![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Zephyr masih merasa ragu dengan keputusan Lug yang menyuruhnya menguasai sihir lima lingkaran, apalagi sebelum ini anak itu juga diberi beban bahwa setidaknya harus bisa menguasainya dalam jangka waktu yang dekat. "Apa menurutmu ini tidak terlalu berlebihan, Lug?"
"Tidak," Lug menggeleng.
Hanya bisa pasrah, Zephyr menghembuskan nafas panjangnya.
Lug tersenyum. "Zephyr," panggilnya. "Aku akan menjelaskan sedikit tentang maksudku."
Zephyr merasa tegang pada saat ini. Jelas saja melihat Lug yang mulai berbicara dengan nada yang serius, bahkan Nagisa juga memasang telinga dan matanya baik-baik.
Lug berdiri. "Apa kau tahu, Nagisa itu memiliki sumber mana yang cukup besar. Dan aku juga melihatnya ada di dalam dirimu," katanya seraya menunjuk Zephyr.
Sementara orang yang ditunjuknya itu malah kebingungan. "Aku?"
Dan Nagisa tiba-tiba menelan seraya wajahnya yang terlihat mulai merasa resah.
"Iya, kau, siapa lagi?" Lug kembali menjelaskan, "Nagisa memiliki sumber mana yang bisa dibilang sangat besar. Tapi kau sekarang hanya memiliki sumber mana setidaknya- penggunaan sihir empat lingkaran lima kali berturut-turut, dan masih bisa ditingkatkan lebih jauh lagi. Melalui berkah misterius yang ada di dalam dirimu, itu menciptakan potensi tanpa batas yang terbenam di dalam dirimu. Yakinlah, kau pasti bisa, aku juga akan menuntunmu."
Tiba-tiba saja Zephyr merasa semangatnya mulai membara. Dia seakan yakin dengan apa yang Lug katakan, dan jelas itu sangat memotivasi dirinya. "Aku harusnya memikirkan hal seperti itu sejak dulu, terima kasih karena telah membuatku termotivasi," ujarnya.
"Kau itu dari tadi berterima kasih terus, tapi- ya sudahlah, aku harusnya berkata, sama-sama."
Lantas pandangan mata Lug beralih pada Raini yang berada di belakang Zephyr.
Raini menatapnya dengan mata yang galak. "Apa lihat-lihat?!" serunya dengan nada yang tinggi.
"Wuis, galaknya ... " ucap Lug.
"Hmph!"
Nagisa bingung melihat tingkah laku mereka berdua, seolah mereka sudah kenal dekat. Membuatnya menjadi sedikit cemburu dan memeluk tangan Lug dengan sangat erat.
"Nah, tuh, lihat! Gadismu memelukmu, jangan lihat aku lagi!" bentak Raini.
Zephyr dan Lug tertawa.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya gadis itu.
"Lug, situasimu seperti sedang diperebutkan dua orang gadis, hahahaha ... " Zephyr meledek.
Tiba-tiba wajah Raini memerah, begitupun dengan Nagisa. Tetapi Lug malah diam dan wajahnya menjadi datar. "Diamlah! Itu tidak lucu," serunya.
Tetapi Zephyr masih terus tertawa hingga pada akhirnya Nagisa melepaskan pelukannya dan membiarkan Lug berdiri serta memukul kepala temannya itu.
Zephyr mengaduh, "Aduh duh!"
Hingga Lug mulai melirik Raini lagi. "Namamu, Raini, kan? Tunggu tunggu! Jangan menyela, aku tahu kau akan menyela ucapanku," ucapnya.
Gadis yang diliriknya itu menatap Lug sebal karena tahu bahwa dirinya akan menyela kalimat barusan.
"Mungkin ini akan sedikit menyinggungmu, tapi jika berkenan, aku akan menunjukkan sesuatu yang mungkin berkaitan dengan 'rambutmu' itu, bagaimana?"
Dan benar saja, Raini terlihat seperti marah hanya dengan melihat tatapan matanya saja yang seolah hendak memukul wajah Lug pada saat itu juga. Dia mengepalkan jari-jari tangannya dan menggertakkan giginya pula.
Situasi itu juga dilihat oleh Zephyr, wajahnya mulai tampak serius seakan siap untuk menengahi jika ada keributan yang terjadi di antara Lug dan Raini. Dia juga tahu bahwa pastinya jika ada obrolan yang membahas tentang rambut Raini, gadis itu pasti akan tampak berbeda dan selalu marah.
"Wow wow, tenanglah, aku sudah bilang bahwa aku tidak bermaksud menyinggungmu," ujar Lug.
Raini hanya diam saja dengan tatapannya yang seolah mengancam kehidupan seseorang. Nagisa juga sigap dengan memberikan tatapan yang sama kepada Raini.
"Sepertinya, malam ini aku akan menginap lagi di rumahmu, Zephyr," kata Lug.
Nagisa menduga sesuatu, dia jadi berpikir yang aneh-aneh kepada Lug. Ada apa dengan kakak? Apa kakak Lug menyukainya? batinnya resah.
Benar saja, ucapannya itu membuat Raini membenci Lug. Dia tahu bahwa lelaki itu pasti akan berbicara tentang rambutnya karena pernah melihatnya secara langsung. Aku tidak suka pria itu!
*****
Di malam harinya, Lug benar-benar menginap di rumahnya Zephyr. Antonio juga dengan senang hati menyambutnya, bahkan ia menyuguhkan banyak sekali makanan. Dia senang karena Lug sepertinya benar-benar berhasil untuk menyembuhkan Zephyr.
"Oh iya, paman," Lug memanggil.
__ADS_1
Dia sekarang sedang berada di sofa yang mana dulu ketika dirinya pertama kali bertamu, ia duduk di tempat yang sama. Namun sekarang Lug terlihat jauh lebih santai dan di sana juga ada Zephyr yang duduk bersamanya dan Antonio yang duduk di sofa seberangnya.
"Kenapa setiap kali kulihat Raini berlatih di kamar batu yang ada di belakang, dia seperti selalu kesulitan untuk mengendalikan sihirnya?" tanya Lug.
Raini yang sedang berada di kamarnya yang mana itu berada di lantai dua juga mendengarkannya. Tetapi dia menghiraukannya.
Antonio malah memasang wajah kebingungan. "Aku juga tak tahu, ayah dan ibunya mengatakan bahwa itu karena rambutnya. Justru kupikir kau tahu sesuatu, haha," jawabnya.
Lug tersenyum. "Sebenarnya aku hanya memastikan saja, tapi sebelum itu, apakah tato di tangan Zephyr sudah menghilang lebih dari setengahnya?" tanyanya.
"Iya, bahkan tatonya masih tersisa sedikit saja," Antonio menjawab.
Lantas tanpa disuruh, Zephyr langsung membuka sarung tangannya dan memperlihatkan tato yang ada di tangannya. "Haha, aku lupa kalau ini sudah di rumah, jadi aku masih memakainya," katanya.
Lug mengamati baik-baik tangannya Zephyr. "Kau seharusnya sudah boleh memunculkan sumber jiwamu, aku menulis caranya di buku yang kuberikan padamu siang tadi." ujarnya.
"Begitukah? Kalau begitu setelah ini akan kucoba, tapi mungkin butuh waktu," sahut Zephyr.
"Nagisa langsung bisa dalam sekali percobaan."
"Hah?!"
Zephyr hampir tak percaya mendengarnya. Tapi dia tahu bahwa adiknya Lug juga menjadi jenius yang telah mendapatkan token sumber jiwa dengan nama Bintang Heksagonal–karena memang pada saat itu Nagisa secara tak sengaja menemukan adanya bintang yang membentuk garis heksagonal pada sumber jiwanya yang berbentuk galaksi secara mendetail bahkan pada bintang-bintangnya.
Ketika itu Antonio sontak bertanya, "Buku apa memangnya yang kalian maksud?"
Zephyr mengeluarkan buku pemberian dari Lug. "Buku ini, di dalamnya terdapat catatan catatan tentang berbagai sihir empat dan lima lingkaran sihir. Ada juga di dalamnya terdapat beberapa metode penggunaan sihir," jelasnya.
Antonio terkejut mendengar bahwa di dalam bukunya terdapat catatan tentang sihir lima lingkaran. "Sihir lima lingkaran? Di buku itu? Apa nama sihirnya?" tanyanya beruntun seraya merebut buku di tangan Zephyr.
"Kurasa ada tiga yang kulihat barusan, kalau tidak salah salah satunya bernama Pusaram Api Gelap Raksasa, ada gambar sebuah tornado di sebelah tulisannya," jawab Zephyr.
Segera Antonio membuka tiap lembar per lembar untuk mencari sihir yang sesuai dengan yang disebutkan oleh anaknya. Ketika sudah menemukannya, betapa terkejutnya bahwa sihir tersebut benar-benar adalah sihir lima lingkaran. Dia juga baru menyadari bahwa tiap lembar yang telah ia buka barusan adalah sihir sihir empat lingkaran. "L-Lug, ini ... A-apa ini benar kau yang menulisnya?" tanya Antonio tergagap.
"Iya, aku sendiri yang menulisnya, khusus untuk Zephyr," jawab Lug.
Ketika kepala keluarga Azamuth itu membuka lembaran yang sebelumnya, ia melihat ada catatan tentang sebuah sihir empat lingkaran, "Lingkaran Cahaya?" Melihat gambar yang ada pada halaman kertas di sebelahnya, ia melihat adanya gambar seseorang yang terikat oleh tiga buah benda yang berbentuk seperti cincin berwarna putih.
"Itu sihir yang bagus," ucap Lug. "Sesuai dengan karakteristik sihir dan berkahnya Zephyr yang elemen utamanya adalah cahaya yang cukup solid."
Antonio tidak menggubris ucapan Lug sama sekali, dia masih terus menatap buku yang dipegangnya.
Zephyr yang menyadari ayahnya yang tidak menghiraukan ucapan temannya lantas berkata, "Ayah, kau seolah seperti tidak pernah melihat buku sihir saja."
Antonio menoleh padanya. "Tidak tidak, bukan seperti itu!" katanya. "Apa kau tahu, ada beberapa sihir yang ada di dalam buku ini yang sama sekali tidak pernah kudengar."
"Ya, mungkin itu beberapa sihir baru."
Lug menginterupsi, "Kau salah, justru beberapa sihir yang ada di buku itu adalah peninggalan dari keluarga Elaksaza yang telah hilang dan dilupakan."
"Apa?!"
Zephyr dan Antonio terkejut.
"Kalian terkejut seolah seperti sedang mendengar kabar ada iblis memasuki kawasan rumah kalian saja," ujar Lug.
Seketika itu juga Raini turun. "Lug! Maaf, tuan Debu Bintang!" serunya. "Tapi kau sudah terlalu jauh untuk mengetahui apa yang ada di dalam keluarga Azamuth, memangnya kau itu siapa?! Dari tadi kudengar kau itu seakan sedang sok tahu di depan kepala keluarga Azamuth!"
Setelah turun, Antonio langsung berdiri dan berusaha menenangkan Raini. "Sudahlah, dia memang sudah tahu, memangnya kita harus melakukan apa? Lagipula dia bukan musuh atau seorang buronan. Jangan seperti itu lagi, oke?" ucapnya menasehati.
"Paman Antonio? Kenapa kau malah membelanya? Apa kau tak curiga dengannya karena telah membocorkan banyak informasi secara terang-terangan seperti ini?" papar Raini.
Antonio menghembuskan nafas pendek dengan keras, memejamkan matanya sejenak, lantas menatap gadis di depannya dan memegang bahu gadis tersebut seraya berkata, "Raini, kau mungkin belum tahu apapun tentangnya, tapi kumohon kau jangan membencinya. Curiga? Pastinya iya, tapi dia juga adalah harapan untuk kesembuhan Zephyr, mau tak mau jelas aku mempercayainya karena juga tahu banyak tentang sejarah keluargaku."
Raini tertegun mendengarnya, wajahnya mulai memelas dan mengalihkan pandangannya.
Kata-kata yang bagus, tuan Antonio, puji Lug dalam hati.
Raini hendak menangis, tetapi Antonio segera menghiburnya.
Lug malah tersenyum. "Hei, Raini," panggilnya. "Sebenarnya aku bukan menatapmu cabul pada saat itu."
__ADS_1
Raini tidak mempedulikannya.
"Coba kulihat apa kau cocok dengan ini?" Lug memperlihatkan sumber jiwanya dan ia juga memperlihatkan bagaimana dirinya mengendalikan sumber jiwanya.
Tak dapat dipungkiri bahwa Zephyr, Antonio, dan Raini terkejut melihat apa yang sekarang Lug lakukan. Hal seperti itu hanya terjadi ketika seseorang memiliki sumber jiwa dengan kelangkaan wujud tingkat legenda atau di atasnya.
"JUJUR KAU SELALU MEMBERIKAN KEJUTAN YANG TAK PERNAH KUSANGKA-SANGKA!!!" teriak Antonio. Dia tahu bahwa Lug pasti tidak benar-benar menunjukkan sumber jiwanya yang asli ketika diperiksa.
Jelas saja bahwa tingkat kelangkaan wujud legenda hampir tidak pernah terlihat lagi sejak beberapa abad silam di kerajaan Da Nuaktha. Tapi ketika melihat bagaimana Lug memperlihatkannya, itu benar-benar sesuatu yang heboh.
"Maaf, tuan, tapi aku bukan sekedar memamerkan sumber jiwaku, tapi ini pasti akan membuat Raini tertarik," kata Lug.
Pada saat itu, ketika anak itu memperlihatkan adanya bola-bola alam semesta di dalam sumber jiwanya, itu semakin membuat Antonio dan yang lainnya menjadi semakin berdebar jantungnya. Semakin jauh, ada banyak lagi konsep yang tidak dimengerti, seolah semua yang mereka lihat tadi adalah proyeksi semata dari seseorang yang menggambar di kertas, tapi yang mereka lihat tadi sangat jelas bahwa itu berupa tiga dimensi, bukan gambaran yang berupa dua dimensi. Jauh, semakin jauh, dan sangat jauh lagi, itu memperlihatkan berbagai macam hal eksotis yang membingungkan mata mereka. Hingga pada titik di mana Lug mempercepatnya hingga triliunan kali lipat, dan sampailah dia pada tujuannya, titik kekosongan dan kehampaan, di mana di sana benar-benar kosong dan tidak ada apa-apa.
"Kenapa semuanya menghilang?" Antonio bertanya.
"Ya, kenapa malah tidak ada apa? Kau mau memperlihatkan apa? Ini?" Zephyr menimpali.
Lug mengangguk. "Memang ini."
"Kau bercanda, ya?"
Zephyr tak percaya dengan apa yang Lug katakan. Tetapi Lug tiba-tiba menunjuk Raini yang mana dia ternyata terpengaruh dengan 'kekosongan' tersebut. Warna rambut gadis tersebut bergerak dan seolah warnanya terdistorsi–warnanya juga semakin lama semakin memudar pada warna hitam. Tatapan matanya menjadi kosong, namun ia kembali tersadar.
Tunggu, apa jangan-jangan anak ini menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan Raini? Batin Antonio.
"Lihat?" ucap Lug. "Aku tidak berbohong kepada kalian."
Zephyr pun langsung bertanya karena kebingungan, "Kenapa bisa Raini seperti itu? Apa sebenarnya itu, Lug? Padahal aku tidak melihat apa-apa di dalam sumber jiwamu."
Lug malah tertawa, "Hahaha."
Zephyr malah semakin kebingungan, sementara Antonio sangatlah antusias dan wajahnya terlihat seperti sedang memikirkan banyak pertanyaan dalam satu waktu. Raini juga malah bingung sendiri, tapi 'kekosongan' yang diperlihatkan oleh Lug itu seolah-olah adalah magnet yang terus menarik mata gadis itu setiap kali hendak melihat yang lain.
"Ini memang kekosongan, tidak ada apa-apa, hitam dan gelap. Rambutnya Raini itu memang berhubungan dengan sesuatu yang disebut kekosongan," kata Lug.
Raini pun mulai bertanya dengan nada halus, "Apa rambutku ini sebenarnya- bermasalah?"
Gadis itu takut terjadi sesuatu pada dirinya sendiri. Menurutnya rambutnya itu selalu menghasilkan masalah untuknya.
"Tidak ada, kau hanya belum bisa menyesuaikan diri saja," jawab Lug.
Raini bertanya-tanya, "Lalu? Ada apa ini? Apa kau bisa menjelaskannya? Aku ... Takut, karena rambut ini membuat masalah pada diriku." Suaranya semakin lama semakin lirih, sangat berbeda dengan dirinya ketika suka membentak barusan.
Pada saat itu Lug berkata, "Aku pernah melihatmu bermasalah ketika berlatih. Kau padahal merasa kalau sumber manamu itu penuh dan mungkin bisa berlatih dengan benar, tapi malah semakin kacau. Maka dari itu kau selalu belajar memanipulasi mana. Padahal jika kau mengosongkan sumber manamu, maka kau bisa menggunakan sihir."
"Apa?! Mustahil!" seru Raini.
Zephyr dan Antonio juga merasa bahwa hal seperti itu pastinya tidak mungkin. Mengosongkan sumber mana pastinya akan membuat seseorang tidak bisa menggunakan sihir serta membuat nyawanya terancam.
"Kau juga pasti pernah bertanya-tanya, kenapa rambut seperti ini ada? Padahal tidak pernah sekalipun dalam sejarah keluargaku, kenapa ini? Kau pasti pernah seperti itu, kan?" tebak Lug memastikan.
Raini mengangguk. "Itu sudah jelas, rambutku ini cukup mengganggu, padahal tidak pernah terjadi dalam sejarah keluargaku. Eh, tunggu! Kau tahu tentang keluargaku?" tanyanya penasaran.
Antonio dan Zephyr saling bertatapan dan menyeringai.
Justru Lug malah berkata, "Aku diberi tahu oleh tuan Antonio."
"Heh, tung ... Eh, iya, aku yang memberi tahunya. Y-ya, kupikir kau bermasalah, jadi kurasa Lug punya solusinya untukmu," kata Antonio tergagap.
Raini merasa ada yang janggal pada pamannya itu. "Apa itu benar?"
"Y-ya, itu benar."
Lug hampir tertawa melihatnya, sementara Antonio malah merasa sedang dipermainkan karena mendapatkan tuduhan dari anak lelaki itu. Sialan, kau, Lug!
Tatapan Raini pun mulai seperti memelas kepada Lug, karena gadis ini tahu bahwa lelaki yang ada di depannya itu bisa mengatasi kutukan yang ada pada Zephyr. "Memangnya rambut ini kenapa?" tanyanya.
Lug menghela nafas. "Untuk sementara ini, aku tidak bisa memberi tahukannya kepadamu, tapi jika kau ingin sekali bisa menggunakan sihir, kosongkan saja sumber manamu! Kau juga bisa meminta tolong kepadaku untuk mempelajari sihir yang sesuai denganmu, dan kuyakin kau pasti sudah pernah memunculkan sumber jiwamu," jelasnya.
Antonio dan Zephyr langsung menatap ke arah Raini, dan ternyata gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Bersambung!!