Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 28 - Aktivitas Mesum


__ADS_3

Nagisa telah selesai dengan ceritanya, itu membuat Raini terus memikirkan Lug. Gadis dengan rambut berwarna nebula biru itu masih kurang percaya dengan ceritanya, tapi semuanya tampak masuk akal. Dia hanya berpikir bahwa jika Nagisa memasuki tempat yang benar-benar mempengaruhi waktu, maka seharusnya Nagisa sudah sangat tua karena mengarungi waktu hingga tak terhitung lamanya. Tapi wajahnya terlihat lebih muda beberapa tahun, itulah yang membuat Raini bingung, namun itu juga yang membuat semuanya menjadi masuk akal.


Setelah mendengarkan keseluruhan cerita, Raini merencanakan sesuatu. "Nagisa, bagaimana kalau kita pergi ke restoran itu?" tanyanya menawarkan.


Nagisa menggeleng. "Perjalanannya akan memakan waktu hampir dua Minggu- dan orang-orang pasti akan berpikir, untuk apa kita jauh-jauh pergi ke kerajaan Eternan hanya untuk makan di sebuah restoran?" paparnya.


Raini menyeringai. "Orang-orang juga pasti sudah tahu bahwa restoran Vlamera cukup terkenal, wajar saja jika kita ingin mengunjunginya," sahutnya.


"Mereka pasti berpikir bahwa perjalanan ini sangat sia-sia dan cukup mencurigakan. Kenapa? Karena tujuan kita hanya makan dan pulang, sementara di tengah jalan kita juga pasti mengunjungi restoran restoran lain. Orang-orang berpikir, kita hanya mengunjungi restoran Vlamera hanya karena namanya saja yang terkenal, mungkin makanannya sama saja dan sedikit lebih enak dari buatan tangan," jelas Nagisa.


Raini merasa bahwa apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu sangatlah masuk akal. Semua orang pasti akan berpikir rasional, dan seharusnya mereka juga demikian.


Kemudian Nagisa tersenyum, dia seolah memiliki ide yang lain setelah melihat kekecewaan di wajahnya Raini. "Bagaimana kalau kita berkreasi saja? Bukankah kau itu pintar mengkreasikan makanan?"


Raini menoleh, dia ikut tersenyum. "Baiklah, kau benar-benar sahabatku," sahutnya.


Lalu mereka berdua segera menuju ke dapur. Mereka mempersiapkan semua alat dan bahan untuk memasak. Awalnya Raini meminta Nagisa untuk memasak terlebih dahulu tanpa instruksi darinya sama sekali. Dan hasilnya berkobar api pada wajan yang digunakannya untuk memasak itu.


Mereka berdua panik dan segera mengambil air untuk memadamkan apinya. Setelah apinya padam, mereka berdua saling menatap satu sama lain dan malah tertawa terbahak-bahak.


Setelah itu, Raini mulai mengajari Nagisa bagaimana caranya memasak. Mereka saling belajar mulai dari dasarnya.


Mereka belajar hingga sore tiba.


"Yaah ... Sepertinya sudah sore, aku akan pulang," ujar Nagisa.


Raini yang sedang membersihkan dapur pun menoleh. "Kau tidak ingin menginap?" tanyanya.


Nagisa menggeleng dan menjawab, "Tidak. Kamarmu baunya mesum, hehe ... "


Seketika itu wajah Raini memerah dan menjadi malu. "Nagisaaaa ... Jangan begitu! Aku tidak melakukan hal-hal seperti yang kaupikirkan itu!" serunya.


Wajah Raini yang malu terlihat sangat imut dan manis, membuat Nagisa sangat ingin untuk mencubit pipinya. "Ooh ... Mungkin kau melakukannya dengan lebih beragam lagi? Emm- sepertinya aku benar," ujarnya.


"Hmph! Aku membencimu, Nagisa!" seru Raini lagi seraya melemparkan wajahnya.


Pada akhirnya, Nagisa pulang juga. Apalagi hari sudah mulai petang dan terlihat sudah cukup gelap. Hingga sesampainya di asrama, dia mendengar suara siraman air dari dalam kamarnya. Nagisa tersenyum jahat kala itu juga. Lantas ia mengendap-endap masuk ke dalam, dan ternyata Phieri sedang mandi. Ruangannya itu masih gelap dan terlihat hanya di kamar mandi saja yang terang–terlihat dari celah pada pintunya.

__ADS_1


Tak lama berselang, Phieri keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk berwarna merah muda saja. Dia segera menyalakan lampu kamarnya.


WUUUSH


"AAAHHH!!!" desah Phieri.


Tiba-tiba saja ada tangan yang meraba dadanya dari belakang hingga membuat handuknya terlepas, dan ternyata itu adalah Nagisa yang sedang membalas dendam atas kejadian semalam.


"Rasakan ini! Biar makin besar!" seru Nagisa sambil tersenyum jahat.


Sementara tubuh Phieri tiba-tiba menjadi lemas, dia berusaha melepaskan tangan Nagisa yang meremas dadanya itu. "Le- lepaskan tanganmu ini ... Nagisa!" suruhnya sembari menahan rasa geli.


"Hahaha- kau sudah menyerah?" tanya Nagisa menertawakan.


"I-iya ... " jawab Phieri.


Dan Nagisa segera melepaskan kedua tangannya dari dadanya Phieri. Sementara gadis yang baru saja mandi itu masih merasakan sensasinya yang sangat menggelikan barusan. Dia segera mengambil handuknya dan menyelimuti sebagian tubuhnya dari dada hingga pahanya.


Mereka pun bercanda, tetapi Nagisa yang berhasil membuat Phieri kesal membuat Phieri itu sendiri malas menjawab segala perkataan Nagisa. Kini gadis yang baru saja mandi itu telah mengenakan pakaian tidur berwarna merah muda.


Selanjutnya, Nagisa berpikir tentang pertanyaan yang mungkin akan membuat teman sekamarnya itu tertarik. "Phieri, apa kau merindukan Zephyr?" tanyanya.


Duh- sepertinya aku membuat Phieri sedih ... Tapi ini adalah momentumnya, batin Nagisa. Dia tersenyum tipis. "Phieri, apa kau tak mendengar kabar bahwa status kebangsawan ayahnya telah dicabut oleh raja?" tanyanya.


Phieri menoleh perlahan pada Nagisa. "Aku ... Ya, aku sudah tahu itu," sahutnya. Dia menyembunyikan mulut dan hidungnya dibalik kedua lututnya. "Tapi dia- tetap saja, Zephyr adalah seorang anak bangsawan," Phieri melanjutkan.


"Apa kau tahu, Phieri?" tiba-tiba Nagisa hendak menceritakan sesuatu. "Kau pasti mengenal seorang gadis yang bernama Raini, kan?"


"Iya, aku mengenalnya," sahut Phieri.


Nagisa meneruskan, "Dia menyukai kakakku, Lug. Bahkan aku masih ingat bahwa kakak Lug sudah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya Raini, kau tahu sendiri bahwa Raini adalah anak dari keluarga Eveline, sementara keluarga Eveline memiliki sejarah yang bisa dibilang cukup panjang di kerajaan Da Nuaktha ini- bahkan seingatku, ada yang mengatakan bahwa dulunya keluarga Eveline sangat terkenal di tiga kerajaan tetangga."


Phieri tahu apa maksud dari cerita Nagisa. "Apa kau mengatakan bahwa aku bisa seperti kakakmu itu?" tanyanya.


Nagisa tersenyum hangat. "Semua butuh proses, semua membutuhkan waktu," ujarnya menasehati.


"Tapi- aku masih sangat malu untuk bertemu dengannya, aku ... Aku merasa gugup," sahut Phieri.

__ADS_1


Nagisa memegangi dagunya. Tak lama terbesit sebuah ide yang sangat cemerlang. "Bagaimana kalau begini, besok kan hari libur- nah, bagaimana kalau kau mencoba datang ke kediaman Azamuth? Aku akan memperkenalkanmu kepada ayahnya Zephyr ... Jika beliau sedang berada di rumah," katanya.


Phieri menjadi semakin ragu. Tatapannya kini berubah ke mana-mana.


"Ayolah, Phieri ... Kau bisa mencobanya, aku sangat yakin denganmu," tambah Nagisa.


"Apa ayahnya akan menyukaiku?" tanya Phieri.


Nagisa tersenyum. "Itu semua tergantung padamu. Tapi aku yakin, kau tidak akan mengecewakan tuan Antonio ... Kalau dia sedang di rumah. Lagipula ada Raini di sana, kalian bisa lebih akrab jika sering bertemu."


Raini menoleh dengan tatapan gugup. "Nagisa ... Kau tidak sedang ingin menjebakku, bukan?"


"Mana mungkin aku menjebakmu? Kita ini sahabat, aku yakin kau pasti bisa," Kat Nagisa.


Dan mereka pun berpelukan. Pada saat berpelukan, Phieri menyeringai jahat seolah sedang merencanakan sesuatu. Hingga ketika mereka selesai berpelukan ...


"Rasakan ini! Hahahaha- "


Phieri langsung menyerang dada Nagisa sebagai bentuk balas dendamnya tadi.


"AAAHHH!!! PHIERI, LEPASKAN!!!" teriak Nagisa yang terjatuh di ranjang.


Gadis itu sempat berpikir bahwa mengingatkan Phieri pada Zephyr adalah momentum sempurna untuk mengalihkan kekesalan Phieri, sehingga dia tak akan mengingat dengan apa yang dilakukan Nagisa padanya ketika selesai mandi tadi.


Di kamar sebelah, dua orang gadis mendengar teriakan tersebut. Mereka berdua tampaknya sedang membersihkan ranjang mereka masing-masing. Dan ketika mendengarnya, mereka saling melihat dan bertatapan dengan tatapan aneh. Ujung bibir mereka berkedut dan saling membayangkan hal kotor–kebetulan juga apa yang mereka berdua bayangkan itu sama.


"Kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya gadis yang tidur di ranjang atas.


"Mungkin saja sama ... Mereka ini sepertinya- melakukan aktivitas mesum, ya?" sahut yang di ranjang bawah.


"Untung saja asrama ini dijaga ketat, aku tak tahu apa yang terjadi jika ada lelaki yang bisa masuk ke dalam asrama di sini dan tiba-tiba mendengar suara ******* itu."


"Aku masih mendengarnya."


"Ya, aku juga."


Dan dari kamar sebelah, Nagisa masih berteriak, "PHIERI, LEPASKAN TANGANMU ITU!!!"

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2