![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Teressa memutuskan untuk menjemput Rakt. Sesampainya di bukit, dia melihat banyak sekali bercak darah yang membekas pada rerumputan dan ilalang. Teressa mengikuti bercak darah yang sepertinya mengarah ke suatu tempat. Dia melihat bercak darah yang menempel pada sebuah pohon cemara yang besar dan tinggi. Di bawahnya tergeletak badan seseorang yang mana itu adalah Rakt.
Teressa berteriak terkejut. Lantas segera menunduk dan berusaha membangunkan Rakt. "Rakt?! Bangunlah!"
Tetapi Rakt sama sekali tidak bergeming. Dia pingsan dengan darah yang mengalir bak sungai deras di pelipisnya. Tubuhnya terbaring tak berdaya, hampir seluruh pembuluh darahnya berubah warnanya menjadi hijau gelap. Teressa menggunakan sihir Telapak Tangan Cahaya untuk menyembuhkan pelipis Rakt.
"Bangunlah, Rakt!" Teressa mengelus pelipis Rakt, gadis itu panik. Teressa ingin sekali membawa Rakt pulang, tetapi ia tak sanggup untuk menggendongnya. Dan sihirnya hampir tidak bisa berbuat apa-apa. Luka yang diderita Rakt masih terbuka, darah segar masih mengalir dari luka tersebut.
Teressa menangis, memejamkan matanya, menempelkan kepalanya di perut Rakt. Dan mata Rakt tiba-tiba saja membuka, secara perlahan dan terlihat bola matanya masih memerah. Pupilnya membentuk huruf x, tetapi dia memiliki kesadaran penuh. Tubuhnya masih begitu lemah dan Teressa belum menyadarinya. "T-Teressa?"
Segera mendengar suara itu, Teressa bangkit. Ia terkejut dan berteriak, "Rakt?!" Lantas secepat kilat memeluk pria itu.
Rakt tersenyum, namun senyumannya perlahan memudar. Dia telah menyadari apa yang telah diperbuatnya terhadap Teressa. Seketika menyesal dan menangis, "Maafkan aku, Teressa. Kau terluka karena aku," ujarnya yang kemudian menangis tersedu-sedu.
Teressa bangkit lagi, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tak terasa menetes air di matanya. Teressa mengusap air matanya, lantas berdiri. "Rakt, apa kau sanggup untuk berdiri?" tanyanya.
Rakt mengngguk, "Ya, aku bisa. "
Kemudian Teressa mengulurkan tangannya dan membantu Rakt berdiri, sementara lelaki itu hampir kehilangan keseimbangannya ketika berhasil berdiri tegak. Dan ketika hendak mencoba untuk berjalan, lagi-lagi Rakt hampir terjatuh, Teressa membantunya berjalan sembari pria itu berjalan tertatih-tatih.
"Kau yakin ingin terus berjalan seperti ini?" Teressa mencemaskan. "Sepertinya kau bahkan hampir tak sanggup untuk berdiri." Wajahnya murung, berusaha untuk meyakinkan Rakt agar tidak terlalu memaksakan diri.
Tetapi Rakt bersikeras untuk tetap berjalan. Pertanyaan dibalas dengan senyuman hangat yang penuh keyakinan. "Setelah ini, aku ingin memberitahumu tentang sesuatu," ujarnya.
"Apa itu?" Teressa penasaran.
Tetapi Rakt enggan untuk memberitahukannya sekarang. Dia menggeleng dengan cepat dan memberi Teressa senyuman lagi. Sementara gadis itu sedikit kesal seraya menggembungkan pipinya.
"Haha, kau kesal?"
"Terserah kau saja, lah- hmmph." Teressa memalingkan wajahnya dan matanya malas untuk menatap Rakt. Namun sesekali melirik pria itu dengan penuh rasa simpati. Teressa tahu bahwa tak semua orang terlahir dengan kutukan, dan kutukan sendiri bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Menyenangkan? Jauh dari kata itu, justru kutukan adalah kesialan yang mungkin saja dialami seumur hidup seseorang.
Setelah beberapa saat menuntun Rakt berjalan, mulut Teressa terbuka perlahan, tatapan matanya masih enggan untuk menatap Rakt–lebih mengarah pada rerumputan yang dilaluinya. "Rakt," Teressa memanggil. "Aku tahu ... Kesulitan yang ... K-kau lalui." Ucapannya terbata, Teressa takut itu menyinggung pria di sampingnya.
Rakt menyunggingkan bibirnya, memberikan senyuman tipis yang hampir bukan senyuman. "Kau sudah mendengarnya, ya?" sahutnya. Matanya berkaca-kaca, "Jarang sekali aku mendapatkan ungkapan seperti itu. Bahkan aku sampai mengira ... Hanya orang tuaku saja yang sepertinya pernah mengatakan hal seperti itu. Dan adikku ... " Tiba-tiba kalimatnya terhenti.
Teressa penasaran akan kelanjutannya. "Apa dia seperti orang lain? Pedulikah dia padamu?" Dengan cepat bola matanya berputar dan terkunci pada mata Rakt.
"Tidak!" jawab Rakt. "Justru ... Dia lah yang paling peduli padaku. Terakhir kali, suatu malam ketika aku tertidur dengan pulas, dia mencoba suatu hal-kupikir itu adalah formasi sihir yang cukup masif, dia mencoba untuk menyingkirkan kutukan yang ada dalam diriku. Aku tersadar pada malam itu, dan ketika Lug menyadarinya, dia langsung beranjak keluar dan tidur di kamarnya-di rumahku."
Seketika Teressa tertegun mendengarnya, langkah kakinya pun ikut terhenti. Tatapan matanya kini terkunci pada wajah Rakt.
"Kau tak percaya, bukan?" celetuk Rakt. "Ya, dia adalaha jenius di desa ini. Mungkin kau belum pernah mendengar adikku sudah menguasai berbagai macam sihir tiga lingkaran."
__ADS_1
Teressa menggelengkan kepalanya lagi dengan sangat cepat dan mengedipkan matanya berulang kali. "Tidak, tidak," sahutnya. "Lug pernah memperlihatkannya di hadapanku."
Rakt memberikan ekspresi kagum kepada Teressa. "Kau mungkin adalah orang yang istimewa, ya, kau mungkin saja istimewa," tukasnya.
Teressa terkejut, "Kau bercanda? Apa maksudmu? Dia menjengkelkan, aku bahkan sudah mengatakan ini padanya, aku tidak suka dia. Ya, awalnya dia memang menolongku, tapi entah ada suatu hal yang membuatku seolah terus menerus berada dalam jurang ketakutan. Aku bahkan pernah mengira dia itu monster, bagaimana tidak? Beruang besar saja tiba-tiba tumbang ketika Lug menatapnya, sihir macam apa itu?" keluhnya. Dan sekarang, Teressa baru saja sadar siapa yang sedang dia ajak bicara. Ketika memandang mata Rakt, Seketika Teressa menunduk tak enak hati. "Ah, maaf. Lug itu adikmu, aku terlalu terbawa emosi. Yah, kau harusnya mengerti ... Sekali lagi, aku minta maaf."
Bukannya marah, Rakt justru senang mendengarkan curhatan Teressa. Itu karena baru kali ini ada seorang gadis yang menceritakan isi hatinya yang sebenarnya kepada Rakt. "Kenapa harus minta maaf? Dia memang seperti itu, agak dingin terhadap orang lain," ujarnya.
Teressa tersenyum perlahan, semakin lama semakin lebar. Tetapi senyumannya sayu, itu membuktikan bahwa dia masih merasa bahwa ucapannya itu terlalu kasar. "Jadi kau memaafkanku?"
"Memangnya apa yang perlu dimaafkan?" Rakt memasang wajah penuh keceriaan dan kesenangan. "Kau tidaklah salah, seperti itulah Lug. Kau harus mengerti dia, aku yakin kau bisa dekat dengannya, Teressa." Senyumannya belum memudar, namun itu terlihat semakin hangat tiap detiknya.
Teressa tiba-tiba tertawa, tak terasa air matanya kembali menetes. Dan diikuti oleh Rakt yang senang melihat gadis tertawa karenanya. Oh, kupikir tiap waktu aku bisa dekat dengan gadis seperti ini, batin Rakt. Ketika tawanya berhenti, ia menghela nafas yang panjang–penuh perasaan tak tertahankan. Ya, aku juga tak yakin di kedepannya Teressa akan terus bersamaku. Di luar sana, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dariku. Rakt terus menggumam dalam hatinya, terus merasa dirinya itu tak pantas untuk seorang wanita yang berhasil mencuri hatinya.
Ketika melewati dua pohon berdampingan, Rakt melirik ke arah sesuatu di antara kedua pohon itu. "Aduh," gumamnya. "Aku lupa kalau sudah bawa dua rusa itu."
Teressa menoleh ke tempat yang dimaksud oleh Rakt. Dia juga melihat dua mayat rusa yang tergeletak di antara ilalang. Kemudian tatapan matanya merendah, bibirnya merapat. Wajahnya terlihat begitu serius, seakan pikirannya sedang memikirkan ribuan hal dalam satu waktu. Beberapa saat kemudian, bola matanya tertuju pada Rakt, "Tinggal saja," kata Teressa. "Aku akan kemari lagi nanti, toh aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini."
Ucapan Teressa membuat Rakt tersentuh, dia sempat termenung sesaat dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bagaimana kalau begini," Rak menyarankan. "Kau tak usah pedulikan aku, lagipula aku masih bisa berjalan sendiri-percayalah!" Dia berusaha meyakinkan Teressa, tapi gadis itu masih tetap merasa resah.
Dengan penuh keraguan, Teressa pun berkata, "Baiklah, silahkan saja. Jangan jatuh selagi aku membawa dua rusa itu." Gadis itu juga ingat bahwa dia sentiasa membawa sebuah tali tampar sepanjang hampir dua regrit dan tebalnya melebihi ibu jari pria dewasa di dalam saku celananya. Kemudian Teresssa melepaskan tangannya dari badan Rakt perlahan. Ia masih terus mengangkat tangannya, berjaga-jaga apabila Rakt tiba-tiba terjatuh. Dan benar saja, Rakt kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Untung saja Teressa sigap dalam menangkapnya. "Kubilang apa?" tegurnya. "Berdiri saja kau hampir jatuh, takkan kubiarkan kau berjalan sendirian!"
Rakt hampir tak bisa berkata-kata. Ia sangat marah terhadap dirinya sendiri karena tak berdaya. Rakt bahkan hampir mengatakan bahwa dirinya bukan lagi seorang lelaki, berdiri saja masih dibantu seorang gadis, apa-apaan aku ini?!
"Kita ambil saja rusa rusa itu lain kali," kata Teressa. "Toh aku juga bisa berburu ... Mungkin." Yang terakhir itu hanya berbisik, tetapi Rakt mendengarnya dengan jelas. Hanya saja lelaki itu tak dapat berkata apapun lagi, dia tetap diam dan mendengarkan apa yang Teressa katakan.
Dan kemudian, entah darimana datangnya tapi tiba-tiba saja muncul kekuatan pada tangan Rakt. Kedua tangannya tidak mati rasa, bahkan terasa seperti sehat sehat saja–meskipun masih terasa sakit di bagian yang terluka. Lanta Rakt menoleh pada Teressa dengan cepat, "Teressa, berikan tali itu padaku, kumohon," pintanya dengan memelas.
Teressa sedikit tidak mempercayainya, dia bertanya-tanya, memangnya tali itu untuk apa? Wajahnya masih terlihat meragukan Rakt. "Jangan bilang kau akan menarik dua rusa itu?" tanyanya memastikan. Dengan cepat Rakt mengangguk, wajahnya terlihat seperti anak kecil yang sedang ditawari permen. Tapi sayangnya Teressa menolak, "Kau menarik dua rusa itu," katanya. "Sementara aku sedang memapahmu berjalan, apa kau tidak berpikir itu akan seberat apa bagiku yang seorang gadis kurus ini?"
Mata Rakt membelalak, ia menyadari ucapan Teressa ada benarnya. "Maaf, " ucapnya penuh sesal. Nada bicaranya sangat rendah, hingga suaranya hampir tidak terdengar. "Kau benar. Ya, mungkin aku terlalu bodoh untuk memikirkan hal-hal sepele seperti itu. Apa aku tampak seperti seorang idiot?"
Teressa menggeleng. Dia paham apa yang Rakt katakan. "Tak apa-apa. Kau hanya ingin berusaha saja, itu terlihat jauh lebih baik daripada kau memanfaatkan seorang gadis sepertiku," terangnya malu-malu. "Ya, seperti tiba-tiba meraba-raba tubuhku atau semacamnya."
Rakt sedikit tersinggung akan hal tersebut. Dia melemparkan tatapan penuh pertanyaan pada Teressa. Bagaimana tidak, Rakt adalah seorang lelaki, dan jelas apa yang Teressa katakan itu memang benar-benar ditujukan untuk menyindir lelaki. "Teressa, aku bukan orang seperti itu," Rakt mengakui. "Jangankan berusaha untuk meraba, aku pun bahkan hampir tak berani menatap matamu ... Em, maksudku seorang gadis secara langsung."
Teressa tertawa kecil, "Haha, kau benar-benar tersinggung, ya? Maaf," ucapnya.
Namun itu membuat Rakt kembali menyunggingkan senyumnya. Rakt tidak sedang melawak, tidak sedang melontarkan lelucon, atau hal-hal yang melucu lainnya, akan tetapi seorang gadis yang merangkulnya, menuntunnya berjalan, tertawa karena dirinya. Itu jelas sudah cukup membahagiakannya. Alasannya adalah tak pernah ada seorang gadis yang tersenyum ketika melihatnya, kebanyakan langsung memasang wajah takut dan lesu ketika melihatnya. Kemudian membicarakannya di belakangnya–sungguh menyedihkan.
Dan Teressa tiba-tiba menyadari ucapan Rakt–beberapa kata. Apa Rakt menyukaiku? Lantas ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak, tidak! Mungkin maksudnya adalah gadis gadis yang pernah ditemuinya.
Rakt menyadari tingkah laku Teressa yang aneh. "Kau kenapa?" tanyanya.
__ADS_1
Segera Teressa menoleh pada Rakt dengan wajah merah padam. "Ah, tidak tidak tidak," dia terlihat panik. "Aku ... Kau tahu, posisi seperti ini membuatku agak panas-ya, kau tahu lah, ini agak sesak."
Lalu Rakt kembali murung, dan dengan cepat ia merubah ekspresinya lagi. Dia tahu bahwa muka murungnya itu akan banyak menimbulkan pertanyaan bagi Teressa. Rakt tak ingin gadis itu menginterogasinya.
Mereka pun berjalan sampai ke semak semak yang sebelumnya digunakan Teresssa untuk bersembunyi. Rakt tiba-tiba saja terpikirkan untuk beristirahat terlebih dahulu. "Bagaimana kalau kita di sini dulu? Kaki kananku penat sekali, apalagi kedua telapak kakiku berdarah karena tergores sebelumnya," pintanya.
Teressa menoleh padanya lagi, dia tersenyum tipis dengan tatapan hangat. "Baiklah." Kemudian duduk secara perlahan dengan disangga oleh Teressa.
"Terima kasih," ucap Rakt. Setelah itu, Teressa kembali berdiri. "Mau ke mana?"
"Aku akan kembali mengambil dua rusa tadi."
"Apa kau tidak mau beristirahat dulu?"
"Aku memang capek, tapi mau bagaimana lagi? Dua rusa tadi-daripada tidak diambil?"
"Ada benarnya, tapi istirahatlah dulu."
Teressa menggeleng dengan senyuman di bibirnya yang terlihat lelah, seakan-akan bibirnya itu akan lepas dari wajahnya yang berbentuk segitiga terbalik itu. Tatapan matanya juga memang seperti orang kelelahan, tetapi Teressa tetap berkeras untuk membawa dua rusa tadi. "Aku akan segera kembali," ujarnya. Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Rakt.
Dari belakang Rakt berteriak, "SANTAI SAJA! TAK USAH TERBURU-BURU, KALAU PERLU ISTIRAHAT DULU DI SANA!!!"
Teressa menoleh, ia mendengar dengan jelas teriakan Rakt. Teressa tersenyum hingga hampir tertawa, memperlihatkan rentetan giginya yang putih mengkilap. Lantas kembali berbalik dan seakan teriakan Rakt itu menghilangkan separuh rasa penat yang dirasakannya–langkahnya menjadi sedikit lebih cepat.
Dan lima belas menit kemudian Teressa telah kembali membawa dua rusa yang telah dibunuh oleh Rakt. Dia menyeretnya hingga ke tempat di mana Rakt sedang beristirahat. Dan di sana, pria itu sedang mencoba berdiri. Dahinya dilipat hingga kedua alisnya hampir saling menyambung satu sama lain, tatapan matanya terlihat sangat serius dan menyeringai, tubuhnya terbungkuk bungkuk–mencoba menyeimbangkan tubuh, kakinya bergetar hebat, dan peluh di pelipisnya mengucur bak sungai. Usahanya itu dilihat dengan jelas oleh Teressa, gadis itu kagum dengan tekad Rakt. Teressa melepaskan tali tamparnya dan berusaha menyelinap untuk melihat lebih dekat lagi. Namun Rakt menyadari aroma Teressa, dia refleks menoleh dan terkejut pada saat itu juga. Rakt pun terjatuh, pantatnya menghantam tanah dengan sangat keras.
"Aduhduhduh!" Rakt mengaduh kesakitan.
Seketika Teressa mengurungkan niatnya untuk menyelinap itu. Semula yang langkahnya mengendap-endap, kini ia berderap dengan cepat untuk menolong Rakt. "Rakt! Kau tak apa-apa?" tanyanya memastikan.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Rakt sambil menyeringai kesakitan. "Saking baiknya, tulang di pantatku hampir hancur semua."
Sekarang Teressa malah kebingungan. Dia menoleh ke kanan dan kiri, berharap ada seseorang yang lewat dan membantunya. Tapi sayang, seperti orang tua yang bertemunya tadi adalah satu-satunya orang yang ke hutan ini selain Teressa dan Rakt.
"Maaf, aku tadi tiba-tiba menyelinap dan membuatmu kaget. Kupikir aku ingin melihatmu dari balik semak-semak, tapi kau sudah menyadariku," ucap Teressa.
Rakt tersenyum tipis sembari menahan rasa sakit, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku bisa ... Mencium aroma tubuhmu," sahutnya.
"Tunggu dulu, apa?!" Teressa terkejut, tapi dengan cepatnya ia kembali tersadar bahwa menyelamatkan Rakt jauh lebih penting. "Ah maafkan aku. Aku mungkin paham dengan ucapannya barusan, kuharap kau bisa menjelaskannya nanti," ucap Teressa sembari meraih tangan kanan Rakt dan merangkulkan tangannya di leher Teressa. Gadis itu mengangkatnya berdiri dan kembali berjalan dengan perlahan.
"Maaf, aku merepotkanmu," ujar Rakt. Tatapannya begitu rendah, tanpa semangat dan penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan," sahut Teressa dengan senyuman penuh kehangatan. Rakt tidak melihatnya, dia seolah malu dengan kondisinya. Dan dua rusa sebelumnya ditinggalkan lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung!!