![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Beberapa hari setelah memberikan laporan ke asosiasi Ranker kerajaan Da Nuaktha, Nagisa diminta untuk ikut serta ke dalam perebutan Pusaran Angin Seribu Lengan. Nagisa diperintahkan oleh Antonio karena untuk kenaikan pangkatnya menjadi Ranker Emas. Kenaikan pangkat itu juga telah disetujui oleh biro peringkat Ranker dan ketua asosiasi Ranker kerajaan Da Nuaktha.
Nagisa akan berangkat empat hari lagi, dan ia juga diizinkan untuk kembali ke desa asalnya, desa Nedhen.
Perjalanan memakan waktu selama dua hari untuk sampai ke desa Nedhen. Pada akhirnya, Nagisa dapat menghirup udara segar dari desa lagi setelah sekian lama berada di kota kerajaan. Dia melihat banyak sekali hal-hal baru seperti mulai dibangunnya jalanan beton di gerbang depan.
"Wah ... Aku sampai lupa dengan rasa udara di desa ini," human Nagisa. "Tapi aku tak akan pernah lupa dengan rasa yang pernah ada, meskipun ia telah tiada." Kini gadis itu mulai bersedih lagi, hingga ia menampar wajahnya agar tetap terlihat tegar.
Kedatangannya memang tak disambut oleh siapapun ketika dirinya tiba di desa tersebut. Tak ada yang menyangka bahwa yang menunggangi kuda itu adalah Nagisa, anak angkat dari keluarga Vincent.
"Sepertinya aku akan ke rumah ayah dan ibu terlebih dahulu," gumam gadis itu.
Lantas Nagisa segera turun ketika sampai di rumahnya. Dan ternyata rumah kedua orang tuanya tidak banyak berubah.
TOK TOK TOK
"Ayah? Ibu? Kalian di dalam?!" serunya sembari mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, gagang pintu pun berputar.
"Iya, siapa ya? Ada keperluan apa?" ucap seorang wanita yang mengenakan gaun anggun dan menawan. Wanita itu adalah seorang ibu-ibu, dan ya, dia adalah Nivi Alamanda, ibu kandung Lug Vincent dan Rakt Vincent. "Nagisa?!" ucapnya terkejut.
"Ibu!" Nagisa langsung memeluk ibunya itu.
Mereka berdua pun meneteskan air mata.
"Nak, sudah lama aku tak bertemu denganmu, bagaimana kabarmu? Sehat? Apa kau makan dengan teratur?" tanya Nivi.
Nagisa mengangguk. "Ya, bu. Aku sehat, aku makan dengan teratur," sahutnya.
"Ayo masuk terlebih dahulu, kita mengobrol di dalam," ajak Nivi.
Mereka berdua masuk ke dalam. Dan mereka berdua mengobrol hingga sangat lama. Tak lama kemudian, Vans pun keluar dari ruang penempaannya. Pria itu terkejut melihat Nagisa telah pulang, lantas menyalahkan istrinya karena tidak memberitahukannya. Nivi menyangkalnya dengan mengatakan bahwa itu adalah kejutan, tapi sebenarnya ia lupa.
"Ibu," ucap Nagisa. "Maaf, aku tak membawa bingkisan."
Nivi menggeleng. "Kau tak perlu membawakan apa-apa untuk kami, melihatmu bisa kembali dengan sehat seperti ini sudah menjadi berkah di mata kami," sahutnya.
Tapi Nagisa mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang sangat indah. "Ibu, aku ada uang sedikit untuk menambah biaya perbaikan rumah, kalian bisa merenovasinya dengan uang ini."
Gadis itu mengeluarkan koin emas sebanyak puluhan, seakan ia memiliki banyak sekali uang yang masih tersisa di dalam dompetnya itu.
__ADS_1
"Astaga, bagaimana kau bisa punya uang sebanyak ini?" tanya Nivi terheran-heran.
"Aku selalu menabung jatah bulananku dan juga ini adalah hasil dari aku menjadi Ranker Perak," jawab Nagisa.
Dan ya, sekali lagi Nivi terkejut mendengarnya. Lantas mereka membicarakan tentang bagaimana cara Nagisa bisa menjadi Ranker Perak secepat itu. Vans sendiri malah merasa malu karena dirinya tak bisa memberikan biaya hidup seperti apa yang diberikan Nagisa barusan. Tapi gadis itu tidak mempermasalahkannya.
"Ibu," ucap Nagisa. "Apa kau sudah mendengar tentang ... " ucapannya tiba-tiba saja terhenti.
Nivi tersenyum. "Aku tahu kabar apa yang kau maksudkan. Lebih dari setahun yang lalu, Lug tewas pada insiden penembakan sihir kuat yang menghancurkan tiga desa. Kau juga ada di sana, kabarnya adalah pengguna sihir itu adalah para pemuja dewa iblis itu, iya kan?"
Nagisa terdiam, dia menunduk dan seolah tak berani menunjukkan wajahnya.
"Nak, meskipun itu pelakunya adalah dirimu, aku akan memaafkanmu," ujar Nivi.
Tapi Nagisa menggeleng perlahan dan tidak mengatakan apapun. Dia terlihat bersedih kembali apabila teringat dengan Lug.
"Oh iya," tiba-tiba saja Nivi teringat sesuatu.
Nagisa menoleh padanya.
"Sebenarnya kau tak usah terlalu bersedih akan insiden tersebut. Aku tahu, kau pasti berpikir bahwa aku terlalu cepat melepaskan kepergian anakku begitu saja, padahal aku adalah ibu kandungnya, iya kan?" papar Nivi.
Nagisa mengangguk. "Mungkin itu ada di pikiranku untuk sekarang ini," sahutnya.
Nagisa terkejut, matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang. "Ibu, apa maksudmu?! Apa kau bercanda?"
Nivi tersenyum, tahu bahwa gadis itu sangat ingin mengetahui apa maksud dari ucapannya barusan. "Ya, seperti yang aku katakan, Lug masih hidup sekarang ini. Dia berada di tempat yang jauh di sana, entah di mana dirinya sekarang berada," jawabnya.
Lantas Nagisa kembali menunduk. Mungkin ibu sedang menghiburku, batinnya. Air matanya kembali menetes.
Vans tahu apa yang gadis itu pikirkan. "Nak, Lug memang masih hidup," ucapnya. "Dia benar-benar masih hidup di luar sana yang mana kita ini tidak tahu dia sedang berada di mana. Aku bisa membuktikannya padamu."
Nagisa menyangkal, "Bagaimana bisa itu terjadi? Kakak Lug sudah meninggal lebih dari setahun yang lalu. Aku sendiri yang menembakkan sihir masif tersebut. Aku mengakui, akulah pembunuhnya. Dia mati tepat di depan mataku, mayatnya tak tersisa karena terpapar langsung oleh sihir yang kuhempaskan. Tapi ini ... Aku tak bisa mempercayai kalian."
Vans dan Nivi saling menatap dan tersenyum.
"Kalau aku bilang bisa membuktikannya, berarti aku bisa memperlihatkan buktinya," ujar Vans.
Nagisa sama sekali tidak bergeming. Dia hanya menangis meratapi kesedihannya.
"Ayo," ajak Vans yang menarik tangan Nagisa.
__ADS_1
Nivi juga ikut berdiri dan hendak memperlihatkan buktinya kepada Nagisa.
"Kita mau ke mana?" tanya gadis itu.
"Sudahlah, ikut saja," ujar Nivi.
Mereka pun pergi dan ternyata mereka menuju ke rumah Rakt. Ketika Nivi mengetuk pintu, ada seorang wanita berambut pirang yang membukakan pintunya, wanita itu cantik dan mengenakan pakaian santai. Dia adalah Teressa. "Ibu? Ayah? Silahkan ma ... " ucapannya tiba-tiba terhenti. Tatapan matanya tertuju kepada seorang gadis yang berada di belakang mertuanya. "Nagisa?!"
Dan pada saat itu juga, Teressa menyambar adiknya dan segera memeluknya dengan sangat erat. "Nagisa, sudah sangat lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
Nagisa tersenyum. "Aku baik, kak. Bagaimana juga denganmu? Apa kau sehat?" tanyanya balik.
"Aku sehat," sahut Teressa. Lantas ia mengajak mereka semua masuk ke dalam rumahnya. "Mari kita masuk. Tak baik jika kita mengobrol dengan berdiri dan di depan pintu seperti ini."
Dan mereka semua pun masuk ke dalam rumah Teressa dan Rakt.
Teressa menunjukkan anaknya kepada Nagisa, dan adiknya itu sangat menyukainya. Karena Nagisa sangat menyukai anak kecil, secara tidak sadar tangannya terus mencubit pipi keponakannya itu.
"Wah, menggemaskan sekali," ucap Nagisa yang masih terus mencubit pipi keponakannya.
Teressa menyeringai. "N-Nagisa ... Dia, kesakitan," tuturnya.
Nagisa langsung tersadar. "Oh iya, maaf. Aku tadi benar-benar tidak sadar pada saat melakukannya. Tapi anakmu ini- dia sungguh menggemaskan," sahutnya.
Lalu mereka mengobrol, hingga mereka sampai pada topik di mana 'Lug masih hidup.'
"Apa itu benar, kak?" tanya Nagisa. Apa sebenarnya mereka hanya sedang ingin menghiburku?
Teressa mengangguk. "Dia memang masih hidup, Rakt sendiri yang mengatakannya padaku. Dia juga memiliki bukti yang mana itu terhubung oleh Lug secara langsung. Aku menyimpannya, kau mau melihatnya?"
Nagisa mengangguk. "Ya, coba kulihat."
Teressa pun segera mengambil apa yang dimaksudnya itu.
Tak lama berselang, ia kembali dengan membawa sebuah kotak hitam. Ketika membukanya, di dalamnya terdapat bola permata berwarna hitam.
"Rakt pernah diberitahu oleh Lug," kata Teressa. "Bola kristal ini terhubung langsung dengan Lug. Apabila kristal ini hancur, berarti dirinya benar-benar sudah tewas. Akan tetapi, bola kristal ini malah berubah menjadi hitam, yang mana sebelumnya penuh warna seperti langit malam yang dipenuhi bintang dan awan berwarna-warni. Jika kristal ini berwarna hitam, maka Lug masih hidup, tapi tidak berada di kerajaan ini atau sedang berada di tempat yang jauh di luar sana."
Nagisa pun mencoba memegangnya. "Teksturnya sangatlah halus dan licin, apa benar benda ini bisa menentukan hidup matinya kakak Lug?" tanyanya penasaran.
"Tidak, lebih tepatnya memastikan- emm ... Mungkin saja, iya. Ah- entahlah, aku sendiri kurang tahu. Tapi yang pasti, benda hitam ini masih utuh, yang berarti Lug masih hidup," jelas Teressa.
__ADS_1
Dan pada saat itu juga, Nagisa terdiam. Matanya penuh dengan perasaan yang kacau. Hingga pada akhirnya, ia meringis dan menangis.
Bersambung!!