![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Lug sekarang paham dengan apa yang terjadi oleh bangsawan pemurung itu. Tatapannya tidak berubah dan terus tertuju pada tangannya. Lug menyadari sesuatu yang janggal terhadap pria itu.
"Kondisi yang sama, mungkin ... Tapi- aku tidak yakin," gumamnya.
Nagisa yang baru saja kembali langsung menoleh ke arah Lug yang tiba-tiba saja berbicara sendiri. "Kak, ada apa?" tanyanya.
Lug hanya menggeleng saja dan tidak menjawab pertanyaan Nagisa. Tetapi matanya kembali tertuju kepada tangan si pria bangsawan pemurung itu. Seolah Lug menyadari dan paham dengan sesuatu yang janggal itu. Nagisa melihat hal yang sama dengan Lug.
"Dia- memakai sihir?" tanya Nagisa.
Lug mengangkat bahunya. "Aku juga tak pasti," jawabnya tanpa memalingkan pandangannya. "Tapi aku yakin, mungkin saja sejenis sihir. Tangannya sempat bercahaya barusan."
"Ya, aku juga melihatnya."
Pada saat itu juga, ada Qei yang menghampiri mereka berdua. "Hei hei, kalian sedang lihat apa? Kalian tahu, aku dapat menggabungkan 3 pecahan secara beraturan, lho," ujarnya.
Lug dan Nagisa kurang memperdulikannya, namun gadis itu melemparkan senyuman terpaksa untuk mengapresiasi usaha yang Qei lakukan. Qei sendiri menyadari ada yang aneh dengan mereka berdua, seakan mereka sedang memandangi sesuatu yang membingungkan. "Apa yang sedang kalian lihat?" tanyanya.
Seketika itu juga, Lug sudah tak memandangi tangannya si bangsawan pemurung tersebut. "Tidak ada."
Qei tahu bahwa sedari tadi Lug memandangi anak-anak bangsawan. Dia mengira Lug memandangi gadis gadis yang ada di sana dan Nagisa memandangi pria prianya. "Kalian benar-benar mata keranjang," celetuknya.
"Hah?" Lug bingung. "Terserah kau saja."
Nagisa sendiri tak paham dengan apa itu kata keranjang, tapi yang pasti itu adalah ungkapan yang buruk- mungkin. Tetapi Nagisa menghiraukannya, baginya itu tidak terlalu penting jika keluar dari mulutnya Qei. Ya, memang tanggapan yang jahat.
Tahap berikutnya adalah ujian tertulis. Setiap peserta diberikan secarik kertas untuk menjawab soal yang ada di kertas tersebut. Tetapi lagi-lagi peserta yang datang dari desa dibedakan dengan para bangsawan. Anak-anak yang terbiasa hidup di kehidupan mewah itu diberikan buku tebal untuk menulis dengan lebih baik. Lug sama sekali tidak peduli dengan perbedaan itu, hanya kemampuan yang bisa menentukan kualitas seseorang.
Dan ternyata soal yang ada di dalam kertas itu hanyalah soalan dasar. Tidak terlalu sulit, tapi juga tidak mudah. Soalnya seperti, 'Dapat digunakan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain, termasuk dalam tipe sihir apa dan berapa jumlah lingkaran sihirnya?' Itu juga termasuk hal yang nantinya akan diajarkan di kelas.
Lug terlihat sangat tenang ketika menjawab pertanyaan yang ada di kertas. Padahal saat ini semua orang sangat antusias dan banyak yang kurang mengerti.
Beberapa menit kemudian, semua kertas diserahkan. Dan jawabannya akan ditentukan benar atau tidaknya.
Lug berhasil mendapatkan nilai yang hampir sempurna. Dari 25 pertanyaan, ia menjawab 24 pertanyaan dengan benar. Hal itu ia sengaja agar dianggap sebagai keberuntungan dan bukan karena kesengajaan. Semua orang pasti bakal mengira seperti itu.
Dan pada akhirnya, tahapan terakhir pun tiba, pertarungan secara langsung. Anak-anak yang datang dari desa tidak diperbolehkan untuk menantang anak-anak bangsawan. Sementara para bangsawan dipersilahkan untuk menantang siapapun. Semuanya diberi kesempatan bertarung dua kali, sekali untuk menantang dan sekali untuk ditantang. Setelah itu peserta tidak diperbolehkan untuk bertanding lagi.
Haha, sangat tidak adil! Gerutu Lug dalam hati.
Lapangan yang luas itu adalah tempat bagi para calon murid untuk saling bartanding. Tepat setelah tahapan terakhir dimulai, George langsung mendekati Lug. "Hei, bukankah kau tadi yang mengeluarkan aura yang menyeramkan?! serunya. "Ayo bertanding denganku, jenius!"
Itu tidak terdengar seperti tantangan, tapi lebih ke meremehkan. Meskipun mengatakan 'jenius,' tapi itu bukanlah sebuah pujian.
"Baiklah," sahut Lug datar.
Segera semua orang menyingkir. Orang orang yang mencatat membuat sebuah garis pembatas seperti apa yang dilakukan oleh prajurit keluarga Laurent ketika Lug dan Luis bertarung. Pembatas itu berbentuk lingkaran dan diameternya kurang lebih adalah 12 regrit. Peraturannya juga masih sama, buat lawan sampai tidak mampu untuk melawan balik atau keluarkan dia dari garis yang telah ditetapkan.
Pertandingan pun dimulai. Dengan sombongnya George maju tanpa gentar dan langsung menciptakan tiga buah sihir sekaligus, tapi semuanya adalah sihir yang sama dan memiliki dua lingkaran sihir saja. "Anak kampungan, kalah di tangan bangsawan sepertiku lebih terhormat, bukan?!" serunya.
Api muncul dari lingkaran sihir itu. Lug berpikir bahwa anak yang bernama George ini tidak terlalu buruk juga.
Lug menghindari serangan serangan itu dengan mudah. Ketika mengelak, ia langsung menunjuk pada George. Muncul dua lingkaran sihir di kanan dan kirinya, lingkaran sihir itu berwarna ungu dan memiliki tiga garis lingkaran.
George terperangah, tak disangka ada seorang anak dari desa yang dapat menggunakan dua sihir tiga lingkaran dalam satu waktu. "Tidak mungkin!"
Lug tersenyum. Pada saat itu juga, George mengurungkan niatnya untuk mendekati Lug.
__ADS_1
Padahal Lug sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. "Akan kuajari kau sedikit tentang metode sihir," katanya.
Tidak disangka-sangka, kepala akademi yang sangat jauh dari Lug dan George bisa mendengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Pria tua itu langsung memahami apa yang dimaksud oleh Lug. "Dia- jenius," gumamnya.
Semua bangsawan di sampingnya menoleh kepadanya, sebenarnya mereka tidak tahu siapa yang dimaksud oleh kepala akademi.
Kembali pada Lug, ukiran pada dua lingkaran sihir itu berputar, lantas memisahkan diri dari garis lingkarannya. "Metode manipulasi sihir, Bola Petir, Manik-Manik petir!"
Ketika itu juga, muncul garis lurus bercahaya sangat terang melesat dari kedua lingkaran sihirnya Lug dengan amat sangat cepat ke arah George. Ketika dilihat secara rinci, itu seperti butiran pasir yang bersinar terang dan saling terhubung satu sama lain. Pria yang ditargetkannya itu menghindarinya sekuat tenaga. Petir itu menyerang tanpa henti dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Hingga pada akhirnya, Lug menghentikan serangannya dan menyerang secara langsung.
Menurut George, itu bukanlah keputusan yang bagus. Anak lelaki itu mempunyai badan yang cukup besar, tinggi–meski tidak setinggi Lug, dan gerakannya pun tidak terlalu lambat. George pun menembakkan sihir api kepada Lug, tapi dengan mudahnya serangan itu dihindari.
Cih, sialan, umpat George kesal dalam hati.
Dan dia sekarang menggunakan kartu truf miliknya. "Kau tak memberiku pilihan lain!" serunya. George langsung maju pada saat itu juga.
Lug sendiri juga tidak goyah dan tetap mendekati lelaki di depannya. Dia langsung menggunakan sihir Lengan Bayangan untuk memberikan intimidasi kepada lawan, beberapa tangan hitam langsung melesat dengan cepat ke arah George.
Tetapi George menggunakan sihirnya, yakni Tubuh Berat. Sihirnya ini membuat tubuhnya menjadi lebih berat hingga dua kali lipat, kecepatannya pun juga menurun. Sementara itu, serangan yang diberikannya memberikan efek yang besar dan semua serangan yang diterimanya akan berkurang hingga setengah dari kerusakan asli, sihir ini memiliki tiga garis lingkaran. Dan benar saja, ketika lengan lengan itu menggapainya, George dengan mudahnya menangkis serangan tersebut. Tetapi ada yang membuatnya heran. Dia berulang kali menggunakan sihir tiga lingkaran, tapi kenapa sumber mana miliknya seperti tidak berkurang sama sekali, batinnya.
Timbul kecurigaan dalam hati George bahwa Lug melakukan kecurangan. Namun hal tersebut dapat dibuktikan jika ia menemukan buktinya.
"Hei, kau pasti membawa benda untuk melakukan kecurangan, bukan?!" seru George.
Lug diam saja. Ketika sedang bertarung, berbicara hanya akan menguras tenaga saja dan membuat cepat lelah karena paru-paru menjadi bekerja ekstra. Meski Lug tidak terlalu lelah, tapi ia tak ingin cepat lelah. Tujuannya adalah ingin mendapatkan nilai yang tinggi agar di pertandingan berikutnya dirinya tidak berakhir dengan kelelahan.
George semakin curiga karena Lug tidak menjawabnya. Apa aku benar? Kita lihat saja! Batin George.
Lug pun berhenti ketika sudah dekat dengan George. Ia menembakkan sejumlah Bola Petir dan lawannya itu dapat menahannya walaupun ia hampir terjatuh karena kerusakannya yang cukup besar.
Akan tetapi ketika George sedang bersorak-sorai atas kemenangannya ...
"Sejak kapan kau sudah menang dariku?"
Terdengar suara berbisik di samping telinganya George, dan ternyata itu adalah Lug yang sudah berada di belakangnya. "TIDAK MUNGKIN!" teriaknya.
Ketika George hendak menjauh, mendadak kakinya menjadi sangat berat. Dan ketika ia melihat kakinya, ternyata keduanya sudah dililit oleh lengan lengan berwarna hitam pekat yang sudah seperti menyatu satu sama lain. Itulah yang membuat kakinya membatu. Sialan! Batinnya.
"Haha, kau kalah!" seru Lug seraya tersenyum puas.
George memiliki firasat yang buruk pada saat itu juga. Dan pada saat yang bersamaan, benda hitam di kakinya itu mulai terurai menjadi lengan lengan yang lebih kecil. Dan lengan lengan itu mengangkatnya, lantas melemparkannya hingga keluar dari garis pembatas.
Lug tahu bahwa menyakiti bangsawan hingga babak belur pasti akan membuatnya masuk ke dalam lubang pinalti. Jadi ia membuatnya keluar dari arena seperti ketentuan yang ada.
George tidak terima dengan kekalahannya. "AKU TIDAK TERIMA!" teriaknya. Ia bergegas berdiri dan melesat dengan cepat ke arah Lug. George kembali masuk ke dalam arena dan tak ada siapapun yang menghentikannya. "AKU TIDAK PERCAYA INI! KAU PASTI MENYEMBUNYIKAN SESUATU!" teriaknya lagi.
Lug merasa dicurangi pada saat itu juga. "Hei, tidak ada yang menghentikannya? Aku sudah menang ... Ayolah!" Dan kini, ia malah terlihat seperti sedang mengemis kemenangan dari orang-orang yang ada di sekitarnya, namun tak ada yang peduli padanya.
Nagisa yang melihatnya dari jauh juga merasa ada yang salah meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi yang pasti adalah George sudah keluar dari garis pembatasnya dan harusnya Lug telah dinyatakan sebagai pemenangnya.
Dan pada akhirnya, Lug menjauh sembari menyambar George dengan sihir Bola Petir yang telah diubah dengan metode memanipulasi sihir.
Sihir itu berhasil menjauhkan Lug dari George dan bahkan membuatnya menang dua kali karena lawannya keluar lagi dari pembatasnya. Tapi kali ini George tidak sudah tidak mampu untuk berdiri, ia sudah bersusah payah untuk bangkit kembali namun kakinya sudah tak berdaya lagi.
Kepala akademi tersenyum atas kemenangan yang Lug raih. Tapi hampir semua bangsawan di sekitarnya menatap sinis kepada anak yang telah mengalahkan George itu.
__ADS_1
"George adalah jenius di generasinya, tak mungkin kalah dari bocah kampungan seperti itu."
"Aku percaya bocah itu melakukan trik kotor."
"Ya, pasti dia berbuat curang."
"Bangsawan kalah dari bocah kotor seperti itu? Sudah jelas tidak mungkin, pasti ada sesuatu yang disembunyikannya."
Semua anggota perwakilan bangsawan yang hadir dan menyaksikan seleksi penerimaan murid baru pun mulai mencurigai Lug. Tapi ada satu orang yang malah tersenyum atas kekalahannya George, dia bukan senang atas kemenangannya Lug dan mengapresiasinya, melainkan karena menertawakan bangsawan yang kalah itu. Dan pada saat itu juga, seorang perwakilan dari keluarga Leonel–seorang pria, menegur orang yang menertawakan George. "Simpan, tuan Eden! Keluarga Lionel dan keluarga Eden tidak memiliki hubungan yang buruk!" serunya.
Sementara si perwakilan dari keluarga Eden yang menertawakan George menegaskan dengan senyum menyinggung, "Dengar ini! Aku datang ke sini bukan untuk perwakilan keluargaku, tapi karena keinginanku sendiri! Lagipula, kalau kau tidak terima, kita bisa selesaikan ini dengan cara lain!"
Perwakilan dari keluarga Lionel tidak berani menanggapi kalimat terakhir itu. "Tuan Eden, apa masalahmu dengan George? Kenapa kau menertawainya?" tanyanya.
"Bukan bocah itu! Tapi aku tidak akan memberikan alasan apapun. Tapi yang pasti aku tidak benar-benar serius tentang semua ini."
"Apa berarti itu untuk keluarga Lionel kami?"
"Kami? Siapa yang kau maksud kami? Kau datang ke sini tanpa ditemani siapapun. Keluargamu? Mana kepala keluargamu? Begini saja, bagaimana kalau kita selesaikan saja semua ini dengan cara lain seperti apa kataku tadi?!"
"Aku tahu kau itu seorang Ranker, jadi jangan semena-mena di sini!"
"SUDAH CUKUP!"
Kepala akademi tiba-tiba menengahi keributan tersebut. Orang yang mewakili keluarga Eden itu menyulut api ketika menjentikkan jarinya dan menyalakan rokok yang ia ambil dari kotak tembaga dari sakunya. Sementara yang berdebat dengannya tadi itu malah diam tak bergeming.
"Kalah menang itu wajar!" seru kepala akademi. "Hanya karena seperti ini kalian ribut? Tidak ada bedanya dengan anak kecil!"
Kepala akademi tidak menyudutkan satu pihak, dia menyalahkan keduanya. Sementara perwakilan dari keluarga Eden sama sekali tidak peduli dengan teguran tersebut. Dia juga sudah tahu kejadian semacam ini pastinya akan terjadi cepat atau lambat. Semua perwakilan dan kepala akademi pun kembali menyaksikan acaranya
Kembali pada Lug, ia sekarang sedang berjalan ke arah para bangsawan. Ia penasaran dengan anak lelaki yang menggunakan sarung tangan sebelumnya.
Dan ketika Lug sudah berada di dekat para bangsawan ada seorang anak yang menyerangnya menggunakan bola api. Tapi dengan mudahnya Lug menghindari serangan itu hanya dengan memiringkan kepalanya ke kiri. "Apa masalahmu?!"
"BANYAK! HANYA DENGAN MENDEKAT DENGAN KAMI SAJA ITU MEMBERI KAMI BANYAK MASALAH!" bentak anak lelaki yang menyerang.
Lug merasa apa yang anak itu katakan sama sekali tidak masuk akal. "Kau bicara apa? Kalau tidak suka katakan saja, kenapa harus menyerang seperti itu?!"
"Suka hatiku! Memangnya kau sendiri siapa mengaturku untuk bicara tentang alasanku?!"
"Kau sendiri dari tadi berbicara denganku, aneh."
Perdebatan mereka berdua hampir tidak ada habisnya, namun sayangnya beberapa bangsawan lainnya serta merta memojokkan Lug agar memberikan alasan untuk pergi menjauhi para bangsawan. Tetapi anak laki-laki yang menarik perhatian Lug itu justru mendekatinya.
Tidak pasti! Batin Lug.
Maksudnya dari kata-katanya itu adalah karena ia melihat masa depan yang memiliki belasan kemungkinan yang berbeda jauh. Ada yang memperlihatkan bahwa anak dengan sarung tangan itu menjauh, ikut menghina, menyelamatkannya, memukulinya, atau bahkan hanya sekedar melihatnya.
"Hei, apa kau mau bertanding denganku?"
Tak disangka-sangka, seorang bangsawan yang membuat Lug tertarik itu malah menawarkan sebuah pertandingan. "Tapi aku sudah tidak bisa ditantang lagi. Aku juga ke sini karena hendak melihat-lihat saja," ungkapnya, tapi itu bohong. Sebenarnya Lug malah suka.
"Tidak apa-apa, aku akan minta izin kepada kepala akademi."
"Tidak perlu, memangnya haruskah kita bertanding?"
"Kau datang ke sini kalau bukan karena untuk bertanding itu mustahil. Lagipula aku cukup tertarik denganmu."
__ADS_1
Lug malah terkejut dan malah ketakutan. Bukan karena lelaki yang ada di depannya itu sangat, jelas tidak! Tapi itu karena Lug mengira bahwa bangsawan itu adalah seseorang yang menyukai sesama jenisnya.
Bersambung!!