, mereka kembali berangkat menuju ke dataran Exter yang sudah tak jauh lagi. Mereka memperkirakan akan tiba di dataran tersebut dalam waktu lima hari lebih. Jarak yang mereka tempuh bahkan mencapai tiga puluh ribu regrit.
Pada saat itu, hari sudah mulai gelap, seseorang yang memimpin keberangkatan mereka memberhentikan perjalanannya. "Kita akan beristirahat di sini terlebih dahulu, jangan buat api unggun. Kita hanya akan tidur pada malam ini dan jangan ada yang membuat ulah, mengerti?!" tegasnya.
"Mengerti!" jawab seluruh Ranker serempak.
Mereka pun membuat tenda untuk masing-masing. Ada juga beberapa yang tendanya untuk dua orang.
Hingga semua orang mulai tidur, ada juga yang berjaga untuk menjaga mereka yang tidur. Mereka semua hanya akan tidur selama lima jam saja agar tidak terlalu banyak memakan waktu.
Empat jam kemudian, Nagisa terbangun. Dirinya menggantikan seseorang yang berjaga pada saat itu. Terlihat seorang pria yang menjaga begitu mengantuk, sehingga Nagisa merasa kasihan.
"Wah wah, Nagisa," ucap seorang pria yang tiba-tiba keluar dari tenda. Rupanya ia adalah Reno yang telah mencoba menggoda gadis itu. "Kau baik sekali menggantikan pria itu berjaga, aku merasa kagum padamu."
Pria itu memiliki rambut berwarna merah yang tidak terlalu panjang dan disisir ke belakang dengan sangat rapi. Tatapannya sangat tajam. Tinggi badannya sama dengan Nagisa. Usianya juga sama dengan gadis itu.
Nagisa mendengus sebal. "Bisa tidak, kau tidur saja? Aku lebih baik berjaga sendiri!" tegasnya.
Tetapi Reno sama sekali tidak membiarkan Nagisa berjaga sendirian. "Jangan begitu!" tuntutnya. "Kau adalah seorang gadis, harus ada yang menemanimu. Bagaimana jika ada yang menyerangmu?"
"Ya, dan itu adalah kau!"
SREEET
Tiba-tiba saja Reno menyambar Nagisa dengan sangat cepat. Tangan gadis itu digenggam erat dan ditempelkan pada sebatang pohon di belakangnya.
"Nagisa, kenapa kau selalu menolakku?" tanya Reno.
Nagisa menghembuskan nafas. Lantas dengan mudahnya melepaskan genggaman erat dari pria yang memojokkannya. "Kau hanyalah pria mesum yang selalu mengincar gadis gadis cantik saja," jawabnya.
"Tidak tidak, ketika aku melihatmu ... Itu sangat berbeda dari gadis lainnya," papar Reno.
"Berarti kau mengatakan aku adalah gadis yang jelek, begitu?" tanya Nagisa.
"Wow wow wow, kau salah tangkap, Nagisa," sahut Reno.
"Ah sudahlah, minggir sana! Jangan ganggu aku! Kalau kau terus membuatku seperti ini, aku akan berteriak, lho- " Nagisa mengancam.
Reno malah tersenyum. "Oke oke, aku akan menjauh. Tapi kita akan berkencan setelah pulang dari tugas ini!" tuntutnya. Aku tidak akan melepaskanmu, Nagisa!
__ADS_1
Nagisa membalas dengan seringainya yang dingin. "Mimpi belaka!"
Bersambung!!