Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 30 - Seleksi


__ADS_3

Acara pernikahannya Rakt dan Teressa berakhir di esok harinya. Semua orang bersenang-senang. Sementara Nagisa masih bermain-main dengan sumber jiwanya. Lug sudah mengingatkannya berkali-kali agar jangan sampai orang lain tahu, Nagisa mendengarkannya, tapi gadis itu masih terus bermain-main.


Lug menyuruh Nagisa berlatih karena beberapa hari lagi mereka berdua akan berangkat ke kota kerajaan.


Sebenarnya Lug sedikit kurang tertarik dengan ikut ke akademi sihir, tapi melihat kedua orang tuanya yang sudah menaruh harapan padanya itu, Lug tidak enak hati jikalau hendak menolaknya. Dan pada akhirnya, ia pun mengiyakan kehendak orang tuanya dan bersedia untuk mengikuti seleksi penerimaan murid baru akademi sihir kerajaan.


Pada saat ini, ia sedang mengembangkan berbagai macam sihir yang dipunyainya. Melihat seluruh variabel dari gabungan beberapa sihirnya sehingga menciptakan berbagai kombinasi yang menakjubkan.


Lug memberikan nama pada beberapa kombinasi sihirnya. Yang pertama, kombinasi sihir Singularitas dan sihir Perisai Pedang Emas adalah sihir Perisai Pedang Penelan. Yang kedua, kombinasi sihir Singularitas dan sihir Bola Petir adalah Petir Gelap. Kombinasi tiga sihir antara sihir Singularitas, sihir Penjara Kehampaan, dan sihir Tak Terdeteksi adalah sihir Dunia Kegelapan. Dan adapun yang lainnya, kombinasinya masih sangat banyak.


*****


Hari penyeleksian pun akhirnya tiba. Lug dan Nagisa kini telah berada di kota kerajaan yang dihantarkan oleh Vans menggunakan pedati miliknya kemarin lusa.


Pada hari ini, mereka mendatangi tempat seleksinya. Di sana terlihat sangat ramai, tapi dipenuhi oleh anak dari desa lainnya. Mereka sedang menunggu agar pintu gerbangnya dibuka. Sementara itu Lug dan Nagisa tidak datang berdua saja, mereka juga datang bersama dengan Qei. Namun Fana tidak ikut karena di tahun sebelumnya gadis itu telah diterima oleh akademi sihir kerajaan. Lug mengenakan baju pemberian dari Teressa dan begitupun dengan Nagisa. Sementara Qei hanya memakai kaos abu-abu polos dan celana panjang saja disertai sepatu yang sudah hampir tak layak pakai.


"Qei, kau yakin untuk mengikuti seleksi tahun ini?" tanya Lug yang tidak terlalu yakin dengan sahabatnya itu.


Qei malah menyeringai dan menyombongkan dirinya. "Memangnya kapan aku pernah tidak yakin dengan diriku sendiri? Jangan pernah meremehkanku! Aku sendiri bahkan tidak berani meremehkan orang lain," terangnya.


Tetapi Lug dan Nagisa tahu maksud dari ucapan Qei. "Bilang saja kau takut!" seru mereka berdua bersamaan.


Itu benar-benar membuat Qei tak bisa berkata-kata, karena apa yang Lug dan Nagisa katakan itu benar. Serta beberapa orang lain jadi melihat mereka bertiga karena ucapan Qei sebelumnya. ketika ia hendak berbicara lagi, Lug memelototinya dan membuatnya diam pada saat itu juga.


"Aku hanya bertanya apa yakin atau tidak, tapi kau malah menyombongkan dirimu," dengus Lug.


Tak berselang lama kemudian, pintu gerbangnya pun terbuka. Semua orang masuk ke dalamnya, mereka semua sudah melihat anak-anak bangsawan yang sudah berada di dalam dan ditempatkan di ujung lapangan yang satunya. Para senior dan guru juga melihat di panggung yang berada di atas. Dan penyeleksian itu juga disaksikan oleh kepala akademi dan seorang perwakilan atau tamu dari keluarga viscount Laurent dan keluarga lainnya, yaitu baron Andersen serta beberapa keluarga bangsawan lainnya.


Kepala akademi duduk di sebuah singgasana mewah yang dilapisi emas, di sampingnya terdapat kursi kursi yang juga mewah diduduki oleh para tamu khusus yang datang untuk ikut menyaksikan.


Nagisa merasa gugup berada di tempat yang sangat ramai itu dan dipenuhi oleh orang-orang asing. "Kak, nanti seleksinya seperti apa?" tanya gadis tersebut.


Lug mengangkat bahunya. "Tidak tahu, aku kan juga belum pernah ikut tes seleksinya," jawabnya.


Dan ketika semua calon murid sudah masuk, pintu gerbangnya pun ditutup. Ada beberapa orang di luar yang terlambat dan berakhir dengan undur diri–mereka sudah tidak bisa masuk karena kecerobohan mereka sendiri.


Lalu kepala akademis berdiri. Dia adalah orang tua dengan tubuh yang gagah dan besar, memiliki kumis dan jenggot putih panjang yang menutupi dagunya. Rambut hitam yang sudah mulai berubannya itu panjangnya hampir sejengkal tangannya, menjuntai juntai diterpa angin. Memiliki tatapan yang setajam elang meskipun dirinya sudah tua. Mengenakan setelan jas hitam dengan kaos lengan panjang berwarna hitam bergaris-garis abu-abu yang selaras dengan celana panjang hitamnya dan sepatu hitamnya.


"DENGAR!" teriak pria tua itu hingga membuat telinga semua orang hampir kesakitan mendengarnya.

__ADS_1


Namun tidak dengan Lug, dia mengontrol mana di sekitarnya untuk menutupi lubang telinganya. Bahkan tak sedikitpun suara yang mampu menerobos masuk ke dalam gendang telinganya. Akan tetapi Lug tahu bahwa akan ada pengumuman penting yang akan disampaikan oleh kepala akademi terkait dengan seleksinya saat ini. Jadi ia mengatur semua suara yang masuk ke dalam telinganya menjadi seperti orang yang berbicara sewajarnya. Dan ada beberapa orang juga yang sepertinya dapat mengontrol suara yang masuk ke dalam telinganya.


Kepala akademi berteriak lagi, "TERUNTUK KALIAN SEMUA! CALON MURID DI AKADEMI SIHIRKU, ENTAH KALIAN KETURUNAN BANGSAWAN MAUPUN DARI DESA, BERJUANGLAH!!!"


Ketika pria tua itu mengatakan 'dari desa,' hampir semua anak keturunan bangsawan meremehkannya. Mereka menyeringai satu sama lain seolah mengatakan, kalian itu akan menjadi batu pijakan kami untuk menjadi lebih tinggi lagi, menyerahlah selagi masih ada waktu. Tatapan mereka juga dibalas oleh anak-anak yang berasal dari desa, mereka saling beradu tatapan seolah ada petir yang menyambar dari mata mereka.


Pada saat itu, dijelaskan tahapan seleksinya. Tahap pertama adalah pengukuran sumber mana, tahap kedua adalah pengukuran kendali mana, tahap ketiga adalah ujian tertulis, dan tahap terakhir adalah pertarungan langsung.


Semua seleksinya akan memberikan poin kepada semua orang dan sebagai penentu tingkatan kelas. Kelasnya sendiri memiliki beberapa tingkatan yaitu, kelas F, kelas E, kelas, D, kelas C, kelas B, kelas A, kelas S, dan kelas eksklusif atau kelas bangsawan. Pada dasarnya kelas eksklusif itu sama dengan kelas S, tapi para bangsawan yang memiliki kualifikasi kelas A lah yang masuk ke dalam kelas S, sementara bangsawan yang memiliki kualifikasi kelas S akan dimasukkan ke dalam kelas eksklusif. Sehingga menyebabkan tidak adanya bangsawan yang masuk ke dalam kelas F. Peraturan ini ada karena desakan oleh para bangsawan yang memiliki kuasa atas wilayah yang ditempati oleh akademi sekarang ini. Dan sebenarnya kepala akademi sangat menolak adanya diskriminasi terhadap orang-orang dari wilayah pinggiran–menolak hak perbedaan kasta. Akademi ini juga dulunya didirikan atas persetujuan dari beberapa pihak, sehingga kepala akademi tidak bisa seratus persen dalam menetapkan keputusan. Dan untuk peserta yang datang dari desa, bisa mendapatkan kualifikasi kelas F saja sudah sangat bagus karena memiliki kualifikasi untuk menjadi murid di akademi sihir kerajaan.


Beberapa saat kemudian, ada puluhan orang yang membawakan sebuah kristal mana dan sebuah alat berupa tabung kaca yang bergaris-garis–delapan garis. Ada juga beberapa orang yang membawakan tablet batu bundar dengan diameternya sepanjang tangan orang dewasa. Tablet batu tersebut memancarkan sihir yang dapat membuat kristal mana dan tabung kacanya melayang.


Lug yang melihat mekanisme dan sihir yang digunakan batu tablet itu pun tersenyum. Singularitas-ku bisa melakukan hal seperti itu, ucapnya dalam hati.


Beberapa saat kemudian, orang-orang yang membawa alat-alat itu pun menyuruh para calon murid untuk mengalirkan mana mereka ke dalam kristal mana. Logat dan ekspresi mereka sama sekali tidak ramah, berbeda dengan orang-orang yang melayani anak-anak bangsawan.


Lantas Lug berbisik pada Nagisa. "Jangan alirkan semua manamu, jangan terlalu mencolok di tempat ini!"


Gadis itu mengangguk.


Ada beberapa orang yang terpesona melihat kecantikan Nagisa. Bahkan ada beberapa bangsawan yang meliriknya berulangkali secara diam-diam dan Lug menyadarinya.


Beberapa orang pun mulai mengikuti orang itu. Ada yang mendapatkan nilai satu garis, dua garis, dan tiga garis. Ada juga yang hampir mendapatkan empat garis, tapi sayangnya tidak berhasil. Namun Qei mendapatkan sebanyak tiga garis.


Pada saat itu, ada seorang anak dari kubu bangsawan yang berteriak. "AKU! AKULAH YANG TERTINGGI! NAMAKU GEORGE DARI KELUARGA LIONEL, BANGSAWAN TINGKAT COUNT! TIDAK ADA YANG LEBIH TINGGI DARIKU! INGAT INI! LIMA GARIS! LIMA GARIS!!!" teriak seorang anak yang mengaku namanya George itu, seorang anak lelaki. Dia memiliki rambut pirang yang cukup panjang untuk seorang lelaki, dipanjangkan sampai menutupi sebagian dari lehernya. Rambutnya benar-benar lebat layaknya seekor singa. Tatapan matanya itu terlihat ganas dan terkesan congkak.


Beberapa anak dari kubu pedesaan sedikit merasa iri dengan hasil setinggi itu. Tapi ada juga yang tidak terlalu peduli dan bahkan mencaci di dalam hati bahwasannya nilai dari pengukurannya itu memang sengaja ditinggikan. Tapi nyatanya, semua alat pengukur itu telah diuji langsung oleh kepala akademi dan semuanya normal, tidak ada yang ditinggikan maupun direndahkan.


Hingga tibalah giliran Lug dan Nagisa untuk mengukur sumber mana mereka. Sebenarnya Lug sedikit terprovokasi dari teriakan George.


Pada saat Nagisa maju, ia sudah melakukan apa yang disuruh oleh Lug. Tapi pada hasilnya, ia tetap mendapatkan nilai yang tinggi.


"EMPAT GARIS?!!" teriak salah seorang yang melihatnya.


Dan ada juga yang menimpali, "Tidak tidak! Itu hampir lima garis!"


"Wow, hebat sekali!"


Beberapa orang dari bangsawan mulai melihat ke arah seorang gadis yang kini sedang berdiri di depan salah satu kristal mana. Hanya tersisa Lug dan Nagisa saja yang ada di sana, tetapi tatapan mata semua orang hanya tertuju kepada Nagisa saja.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, Nagisa malu dan bersembunyi di balik Lug. Apa-apaan? Mau bersembunyi di mana pun juga akan terlihat oleh orang lain, benarkan?


"Tolong menjauh sedikit dariku," pinta Lug.


Nagisa mengangguk dan berjalan mundur satu langkah. Lug mulai melepaskan auranya yang telah ia tekan selama perjalanan menuju ke kota kerajaan. Pada saat itu, mana yang ada di dalam tubuhnya mulai meledak. Semua orang merasakan fluktuasi yang besar dari ledakan itu. Tak ada yang percaya bahwa ledakan mana sebesar itu muncul dari seorang anak kecil yang berasal dari desa.


Tetapi di saat yang bersamaan, ada juga seorang anak laki-laki dari keluarga bangsawan yang mengeluarkan aura yang juga cukup besar. Tetapi itu tidak bisa dibandingkan dengan ledakan mana yang keluar dari tubuh Lug. Wajah dari bangsawan itu tampak murung dan mengenakan sarung tangan yang panjangnya menutupi hingga siku tangannya.


Beberapa orang mulai teralih perhatiannya pada bangsawan itu. Dan pada akhirnya, Lug diam-diam mendapatkan sebanyak tujuh garis–hampir delapan garis.


Kepala akademi juga terus memandangi Lug tanpa henti. Matanya tak bisa beralih pada calon murid yang lainnya. Hanya dia, Nagisa, pencatat, dan Lug sediri yang mengetahui seberapa tinggi cairannya naik. Dan bangsawan murung sebelumnya mendapatkan angka yang lumayan fantastis, hampir menyentuh angka enam. Berbeda dengan George yang hanya menyentuh angka lima saja–lebih rendah sedikit saja dia akan dinilai hanya menyentuh angka empat.


George merasa kesal dengan hasil yang didapat dari bangsawan pemurung itu. "Cih, itu hanya kebetulan karena 'bawaannya' itu!" serunya seraya memalingkan wajahnya.


Tampaknya masih ada diskriminasi terhadap sesama bangsawan di kerajaan Da Nuaktha.


Lug sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia tetap memperhatikan nilainya sendiri tanpa harus memperhatikan nilai milik orang lain. "Hei, jangan beritahu ini pada siapapun, oke?" pinta Lug kepada seorang pencatat di depannya. Tetapi pencatat itu hanya diam dan tidak memperdulikan kalimat tersebut.


Lug sedikit merasa kesal dengan sikap seperti itu, tetapi dalam hati sang pencatat itu merasa terkejut ketika merasakan fluktuasi mana sebesar itu–seumur hidup dia belum pernah merasakan yang seperti itu.


Selanjutnya adalah tahap pengukuran kendali mana. Orang-orang yang membawakan kristal mana dan tablet batu sebelumnya kembali mengambil semua alat-alat itu. Lantas menggantinya dengan kristal mana yang telah telah dipecah menjadi belasan pecahan–dua puluh pecahan. Peserta akan diperintahkan untuk menyatukan kesemua pecahan itu meskipun tidak sempurna. Bagi Lug, ini adalah keahliannya. Itu adalah pelajaran pertama dari metode manipulasi mana, metode tersebut telah dipelajari sejak ia masih kecil.


Beberapa orang mulai mencobanya. Ada yang dapat menyatukan banyak pecahan kristal tapi tidak sesuai bentuknya, ada juga yang menyatukan sedikit pecahan tapi sesuai bentuknya, dan adapun yang lainnya.


Di tengah-tengah, Lug mencobanya. "Atas nama Lug," ucapnya pada sang pencatat yang tidak ramah itu lagi.


Pencatat itu terlihat lebih kesal karena mencari-cari namanya Lug, padahal sangat mudah, namanya itu berada di daftar paling akhir karena di seleksi tahap pertama, Lug adalah peserta terakhir. Dan ketika menemukannya, pencatat itu menatap wajah Lug lamat-lamat, seakan tatapannya itu mengatakan, akan kuingat wajahmu itu!


Setelah itu, Lug segera mencoba menyatukan pecahan kristal tersebut. Karena rencananya tak ingin terlalu mencolok, Lug menyatukan 9 pecahan dengan bentuk sempurna. Dan itu membuat pencatat itu kembali terkejut, namun ekspresi wajahnya tidak sinkron dengan kata hatinya. Lug menahan tawanya melihat sang pencatat itu.


Hingga beberapa saat kemudian, ada seorang gadis bangsawan yang mengenakan kerudung dengan kain yang lumayan tipis. Dia berhasil mencuri banyak perhatian karena berhasil menyatukan 11 pecahan kristal dengan bentuk sempurna.


Lug tersenyum, seakan ia sedang berkata, sebenarnya itu mudah, aku hanya sedang tidak ingin terlalu mencolok saja. Sudah cukup baginya mencuri perhatian orang di awal sebelumnya. Akan tetapi tatapan kepala akademi masih terus tertuju padanya, walau sekali-kali melirik ke arah peserta yang lain ketika sedang menjalankan seleksinya.


Dan ketika Nagisa maju, bangsawan pemurung pun juga maju bersamaan dengannya. Gadis itu sangat gugup dan ketika mencobanya, ia hanya dapat menggabungkan 6 pecahan secara tidak sempurna atau lebih tepatnya tidak beraturan.


Maafkan aku, Nagisa, aku belum mengajarimu metode memanipulasi mana, gumam Lug dalam hatinya.


Dan kebetulan juga, bangsawan pemurung itu lebih parah dari Nagisa. Dia hanya menggabungkan 3 buah pecahan saja dalam bentuk yang tak beraturan. Lelaki itu tampak sangat bersusah payah untuk bisa melakukannya, hingga pada suatu momentum ketika ia terlalu memaksakan diri, Lug melihat tangan lelaki yang ditutupi sarung tangan itu memancarkan cahaya. Dia- menggunakan sihir? Lug bertanya-tanya pada momentum tersebut. Padahal pada saat itu, dilarang menggunakan sihir untuk bisa memaksimalkan diri.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2