Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 12 - Dataran Exter


__ADS_3

Dataran yang dipenuhi oleh dinginnya salju, dikelilingi oleh tiga gunung yang tinggi, sungai sungai yang membeku, dihiasi oleh beberapa hutan pohon cemara, dan berada di perbatasan kerajaan Tigerion dan kerajaan Yon, itulah yang dinamakan dataran Exter.


Nagisa telah tiba di dataran Exter tepat pada hari ini di siang hari dan seperti apa yang direncanakan–lima hari setelah beristirahat di tengah hutan.


Ketika hendak memasuki perbatasan dataran Exter, terdapat kubah angin yang sangat besar. Salju berhembus dari mana-mana. Pada saat itu juga, ada salah satu Ranker yang membukakan jalan agar tidak terkoyak oleh kubah angin tersebut. Sehingga semua Ranker dapat masuk dengan aman dan mereka meninggalkan kudanya di luar. Namun ketika di dalam kubahnya, angin masih berhembus dengan sangat kencang. Tetapi semua Ranker itu masih bisa menahan hembusan angin kencang tersebut.


Di dalam kubah angin itu, Nagisa bisa melihat banyak sekali pohon cemara yang menjulang tinggi. Banyak kabut salju yang berhembus dan menghalangi penglihatannya. Nagisa terus berjalan ke depan dan mengikuti pimpinannya, agar dirinya tidak tersesat.


"A-aku kurang tahu tempat ini, jadi ... Sebisa mungkin kita jangan berpencar. Tinggalkan tanda di sebuah tempat," ujar pemimpin kelompok.


Nagisa berkata, "Ada batu besar yang baru saja kita lewati barusan. Bagaimana kalau aku memberinya tanda?"


Semua orang setuju.


Nagisa pun segera kembali dan mencari di mana batu besar yang dilihatnya itu berada. Ketika menemukannya, ia langsung membuat tanda silang yang cukup besar. Ia segera kembali ke kelompoknya agar tidak terpisah.


WUUUSH


Tapi sayangnya, ada hembusan angin yang sangat kenceng hingga membuat tubuh Nagisa terhempas.


BRAAAK


Tubuhnya menghantam sebatang pohon cemara hingga hampir tumbang. "Agh ... S-sakit sekali ... " gumamnya kesakitan.


Hembusannya masih terus berlanjut hingga beberapa saat, bahkan membuat tubuh Nagisa hampir tidak bisa bergerak.


Gadis itu tak bisa bergerak hingga hampir setengah jam. Ia terus menyender di pohon cemara agar tidak terhempas lebih jauh lagi. Tubuhnya lemas tak bisa berdiri.


Sementara itu, anggota Ranker lainnya merasa bahwa Nagisa benar-benar terhempas oleh badai angin tersebut. Mereka tak bisa menunda misi yang telah dipercayakan kepada mereka begitu saja, lantas meninggalkannya tanpa mencarinya kembali. Mereka tahu bahwa jika mereka kembali dan mencari gadis itu, maka akan terjadi hal yang sama.


"Ah ... Mereka pasti meninggalkanku, aku juga tak masalah," gumam Nagisa yang tahu bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh rekan-rekannya.


Sebenernya Nagisa membawa pedang pemberian Vans di balik jubah miliknya itu. Dan itulah yang membuat tubuhnya semakin berat. Pedang putih ini sangatlah berat, tapi sebenarnya ini tidak terlalu mempengaruhiku. Yah ... Tidak berpengaruh jika aku masih bisa bergerak, gumamnya dalam hati.


Waktu telah berlalu selama hampir setengah jam lamanya, ketika itu Nagisa sudah bisa berdiri karena hempasan anginnya sudah mulai berkurang. Namun gadis itu sadar bahwa tubuhnya membeku, seluruh kulitnya dibungkus oleh lapisan es tipis dan salju.


KRAAAK

__ADS_1


"A-aduh!" Nagisa merasakan rasa sakit di sendi-sendinya yang terasa kaku. Ketika bergerak, seluruh es di tubuhnya mulai retak dan berjatuhan.


Nagisa mencoba mengangkat dirinya sendiri, meski kakinya bergetar hebat. Tapi akhirnya, ia sanggup untuk berdiri. Gadis itu mulai berjalan secara perlahan menerjang hembusan angin yang cukup kencang.


Nagisa pun berinisiatif menggunakan sihir Tubuh Api Tak Berwujud agar suhu tubuhnya meningkat perlahan dan dirinya tidak terlalu terpengaruh oleh dinginnya udara yang menerjangnya.


*****


Beralih pada Empat Topeng, mereka telah tiba sejak malam sebelumnya. Dirinya bersama dengan satu kelompoknya juga sempat bertemu dengan beberapa Ranker dari kerajaan Yon. Mereka saling menyapa dan ramah terhadap satu sama lain, tetapi Empat Topeng tidak menyapa mereka sama sekali. Ia tetap mempertahankan kepribadiannya yang dingin dan pendiam.


Ketika Empat Topeng masuk ke dalam kubah angin, mereka disambut oleh badai angin yang sangat kencang. bahkan tak jauh dari tempat dirinya dan kelompoknya datang, terdapat tornado yang cukup besar.


Sekarang ini lingkungan di dataran Exter dikatakan mencapai titik ekstrim yang berkali-kali lipat dari kondisi biasanya.


Keberangkatan Empat Topeng terpisah dengan para Ranker dari kerajaan Yon.


"Empat Wajah," panggil Topeng Merah alias Cleo. "Kau lihat itu?"


Alasan kenapa wanita itu dipanggil Topeng Merah, karena dirinya mengenakan topeng berwarna putih dengan corak garis-garis berwarna merah. Bahkan terdapat simbol air berwarna merah seperti tangisan darah.


Suatu kejadian terlihat oleh mata mereka.


"Ya, aku melihatnya," sahut Empat Topeng.


Mereka melihat ada empat Ranker yang sedang berjalan menuju ke tengah dataran.


"Setidaknya mereka berjarak sekitar satu hipagrit dari sini, untuk mengejar mereka butuh waktu dua jam dan kelihatannya- " ucap Topeng Jingga alias Leonardo. Topengnya berwarna abu-abu cerah, hanya memiliki satu lubang mata–mata kanan, sementara yang satunya diganti dengan garis berwarna kuning yang berupa mata tertutup–mirip seperti simbol matahari, dan terdapat garis di pipinya berupa kumis tiga garis. "Mereka adalah Ranker dari kerajaan Tigerion, dan ada juga- "


"Ya, si Kembar Gila!" Topeng Hitam alias Vernando menimpali. Topengnya berwarna hitam dengan corak garis zig-zag berwarna putih bulan di sebelah kiri, coraknya itu membuat topengnya terlihat seperti retak.


Sementara Empat Topeng tidak menggunakan topeng seperti yang lainnya. Ia hanya mengenakan masker hitam yang menutupi hidung dan mulutnya saja.


Empat Topeng memandang ketiga orang yang ada di bawah itu lamat-lamat. Berlangsung selama satu menit, ia pun memberi perintah, "Ayo bergegas!"


Mereka segera melompat dari tebing tersebut, lantas mereka merentangkan tangan dan kaki mereka, muncul sayap di antara tangan dan badan serta di antara kedua kakinya. Sehingga itu membuat mereka berempat terbang dari atas sana. Namun untuk mengurangi resiko, mereka segera mendarat ke tempat terdekat. Dan hanya dalam waktu yang sangat singkat, mereka sudah terbang dan menempuh jarak hingga dua ratus regrit.


Setelah mendarat, mereka segera bergegas menuju ke tengah-tengah dataran Exter.

__ADS_1


WUUUSH


Belum sepuluh menit berlalu, ada angin berhembus sangat kencang yang berlalu di depan mata mereka. Sehingga mereka berempat berhenti agar tidak terhempas oleh terjangan angin yang sangat cepat itu.


Jika aku melewati angin ini, mungkin bisa tahan. Tapi bagaimana dengan mereka? Batin Empat Topeng seraya melirik ke belakang. Tak berselang lama, ia menyadari sesuatu. Matanya terbelalak lebar. "Apa kalian menyadari sesuatu?" tanyanya.


Topeng Merah dan lainnya menggeleng.


"Kami tidak tahu," jawab Topeng Merah.


Lantas Empat Topeng pun menjelaskan apa yang ia sadari, "Sebenarnya dari awal semenjak memasuki kubah angin, aku sama sekali tidak merasakan mana pada hembusan yang ada."


Ketika itu semuanya tersadar.


"Benar juga, sedari tadi aku sama sekali tidak merasakan adanya mana," papar Topeng Jingga.


"Begitupun denganku," sahut Topeng Merah.


Topeng Hitam memegang dagunya. "Tapi sekarang, aku merasakan adanya sedikit mana di sekitar sini. Apanya yang aneh?" tanyanya penasaran.


Empat Topeng sempat terdiam, lantas ia berkata, "Ada yang mendorong kebangkitan Pusaran Angin Seribu Lengan."


Topeng Merah dan Topeng Jingga saling bertatapan karena bingung.


"Itu memaksa Pusaran Angin Seribu Lengan muncul, maka dari itu mananya tidak terdorong keluar dan hanya terhenti di tengah-tengah. Mana yang ada di tengah mendorong angin keluar sehingga badai yang ada di sekitar adalah hasil dari dorongan mana yang ada dari dalam," jelas Topeng Hitam.


"Baiklah, aku paham. Intinya kebangkitannya mendorong kekacauan mana di sekitar sampai keluar, tapi mana yang terdorong hanya sampai di tengah saja. Sementara kubah angin ini adalah residu kekacauan yang dihasilkan, namun tanpa adanya mana sama sekali, benar begitu?" papar Topeng Merah.


Pada saat wanita itu memaparkan, Topeng Jingga baru memahaminya.


Sementara Topeng Hitam dan Empat Topeng mengangguk.


Empat Topeng segera memberikan perintah lagi, "Ayo kita terus bergegas! Tapi berhati-hatilah, setelah ini akan ada perasaan kacau yang sangat parah akibat mana yang ada di sekitar."


Semuanya mengangguk paham.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2