Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 39 - Hari Pernikahan Lug


__ADS_3

Rakt dan Teressa telah diberitahu tentang kepulangan Lug yang kini berada di rumah orang tuanya. Lug sendiri juga telah menderita tentang keinginannya untuk menikahi Nagisa dan Raini. Awalnya Teressa ragu karena ternyata Lug tidak hanya menyukai seorang gadis saja, tapi melihat Nagisa yang tidak mempermasalahkannya menjadikan dirinya lebih tenang. Pada akhirnya Teressa setuju dengan pernikahannya Lug.


Keesokan harinya, Rakt langsung mengumumkan kepada seluruh warga desa tentang pernikahannya Lug yang akan dilangsungkan esok lusa.


Seluruh desa heboh dengan berita itu. Bukan hanya itu, Fana dan Qei awalnya tidak percaya dengan kepulangan Lug, tapi setelah mendengar pernikahannya Lug membuat mereka berdua ragu. Mereka penasaran apakah Lug benar-benar kembali atau tidak.


*****


Hari pernikahan Lug dengan Nagisa dan Raini pun tiba. Seluruh warga desa Nedhen menghadiri acara pernikahan tersebut di aula desa, termasuk Fana dan Qei yang penasaran.


Dan benar saja, Lug hadir dari balik tirai putih. Dia mengenakan pakaian yang terkesan lebih mahal lagi dari pakaiannya yang dipakainya ketika datang ke kota kerajaan Da Nuaktha.


Masih dengan setelan putih, Lug kini terlihat lebih rapi dan bukan terkesan mewah dengan banyak aksesoris dan hiasan. Hanya setelan jas putih, mengenakan pita kupu-kupu berwarna hitam, sarung tangan putih, celana putih, dan sepatu berwarna putih. Lug juga mengenakan jubah putih dengan ornamen emas di bagian bahu dan terdapat ukiran emas yang tampak menyala karena memantulkan cahaya. Jubah tersebut sangatlah panjang sampai menyeret di tanah, dan terdapat sweter klip berupa batu permata berwarna merah yang menghubungkan kedua ujung jubah dengan satu rantai emas tegang di depan dada dan tiga buah rantai melengkung berwarna emas–tepatnya di bawah kerah bajunya Lug. Dan lagi anting-antingnya berwarna emas yang menggantung sebuah sayap yang bagian bawahnya melengkung dengan ditengahnya terdapat mutiara berbentuk seperti cincin berwarna pelangi.


Tak lama, ada Nagisa yang keluar dari panggung kwnan dan Raini yang keluar dari panggung kiri. Mereka berdua mengenakan pakaian yang sama.


Gaun putih yang memiliki motif bunga, itu mengembang sangat lebar layaknya bunga mawar sampai menyeret di tanah, sehingga tidak memperlihatkan bagian kakinya karena di bagian yang mengembang itu kainnya berlapis-lapis. Gaun tersebut tidak menutupi dada bagian atas, bahu dan leher. Nagisa mengenakan anting berwarna perak berbentuk bulan sabit dan tidak mengenakan penutup rambut, sementara Raini mengenakan anting berbentuk gerhana bulan–dua lingkaran–satu besar dan yang satu kecil, di bagian kiri bawah, keduanya seperti menempel dan di bagian di antar kedua lingkaran tersebut memiliki sebuah arsiran, dan ia mengenakan penutup rambut yang cukup berlapis.


Hanya saja rambut Raini bersinar redup, dan itu terlihat meskipun tertutup oleh kain yang berlapis sebanyak tiga lapis.


Mereka ini benar-benar gadis yang sangat cantik, tak kusangka mereka berdua mendmjadi istriku. Bahkan tak tahu lagi bagaimana jika nantinya Alice menjadi istriku nanti, batin Lug dengan senyuman hangat memandangi Nagisa dan Raini bergantian.


Semua orang bersorak-sorai melihat dua orang gadis yang sangat cantik berdiri di atas panggung dengan seorang lelaki di tengahnya.


Prosesi pernikahan dimulai, Lug mulai mengucapkan sumpah dan dibalas dengan sumpahnya Nagisa dan Raini.


Setelah itu, sinkronisasi sumber jiwa pun dimulai, Lug lah yang mengawalinya. Dia mulai mengeluarkan sumber jiwanya, dan yang terjadi adalah angin yang sangat kencang berhembus ketika ada bola hitam muncul di depan atas wajahnya. Itu membuat semua orang sampai harus bertahan, seolah-olah ada angin puyuh yang sedang melanda desa Nedhen. Hal itu dilakukan oleh Lug agar orang-orang tidak bisa melihat sumber jiwanya Lug secara langsung.


Semua orang bergumam kagum melihat sumber jiwa yang sangat dahsyat itu.


Tapi tak hanya selesai di situ saja, Nagisa juga mulai mengeluarkan sumber jiwanya dan membuat angin menjadi semakin kencang. Namun ketika Raini memunculkan sumber jiwanya, tak terjadi apapun.


Mereka bertiga mulai menyinkronisasikan sumber jiwa mereka. Dan ketika telah tersinkronisasi, itu berubah seperti bola hitam yang terdapat bintang-bintang di dalamnya dengan cahaya sangat terang yang melingkari bola tersebut–bentuknya jadi seperti gargantuar–lubang hitam raksasa dengan peristiwa horizon yang sangat terang. Dan juga ada enam persegi berwarna hitam pekat yang sangat tipis membentuk persegi panjang yang tidak terhubung di setiap sisinya–tepatnya membungkus gargantuar.


Anginnya terus berhembus sampai membuat semua orang tak bisa melihat apa yang tengah terjadi. Namun mereka semua tahu bahwa sinkronisasi sumber jiwa telah selesai.


Mereka pun berpesta dan mengobrol dengqn semua orang sampai acaranya selesai di sore hari. Lug dan kedua istrinya telah kembali ke rumah orang tuanya yang mana Vans telah membelikan sebuah kasur yang lebih nyaman dan lebih lebar dari sebelumnya.

__ADS_1


Apalagi kini kamarnya Lug telah diubah menjadi lebih bagus dan interiornya lumayan indah dengan hiasan hiasan di dinding apalagi lemarinya yang sekarang juga baru dan berbagai macam benda baru.


"Huh!" Lug menghembuskan nafas lega karena letih menangani semua orang yang telah hadir di acara pernikahannya. Dia menjatuhkan tubuhnya di ranjang barunya yang sangat empuk. "Hari yang cukup melelahkan, tapi menyenangkan," gumamnya sembari melepas kedua sarung tangan putihnya tepat di atas wajahnya.


"UUUHH!!!"


"HUAAAHHH!!!"


Nagisa dan Raini juga datang dan mereka juga membenamkan tubuhnya di ranjang baru tersebut.


"Wah wah, kalian juga lelah, ya?" tanya Lug dengan nada menggoda.


"Hum!" jawab Nagisa. "Aku sangat lelah sekali, apalagi Fana menanyaiku ribuan hal tentang pernikahan kita."


"Banyak sekali lelaki muda yang mengajakku berkenalan," terang Raini yang wajahnya dibenamkan di ranjang. "Sepertinya mereka tertarik padaku karena baru pertama kali melihatku di desa ini."


Lug melirik Raini dengan bibirnya yang menyeringai. "Uuuhh ... Sepertinya aku cemburu," ucapnya dengan nada menggoda.


Raini mengangkat wajahnya, dia menatap ke arah Lug. "Lug," panggilnya.


"Iya juga, aku setuju denganmu, Nagisa," balas Raini setuju. "Untuk sekarang akan kupanggil sayang saja karena kita belum punya panggilan khusus."


Wajah Lug memerah, dia memasang wajah lucu di sembari menatap wajahnya Raini yang juga menatapnya.


"Sayang, kau ini terlalu tinggi. Aku tadi sampai berjinjit untuk mencium pipimu, kau juga tadi sampai menundukkan kepalamu," keluh Raini yang tubuhnya paling pendek di antara mereka bertiga.


Dan memang pertumbuhan Lug sangatlah cepat, sekarang saja tingginya sudah hampir sama dengan Rakt–Rakt tingginya 186 cm, sementara Lug sudah 182 cm di usianya yang kedua belas ini dan Raini sendiri tingginya 168 cm serta Nagisa tingginya 174 cm. Di dunianya Lug memang beda dengan dunia manusia pada umumnya, mereka sudah mengalami kedewasaan ketika sudah menginjakkan usia di belasan tahu. Dan pertumbuhannya juga sangat cepat–pemikiran anak seusia Lug sekarang setara dengan remaja berusia 21 tahun lebih.


"Makanya, sering-sering berolahraga agar tubuhmu berkembang," ledek Lug sambil menjulurkan lidahnya.


Raini memasang wajah kesal sambil memalingkan wajahnya. Tapi dia menyeringai jahat di saat wajahnya dipalingkan. Gadis itu bangkit dengan cepat dan menatap wajah Lug dengan tatapan penuh rencana jahat.


Lug melotot bingung, dan melirik ke arah Nagisa yang juga melirik ke arahnya.


Raini berdiri, dia langsung melompat di tubuhnya Lug dan menggodanya dengan menyentuh bibir suaminya itu dengan ujung jari telunjuknya. "Sekarang, aku lebih berkuasa di sini," ucapnya dengan nada menggoda yang lirih.


Nagisa menelan ludah, dia terkejut melihat Raini yang bertingkah dengan sangat agresif.

__ADS_1


"Tunggu, Raini!" suruh Lug dengan tatapan takut. "Jangan sekarang ... Aku belum ingin kalian mengandung anakku sekarang."


Raini tersenyum jahat dan senyumannya itu semakin melebar. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidungnya menyentuh hidung Lug. "Itu tergantung dari permainanmu dan niatmu nanti, kita tidak akan pernah tahu kalau permainannya belum dimulai," ucapnya lagi dengan suara dan wajah yang sangat menggoda.


Dan Nagisa juga bangkit. Dia menatap Lug dengan tatapan datar, wajahnya juga tidak berekspresi.


"Nagisa?" tanya Lug.


Raini juga menoleh ke arah Nagisa.


Sementara Nagisa sendiri, kini malah tersenyum seperti Raini. Mereka berdua memiliki pemikiran yang sama ketika saling bertatapan.


"Tidak tidak tidak tidak tidak!" seru Lug tak bisa melawan. Haduh ... Mereka berdua- apa aku akan diberi waktu istirahat setelah ini? Batinnya.


Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, kedua tangannya ditarik ke atas dan ditahan oleh Nagisa, sementara pakaiannya mulai dilucuti oleh Raini dari baju sampai ke celana.


"Ternyata ini sangat menyenangkan, iya kan, sayang?" papar Nagisa sembari tersenyum memandangi wajah Lug yang sekarang sedang memasang wajah meminta belas kasihan.


"Tidak, Nagisa! KUMOHON!" teriak Lug meminta ampun.


"Um, um, um! Tidak akan!" seru Nagisa.


*****


Sementara di luar kamar, Rakt baru saja melewati kamar Lug karena dirinya baru saja mengambil minuman. Dia sedikit mendengar suara teriakan adiknya itu–kamar Lug dipenuhi oleh peredam suara. "Haha- mengingatkanku kepada Teressa di malam pertama itu yang sangat mendesak diriku-apalagi sangat ganas," gumamnya dengan senyuman yang penuh nostalgia sembari meminum minuman pada gelas yang dipegangnya.


Tapi tak disangka, ada siluet mengerikan dari belakang Rakt yang sedang memandanginya dengan senyuman jahat, seakan-akan matanya menyala merah. Rambutnya panjang berwarna pirang gelap karena tertutup bayangan.


"Jadi ... " siluet itu mulai mengatakan sesuatu dan terdengar oleh Rakt yang sudah mulai merinding. "Aku sangat ganas, begitu?"


Ternyata dia adalah Teressa yang sedang menggandeng anaknya. Tangannya dengan cepat menutup mulut Rakt dan membuat suaminya itu meraung-raung, namun tidak mengeluarkan suara apapun.


"Mari kita pulang sebentar ... Sayaaaaaang ... " ajaknya dengan suara lirih yang terdengar seperti bisikan jahat.


Ah, sudahlah ... Teressa mulai lagi. Aku tak mampu berbuat apa-apa, huhu ... Batin Rakt sambil menangis.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2