![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Keesokan paginya, Lug dan Nagisa mendatangi sebuah tempat bersama dengan murid-murid yang lainnya. Mereka berdua menyadari bahwa murid-murid yang ada di sana semuanya adalah yang terpilih. Di sana tidak ada Wilson, Phieri, Qei, Anni, Evan, dan beberapa anak lainnya yang seangkatan dengan Lug. Hanya saja Zephyr tergabung bersamanya.
Tempat yang didatangi mereka adalah sebuah hutan yang berada di sebelah timur kota kerajaan–desa Nedhen berada di sebelah selatan kota kerajaan.
"Kak," tiba-tiba Nagisa memanggil. "Memangnya ini kita mau ke mana?"
Lug menoleh, lantas menjawab apa yang dia tahu, "Kalau tidak salah kita ini sedang diikut sertakan ke dalam ujian perburuan, tapi entahlah- aku sendiri kurang tahu?"
Nagisa mengangguk.
Tak lama kemudian, muncul seorang pria bertubuh kekar yang hanya mengenakan celana pendek saja dengan warna gelap. Kulitnya berwarna cokelat terbakar yang dilapisi oleh keringat yang membuat tubuhnya mengkilap. Pria itu sangat tinggi, bahkan Lug saja tingginya hanya sebahu pria tersebut.
Zephyr menatap pria kekar itu dengan terapan yang aneh, seolah mereka saling mengenal tetapi tidak akrab.
Kemudian pria kekar itu memperkenalkan diri, "Namaku Brock, Brock Edelweiss."
Seketika Lug tahu apa alasan kenapa Zephyr menatap aneh pria kekar tersebut.
Brock mulai menjelaskan apa yang akan murid-murid itu lakukan dengan datang jauh-jauh hingga keluar dari kota kerajaan. "Setelah ini kalian akan memburu hewan buas yang ada di sekitar sini. Tenang saja, kalian tidak akan disuruh untuk memburu secara individual, melainkan berkelompok. Kalian akan diberi nilai setiap kali berhasil membunuh seekor."
Nada ucapan pria itu terdengar sangat tegas dan keras, itu karena dia adalah salah seorang militer dengan pangkat yang cukup tinggi.
Sesaat Brock menatap Zephyr, lantas tatapannya beralih kepada Lug dan Nagisa. Pasangan itu mengenakan emblemnya masing-masing di dada sebelah kanan mereka dan membuat Brock langsung tahu siapa mereka berdua.
"Hei, kalian berdua," panggil pria kekar itu. "Debu Bintang, Bintang Heksagonal, kemari!"
Lug dan Nagisa menoleh ke arah Brock, lantas berjalan mendekatinya. Lug bertanya, "Iya? Ada apa?"
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu saja," sahut Brock.
"Apa itu?"
"Kalian berdua tidak diperbolehkan untuk berada di dalam satu kelompok," Brock menjelaskan.
Nagisa menatap Lug dengan tatapan ragu, namun kakaknya itu mengangguk dengan penuh keyakinan. Pandangan mereka kembali kepada pria kekar di depan mereka dan mengangguk paham.
"Dan lagi," ucap Brock belum selesai seraya menunjuk Nagisa. "Bintang Heksagonal akan bersama dengan Lengan Biru di dalam kelompok yang sama, untuk Debu Bintang, kau nanti bisa memilih kelompokmu sendiri."
Lengan Biru adalah Zephyr. Ia telah memunculkan sumber jiwanya beberapa bulan yang lalu. Sumber jiwanya itu berupa cahaya biru yang membentuk sebuah lengan setengah transparan dengan kuku kuku yang panjang, serta lengan tersebut bercahaya.
"Bintang Heksagonal, kau bisa langsung menemui Lengan Biru," ujar Brock.
Lug mengelus kepala Nagisa terlebih dahulu dan memberikan senyuman yang hangat. Gadis itu membalas dengan senyum bahagia, lantas segera pergi menemui Zephyr. Namun Lug masih belum dipersilahkan untuk pergi. Orang ini tampak sekali tidak ingin bertemu dengan Zephyr, terlihat ketika dia menyuruh Nagisa untuk pergi menemui Zephyr, tapi tidak memanggil Zephyr. Seharusnya informasi seperti ini harus disampaikan kepada orang yang bersangkutan, batin Lug sembari menatap Brock sinis.
Sesaat setelah itu, Brock menghidupkan sebatang rokok, lantas melirik sinis ke arah Lug. "Hei, bocah," panggilnya dengan nada yang kasar. "Bagaimana caramu membuat putra si Antonio itu sembuh dari kutukannya?"
Kabar tentang sembuhnya Zephyr dari kutukan Kulit Iblis yang telah menghantui keluarga Azamuth selama berabad-abad lamanya itu telah tersebar ke berbagai keluarga bangsawan. Siapa yang menyembuhkan? Itu adalah Lug, mereka jelas tahu tentang itu. Namun beberapa dari mereka masih tidak percaya bahwa kutukan mengerikan itu benar-benar telah menghilang hingga sepenuhnya.
Lug menjawab, "Aku hanya membantu sedikit saja, jika kau bertanya bagaimana, maka akan kujawab bahwa aku menggunakan metodeku sendiri."
Anak itu merasa ada yang aneh dengan Brock. Apa dia suka kabar itu? Atau malah membenci? Batin Lug bingung.
Lantas Brock tersenyum ramah, "Baguslah," ucapnya.
Lug heran, tapi dia juga merasa bahwa itu adalah hal yang benar. Meskipun keluarga mereka berpecah, tapi ternyata mereka juga tidak saling membenci. Aku lega, batinnya.
__ADS_1
"Oh? Siapa itu?!"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang datang, ia mengenakan pakaian kemiliteran yang sangat rapi. Tak lagi asing di mata Lug, pria ini adalah David Lorenzo.
"Oh, David?" Brock tampaknya mengenal pria yang berpakaian rapi itu.
David tiba-tiba berkata, " Peraturan mengatakan bahwa setiap kelompok hanya boleh diisi oleh tiga orang saja, tidak boleh lebih."
"Lalu?" Brock merasa ada yang aneh
Lug memang sudah menyadari keanehan tersebut dan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun dia masih tetap bersikap tenang.
"Lihat?" ucap David sambil menunjuk sekeliling. "Semua orang telah membuat kelompok yang berisikan tiga anggota, tidak ada yang lebih maupun kurang. Tapi si Debu Bintang ini belum mendapatkan kelompoknya sendiri, malang selain anak ini harus berburu sendirian."
David seakan mengasihani Lug.
Brock berusaha menyelamatkan Lug dari situasi aneh dan menjengkelkan ini. "Buat saja kelompok dengan empat orang. Dari tadi aku memang menunggumu lama di sini untuk mendiskusikan-"
"Sudahlah sudahlah!" ucap David memotong.
Brock semakin merasa curiga dengan sikap David yang semakin aneh.
"Tidak ada yang kelompok yang berisikan empat anggota, biarkan saja dia sendirian. Toh, tak ada bedanya jika dia gagal sekalipun seperti tahun-tahun sebelumnya. Sangat sulit menemukan kelompok yang berhasil pada ujian perburuan ini, meskipun ada itu pun sudah lima tahun yang lalu," jelas David.
Pernyataan pria itu semakin membuat Brock merasa jengkel. Seolah David lah yang membuat peraturan itu agar bisa menyudutkan Lug. Apa dia punya masalah dengan Debu Bintang? Batinnya curiga.
"Tapi bukankah tahun lalu ada kelompok yang berisikan tiga orang anggota?" tanya Brock seraya memberikan fakta.
"Ini peraturan baru," jawab David dengan santainya.
"Baru saja, sebelum aku datang kemari."
David terlihat terus memberikan alasan agar bisa menyulitkan Lug. Apalagi setelah itu dijelaskan bahwa perburuan ini akan berlangsung selama satu hari penuh. Dan dikatakan sebenarnya ujian perburuan itu hanya diberlakukan untuk mereka yang akan naik ke tingkat ahli sihir.
Brock menatap Lug dengan tatapan cemas, namun anak itu malah tersenyum seakan tidak akan terjadi apapun padanya.
Setengah jam telah berlalu, sekarang semuanya telah pergi dan mencari hewan buas. Sebelum pergi, Nagisa mengucapakan selamat ulang tahun kepada Lug yang sedang berulang tahun pada hari ini.
"Kau perhatian sekali, Nagisa, terima kasih," ucap Lug.
"Hihi," Nagisa tersenyum lebar. "Iya, kak, jaga dirimu."
"Baiklah."
Mereka pun berpisah.
Setelah itu, Lug segera menuju ke hutan, ia menelusurinya hingga sangat dalam. Hutan tersebut berada sejauh 800 regrit dari dinding kota kerajaan. Di sana belum ada tanda-tanda hewan buas sama sekali, meski begitu suasananya cukup mencekam apabila seseorang datang sendirian ke tengah hutan seperti itu. Di tengah hutan itu terdapat banyak sekali pohon yang menjulang tinggi yang memiliki banyak ranting dan dedaunan yang lebat, sehingga menutupi cahaya matahari yang menyebabkan permukaan tanah dan area hutan tersebut tampak gelap dan mencekam.
Lug sendirian menelusuri hutan hingga sejauh 150 regrit dari tempat berkumpul sebelumnya. Di sana terasa seperti sudah petang tapi sebenarnya masih menjelang siang.
Hingga tiba-tiba saja-
SREEK
SREEK
__ADS_1
Terdengar suara bising dari semak-semak. Itu sejauh lima belas regrit dari tempat Lug berdiri sekarang. Itu hanya babi hutan saja, batinnya.
Dan benar, ketika diperiksa ada dua ekor babi hutan yang juga sedang menatap Lug. Tak ingin berlama-lama, ia segera membunuh kedua babi hutan tersebut. "Aku penasaran apakah babi hutan termasuk ke dalam hewan buas ataukah tidak?" gumamnya.
Karena dirasa terlalu awal, Lug berpikir untuk memakan salah satu babi hutan tersebut. Dan dikarenakan tak ingin membawa hewan yang telah membusuk, Lug membekukannya dengan sihir Nafas Beku. Sehingga ia akan membawa satu babi hutan utuh dan satu kepala babi hutan yang keduanya dibekukan.
Ketika menjelang malam, Lug telah membuat sebuah tempat yang nyaman. Beberapa balok kayu diletakkan melingkar dengan api unggun di tengahnya.
"Seperti ini pun sudah cukup untuk malam ini," ucapnya seraya bertolak pinggang.
Lantas Lug segera pergi untuk berburu hewan buas lagi agar keesokan harinya dia sudah memiliki banyak nilai.
Beralih kepada Nagisa, dia sekarang sedang bersama dengan Zephyr membangun tiga buah pondok kayu. Dia membangun ketiga pondok itu dengan konsep yang mirip dengan rumah-rumahan kecil yang ketiganya terpisah dan membentuk pola segitiga. Dan di tengah-tengahnya terdapat api unggun yang siap dinyalakan.
Di dalam kelompoknya Nagisa terdapat seorang gadis bangsawan yang memiliki nama belakang Lawrence.
"Hei, kau!" seru Zephyr kesal kepada gadis yang sibuk mengurus kuku tangannya dengan duduk di sebuah batang kayu besar. "Bantulah kami sedikit, dari tadi kau sama sekali tidak memberikan kontribusi."
Bukannya merasa bersalah, gadis itu malah mencemooh Zephyr, "Kalian berdua seharusnya bersyukur aku mau ikut bergabung dengan kelompok kalian ini, dasar kau anak terkutuk!"
Zephyr menghela nafas, ia menyunggingkan alisnya. "Sejujurnya, aku sedikit tersinggung dengan kata-katamu itu."
"Biasakan itu, bodoh!" seru gadis yang mengurusi kuku itu.
Nagisa bingung, dia berpikir bagaimana caranya gadis kasar pemalas seperti itu bisa ikut tergabung ke dalam ujian perburuan ini?
Meski begitu, Nagisa tidak mempermasalahkannya. Hanya saja dia khawatir dengan Zephyr, melihat temannya terus dicemooh seperti itu membuatnya geram dan hendak memukul kepala gadis pemalas itu. Namun Zephyr yang tahu akan hal tersebut langsung menghalangi Nagisa. Lelaki itu tersenyum santai, seakan wajahnya mengatakan, tak usah pedulikan itu, kau hanya akan membuat masalah ini semakin runyam.
Gadis kasar yang sedang bermalas-malasan itu bernama Sintya Lawrence. Sekarang dia berdiri dan masuk ke dalam pondok yang telah dibuatkan oleh Zephyr dan Nagisa tanpa ada rasa sungkan sama sekali.
Sintya memiliki rambut hitam yang panjang, terlihat beberapa helai rambut berwarna merah yang terselip di antara rambut hitam lainnya. Matanya tidak lebar, dan mulutnya cukup mungil. Gadis itu cukup pendek dan memiliki iris mata berwarna cokelat kemerahan.
Karena Sintya telah masuk ke dalam pondok, Zephyr dan Nagisa saling bertatapan dan tersenyum penuh kelicikan.
"Kau siap?" tanya Zephyr berbisik.
Nagisa mengangguk, lantas mendekati pondoknya Sintya. "Apa kau ingin berburu?" tanyanya kepada gadis di dalam pondok itu.
Dari dalam pondok, Sintya membalas, "Aku sedang malas, nanti saja!"
Nagisa kembali menatap Zephyr dengan senyuman yang sama. "Baiklah kalau begitu, beristirahatlah senyaman mungkin," ucapnya. Namun gadis ini masih belum pergi dari pondok Sintya. "Apa kau yakin?" tanyanya lagi memastikan.
Sintya yang berada di dalam pondok merasa kesal. "YA IYA AKU YAKIN! KALAU KAU MAU PERGI BERBURU, SILAHKAN SAJA!!!" bentaknya. Menyebalkan!
Lantas Nagisa segera berlari perlahan, dan tertawa kecil bersama Zephyr. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Sintya di pondoknya sendirian. Mereka berburu tanpa gadis pemalas itu karena dirasa jauh lebih baik ketimbang menjadi beban dalam kelompok.
"Padahal aku masih ingin menggodanya, haha," ujar Nagisa di tengah jalan.
Zephyr juga ikut tertawa, "Hahaha, iya juga sih, kau harusnya tadi menggodanya lagi, sungguh itu sangat lucu."
Dan beberapa saat kemudian, terdengar suara gaduh dari kejauhan. Zephyr dan Nagisa segera memeriksanya, namun ketika diperiksa, tak terlihat hewan apapun. Di sana memang sudah sangat gelap, di sertai oleh pohon pohon yang menjulang sangat tinggi, meskipun masih sore tapi di dalam hutan terasa seperti sudah gelap gulita.
Dan suara gaduh yang sama terdengar lagi tapi dari atas pepohonan. Zephyr dan Nagisa tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di atas sana. Terlihat siluet hewan berekor yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Dan di atas sana tidak hanya ada satu saja, melainkan ada belasan.
Zephyr berinisiatif untuk memeriksanya dengan Cahaya Kosmik yang melapisi kedua lengannya. Sehingga keduanya bercahaya dan bisa memperlihatkan apa yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Bersambung!!