![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Nagisa terjatuh ke dalam lubang yang sempat disebut Empat Topeng dalam hatinya, yakni Dunia Kekacauan Arus Waktu. Itu berwujud sangat tak beraturan, bahkan sepertinya bentuk itu tak pernah ada dalam dunia yang Nagisa tinggali sekarang. Agar lebih mudah dibayangkan, itu seperti cairan biru yang di dalamnya terdapat garis-garis aneh, cairan tersebut seperti tumpah di udara, itu menggumpal dan entah dari mana asalnya. Ukurannya hanya sebesar kepala manusia biasa, tapi ketika Nagisa sudah hampir menyentuhnya, ukurannya menyesuaikan.
Empat Topeng melihat bagaimana gadis itu bisa masuk, dunia itu tidak menyesuaikan tubuh Nagisa, bahkan gadis itu tubuhnya juga tidak menyusut. Seakan meski ukurannya lebih besar, tetap muat untuk masuk ke dalamnya.
Ketika memasukinya, Nagisa hanya melihat warna biru dengan garis-garis putih dan biru muda yang berbentuk aneh terbang ke mana-mana.
Nagisa sudah tak merasakan tubuhnya seperti terjatuh, dia merasa sedang terbang di dalam dunia itu. Ketika melihat ke atas, ia tak melihat pintu masuknya, seakan pintu masuk itu tidak pernah ada.
"Di mana ... Aku ini?" tanya Nagisa kebingungan.
Sebelumnya kepalanya itu memang kosong karena terlalu lelah, tapi sekarang ia sudah bisa berpikir lagi.
Hingga ada sebuah garis aneh yang melintas di depan matanya. Garis itu memperlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan Nagisa. Matanya sampai terbelalak melihatnya.
"I- ini sebenarnya ... "
Di dalam garis aneh yang sangat tipis itu, Nagisa melihat adanya kehidupan. Hanya satu garis, tapi di dalamnya memperlihatkan miliaran kehidupan dari berbagai zaman dan dunia dengan sangat jelas.
Karena penasaran, Nagisa pun menyentuhnya.
BRRZZZZTT
"AAAAARGHHHHH!!!!!"
Gadis itu berteriak kesakitan karena tangannya terkena sengatan listrik yang sangat kuat. Saking kuatnya, seluruh tangan kanannya itu sampai membengkak dan menghitam. Nagisa meringis kesakitan hingga menangis, dirinya belum pernah merasakan kesakitan semacam itu di dalam hidupnya. Seakan itu adalah rasa sakit baru yang tak pernah ada.
Nagisa masih belum berhenti menangis hingga bermenit-menit. Tangannya itu sampai hampir mati rasa. Selain itu, Nagisa merasa ada yang aneh. Kalung di dadanya itu seperti tidak berfungsi sejak masuk ke dalam dunia itu. Bahkan gadis itu tidak merasakan sumber jiwanya sendiri.
Tak lama setelah itu, Nagisa menyadari sesuatu. Aku merasa bisa berjalan di ruang ini, batinnya. Dia segera berlari ke arah di mana garis terdekat berada.
Ada sebuah garis terdekat, Nagisa segera mendekatinya. Tapi dirinya melihat ada sesuatu yang membuat matanya terbelalak.
"Apa itu?"
Nagisa melihat pilar yang tidak terlalu jelas berbentuk seperti balok yang membentang dari atas hingga ke bawah. Di ruangan itu seperti tidak memiliki batas permukaan, sehingga pilarnya juga tidak memiliki ujung. Pilarnya juga berjumlah banyak, ada juga yang horizontal, vertikal, hingga diagonal. Ada juga yang ... Sulit untuk dijelaskan itu mengarah ke mana, bahkan otak Nagisa saja sampai tak bisa menangkap arah jelasnya. Ukurannya juga sangat fantastis. "Satu pilarnya ... Sepertinya lebih besar dari dunia," gumam Nagisa.
Gadis itu segera menuju ke arah pilar pilar itu berada, namun sangat sulit untuk menjangkaunya. Sebenarnya Nagisa juga tidak mau menyerah, ia yakin bahwa ada jalan keluar dari dunia tersebut. Ia tak mau berdiam diri di dunia yang tak diketahuinya itu.
*****
Satu hari telah berlalu. Nagisa masih belum melihat tanda-tanda dirinya menjadi lebih dekat dengan pilar pilar besar itu.
"Apa itu terlalu jauh?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ada banyak sekali garis garis aneh yang semakin lama semakin banyak. Nagisa sampai sangat berhati-hati, ia melihat lebih banyak dunia dan kehidupan dari berbagai garisnya yang datang dari berbagai penjuru.
*****
__ADS_1
Satu Minggu telah berlalu. Nagisa kini belum juga semakin dekat dengan pilar pilarnya.
"Aku tak tahu sudah berjalan sejauh apa, tapi yang pasti ... Jika dengan berjalan seperti ini, sepertinya aku sudah kembali ke kerajaan Tigerion," gumam Nagisa. "Aku juga ragu ketika perutku tidak merasa lapar dan tenggorokanku tidak merasa haus. Ini membingungkan."
*****
Satu bulan telah berlalu. Nagisa juga belum semakin dekat pilar pilar raksasa itu, matanya tidak mengantuk sama sekali.
"Aku yakin aku bisa keluar- itu pasti!" gumamnya bertekad.
*****
Satu tahun berlalu. Nagisa masih belum berhenti berjalan, meski dirinya tidak semakin dekat dengan pilar pilar yang ditujunya itu. Dia berhenti menggumam karena sudah hampir pasrah karena terjebak di dunia yang sangat aneh itu.
*****
Sepuluh tahun berlalu. Nagisa masih belum juga mendekati dunia yang dipenuhi oleh pilar pilar yang ditujunya.
*****
Seratus tahun berlalu. Nagisa tidak terlihat menua, wajahnya tidak keriputan, bahkan terlihat semakin muda. Namun terlihat kelelahan yang sangat terukir dengan jelas di wajahnya. Dirinya sudah yakin bahwa akan hidup abadi di dunia yang tidak jelas, rumit, dan tidak terbatas itu. Dirinya itu tak kunjung mendekati pilar pilar yang membentang di depannya itu.
*****
Seribu tahun berlalu.
*****
******
Satu miliar tahun berlalu.
******
Satu triliun tahun berlalu.
******
Satu kuadriliun tahun berlalu.
******
Satu kuintiliun tahun berlalu.
******
Satu desiliun tahun berlalu.
__ADS_1
******
Tahun-tahun telah berlalu hingga sangat sangat panjang sekali, saking panjangnya, jika dibalik Nagisa telah menempuh sampai ke penciptaan alam semestanya sendiri hingga jumlah yang tak terhitung. Nagisa bahkan sampai lupa dirinya berjalan atas dasar apa. Kecepatannya berjalan tidak bertambah maupun berkurang. Tapi kini sudah terlihat Nagisa menjadi lebih dekat dengan tempat yang hendak ditujunya.
Garis garis aneh yang ada di sana sudah seperti badai saja, tapi entah kenapa itu tidak ada yang mengenai Nagisa sama sekali.
Tubuh gadis itu memang tidak merasakan lelah sama sekali, tetapi ia merasakan lelah secara mental. Nagisa begitu bosan akan kesendiriannya itu, bahkan sesekali kepalanya membayangkan adanya siluet sang ayah, ibu, kakaknya, Lug, dan keluarganya yang lain muncul tepat di depan matanya.
*****
Keluar dari Dunia Kekacauan Arus Waktu, ternyata waktu masih berjalan jauh lebih lambat. Terlihat Empat Topeng baru saja hampir kejatuhan pedang milik Nagisa.
BLAAARR
Ada benda lain lagi yang terjatuh selain pedang, yakni tubuhnya Potter. Badannya itu gosong karena terkena sihir Pusaran Badai Cahaya. Dan secara kebetulan dirinya juga tertabrak oleh meteorid yang besarnya seratus kali ukuran tubuhnya Potter, itu juga yang membuatnya kembali terdorong ke tanah tempat ia berpijak.
Es tempat lelaki itu terjatuh sampai hancur dan tubuhnya sampai tenggelam di dalam danau es.
Empat Topeng berhasil menjauh agar tidak terkena serpihan es yang mungkin terlempar ke arahnya. Dia pergi membawa pedang yang hampir menimpanya itu. Pedang tersebut menancap di es dengan sangat rapi hingga tidak membuat es di sekitarnya retak.
WUUUSH
Pusaran Angin Seribu Lengan keluar dari tubuhnya Potter.
Empat Topeng telah bersiap, dia menggunakan sebuah sihir yang bisa dibilang sangatlah unik. Muncul lima buah lingkaran sihir yang membentuk pola segi lima. Kelima-limanya adalah sebuah sihir empat lingkaran. Dan muncul garis lingkaran yang menghubungkan kelima lingkaran sihir tersebut.
Diawali dengan lingkaran sihir sebelah kiri atas, mencuat tentakel hitam yang langsung menyerang Pusaran Angin Seribu Lengan.
Namun Monster Mistik itu membalasnya dengan mengikatnya menggunakan ratusan serabut angin.
Lingkaran sihir di sebelah kiri bawah menunjukkan sihirnya. Lingkaran sihir tersebut terbakar. Apinya bahkan merambat sampai ke lingkaran sihir yang sebelumnya melalui garis lingkaran penghubungnya, selain itu tak ada lagi yang terbakar.
SWOOOSH
Tentakel hitamnya terbakar dan itu ternyata merambat hingga kesemua serabut anginnya Pusaran Angin Seribu Lengan. Dan bahkan sampai ke tubuh Monster Mistik tersebut dengan sangat cepat.
SWOOOSH
Angin pada tubuh Pusaran Angin Seribu Lengan membuat apinya semakin besar.
Pada lingkaran sihir di sebelah kanan bawah, itu mulai bersinar. Kobaran api pada tubuh Pusaran Angin Seribu Lengan berubah menjadi tornado api yang semakin lama semakin besar.
Itu membuat Topeng Hitam, Topeng Merah, dan Topeng Jingga menjadi terkejut. Ketika menoleh ke belakang, mereka melihat sebuah pusaran api raksasa yang menjulang ke langit.
"Apa-apaan itu?" tanya ketiga orang itu bersamaan, mereka benar-benar terkejut melihat tornado api itu.
Bersambung!!
__ADS_1