![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Dirasa terlalu lama berbincang, Lug memutuskan untuk segera kembali saja sebelum kerajaan lain datang untuk mengetahui siapa yang telah mendapatkan Pusaran Angin Seribu Lengan. Sebenarnya Nagisa tak bisa melepaskan Lug untuk yang kedua kalinya, namun lelaki itu menjelaskan bahwa dirinya tak bisa untuk kembali ke kerajaan Da Nuaktha untuk saat ini. Lug berjanji akan segera kembali dalam waktu dekat dan tidak akan memakan waktu hingga bertahun-tahun.
Tak lama setelah itu, para Ranker dari kerajaan Da Nuaktha yang sebelumnya pingsan, kini telah bangun. Ketika mereka bangun, mereka hanya melihat sesosok gadis yang sedang duduk menghangatkan badan. Gadis itu mengenakan mantel tebal pemberian dari Lug, dia adalah Nagisa. Dan juga pedangnya telah dikembalikan.
Gadis itu menoleh. "Hah? Kalian sudah sadar?" tanyanya. "Kenapa kalian bisa pingsan di sini?"
Lantas ketua kelompok Ranker menjawab, "Kami dihadang oleh dua orang Ranker yang sangat kuat. Kami tak tahu mereka itu Ranker dari kerajaan mana, tapi mereka berdua sangatlah tangguh."
Kemudian Reno maju dan bertanya, "Kau sendiri tadi ke mana? Bisa-bisanya kau menghilang."
"Pada saat itu, aku terseret oleh badai angin. Sesampainya di sini, aku tak melihat apapun selain kalian semua yang tergeletak pingsan di sini," jawab Nagisa.
Semua orang saling menatap satu sama lain.
"Sudahlah, aku ingat jalan pulangnya ... Mungkin," ucap ketua Ranker.
Nagisa menggeleng dengan tatapan sinis. "Kalian ini- aku masih ingat jalan pulangnya dengan sangat jelas. Mari kita pulang, aku yang pimpin jalannya!" serunya dengan nada tegas.
"Haha, maafkan aku, Nagisa ... Aku memang kurang dalam menghafal jalan yang baru kudatangi," ucap ketua Ranker.
Nagisa menyahut, "Aku justru penasaran dengan nilai ujian penyamaran dan komunikasi."
Di dalam ujian penyamaran dan komunikasi yang baru saja disebut Nagisa itu, terdapat ujian yang mengharuskan peserta hafal dengan lokasi, atau dengan kata lain, mereka harus melewati sub-ujian buta arah.
Ketua Ranker hanya tersenyum.
Setelah itu, mereka semua segera kembali ke kerajaan Da Nuaktha dikarenakan tugas mereka sudah berakhir dengan kegagalan.
"Lalu, siapa yang mendapatkan Pusaran Angin Seribu Lengan?" tanya ketua Ranker.
Nagisa menggeleng dan menjawab, "Aku tidak tahu. Ketika aku datang, aku hanya melihat kalian yang sudah jatuh pingsan."
Reno merasa ada yang aneh. "Nagisa, dari mana kau mendapatkan mantel itu?"
Meskipun terkejut, namun Nagisa tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Aku membawanya sendiri, memangnya kenapa? Dan lagi, beraninya kau memanggil namaku secara langsung di depan Ranker lain!"
"Apa? Kau membawanya sendiri? Kenapa aku tidak melihat kau membawanya? Aku ingin kau lupakan masalah yang terakhir itu," tanya Reno lagi.
"Aku melipatnya, aku masukkan ke dalam ransel yang kuikat di kudaku. Aku membawanya ke sini untuk berjaga-jaga kedinginan, dan ya- sekarang mantel ini berguna. Memangnya kau memperhatikan aku sedetail mungkin?" jawab Nagisa tidak senang.
"Sudahlah, Bulan Emas!" seru ketua Ranker. "Jangan ganggu Nagisa lagi, dia sedang memimpin jalan. Kau ini kenapa begitu sentimen padanya?"
Dan itu membuat Reno terdiam pada saat itu juga. Dia kini sudah tak memikirkan bagaimana Nagisa mendapatkan mantel tersebut, tetapi dia kini malah berpikir bagaimana cara mendapatkan gadis itu. Token sumber jiwa Reno memang bernama Bulan Emas, makanya itu ia dipanggil Bulan Emas.
Setelah setengah jam, mereka semua telah keluar dari dataran Exter dan menemukan kuda mereka. Sudah tidak ada lagi kubah angin yang menutupi dataran tersebut.
*****
Kembali pada Lug yang kini telah berubah menjadi Nio lagi, sekarang dirinya bersama dengan ketiga rekannya akan segera kembali dan merayakan kemenangannya. Dan tak disangka, Potter mengikuti mereka berempat karena menurutnya ingin membentuk jati diri yang baru.
Dan mereka sekarang sudah berada di kota Vloesia, di sebuah restoran yang ada di pinggiran kota. Sekarang ini mereka sudah menghabiskan makanan mereka dan berencana untuk berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum kembali ke kota Pertus di kerajaan Eternan.
"Wah wah, Potter, aku senang kau menjadi anggota baru kami," ujar Leonardo.
__ADS_1
"Tak semudah itu," sahut Nio. "Jika dia ingin menjadi salah satu dari kita, namanya harus diganti. Potter harus memiliki nama panggilan berakhiran huruf o."
Leonardo dan Vernando mengangguk setuju.
"Bagaimana jika namamu kuubah menjadi Romeo Potter Vlamera? Cocok, bukan?" papar Nio.
Leonardo merasa nama itu terlalu panjang. "Kurasa terlalu panjang, tapi ... Terserah Potter juga, sih- dan juga, itu berarti kita akan mulai memanggilnya Romeo," sahutnya.
Cleo setuju dengan nama itu. "Menurutku namanya itu bagus, aku suka itu. Sangat cocok dengan wajahnya yang manis, kulitnya yang hitam manis itu ... Unchhh- kau membuatku gemas," terangnya.
Potter terpesona dengan pujian dari Cleo. "Terima kasih atas pujiannya," ucapnya.
"Sama-sama," sahut Cleo.
"Kalau begitu, ubah aja namaku menjadi Romeo Potter Vlamera. Aku suka nama itu," ucap Potter, yang sekarang nama panggilannya berubah menjadi Romeo.
"Baguslah. Sekarang 4-O-V berubah menjadi 5-O-V," ujar Nio.
Tak lama kemudian, ada seorang wanita tiga puluh tahunan yang tampak sangat cantik menghampiri meja bulat Nio dan rekan-rekannya. Wanita itu membersihkan mejanya dan mengambil semua piring beserta gelas yang ada di atas meja.
Nio merasakan sesuatu dari wanita kepala tiga itu. Dia membatin, Wanita ini ... Kenapa rasanya sangat familiar sekali?
Setelah itu, ada seorang anak laki-laki berusia lima enam tahun yang datang menghampiri wanita itu. "Ibu ... Apa makanannya sudah kausiapkan?" tanya anak kecil itu.
Anak kecil?.
Sang ibu tersenyum dan menjawab, "Iya, makanannya sudah siap. Nanti aku akan bawakan ke meja makan, kau dan ayah bersiap-siap dulu, ya?"
"Baiklah," sahut anaknya. Lantas dia berlarian kecil pergi ke sebuah pintu yang ada di samping ruangan dapur.
Sang wanita menjawab, "Iya, dia anak ketigaku."
Nio mengangguk dan merapatkan bibirnya. "Ooh ... Anakmu itu sungguh menggemaskan. Lantas, bagaimana dengan suamimu?"
"Syukurlah, dia sekarang masih sehat-sehat saja dan sering membantuku," sahut sang wanita.
"Syukurlah."
Wanita itu pun pergi membawa semua piring dan gelas kotornya. Seketika meja makan Nio dan rekan-rekannya itu tampak sangat bersih. Sehingga mereka bisa mengobrol dengan lebih nyaman lagi.
Satu jam telah berlalu, dan kini terlihat langit sudah sore–matahari hanya tampak separuhnya saja. Nio segera menyelesaikan pembayarannya yang tidak habis terlalu banyak uang.
"Nyonya, masakanmu ini sangat enak. Benar-benar mengingatkanku pada masakan ibuku," ucap Nio memuji.
Sang wanita memegangi pipinya malu-malu. "Ah, kau ini bisa saja. Ya ... Mau bagaimanpun, aku membuka restoran ini karena kurasa masakanku lezat, beberapa orang memang cocok dengan masakanku dan mereka mengatakan lezat, enak, atau apapun itu. Aku sangat senang mendengarnya," jelasnya.
"Sebenarnya aku juga membuka restoran," ujar Nio.
"Wah, di mana restoranmu itu?" tanya sang wanita.
"Apa kau kenal dengan restoran Vlamera?" tanya Nio balik.
Sang wanita memegangi dagunya dan menatap ke langit-langit. "Vlamera, ya? Hmm ... " Tak lama terbesit sebuah ingatan di kepalanya. "Vlamera- ya, iya ... Itu, kan- di kota Pertus, kerajaan Eternan?"
__ADS_1
"Naaaahh ... Benar itu," sahut Nio.
"Waaaah ... Aku tak menyangka pemiliknya itu adalah anak muda sepertimu. Kalian anak muda memang sangat pintar dalam membentuk bisnis, ya? Bahkan di usia muda sudah mengembangkan restoran yang namanya meroket dan terdengar di mana-mana," sang wanita memuji.
Nio berterima kasih padanya. "Maaf, nyonya. Aku tak bisa berlama-lama di sini, aku dan teman-temanku harus segera kembali ke kerajaan Eternan karena sudah terlalu lama pergi."
"Begitu, ya? Baiklah, terima kasih atas kunjunganmu- lain kali berkunjung lagi, ya?"
"Baiklah, nyonya."
Setelah pergi dan melambaikan tangan, Nio segera menyusul rekan-rekannya yang sudah pergi terlebih dahulu. Dia memang menyuruh mereka untuk pergi terlebih dahulu karena dirinya memang akan segera menyusul. Semuanya tahu bahwa Nio alias Lug ini memiliki kecepatan yang paling cepat di antara mereka semua. Tak ada yang lebih unggul darinya, entah dari segi kecepatan, ataupun yang lainnya.
Tak lama setelah itu, Nio benar-benar sudah menyusul rekan-rekannya yang sudah berjarak setengah hipagrit dari restoran. Mereka sudah berada tepat di perbatasan dan tepat di depan mata mereka adalah gerbang kayu pembatas antar kerajaan–pembatasnya memang buruk karena dari kedua kerajaan benar-benar tercipta kedamaian di keduanya. Dan ketika mereka melewati perbatasan, mereka akan langsung masuk ke dalam Hutan Belerang.
"Masuk ke hutan yang ada di depan sana itu akan langsung memasuki wilayah kerajaan Eternan," Nio memberitahu kepada Romeo.
Lelaki yang diajaknya berbicara itu mengangguk. "Baiklah, aku mengerti," sahutnya.
Suasana menjadi hening sejenak ketika mereka berjalan menuju ke hutan. Tetapi ketika berada tepat di depan perbatasan, Nio menghentikan mereka berempat.
"Ada apa, Nio?" tanya Cleo.
Tatapan Nio sangat tajam, mengarah pada Romeo. "Romeo, aku ingin bertanya dan memastikan sesuatu!" ucapnya dengan nada tegas. "Apa kau benar-benar kehilangan ingatanmu itu?"
Romeo mengangguk. "Aku kehilangan ingatanku seperti yang kauceritakan sebelumnya, aku hanya mengingat ingatan biasa seperti berbicara ataupun semacamnya."
Tatapan Nio semakin tajam dan sinis. "Itu berarti ... Kau berbohong kepada kami!" serunya.
"Apa?!"
Semua yang ada di sana terkejut, bahkan Romeo itu sendiri.
"Tunggu, Nio! Apa maksudmu Romeo berbohong? Dari mananya dia berbohong kepada kita?" tanya Cleo yang berusaha membela.
Romeo tersenyum melihat pembelaan tersebut, lantas ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Nio benar, aku membohongi kalian semua," ungkapnya seraya menelan ludah. "Tetapi kalian jangan salah paham dulu, aku memang memiliki ingatan milik Peter dan Petro. Tapi semua itu hanya ingatan biasa, seperti tempat-tempat yang mereka kunjungi, beberapa orang yang mereka temui- namun sayangnya, aku tidak bisa mengingat wajah ibuku sendiri."
Cleo merasa iba dengan cerita Romeo, tetapi lelaki itu belum selesai berbicara.
"Ketika aku melihat Nio memeluk kekasihnya tadi- dia sedikit membuatku iri, seakan aku ingim memiliki seorang kekasih sendiri. Mendengar pujian dari nona Cleo yang tadi di restoran, dan pembelaannya barusan, dia membuatku terpana akan aksinya itu," terang Romeo sembari memandang Cleo penuh akan harapan.
Sementara wanita yang ditatapnya itu tersenyum tidak percaya. "Kau ... Menyukaiku?" tanya Cleo.
Romeo mengangguk. "Aku menyukai dirimu, kau sangat cantik dan baik, menurutku- itu yang membuatku menyukaimu," ungkapnya.
"Romeo, aku merasa kasihan padamu yang kehilangan ingatan akan wajah ibumu sendiri, aku jadi ikut sedih," ucap Cleo dengan nada yang sedih.
Romeo menjadi murung. "Ya, begitulah ... Terima kasih atas simpatimu itu, Cleo."
"Iya, sama-sama."
Nio menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. "Sudahlah, sudahlah! Aku bertanya-tanya kenapa ini berubah menjadi kisah romantis kalian berdua, tapi itu tidak penting. Alasanmu itu memang alasan konyol dan bodoh, tapi entah kenapa itu malah membuatku percaya padamu," ujarnya. "Ayo kita cepat"
"Baiklah!"
__ADS_1
Bersambung!!