![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
"Wah ... Akan sangat cocok kalau Alice bersama tuan muda Nio," ucap Nozel kegirangan.
Sebelumnya Vorger bertanya pada anak sulung dan istrinya akankah Alice cocok bila dijodohkan dengan Nio. Kebetulan Nozel sangat setuju, begitupun dengan ibunya. Bahkan Vorger juga berharap anak gadisnya itu berjodoh dengan anak muda yang bernama belakang Vlamera itu.
Nio menggeleng karena gugup tidak karuan. "Tunggu tunggu tunggu!" serunya. "Ini kesepakatan sepihak, kenapa tidak menanyakan pendapatku terlebih dahulu?"
Vorger tertawa, apalagi melihat Alice yang wajahnya merah padam, seakan ada asap yang mengepul keluar dari wajahnya, matanya menatap lantai karena malu dan gugup.
"Ayahanda ... A-apa ... Apa-apaan ini? Kenapa mendadak?!" seru Alice.
Vorger menjawab, "Kau sendiri menyukainya, atau- kau sekarang sudah tak menyukai Nio?"
"Bukan begitu ... Aku hanya ingin- Nio yang datang melamarku. Bukan karena kami berdua yang akan dijodohkan," ucap Alice dengan nada pelan.
Vorger mendengarnya, dan ia tersenyum. "Nak, sikapmu memang tidak mirip dengan ibumu yang selalu tenang dan pendiam, kau sangat ceria dan penuh semangat. Tapi keyakinanmu itu- ckck ... Tekadmu itu sama persis dengan ibumu. Cukup keras kepala," ungkapnya.
Sementara itu Airin yang sudah berdiri di samping Vorger pun langsung menarik telinga suaminya itu.
"ADUH ADUH! AIRIN! LEPASKAN TELINGAKU!" teriak Vorger.
Nio tertawa melihatnya.
"Tuan Vorger," panggil anak itu yang tiba-tiba nada suaranya terdengar lebih serius. "Ayo kita kembali ke topik utama, tolong jangan melenceng terlalu jauh."
Vorger lagi-lagi tersenyum. "Aku tidak sedang membelokkan topik, inilah syarat yang akan aku ajukan. Karena Alice menolak untuk dijodohkan, lamar dia sekarang, aku ingin melihatnya bahagia. Jadi buatlah anak gadisku ini bahagia," paparnya.
Di saat itu, Nio dan Alice terkejut.
Nio merasa bahwa persyaratannya terlalu sulit. Bukan berarti ia tak mau, tapi dirinya belum siap untuk menikah sekarang ini. "Begini tuan, mungkin ini akan sedikit menyakiti hati anda sekeluarga apalagi Alice."
Vorger menelan ludah dan merasa resah.
"Sebenarnya sebelum saya ada di kota Pertus ini, saya sudah menyukai gadis lain. Aku berjanji akan menemuinya di lain waktu jikalau aku masih mampu. Tapi ketika aku tiba di kota ini, ya- aku merasa kecewa dengan diriku sendiri yang malah menyukai gadis lain," lanjut Nio.
Dan pada saat itu juga, Vorger merasa kecewa beserta seluruh keluarganya. Alice terdiam dan tatapannya berubah menjadi kesedihan.
"Aku tahu, aku paham ceritamu," ujar Vorger.
Nio melihat tatapan pria itu, tapi dirinya merasa ada yang aneh. "Anda punya rencana lain?" tanyanya.
Vorger menjawab, "Sejujurnya, aku kecewa padamu, nak. Bila mana kau bukan orang yang menolong kota ini dari pengaruh sekte pemuja dewa iblis, aku mungkin sudah memukulmu dan mengusirmu dari sini. Tapi sayangnya, aku harus mengurungkan niatku ini karena amarahku ini sama sekali tak sebanding dengan jasamu. Dan barusan kau bertanya aku ada rencananya lain? Karena ini adalah kesepakatan, aku akan menanyakan pendapatmu terlebih dahulu. Aku tak mau terlalu mempengaruhi kehidupanmu, maka dari itu, bagaimana jika kau dan Alice terikat oleh hubungan pertunangan?"
__ADS_1
Nio menyetujuinya, "Baiklah, kalian benar-benar mendesakku."
Vorger senang mendengar jawaban tersebut.
Dan pada saat itu juga, Nio menunduk di hadapan Alice. Lantas memegang telapak tangan gadis itu dengan halus dan lembut. "Apa kau bersedia untuk menjadi tunanganku, Alice?" Nio melamarnya.
Wajah Alice benar-benar berubah menjadi merah. Satu tangannya menutupi mulutnya karena masih gugup untuk memberikan jawaban. "I-iya ... Aku bersedia untuk menjadi- tunanganmu, mulai ... Hari ini," jawabnya.
Dan di saat itu juga, Vorger, Airin, dan Nozel bersorak gembira. Mereka memang tidak ingin melakukannya dengan meriah, hanya dengan melihatnya di depan mata saja sudah menjadi momen yang paling mengharukan.
"Nah," ujar Nio. "Sekarang kita akan kembali pada pembahasan utama kita."
Dan benar saja, Nozel melaksanakan perintah dari Nio. Itu karena dirinya adalah seorang administrator di dalam asosiasi Ranker kerajaan Eternan, kota Pertus. Sekaligus menjadi seorang bendahara terampil di dalam asosiasi tersebut dan sangat dipercaya.
Nio juga mengatakan bahwa kepergiannya akan bersifat sangat rahasia. "Lantas, aku juga ingin mengatakan bahwa keberangkatan kami adalah empat orang. Aku akan mengatakan bahwa diriku tidak akan ikut, tapi digantikan oleh si Empat Topeng. Tapi sebenarnya yang berangkat adalah aku, dan seperti biasa, jangan sampai biro peringkat Ranker mengurusi data tentang kemampuan kami. 4-OV malas untuk diikutsertakan ke dalam pertandingan antar Ranker. Lagipula setelah mereka mengetahui semuanya, maka orang luar akan dengan sangat mudahnya mendapatkan informasi tentang kami. Nama kami semua dan penyandang nama Vlamera akan merasa tidak leluasa lagi, setidaknya kalian paham dengan dasar penjelasanku."
"Aku mengerti," sahut Nozel.
Segera setelah itu, dia mengurus segalanya yang telah dimintai oleh Nio. Dirinya akan sangat sibuk akhir-akhir ini. Dan Nozel juga mengatakan bahwa perkiraan keberangkatan paling lambat adalah tiga hari. Nio mengangguk setuju.
Dan tepat setelah itu, Vorger membiarkan anaknya bersama dengan tunangannya. "Kalian berdua kutinggal saja, ya? Silahkan bermesraan," ucapnya dengan nada menggoda. Lantas pergi meninggalkan mereka berdua bersama dengan istrinya.
Lalu Alice menoleh dan menatap wajah Nio dengan perasaan malu-malu.
Alice menggeleng, lantas berdiri dan menarik tangan tunangannya itu. Nio tak tahu apa-apa dan menurut saja. Ternyata gadis itu menarik tunangannya menuju ke kamarnya.
"Alice, kenapa kau membawaku ke sini? Ini kamar siapa?" tanya Nio. Jika dilihat-lihat, ini kamar seorang gadis. Lihat saja ruangannya yang dipenuhi oleh boneka boneka lucu dan hiasan aneh yang sangat feminim itu, akan aneh jika ini kamar seorang lelaki. Ini pasti kamarnya Alice, batinnya.
Alice tersenyum dan menjawab, "ini kamarku."
Meski begitu, Nio tak tahu apa maksud tunangannya itu membawanya ke kamarnya. "Untuk apa kau membawaku kemari?" tanyanya.
Alice pun melompat dan memeluk Nio hingga menjatuhkannya ke kasurnya yang sangat empuk dan nyaman.
"Alice, ada apa denganmu?" tanya Nio terheran-heran. Wajahnya memerah karena entah kenapa suasananya menjadi sangat panas di kamar tersebut.
Alice menatap wajah Nio dengan penuh perasaan malu. "A-apakah menurutmu ... Aku tidak terlalu menarik bagimu, Nio? Apakah aku- tidak seperti gadis yang kau-idamkan?" tanyanya. Wajahnya juga masih memerah semenjak obrolan mengarah ke arah pernikahan.
Nio menggeleng. "Kau itu cantik, Alice, siapa yang tak mau bersamamu? Rugi sekali," jawabnya. "Tapi aku belum siap untuk sekarang, bisa berikan aku waktu?"
Alice masih bingung untuk memutuskan. "Aku ... Aku tak mau berlama-lama, aku ingin sekarang dan kita akan lakukan sekarang!" tuntutnya malu-malu.
__ADS_1
Nio sedikit terkejut mendengarnya, lantas mengelus rambut Alice perlahan dan memberikan senyuman hangat. "Alice, kumohon. Berikan aku sedikit waktu, setidaknya satu tahun ini. Aku masih belum bisa terbuka untukmu, bahkan pada ayahmu sekalipun dan seluruh keluargamu, sangat banyak yang masih kusembunyikan dari beliau. Sampai waktunya tiba, aku ingin kau lah yang memutuskan, apakah kau masih tetap ingin bersamaku, ataukah enggan. Sehingga kita impas, kita bisa saling mengerti masa lalu. Sekarang hanya aku yang tahu dan mengerti tentang masa lalumu, sementara dirimu tak tahu apapun tentang masa laluku. Secara harfiah, ini tak adil untukmu," jelasnya.
Lantas Nio bangun, begitupun dengan Alice.
Gadis itu duduk di sampingnya, dan kepalanya disandarkan ke bahu Nio.
"Setelah kau tahu bagaimana caraku hidup di dunia yang rumit ini, percayalah- bukan aku, melainkan kau yang akan ragu untuk tetap bersamaku atau tidak. Untuk sekarang, aku sendiri masih ragu. Aku ragu untuk bisa melindungimu dari kejamnya dunia luar," jelas Nio lagi.
Alice memahaminya. Hingga pada akhirnya, air matanya menetes. "MUACH!"
Gadis itu mencium pipi Nio.
"Kau mengejutkanku," ujar lelaki itu.
Alice memalingkan wajahnya dan menggembungkan pipinya. "Ini hukuman untukmu karena membuatku menangis. Kau seharusnya menjadi lelaki yang peka di depanku," paparnya.
"Baiklah, lain kali aku akan menjadi sosok lelaki yang peka," sahut Nio seraya tersenyum hangat.
Selanjutnya, mereka melanjutkannya dengan saling mengobrol. Nio sedikit menceritakan tentang kemampuannya dalam menggunakan sihir.
Karena Alice terlahir sebagai jenius dalam bidang sihir, ia merasa bahwa Nio itu tak seberapa. "Bagaimana dengan sihir lima lingkaran? Apa kau menguasainya? Aku menguasai satu sihir lima lingkaran yang paling dipuja-puja di kota ini, namanya adalah sihir Akar Mawar Menjalar."
Nio mengangguk, seolah dirinya baru tahu tentang kemampuan Alice. "Wow, kau hebat juga," ujarnya. "Kenapa kau tidak menjadi Ranker saja?"
Alice menjawab, "Ayahku sangat penyayang dan terlalu melindungiku- apalagi semenjak seluruh pemuja dewa iblis di kediaman kami terungkap. Sehingga aku tidak diperbolehkan untuk menjadi Ranker."
"Sangat disayangkan sekali kemampuanmu itu. Kau seharusnya sangat berbakat," papar Nio.
"Bagaimanapun juga semua ini adalah kehendak kedua orang tuaku," sahut Alice. "Aku tak ingin melawan, sampai membuatku bertengkar dengan mereka. Aku terlahir di keluarga yang saling menyayangi, bukan keluarga bermasalah."
"Andai saja aku menuju ke kota Pertus ini karena aku sedang bermasalah dengan keluargaku, apa jadinya aku jika mendengar ucapanmu barusan?"
Seketika itu, Alice menoleh pada Nio dengan perasaan cemas dan resah. "Tunggu, Nio! Aku tak tahu bahwa kau dulunya berasal dari keluarga yang seperti itu. Aku tidak bermaksud menyinggungmu, aku hanya sedang bercerita tentang diriku sendiri saja," terangnya panik.
Nio menyeringai. "Yah- sebenarnya aku tidak sedang mengatakan hal yang sebenarnya. Entah itu fakta atau bukan, anggap saja itu sebagai sebuah pelajaran. Jangan gunakan kata-kata seperti itu lagi, agar nantinya kau tidak menyinggung orang lain tanpa disengaja," nasehatnya.
Alice mengangguk. "Aku mengerti."
Nio sebenarnya tahu apa tujuan gadis itu mulai bercerita tentang masa lalunya. Itu agar Nio terpancing pada cerita tersebut dan berakhir dengan menceritakan kisahnya di masa lampau. Sehingga itu akan membuat mereka berdua impas dan berakhir menikah karena telah saling mengetahui masa lalu satu sama lain. Tapi ,Alice terkejut melihat Nio sama sekali tidak terpancing oleh ceritanya, itu justru malah berbalik arah pada dirinya yang menjadi panik dan resah.
Tapi dengan adanya Nio mengatakan bahwa apa yang dikatakannya itu belum benar, maka Alice semakin resah apabila ucapannya tentang keluarga bermasalah itu benar-benar sungguhan.
__ADS_1
Dan akhirnya, Nio memeluk Alice agar gadis itu tidak merasa resah lagi.
Bersambung!!