![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Berada di dalam Dunia Kekacauan Arus Waktu, kini Nagisa sudah bisa tersenyum karena sudah berada di depan salah satu pilar di tempat yang telah ia tuju. Satu pilarnya benar-benar sangat besar. Itu tersusun oleh garis-garis yang di dalamnya terdapat berbagai macam kehidupan dari berbagai dunia dan zaman. Meski begitu, Nagisa tahu bahwa dirinya tak bisa keluar dari tempat yang sangat aneh itu, hingga pada akhirnya ia melihat sesuatu pada salah satu garis.
"Ini ... Ini kan- "
Nagisa melihat ada sebuah dunia yang mirip dengan suatu kejadian di dunianya.
Terlihat sebuah peperangan tanpa akhir yang dilakukan oleh bangsa manusia dan elf melawan bangsa iblis. Di sana juga tampak bahwa para dewa sedang bersulang dan hanya minum secangkir anggur–mereka menikmati peperangannya seperti melihat sebuah pertunjukan.
"Memang benar seperti apa yang kakak Lug katakan ... Para dewa itu- mereka benar-benar biadab- bukan hanya para dewa iblis saja, bahkan para dewa yang disembah manusia pada umumnya juga ... Mereka jahat!" gumam Nagisa geram.
Peperangan tak pernah usai hingga beratus-ratus ribu tahun, dan tibalah sesosok makhluk ke dunia itu.
Nagisa merasa ada yang familiar pada sesosok makhluk tersebut. "Dia ... Leluhur yang menyelamatkan seluruh dunia? Aku merasa ... Aneh, rasanya sangat familiar. Ataukah- pikiranku yang sudah terlalu tua?"
Sebenarnya pikiran Nagisa tidak terpengaruh oleh lamanya dirinya berada di dalam Dunia Kekacauan Arus Waktu.
Hingga sesosok makhluk yang baru saja tiba itu menciptakan pembatas yang luar biasa besar di dunia yang penuh dengan kekacauan dan peperangan itu. Setelah membuat dunia itu aman, sesok makhluk itu membuat seluruh dewa menjadi geger karena dirinya datang ke dunia mereka. Para dewa dilawan oleh sesosok makhluk yang sangat kuat itu, hingga hampir dari semua dewa yang ada tewas. Menyisakan beberapa dewa yang tidak terlalu banyak, beberapa di antaranya tunduk di hadapan sosok makhluk tersebut. Selanjutnya makhluk itu pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dari dunia para dewa. Itu berada di galaksi yang berbeda, di sana banyak kehidupan yang belum pernah dilihat oleh Nagisa.
"Wah ... Aku baru tahu kalau ada makhluk seperti mereka jauh di langit sana. Kakak Lug memang benar kalau di langit menyimpan segudang misteri yang sangat menarik," gumam gadis itu sembari membayangkan Lug membawanya terbang ke langit.
Nagisa memperhatikan semua zaman yang ada dari atas ke bawah. Hingga sampailah pada zaman dirinya dilahirkan.
"Ibu!" sebut Nagisa melihat sebuah kejadian di mana banyak hewan buas yang menyerbu rumah orang tuanya. Dan dirinya tak sadar bahwa ia sudah mengacungkan tangannya hingga menyentuh garis itu. Wajahnya terlihat panik karena sudah menyentuh garis, dia pernah tersetrum hingga tangannya membengkak dan menghitam.
Tapi yang ada, tubuhnya seperti mengalami keanehan dan memudar. "A ... Apa yang sebenarnya- sedang terjadi?" tanya Nagisa kebingungan.
Di matanya, seluruh garisnya seperti terhempas angin kencang yang berhembus dari belakang punggungnya. Tapi Nagisa tidak merasakan apapun, namun garis yang memperlihatkan dunianya itu berubah menjadi bola yang tercermin tubuh Nagisa di dalamnya. Apa yang dilihat oleh Nagisa semakin terang hingga hanaya warna putih saja yang dilihatnya. Ia memejamkan matanya karena terlalu menyilaukan matanya.
Tapi apa yang terjadi hanyalah tubuh Nagisa yang semakin lama, semakin memudar. Tepat sebelum menghilang, tubuhnya itu berubah menjadi putih padat dan menyatu ke dalam garis.
Nagisa kini muncul di sebuah dunia, ia tiba di hadapan kedua orang tuanya yang sedang dikepung oleh belasan serigala.
"Ayah, ibu, ke sini!" panggil gadis itu.
Tapi kedua orang tuanya itu tidak meresponnya. Mereka seperti tidak melihatnya, apalagi merasakan kehadirannya.
Hingga Nagisa segera mendekatinya. Awalnya ia ragu, tapi tak ada pilihan. Dia langsung menyentuh kedua tangan orang tuanya, dan membawanya ke dalam dunianya.
"Ini- "
Kedua orang tua Nagisa terkejut melihat ada seorang gadis belasan tahun yang telah menolong mereka. Gadis itu hanya tersenyum memandangi wajah kedua orang tuanya.
"Nagisa?" ibu Nagisa bisa mengenali anaknya hanya dalam sekali lihat.
Tetapi sang ayah malah bingung. "Tunggu, siapa? Nagisa? Dia sudah pergi jauh bersama dengan kakaknya," ujarnya. Tapi dia menatap lamat-lamat wajah gadis di hadapannya itu.
"Dia itu Nagisa! Wajahnya sangat mirip, dia adalah Nagisa ketika dewasa," sahut sang ibu.
"Ibu!" Nagisa dengan segera memeluk ibunya. Tapi sang ayah terlepas dari pegangan tangannya, sehingga membuat ayahnya itu keluar dari dunia Nagisa.
"Nagisa, ayahmu!" ucap sang ibu.
Nagisa segera menoleh ke arah ayahnya dan segera memegang tangannya. "Ayah, maafkan aku," ucapnya.
"Tidak apa-apa, nak- aku bangga punya anak yang berbakti sepertimu," sahut sang ayah.
Nagisa mengangguk sambil menangis melihat kedua orang tuanya yang ternyata selamat. "Ayah, ibu," ujarnya. "Aku tak bisa membiarkan kalian tetap di sini, tetap berpegangan padaku."
__ADS_1
Lantas Nagisa mencengkeram tanah pijakannya erat-erat. Hingga mereka berpindah lokasi hingga sangat jauh.
"Nak, kita ini di mana?" tanya sang ayah.
Nagisa menggeleng dan menjawab, "Aku juga tak tahu, ayah. Maaf, aku malah menyesatkan kalian."
"Hidup jauh di sini juga sepertinya lebih baik," ujar sang ibu. "Aku lihat di sana ada pemukiman, kita bisa hidup di sana sementara waktu. Kita juga bisa mencari tahu di mana kita sekarang."
Mereka bertiga tiba di sebuah hutan yang tinggi. Ada pemukiman di bawah mereka.
"Baiklah, Bu," ucap Nagisa. "Aku akan melepaskan kalian di sini."
"Kau tidak ikut?" tanya sang ayah.
"Sekali lagi, aku minta maaf, ayah. Aku sudah terjebak di dalam dunia ini dan tidak tahu bagaimana caranya aku bisa keluar nantinya. Suatu saat, mungkin aku akan menemui kalian di mana depan ... Mungkin saja- jika aku sudah keluar dari dunia in," terang Nagisa.
"Tidak, Nagisa. Kau harus ikut kami keluar!" tegas sang ibu.
Nagisa menggeleng. "Tidak, bu, aku tak bisa."
Lantas gadis itu melepaskan tangan kedua orang tuanya, hingga membuat dirinya menghilang dari pandangannya kedua orang tuanya itu perlahan.
Sang ibu menangis. "Nagisa ... Kenapa kau membantah ucapan kami ... " ucapnya sembari menangis.
Di dunianya, Nagisa juga ikut menangis, lantas memegang kembali tangan kedua orang tuanya. Sehingga mereka bisa saling melihat satu sama lain. "Ibu, aku harus menyelematkan seseorang," ujarnya.
"Tidak usah! Kau lebih penting dari orang yang kauselamatkan itu!" tegas sang ibu yang masih menangis.
Ayahnya juga ikut menangis.
"Ibu, jika aku membawamu kembali, kau bisa melihat seorang anak laki-laki akan menyelamatkanku dari beruang yang mengejar aku dan kakak Teressa. Anak laki-laki itu di masa depan menjadi seseorang yang sangat kusukai, kelak aku ingin menjadikannya suamiku. Di suatu saat, dirinya membutuhkan pertolonganku, dia akan terbunuh oleh tanganku jika aku tidak menyelamatkannya," terang Nagisa.
Dan pada akhirnya, sang ibu pun melepaskan kepergian Nagisa. Sang ayah juga merasa bahwa keputusan itu sangat bijak, hal itu dilakukan mereka agar anak mereka bisa menumbuhkan rasa bertanggung jawab.
Nagisa pun pergi menggulingkan tanah lagi, hingga dirinya tiba di kerajaan Tigerion.
Kembali pada kedua orang tuanya Nagisa, sang ayah mengatakan, "Gadis itu tumbuh menjadi sangat cantik sepertimu, Anna."
Sembari mengusap air matanya, sang ibu yang bernama Anna itu menyahut, "Jangan menggodaku, Erick. Ayo kita pergi ke desa itu."
"Baiklah, ayo."
Dan nama ayahnya Nagisa adalah Erick, sementara ibunya adalah Anna.
Beralih lagi pada Nagisa, kini dia sudah berlari menuju ke kerajaan Da Nuaktha dengan sangat cepat, hingga dirinya melihat banyak tali di sekitar tubuhnya.
"Tali apa ini?"
Lantas Nagisa memegang talinya, dia bisa menariknya. Dan yang terjadi adalah dunia yang berjalan normal itu waktunya tertarik mundur. Dia sadar bahwa sudah menarik ke waktu yang salah. Nagisa segera menariknya ke arah yang berlawanan, sehingga waktu berjalan maju dengan lebih cepat. Dia kini juga sudah sampai di kerajaan Da Nuaktha, tepatnya berada di lokasi insiden dua pemuja dewa iblis dan kematian Lug. Waktu terus dipercepat hingga tiba di waktu insiden itu terjadi.
Nagisa membiarkan waktunya berjalan dengan normal karena ingin mengetahui bagaimana Lug bertarung. Dia benar-benar kagum melihat lelaki itu bertarung.
"Ayo kakak Lug, kau pasti bisa," ucapnya menyemangati.
Dan tibalah waktu di mana Lug akan tewas terkena sihir Pusaran Badai Cahaya. Nagisa segera menyentuh laki-laki itu dan menggendongnya.
"Kakak Lug, apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
__ADS_1
Lug awalnya terkejut. "Kau ... Nagisa?" tanyanya balik.
"Iya."
"Turunkan aku!"
"Tidak, kau terlihat sangat lemah."
"Kau meledek aku, ya?"
"Bukan seperti itu ... "
"Sudahlah, lepaskan aku. Ini terlihat seperti kau ingin menyentuhku terus menerus sebanyak ini."
Lalu Nagisa menurunkan Lug. Anak lelaki itu bisa berdiri dengan tegak.
"Nagisa, bagaimana kau bisa masuk ke dalam domain waktu?" tanya Lug.
Nagisa bingung. "Apa itu domain waktu?" tanyanya balik.
"Lupakan itu! Aku tanya, bagaimana kau bisa sampai ke sini melalui dunia ini?" tanya Lug lagi yang merasa sangat penasaran.
Nagisa mulai mengingat apa yang terjadi. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku selesai bertarung melawan seseorang yang dirasuki oleh Pusaran Angin Seribu Lengan. Aku bertarung di luar angkasa, ketika itu aku terjatuh dan tiba-tiba sudah berada di dalam dunia yang sangat aneh. Dan aku sampai ke dunia ini, berjalan melintasi waktu yang teramat sangat panjang. Bahkan- "
"Aku tahu aku tahu ... Ribuan, jutaan, miliaran, triliunan tahun lebih- kau pasti telah mengarungi waktu sejauh itu, kan?" tebak Lug.
"Iya- bahkan lebih jauh lagi ... Aku sudah tidak tahu bagaimana cara menyebutnya," ujar Nagisa menimpali.
"Sudahlah, bawa aku ke suatu tempat," ujar Lug.
"Kenapa?" tanya Nagisa bingung.
"Kau ingin aku kembali dan tertembak oleh sihirmu itu?"
"Oh, iya ... "
Nagisa segera membalikkan tanah lagi dan menggeser mereka ke tempat yang cukup jauh. Kebetulan mereka tiba di desa pertama yang terkena sihirnya Nagisa.
"Aku harus menyelamatkan salah seorang warga di sini. Aku berhutang padanya," ujar gadis itu.
Hingga Nagisa menyelamatkan seseorang yang sedang berburu di hutan dekat desa yang pertama itu. Lantas dirinya pergi lagi ke desa selanjutnya.
"Hei hei, kita ini di mana?" tanya pria yang baru saja diselamatkan itu.
"Kau diam saja," ujar Lug.
"Siapa kau? Beraninya menyuruhku diam!"
Lug segera menunjukkan sumber mana yang sangat besar di dalam tubuhnya, dan itu menakuti pria yang baru saja masuk ke dalam domain waktu itu.
"Kakak, bagaimana bisa kau mengeluarkan mana? Aku saja kehilangan sumber jiwaku," tanyan Nagisa.
Dan sang pria yang baru masuk itu merasakan hal yang sama. "Kau benar, aku kehilangan sumber manaku," ujarnya.
Lug hanya tersenyum. "Sudahlah, ayo cepat!"
Nagisa pun menyelamatkan seorang wanita dan di desa terakhir dia menyelamatkan seorang pria. Lantas Nagisa menggulingkan tanah kembali dan membuat mereka pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Di sana mereka melihat ada sebuah tulisan yang bertuliskan kota Vloesia.
__ADS_1
"Kita tiba di pinggiran kota Vloesia? Kota pinggiran yang ada di perbatasan kerajaan Yon dan kerajaan Eternan?" ucap Lug.
Bersambung!!