Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 51 - Melawan penyembah Dewa Iblis


__ADS_3

Sesaat setelah melihat kejadian di mana anak panahnya lenyap, dua orang perampok itu terkejut. Mereka seolah seperti melihat sesuatu yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.


Melihat Raini yang mengacungkan tangannya, membuat si brewok sadar bahwa gadis itu yang melakukannya. "Oh? Kau ya, yang berulah barusan?!" tukasnya.


Mental Raini menjadi ciut kembali. Ia menarik tangannya dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggungnya. Tetapi Lug tak membiarkan kedua orang di depannya itu menyentuh teman-temannya.


"Membidik saja tidak bisa, hahahaha ... " ledek Lug.


Tatapan si brewok menjadi tajam dan terlihat lebih serius dan menakutkan. "Jangan memprovokasi diriku, bocah! Kaupikir bisa selamat setelah mengusik kami?" serunya mengancam.


Tetapi Lug tidak terlihat takut sama sekali. "Apa kau pikir aku akan takut dengan ancamanmu?!" serunya yang semakin menantang.


Sebenarnya Lug menantang bukan karena untuk bersenang-senang atau apa, tapi dia sedikit penasaran dengan suatu hal. Dia hanya ingin memastikan apakah itu benar atau tidak. Ketika aku menatap mereka berdua, itu terasa sangat aneh. Rasanya panas, haus darah, namun sangat loyal, terlihat mereka terus ada di sini dari dulu. Mereka seperti menjaga sesuatu. Meskipun mereka perampok yang mempunyai kediaman di sekitar sini, mereka pastinya tidak akan berdiam diri dan kabur setelah mendapatkan mangsa. Tak mungkin dari dulu mereka tidak mendapatkan satupun mangsa, tapi- Gumamnya dalam hati penasaran. Walaupun wajah Lug tidak terlihat terlalu serius, tapi dari caranya menatap terlihat bahwa matanya penuh dengan pertanyaan dan kecurigaan.


"Kau berani?!" Orang yang membawa anjing itu memiliki tatapan yang aneh. Awalnya ia memang memiliki iris mata berwarna cokelat, tapi kini berubah menjadi kemerahan dan pupilnya kian membentuk seperti pupil mata kucing. Mulutnya tersenyum layaknya harimau ganas yang siap memangsa siapapun.


Menatap kawannya yang seperti hendak mengamuk, si brewok segera menghentikannya, "Jangan mudah terpancing!"

__ADS_1


Sehingga mata si pembawa anjing itu kembali normal, meskipun tatapannya masih kembali menjadi dingin dan datar.


"Nak, kupikir kami tak berani melukaimu? Apa kau tidak lihat anak panah barusan?" Si Brewok kembali memberikan ancamannya. Tetapi anak kecil yang diancamnya itu sama sekali tidak takut.


"Lantas? Kalian berpikir bahwa kami tidak akan pergi meninggalkan barang-barang kami dan membunuh kami di tempat ini, begitu? Apa motif kalian yang sebenarnya?" Lug mulai menginterogasi.


Kedua perampoknya malah saling menatap dan terlihat wajah mereka seolah saling bertanya satu sama lain. Entah mungkin mereka bisa saling berkomunikasi lewat hati mereka, tapi tatapan wajah mereka benar-benar mencurigakan. Dan mendengar Lug mengatakan hal tersebut, mereka malah bersikap aneh.


"Terlihat dari reaksi kalian, apa aku benar?" tebak Lug menyeringai sinis.


"Dan psikopat yang sebenarnya adalah seseorang berotak licik yang tidak membunuh orang lain tanpa alasan. Mereka selalu punya tujuan dan membunuh orang jika dia tidak suka. Tapi kalian berbeda jauh dengan sikap dari seorang psikopat."


Semakin Lug menjelaskan, semakin berkeringat pula kedua perampok itu. Dan kini si pembawa anjing mulai tidak sabaran.


"Lalu kau mau tahu siapa kami? Yakin kah?!" Matanya kembali seperti harimau yang sebelumnya. Dan si brewok terlihat tidak ingin menghentikannya.


Serta warna mata kelima anjing yang dibawa orang itu juga berubah menjadi merah. Di sekitar mata anjing anjing itu muncul urat nadi berwarna jingga kemerahan yang menyala laksana lava yang mengalir di dalamnya. Dan kuku-kuku kakinya berubah menjadi kristal dan terbakar, serta ujung ekornya juga terbakar.

__ADS_1


"Memangnya aku bilang kalau kami ingin tahu identitas kalian?" tanya Lug.


Si brewok menyadari bahwa dirinya dan temannya telah terpancing. Sementara si pembawa anjing sudah menunjukkan wujud aslinya. Kesemua kukunya telah tumbuh dan menjadi sangat tajam, lantas kukunya itu seperti baja yang sangat tajam dan berwarna kemerahan karena terlalu panas. Rambutnya juga berubah menjadi api jingga. Kaosnya telah terbakar karena pembuluh darah di setiap tubuhnya mengalir lava panas dan tumbuh bulu-bulu tajam berwarna cokelat pada bagian punggung serta perut hingga dadanya. Setiap langkah kakinya melelehkan tanah, dan setiap hembusan nafasnya berupa angin yang sangat panas.


Ternyata kita telah terpancing, batin si brewok. Tapi dia malah tersenyum jahat dengan tatapan santai. "Lantas kenapa kalau kalian tahu wujud kami yang sebenarnya?!" serunya. "Sementara sebelum kalian pergi melarikan diri, kami berdua akan membunuh kalian semua.


Lantas si brewok pun menunjukkan wujudnya. Di kedua matanya muncul goresan merah darah yang seolah membelah kedua matanya dari pipi sampai dahi. Bola matanya berubah menjadi putih keseluruhan, muncul sarung tangan besi di kedua telapak tangannya, muncul armor baja yang menempel di badannya–dari atas dadanya sampai ke perut, di tengahnya terdapat garis lingkaran berwarna merah menyala dan simbol pedang yang juga berwarna menyala di tengah-tengah lingkaran, serta muncul celana baja yang melindungi seluruh kakinya. Dia seolah berubah seperti ksatria baja. Bahkan busur silang miliknya pun berubah menjadi pedang yang sangat panjang dan berat, dirinya saja sampai butuh dua tangan untuk mengangkatnya.


Lug mengenali kedua wujud itu. "Oh, kalian itu penganut dewa iblis penjaga gerbang Lembah Neraka, ya? Cerberus dan Ksatria Neraka? Dan itu, wujud Anjing Neraka?" tebaknya tanpa takut sama sekali seraya menunjuk si pembawa anjing.


Si brewok yang sekarang berubah menjadi ksatria yang mengenakan armor lengkap itu terkejut. "Jadi kau tahu?" tanyanya


Note :


(Karena chapter ini dipotong sama Mangatoon, saya akan tulis di Chapter berikutnya saja sebagai Chapter 51,5.


Saya tidak tahu kenapa chapter ini terpotong, tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi?)

__ADS_1


__ADS_2