Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 53 - Hilangnya Lug


__ADS_3

Seekor anjing raksasa muncul. Tubuhnya dipenuhi oleh bulu yang mirip seperti kobaran api yang sangat panas. Kulitnya seperti batu yang sangat keras, tingginya hingga sepuluh kali tinggi orang dewasa, bahkan besarnya hampir lima kali lebih besar dari gajah. Itu adalah wujud dari Anjing Neraka (Hell Hound).


"Coba kulihat bagaimana caranya kau mengatasi yang seperti itu?!" celetuk si brewok. Dia benar-benar sudah mengamuk, bocah ini pasti akan tamat, batinnya.


Lug menyeringai. "Kurang lebih sama seperti aku mengatasimu!"


BUAGH


Lug memukulnya lagi dengan sangat keras hingga topeng baja yang menutupi wajahnya hancur seketika. Wajahnya terlihat rusak akibat luka bakar yang sangat parah, bahkan otot-otot di wajahnya pun terlihat meleleh. Dan bola matanya hampir lepas–sangat menjijikkan.


Dirasa tak sanggup lagi untuk bertahan, si brewok pun tak sadarkan diri. Tapi dia sangatlah kuat–terlihat bahwa dirinya tak mati meski kondisinya sudah separah itu. Sesaat sihir Pemusnahan Massal-nya Lug aktif. Ia menjauh agar tak terkena sihirnya sendiri.


SRIIING


Sihir tersebut melenyapkan seluruh armor di tubuhnya si brewok dan dia telanjang bulat. Seluruh kulit di tubuhnya pun melepuh. Tapi dia juga masih belum mati, hanya tak sadarkan diri.


"Ergh ... Menjijikkan sekali- beginilah kalau seseorang mengikuti dewa iblis," gumam Lug.


Tapi ia segera menuju ke arah Anjing Neraka.


Sesampainya di hewan mengerikan itu, Lug melihat teman-temannya tergeletak lemas. Hanya Nagisa yang masih sanggup berdiri, yang lainnya sudah tak sadarkan diri.


Nagisa melihat Lug datang menyelamatkannya. "KAKAK LUG!" teriaknya.


Lug menoleh ke arahnya. Dia melambaikan tangan dengan wajah cemas, segera datang menghampirinya. Tapi Anjing Neraka itu menghadangnya dengan sihir yang menyemburkan api berwarna merah. Lingkaran sihirnya tepat berada di depan mulutnya.


Lug melompat mundur, lantas menatap mata Anjing Neraka. "Brengsek juga kau, ya?!"


WUUUSH


Dia melompat dan hendak memukul kepala anjing raksasa itu. Tapi manifestasi dewa iblis itu menyemburkan api yang sama seperti barusan. Lug terkena sihir tersebut.


Nagisa langsung berteriak ketika melihatnya "KAKAAAAAKKK!!!"


Akan tetapi ketika sihirnya berhenti, terlihat Lug tidak terluka sama sekali. Dia langsung menggunakan sihir Transformasi Naga Selestial agar dirinya dapat menahan sihirnya. Aku sudah hampir kehabisan mana, apalagi tenagaku juga sudah terkuras habis-habisan ... Jalan satu-satunya adalah aku harus menggunakan sihir Armageddon- kecuali ... Lug sangsung melirik Nagisa yang ada di bawah.


BUAGH


BLAAARR


Pada saat itu, Lug berhasil memukul sekali Anjing Neraka, tapi seketika ia mendapatkan hantaman luar biasa dari hewan tersebut hingga terbanting ke tanah dengan amat sangat keras.


Lug sampai batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


SWOOOSH


Anjing Neraka tak memberinya kesempatan untuk Lug melamun. Ia segera menyemburkan api lagi dan anak laki-laki bangkit dan melompat menjauh. Ia sekarang sudah berada di samping Nagisa.


"Nagisa!" Lug memanggil. "Bawa Zephyr dan Raini pergi dari sini! Setelah itu, aku ingin kau kembali ke sini! Cepat!"


"Baiklah," Nagisa mengangguk.


Gadis itu segera pergi dan membawa satu persatu temannya yang tak sadarkan diri itu selagi Lug mengalihkan perhatiannya Anjing Neraka. Tapi anak laki-laki itu kewalahan dalam mengatasinya.


Tak berselang lama, Nagisa pun kembali untuk membantu Lug. Tapi dia tidak melihat kakaknya dan Anjing Neraka itu di sana. "Di mana mereka?"


Lantas Nagisa pergi untuk mencari di mana Lug dan hewan mengerikan itu berada. Dan ternyata mereka bertarung di tempat yang cukup jauh. Lug bahkan terlihat sangat terpojok.


BLAAARR


Lagi-lagi Lug di hantam hingga menghantam tanah dengan sangat keras.


SWOOOSH


Anjing Neraka itu menyemburkan sihir api lagi. Tapi kini apinya berwarna ungu, dan juga intensitasnya jauh lebih kuat dari semburan api yang sebelumnya.


Lug tak bisa menghindarinya, ia sudah kehabisan tenaga untuk bangkit lagi dengan cepat.

__ADS_1


BLAAARR


Dan ya, ini adalah kejadian yang mengenaskan. Lug diinjak oleh Anjing Neraka dengan sangat kuat hingga mengguncangkan tanah di sekitarnya–seakan ada gempa di sana.


Nagisa menangis tanpa suara melihat Lug yang sudah tak berdaya di sana. Tapi gadis itu juga tak diam begitu saja, amarahnya meluap, tatapannya menjadi begitu tajam, nafasnya juga lebih teratur dan tenang, bibirnya rapat, dan tangannya mengepal erat sampai berdarah. Namun air matanya masih tak berhenti mengalir.


Nagisa segera mengayunkan kedua tangannya hingga membentuk pola lingkaran di depannya. Terbentuk lingkaran sihir berwarna putih pada pola lingkaran tersebut, dan ada lima garis lingkaran. Pada bagian tengahnya mulai memudar, muncul bola emas menyala pada bagian tersebut. Bola emas tersebut seolah menarik cahaya yang menjuntai-juntai di udara. Tercipta kabut yang berputar mengelilingi bola emas tersebut, kabut itu berwarna-warni namun dominan pada warna biru keemasan. Bola emas itu menyala semakin terang dan di tengahnya mulai berubah warna menjadi putih. Semakin lama pula lingkaran sihirnya membesar, begitupun dengan sihirnya. Dan juga samar-samar terbentuk sebuah garis lingkaran lagi.


BUUUUFFFF


Memancarlah cahaya putih dari sihir tersebut. Cahaya itu berputar-putar dan mengarah ke Anjing Neraka sekaligus menghembuskan angin dengan teramat kencang ke arah yang sama.


Anjing Neraka tahu ada pancaran cahaya yang mengarah padanya, namun ia terlambat menyadarinya, serangan itu terlalu cepat hingga tak bisa dihindari lagi.


BLAAAAAARRRRR


Ketika sihir tersebut mengenai Anjing Neraka, ledakannya juga berupa pancaran yang jauh lebih besar. Pacarannya bahkan sampai tiga kali ukurannya dan mendorongnya sejauh mata memandang. Entah sampai mana sihir itu akan memancar, tapi yang pasti pepohonan hingga sejauh tiga hipagrit sudah rata dengan tanah. Itu adalah sihir Pusaran Badai Cahaya.


Nagisa sudah tahu konsekuensinya akan sebesar apa, sekarang kakinya lemas karena ia sudah kehabisan mana. Namun bukan hanya itu, dia bersedih karena tahu bahwa serangannya itu juga memusnahkan apapun yang ada di sekitarnya.


Nagisa juga tahu bahwa yang pasti sihirnya itu juga membunuh kakaknya. Aku bodoh, kenapa aku malah menggunakan sihir Pusaran Badai Cahaya? Batinnya kesal pada dirinya.


"Aku tak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri! AKU TAK AKAN MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI!!!" teriaknya.


Tapi gadis itu juga tak berdiam diri di sana. Segera dia menghirup udara sebanyak-banyaknya–termasuk dalam metode pengumpulan mana yang diajarkan oleh Lug. Sumber mana Nagisa sudah sedikit terkumpul, ia berdiri dan mencari di mana kakak tersayangnya itu berada.


Ke sana kemari dia menjelajahi hutan, menelusuri tiap pepohonan, menggali tanah bekas tembakan dari sihirnya.


Tak lama kemudian, Nagisa menemukan seutas tali mengikat sebuah koin emas lusuh. Gadis itu tahu bahwa kalung tersebut adalah milik Lug, sehingga ia menggali dan terus menggali tanah apabila kakaknya itu terkubur di dalamnya. Tapi sayangnya, ia tak menemukannya. Nagisa lekas memeriksa sekelilingnya.


Dan sayangnya lagi, di manapun gadis itu mencari Lug, dia tak menemukannya.


"Kakak Lug, aku ... Aku ... Tolong jangan katakan kalau kau ... " Nagisa tak bisa melanjutkan kalimatnya. Kata-kata terakhir itu seolah sebuah larangan yang tak bisa diucapkannya.


*****


Sekarang ini Zephyr dan Raini telah sadar. Mereka bangun hampir bersamaan, serta mereka berdua ingat bahwa Lug dan Nagisa sedang bertarung mati-matian melawan penyembah dewa iblis.


Awalnya Raini ragu, tapi hanya dalam sesaat tatapan matanya menjadi lebih tajam dan tegas. "Baiklah, ayo."


Zephyr dan Raini sebenarnya menyadari bahwa pertarungannya telah usai. Di sana terasa hening dan tidak ada suara ledakan atau sihir apapun yang bersuara dahsyat. Hanya saja terlihat banyak burung berterbangan di atas mereka sambil berputar-putar, seolah sedang mencari tempat tinggal mereka.


Dan saat itu juga, mereka melihat sesuatu yang sangat dahsyat, di mana pepohonan sejauh ribuan regrit telah rata dengan tanah seakan diterjang oleh angin yang sangat kuat dan dahsyat.


"Ini ... Siapa yang melakukan semua ini?" Zephyr bingung bagaimana harus menanggapinya.


Begitupun dengan Raini yang bengong karena benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan. Mereka berdua melihat pemandangan yang di luar bayangan mereka.


"Ini pertarungan yang- ah sudahlah, ayo cari Lug dan Nagisa!" ajak Zephyr lagi.


Mereka kembali mencari di mana Lug dan Nagisa berada. Tapi mereka tak kunjung menemukannya. Bahkan mereka juga tak melihat kedua perampok yang menghadang tadi.


Hingga pada akhirnya, Raini menemukan Nagisa yang tengah duduk memeluk lututnya sendiri sembari menangis tersedu-sedu. Raini segera memberitahu kepada Zephyr dan mereka berdua segera menghampiri gadis yang sedang menangis itu.


"Nagisa," Raini memanggilnya dengan suara pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Nagisa menoleh perlahan, dia tahu bahwa itu bukan suaranya Lug. Dia masih terus menangis bahkan sekarang tangisannya bertambah kencang. Dia seolah tak mau bercerita dan ingin Zephyr beserta Raini mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Zephyr menyadarinya. "Di mana Lug? Kenapa dia tak ada?" tanyanya sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan perasaan cemas.


Pertanyaannya itu justru membuat Nagisa menangis semakin kencang. Raini sekarang tahu apa yang sedang ditangisi gadis itu, sekarang dia juga mulai menangis sembari memeluk Nagisa. Awalnya Zephyr bingung kenapa Raini juga ikut menangis, tapi ketika dia sadar kembali bahwa Lug tidak ada di manapun, itu menyadarkannya bahwa sebenarnya dua gadis itu sedang menangisi Lug yang hilang.


"J-jangan bilang ... Jangan bilang Lug ... Lug?!! Itu tidak mungkin!" seru Zephyr yang kini ikutan menangis.


Lantas lelaki itu mencari ke sana kemari untuk menemukan Lug, tapi hasilnya nihil. Mereka tak punya pilihan lain lagi selain kembali pulang saja. Mereka bertiga membatalkan rencananya untuk pergi ke desa Nedhen.


Untung saja pedati yang mereka gunakan tidaklah hancur dan kudanya juga tidak lari. Pada pertarungan barusan, Lug memang sengaja menjauhkan pertarungannya dari pedati tersebut, seolah dia sudah memprediksi semua ini agar kudanya tidak lari ketakutan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Nagisa sudah tidak menangis lagi, tapi dia terus diam dan meratapi kepergian Lug.


Raini masih menangis dan bersandar pada Nagisa, menurutnya itu juga bisa menenangkan mereka berdua untuk sementara waktu.


Ketika mereka sudah bisa melihat gerbang kerajaan, di sana ribuan orang berkumpul menyaksikan kejadian yang teramat dahsyat–yang mana itu adalah sihir Pusaran Badai Cahaya yang diciptakan oleh Nagisa.


Ketika Nagisa dan yang lainnya masuk, tak ada satupun yang memperhatikannya. Mereka kini justru berbondong-bondong untuk menuju ke tempat ledakan terjadi.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sampai di kediaman Azamuth.


Pada saat ini Antonio juga hendak keluar untuk menyaksikan apa yang tengah terjadi. Tetapi dia berpapasan dengan anaknya yang baru saja masuk melewati gerbang. "Nak, kenapa kalian semua kembali?" tanyanya penasaran.


Zephyr terdiam, tak ada yang menjawab tersebut, Raini masih menangis dan Nagisa hanya diam saja seakan tak mendengar apapun.


Antonio sadar di pedati itu tidak ada Lug. Dia semakin bingung. "L-Lug? Lug di mana?" tanyanya lagi semakin penasaran.


Sekali lagi air mata berlinang membasahi pipi Nagisa. Dia sama sekali tak kuasa menahan air matanya itu apabila mendengar nama Lug.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian menangis seperti itu? Di mana Lug?" tanya Antonio berturut-turut. Dia semakin bingung dan panik, apalagi tak ada yang menjawabnya. "Kenapa kalian diam?!" tuntutnya.


Dan mengingat semua tentang Lug, menghubungkannya dengan kejadian dahsyat yang barusan terjadi, Antonio memiliki spekulasi yang sangat mengerikan. "Tunggu! Jangan bilang-"


Semakin tidak ada yang merespon, membuktikan spekulasi Antonio benar. "Zephyr, cepat katakan sesuatu!"


Anaknya itu hanya diam saja.


"ZEPHYR!"


"AKU TIDAK TAU APAPUN!!!" teriak Zephyr balik. "Yang kutahu hanyalah- aku pingsan, aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu."


"Kenapa kau sampai pingsan? Apa yang terjadi sebelum itu? Kalian dirampok?" tanya Antonio lagi.


"Ya, kami dirampok," Zephyr mulai menjelaskan. Matanya berkaca-kaca, setitik air terlihat di sudut matanya. "Saat itu, kami dihadang oleh beberapa anjing. Sesaat setelah membunuh seekor, pemiliknya langsung datang. Ada dua orang perampok yang mendatangi kami, merekalah majikan anjing anjing itu. Lug membuat mereka marah dan ternyata mereka berdua adalah penyembah dewa iblis. Lug mengatakan mereka menyembah dewa iblis penjaga gerbang apalah itu, namanya Ksatria Neraka dan Cerberus. Lug menghadang yang Ksatria Neraka, aku, Raini, dan Nagisa menghadang yang satunya lagi. Tapi si penyembah Cerberus itu tiba-tiba meledak dan membuatku pingsan, aku tak tahu lagi apa yang terjadi."


"Hanya kau yang pingsan?" tanya Antonio lagi.


"Kurasa- Raini juga pingsan, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan Nagisa. Aku dan Raini bangun bersamaan dan kami tidak melihat siapapun di sana. Kami mencari-cari Lug dan Nagisa selama kurang lebih setengah jam, hingga pada akhirnya kami melihat hutannya seperti baru saja diterjang badai sejauh mata memandang. Diameternya kurang lebih lima puluh regrit. Dan di sana- Nagisa duduk sambil memegangi kalung yang biasanya dikenakan oleh Lug, dia menangis," jelas Zephyr lagi.


Antonio tidak pernah melihat kalung yang biasanya dipakai oleh Lug ke manapun.


"Tidak ada Lug di sana, di manapun aku dan Raini mencarinya, kami tidak menemukannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa Nagisa sangatlah shock, mungkin dia trauma. Aku dan Raini berspekulasi buruk, dan membuat diri kami sendiri sedih. Lug menghilang, kami tak tahu dia ke mana. Mungkin saja Nagisa tahu, tapi dia sepertinya tak mau berbicara untuk saat ini. Biarkanlah saja sampai dia mau berbicara."


"Jadi begitu, ya?" Antonio menyuruh mereka bertiga untuk masuk terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Lantas pria itu keluar untuk melihat sendiri seperti apa kejadian yang diceritakan oleh anaknya itu.


Tepat ketika Antonio sampai di depan gerbang rumahnya, ada seseorang yang turun dari pedati dan dia terlihat panik serta terburu-buru.


"Ada apa?!" tanya Antonio, tampaknya ia mengenal pria yang turun dari pedati itu.


Pria itu berusaha menstabilkan pernafasannya, dan mulai menjelaskan. "Tuan Antonio, ada ledakan mengerikan yang melibas hampir keseluruhan tambang. Setidaknya 90% lahan tambang telah hancur- runtuh semuanya."


"APA?!"


Antonio terkejut mendengarnya. Apa mungkin ledakan itu juga yang menghancurkan tambang? Sebenarnya apa yang terjadi?! Batinnya.


"Ayo antar aku ke tambang, aku ingin memeriksanya sekarang juga."


"Baiklah, tuan- mari."


Segera mereka naik ke atas pedati dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Di pedati, Antonio benar-benar khawatir. Itu malah membuatnya pusing.


*****


Beberapa jam kemudian, mereka semua telah sampai di tambang.


Bahkan gerbang penjagaannya juga hancur? Batin Antonio.


Tepat setelah itu, dia melihat seperti apa kehancuran yang telah terjadi. Lintasan dari ledakan sihir Pusaran Badai Cahaya memang melintasi pertambangan itu. Antonio terkejut setengah mati ketika melihat sejauh apa kehancuran dari ledakan tersebut. Di tambang, Antonio tak bisa melihat ujung dari kehancurannya.

__ADS_1


"Ini sungguhan?! Apa-apaan ini? Ini ... Aku benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi," gumam Antonio.


Bersambung!!


__ADS_2