![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Keesokan harinya Lug dan yang lainnya telah pergi dan melewati gunung. Ketika mereka pergi, ada beberapa hal yang sedikit menyulitkan dikarenakan ada beberapa iblis yang mengerikan. Mereka bahkan sempat bertemu dengan sesosok elf gelap yang menurut mereka makhluk itu berhasil melarikan diri dari invasi yang dilakukan oleh Lich sebelumnya.
Mereka berempat hampir tidak tahu apakah sekarang ini pagi atau malam, langitnya ditutupi oleh awan gelap yang membentang sejauh mata memandang–suasananya sangat mencekam dan hanya diterangi oleh cahaya petir yang menyambar.
Apalagi kini mereka baru saja sampai di depan sebuah danau yang berwarna merah darah, baunya sangat busuk dan ada banyak tulang belulang yang cukup besar–mengapung di permukaan danau. Danau itu cukup luas dan di seberangnya terdapat hamparan pasir yang cukup luas.
"Lug, bagaimana caranya kita menyeberangi danau ini?" tanya Zephyr di samping kanannya.
Lug berpikir keras dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia masih terus menatap lamat-lamat ke arah seberang danau, lantas melirik ke kanan dan kirinya. Wajahnya juga tampak sedang resah.
Lantas Lug menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Nafasnya panas karena dia tidak melepas sihir transformasinya.
Zephyr terus menatap Lug dengan tatapan yang sedikit takut karena transformasinya itu mengerikan. Sehingga Zephyr sedikit menjauh karena takut.
"Mungkin ini beresiko," papar Lug. "Aku akan menghantarkan kalian bolak balik dengan terbang."
Zephyr langsung tahu bahwa rencana itu beresiko, begitupun dengan Nagisa dan Raini. Namun mereka tampaknya setuju dengan pendapatnya Lug, mereka bertiga percaya diri dan tidak takut dengan apa yang terjadi meskipun rencana tersebut beresiko. Mereka bertiga menatap Lug dengan senyuman percaya diri, Zephyr mewakili dua wanita itu dengan menganggukkan kepalanya.
Sekali lagi Lug menghembuskan nafas. "Baiklah, kalian harus menjaga diri baik-baik, oke?"
"Oke!" jawab Nagisa, Raini, dan Zephyr serempak.
Lug pun membawa Zephyr yang pertama kali untuk terbang ke seberang danau. Dia memeluknya dengan erat agar tidak jatuh ke danau yang ada di bawahnya. Sementara Zephyr kakinya sudah berkeringat dingin dan bergemetaran karena saking takutnya.
"Apa ini aman, Lug?" tanya Zephyr sambil menoleh ke arah Nagisa dan Raini yang sudah sangat jauh.
Lug menjawab, "Tenang saja, ini aman. Asalkan kau tidak banyak gerak sehingga aku kehilangan keseimbangan."
"Baiklah," sahut Zephyr yang masih sedikit resah.
Mereka berdua terbang dengan sangat aman, meski Zephyr merasa bahwa wujud yang digunakan Lug itu terlalu menyeramkan.
Ketika Lug menoleh, Zephyr mulai bertanya ragu-ragu, "Lug, apa kau tidak kehabisan mana? Sudah dari kemarin kau menggunakan wujud itu, bukankah transformasi menggunakan mana terus menerus?"
Lug tersenyum dan menjawab, "Ketika di tenda, aku melepaskan wujud ini dan memulihkan sumber manaku."
__ADS_1
Zephyr terperangah terkejut. Lantas Lug terbang kembali ke seberang danau untuk membawa Nagisa dan Raini. Tetapi Zephyr masih bingung sendiri. Jadi ... Mereka kemarin ... Dia membayangkan hal yang tidak-tidak, tapi memang itulah yang terjadi–hehe.
Tidak ada yang terjadi ketika Lug kembali menjemput dua istrinya itu. Dia membawa keduanya bersamaan. Mereka tidak mendapati masalah ketika menyeberang, dan mereka bertiga sampai dengan selamat, bahkan tidak terjadi apapun terhadapnya Zephyr.
Setelah berhasil menyeberang, mereka melihat adanya bukit yang cukup tinggi. Di sana awan di langit semakin tebal dan petir yang menggelegar juga semakin menjadi-jadi.
Aku tidak tahu, entah kenapa setiap kali di tempat iblis seperti ini pasti nuansanya mengerikan. Kecuali jika salah satu iblis itu adalah sebuah karakter utama di dalam sebuah cerita, maka pasti tempat para iblis tidak semenyeramkan ini, batin Lug terheran-heran. Tapi memang sedari Endless War dulu memang dunia para iblis memang sangat mengerikan seperti apa yang disaksikannya sekarang.
"Ayo kita ke bukit itu," ajak Lug. Mungkin ada di sana ...
Mereka pun segera menuju ke atas bukit. Pasir yang mereka injak itu cukup panas dan dipenuhi oleh kerangka makhluk makhluk mengerikan.
Dan sesampainya di atas bukit, mereka berempat melihat adanya sebuah tanah terapung. Tanah itu tampak solid dan orang-orang yang melihatnya pasti akan mengira itu adalah kuil. Karena memang tempatnya mirip seperti kuil persembahan–ada tanah tanah melingkar yang dikelilingi oleh pilar pilar berjumlah belasan, dan di tengah tanah melingkar itu terdapat sesuatu yang berbentuk balok, namun itu tersusun atas balok balok yang tidak disusun dengan benar.
Nagisa bertanya-tanya, "Tempatnya cukup aneh- apa itu ilusi semata? Atau memang benar-benar sebuah kuil yang melayang?"
Lug tidak menjawab, matanya tertuju ke arah tempat yang melayang itu, tatapannya benar-benar tajam dan menghiraukan apapun di sekitarnya. "Ayo!"
"Baiklah," sahut Nagisa.
Manusia.
Lug sudah merasa yakin bahwa perjalanan mereka cepat atau lambat akan segera diketahui oleh para Ranker Langit yang tinggal di dunia iblis semenjak pertarungannya melawan Lich. Sehingga ia tak terkejut dengan kedatangan orang-orang itu.
Hanya saja ketiga orang di belakangnya terkejut melihat keempat siluet itu.
Mereka berempat adalah orang yang sebelumnya mengamati ledakan besar di sebuah markas tempat para Ranker Langit tinggal. Dan mereka berempat tampak cukup kuat apabila dilihat dari penampilannya.
Ranker yang paling sebelah kiri adalah siluet dengan mata yang memancarkan sinar merah yang rambutnya sedada, dia mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Di sebelahnya ada Ranker yang matanya memiliki dua warna sekaligus, yakni jingga dan biru langit, wajahnya tampak sangat dingin sedingin es. Di sebelahnya lagi ada Ranker wanita dengan bibir yang menyeringai dan tatapannya sangat antusias. Sementara yang paling kanan adalah seorang lelaki dengan tubuh yang sangat besar, dia membawa sebuah palu raksasa'yang besarnya hampir setengah dari tubuhnya sendiri. Mereka berempat mengenakan armor dengan corak yang berbeda-beda, disertai garis garis merah yang variatif.
"Wah, anak anak muda, bagaimana bisa kalian berada di dunia mengerikan ini?" tanya Ranker wanita itu, dia bernama Wina Roxleyn–nama belakangnya itu berada dari salah satu keluarga terpandang dengan pangkat tinggi di kerajaan Yon.
Ranker dengan tubuh yang paling besar menimpali, "Kalian tak seharusnya di sini, kembalilah!" Lelaki besar ini bernama Viordan Welminson–keluarga dengan pangkat yang cukup tinggi dari kerajaan Tigerion.
Tapi Ranker yang memiliki mata dengan warna yang berbeda itu melihat transformasi yang digunakan oleh Lug seolah telah dipakai dalam waktu yang lama. "Nak, apa kau tak khawatir sumber manamu akan kering?" tanyanya dengan suara yang mengerikan, namun nadanya datar. Dia bernama Axlon Quint–saudara sepupu gurunya Nagisa, Pholine Quint.
__ADS_1
Lug menyeringai dan menjawab, "Aku bisa malu kalau melepaskan transformasi ini. Karena sekarang aku sedang telanjang bulat."
Ranker wanita yang bernama Wina Roxleyn itu tiba-tiba menjulurkan lidahnya seolah melihat makanan yang lezat. "Jadi- kenapa kau tak memperlihatkan tubuh segarmu itu? Apa kau malu?"
"Kaupikir aku ini hewan yang tak tahu malu telanjang di hadapan sesamanya?" tanya Lug dengan nada tak senang. Dia mendesah sebal karena merasa mendapatkan pelecehan dari pertanyaan yang diajukan itu.
Wina masih menunjukkan ekspresi wajah yang menggoda. "Ah, tidak. Aku hanya bercanda saja, kok ... Lagipula, sebaiknya kalian kembali ke dunia manusia saja," suruhnya dengan nada yang semakin lama semakin menggoda. Dia juga tak segan-segan memperdengarkan suara desahannya yang erotis.
Lug menunduk tak memperhatikan ucapan Wina, dia menghembuskan nafas yang memiliki makna mendalam. "Kalian akan menghentikan kami di situasi yang sudah hampir tak tertolong seperti ini?" tanyanya dengan tatapan tajam. Dia melepaskan hawa membunuh yang sangat kuat.
Tiba-tiba saja ada sebuah bola gelembung yang mengurung Lug di dalamnya. Dan di permukaan gelembung itu terapat banyak rantai yang mengikatnya. Hanya saja Lug masih bersikap tenang.
Itu adalah tindakan yang dilakukan oleh Axlon, bola kristal di tangannya itu memancarkan cahaya redup pada saat gelembung itu muncul. "Perbaiki nada bicaramu itu! Aku mencurigaimu sebagai seorang iblis kalau nada bicaramu masih menantang seperti itu! Kembalilah! Lagipula, apa maksud dari ucapanmu itu?!" tuntutnya.
"Axlon- jangan kasar pada pemuda kecil itu!" seru Wina dengan nada erotis lagi sambil melirik ke arah Axlon.
Lug tanpa keraguan dan ketakutan sedikitpun, dia menyentuh permukaan gelembung tersebut.
"Apa?!"
Axlon terkejut melihat sihir gelembungnya itu terbakar ketika disentuh oleh Lug. Bahkan rantainya memudar dengan sangat cepat.
"Kami tidak memiliki niat buruk, kenapa kalian menghentikan kami?" tanya Lug dengan wajah datar.
Lalu Axlon menatap ke arah Zephyr yang tampak resah sambil menatap ke arah Lug. "Hei!" Axlon memanggil. "Kau bocah dari keluarga Azamuth, bukan? Bagaimana bisa kau juga ikut sampai di sini?"
Zephyr hanya diam saja, tapi tatapannya tiba-tiba menjadi tenang setelah ditanyai.
"Kau tidak perlu tahu!" seru Lug dengan nada ketus.
Wina masih terus bersabar dengan sikap dingin dari anak lelaki yang sedang menggunakan sihir transformasi itu. "Nak, kutanya sekali lagi. Apa alasan kalian datang ke dunia iblis ini? Kalian tidak seharusnya membahayakan diri sampai menerobos masuk ke sini!" jelasnya dengan nada yang ramah.
"Kembalilah, nak!" suruh Ranker yang matanya berwarna merah. Dia bernama Maxleen Clark, dirinya berasal dari kerajaan Tigerion, keluarganya adalah pangkat tertinggi di kerajaan tersebut, kakak dari ayahnya adalah seorang raja di kerajaan Tigerion. Kini dia melangkah maju selangkah untuk memberikan sedikit tekanan, apalagi terpampang ekspresi dingin dan mengerikan dari wajahnya.
Bersambung!!
__ADS_1