![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Satu bulan berikutnya, rehabilitasi kutukannya Zephyr telah selesai. Anak itu sudah percaya diri dan berani menunjukkan kedua lengannya kepada khalayak umum tanpa harus mengenakan sarung tangan yang sangat panjang lagi.
Dan bahkan sekarang metode Manipulasi Kekosongan yang Raini pelajari pun sudah hampir ia kuasai sepenuhnya.
Di hari-hari sebelumnya Raini bahkan sempat memperlihatkannya kepada Lug sebagai bukti kerja kerasnya selama ini. Lug menanggapinya dengan baik dan memberikannya pujian, tapi sqeperti biasa, apabila mereka bertemu pasti ada saja kejadian yang lucu. Dan pada hari itu juga kebetulan sedang berada di akademi dan tidak ada Nagisa bersama Lug. Anak lelaki itu berkata, "Apa kau menginginkan hadiah dariku atas latihanmu selama ini?"
"Hah? Memangnya kau mau memberiku hadiah?" Raini tidak percaya.
"Ciuman mungkin?"
"LUG! Kau ini ... Itu mesum, tahu!"
Ya, hubungan mereka terlihat semakin akrab di belakang Nagisa. Tetapi Lug juga tidak mencampakkan gadis itu. Dia tetap sering berjalan-jalan dengan Nagisa, membawanya ke taman, mentraktirnya makan, bahkan mereka sempat berpelukan beberapa kali yang karena paksaan Nagisa, dan Lug juga senang memeluk gadis tersebut.
Zephyr juga sudah dapat memunculkan sumber jiwanya beberapa hari sebelumnya. Dan dengan binaan dari Lug di setiap hari liburnya, Zephyr bisa menguasai sihir empat lingkaran hanya dalam empat bulan berikutnya.
*****
Waktu berlalu sangat cepat. Sekarang adalah ujian kenaikan tingkat, junior menjadi senior, senior menjadi ahli sihir, dan ahli sihir bisa memilih untuk menjadi calon Ranker ataupun ikut ke akademi kemiliteran.
Sekarang Lug dan siswa siswi lainnya berada di tengah lapangan untuk menunjukkan apa yang mereka bisa dalam ujiannya. Ujian tertulis telah selesai kemarin dan sekarang adalah hari di mana semua murid diharuskan menunjukkan hasil dari penguasaan sihir yang mereka pilih ketika di perpustakaan sihir.
Sekarang Elizabeth sedang menemui Lug, dan anak itu menunjukkan kertas dari perpustakaan sihir. Kertas itu adalah petunjuk untuk sihir yang hendak dikuasainya.
"Lug?!" mendadak Elizabeth terkejut ketika sedang membaca kertas yang Lug serahkan padanya. "Kau yakin memilih semua ini pada saat itu?" tanyanya.
Lug mengangguk, lantas menjawab, "Ya, aku yakin."
Sesaat setelah itu, Nagisa datang menyerahkan kertasnya pula. "Ini, bu," ucapnya sembari menyerahkan kertas miliknya.
Ketika Elizabeth memeriksanya, dia tiba-tiba saja hampir terkena serangan jantung pada saat itu juga. "K-kalian ini ... Kalian bermain-main, ya?!" serunya.
Beberapa murid lainnya sempat menoleh kepada mereka bertiga. Tapi murid-murid lainnya tidak peduli apa yang sedang terjadi.
"Kalian tahu apa konsekuensinya bermain-main seperti ini? Jika kalian tidak menguasai salah satunya, kalian akan dianggap sedang membocorkan sihir yang ada di kerajaan Da Nuaktha ini, kenapa kalian tidak melapor padaku terlebih dahulu pada saat itu?" Elizabeth sangat khawatir dengan kedua murid berbakatnya itu.
"Tenang saja, bu, kami sudah tahu, kok," sahut Lug.
Apa yang sedang terjadi ialah Lug memilih dua sihir lima lingkaran dan satu sihir empat lingkaran. Sementara Nagisa memilih satu sihir lima lingkaran dan satu sihir empat lingkaran. Itu sangat mengejutkan.
Kepala Elizabeth menjadi begitu berat dan bahkan ia hampir saja terjatuh. "Aku sudah tak tahu lagi apa yang kalian rencanakan, tapi kumohon- jangan bermain-main lagi, dan untukmu, Lug! Aku sudah sangat lelah untuk melindungimu."
Pada bulan bulan terakhir, Lug memang sering membuat kegaduhan dengan mengganggu dan menyinggung beberapa bangsawan lain, entah itu dari kelas S maupun kelas ekslusif.
"Maafkan aku untuk itu, bu, aku berjanji tidak akan mengecawakanmu," ucap Lug dengan senyuman yang menjanjikan.
Elizabeth sudah tak ingin mendengar apapun lagi. "Sudahlah, aku akan bawa kertas ini dulu, kalian jangan membuat keributan."
Lantas guru itu pergi dan meninggalkan Lug dan Nagisa bersama dengan murid lainnya.
Sekarang semua murid dipersilahkan untuk pergi menuju ke lapangan yang digunakan pada seleksi dulu. Para murid akan dinilai di sana, dan dikatakan bahwa satu Minggu setelahnya akan digunakan sebagai tempat seleksi penerimaan murid baru lagi.
Lug dan Nagisa pergi bersama. Tak lama Zephyr dan Raini menghampiri mereka, ada juga Toni, Phieri, Anni, dan Evan–teman semeja Zephyr jikalau lupa.
"Kalian sepasang kekasih, ya?" sindir Lug kepada Zephyr yang terlihat akrab dengan Phieri.
__ADS_1
Wajah Zephyr memerah, begitupun dengan gadis yang mengobrol dengannya. "Tidak! K-kami hanya ... Mengobrol biasa, kau tahu lah?" ucap pria itu. Wajahnya tampak resah dan dia seolah memberi isyarat kepada Lug agar tidak menggangunya.
Lug tersenyum dan menjawab singkat, "Ok, baiklah."
Sesampainya di lapangan, semua guru dipersilahkan untuk mengabsen satu persatu siswa yang di kelasnya. Setiap murid yang dipanggil akan langsung mempraktekkan sihir yang disebut oleh guru pembimbing pada kelasnya masing-masing.
Dan beberapa saat kemudian, Lug dipanggil. Pada saat itu, Elizabeth menelan ludah dan mulutnya sangat berat untuk mengucapkan sepatah katapun ketika membaca kertas milik murid yang dipanggilnya itu.
"Sebutkan saja, bu," pinta Lug.
Beberapa guru mulai memperhatikan Elizabeth. "Ada apa, Bu Elizabeth? Kenapa kau gugup?" tanya seorang guru dari kelas eksklusif.
Elizabeth tersenyum kaku. "M-maaf," ucapnya kaku. Ia mulai membuka mulutnya. "T-tunjukkan sihir Armageddon ... Yang kau pelajari- selama ini!" suruhnya.
Ada salah seorang guru yang menoleh ketika mendengarnya. Dia adalah seorang guru pembimbing dari kelas A–guru wanita. Dia merasa familiar dengan nama sihirnya. Apa aku salah dengar? Tidak tidak, apa memang nama sihirnya sama? Batinnya.
Lug menyeringai. "Baiklah," ucapnya.
Lantas Lug membentuk lingkaran sihir raksasa berwarna merah bergradasi jingga di udara yang bahkan hampir memenuhi seluruh lapangan. Semua orang terperangah melihatnya, mereka tak menyangka dan bahkan mungkin baru pertama kali melihat sihir sebesar itu.
A-apa-apaan itu? Howard juga terkejut melihat lingkaran sebesar itu.
Dan ketika semua orang memperhatikannya dengan teliti, ternyata sihir yang berada di atas lapangan seleksi itu adalah sihir lima lingkaran. Elizabeth menelan ludah ketika melihatnya, tahu bahwa hal semacam ini akan terjadi.
Dan guru pembimbing dari kelas A juga terkejut bahwa firasatnya ternyata sungguhan benar. Setelah ini, pasti muncul- meteor besar! Batinnya.
Benar saja, setelah itu muncul meteor besar yang keluar dari lingkaran sihirnya. Sihir tersebut sangatlah besar. Meteor yang tercipta dari sihir tersebut berupa batu raksasa yang mengalir lava di tiap celahnya dan terbakar di setiap permukaannya.
Karena biasanya sihir lima lingkaran ukurannya memang sangat besar. Berbeda dengan sihir empat lingkaran atau sihir dengan garis lingkaran yang lebih sedikit. Hampir semua sihir lima lingkaran memiliki lingkaran sihir raksasa.
Segera Howard turun dan bergegas menemui Lug. Setelah bertemu dengan Lug, dia segera menginterogasinya. "Sejak kapan kau mempelajari sihir semasif ini?" tanyanya.
Lug menjawab, "Sejak aku memilihnya dari perpustakaan sihir beberapa bulan lalu."
Howard tak bisa berkata-kata lagi, begitupun dengan Elizabeth yang pernah meremehkan Lug sebelumnya. Dan tak ada satupun dari orang-orang yang ada di lapangan itu yang tak menatap Lug–semua orang menatapnya.
Bergantian dengan Elizabeth yang bertanya, "Katanya kau ingin menguasai jenis sihir ... Apa itu? Pelemahan berskala? Atau mobilitas?"
Lug menyeringai lagi. "Sihir kedua yang kutulis itu termasuk dalam sihir mobilitas dan pelemahan berskala, namanya adalah Medan Kuburan Pedang," sebutnya.
"APA?! MEDAN KUBURAN PEDANG?!!!" teriak Howard. Pria tua ini tahu tentang sihir tersebut.
Ketika Elizabeth membaca nama sihir yang disebut oleh Lug, dia juga terkejut. Ternyata sihir yang disebutkan oleh muridnya itu lagi-lagi adalah sihir lima lingkaran. Beberapa murid lainnya pasti akan memilih sihir tiga atau empat lingkaran, alih-alih memilih hal yang mudah justru Lug memilih sihir lima lingkaran dan dia benar-benar dapat menguasainya. Dan lagi, itu bukan hanya satu.
Meski begitu, Howard tak percaya bahwa Lug bisa menguasainya. Sudah ada satu sihir lima lingkaran, mana mungkin dia bisa menguasai satu lagi, ucapnya dalam hati.
Lug mendengarnya, dia menghiraukannya saja. Lantas ia menyentuh tanah dan terciptalah sihir lima lingkaran yang sangat luas dan hampir memenuhi lapangan. Lingkaran sihir itu berwarna cyan, dan dipenuhi oleh pedang dengan warna yang sama tapi setengah transparan.
Semua orang merasa aneh dengan kaki mereka yang tiba-tiba menjadi berat, seolah ada permen karet yang menempel pada telapak kaki mereka. Bahkan para guru dan Howard sekalipun merasakan hal yang sama.
Howard pun mulai percaya dengan yang Lug katakan. D-dia ... Benar-benar tak terduga, dia sungguhan menguasai dua sihir lima lingkaran hanya dalam kurang dari setahun?! Batinnya. Dia merasa bahwa semua ini mulai tak masuk akal.
Elizabeth mulai berkata, "Jadi seperti ini cara kerja sihir Medang Kuburan Pedang? Ya, memang bisa mengontrol mobilitas pergerakan orang lain."
Lug mengangguk. "Sebenarnya sihir ini termasuk ke dalam pengurangan mobilitas pergerakan terhadap setiap orang yang menginjakkan kaki di lingkaran sihirnya. Karena sihir ini memang membuat kaki setiap orang menempel pada lingkaran sihirnya."
__ADS_1
Lantas Lug menjelaskan bahwa sihir Medan Kuburan Pedang juga memberikan percepatan pada penggunanya sendiri. Selain itu sihir tersebut juga tidak pandang bulu, mau itu teman ataupun lawan akan terkena dampak yang sama. Dan semakin banyak orang yang terjerat di dalam lingkaran sihirnya, maka pengguna mendapatkan percepatan tambahan pada gerakannya. Kelemahannya adalah ketika seseorang melepaskan dirinya dari jeratan sihir Medan Kuburan Pedang, mereka tidak akan lagi terjerat untuk yang kedua kalinya dan kecepatan tambahan pengguna akan menghilang seiring banyaknya orang yang mulai terlepas dari jeratan sihirnya, kecuali pengguna menciptakan lingkaran sihir yang baru dan itu sangatlah menguras sumber mana.
Kelebihan pada sihir Medan Kuburan Pedang juga tidak hanya terletak pada mobilitasnya, ada juga pedang cahaya yang dapat diambil, itu dinamakan Roh Pedang. Ketajaman dari mata pedangnya berkali-kali lipat dari pedang biasa, namun durabilitas fisiknya sangatlah rendah–hanya dua kali tebasan saja maka pedangnya akan memudar dan menghilang. Dan lagi, ketika pengguna sedang membawa pedang, maka ia tidak akan bisa dipengaruhi oleh sihir yang bisa memperlambat ataupun membatasi pergerakannya apabila sihirnya memiliki lingkaran sihir yang setara atau lebih rendah.
Ketika itu ada seorang guru yang menatap Lug dari kejauhan. Tatapannya itu terlihat sinis dan tampak tidak suka dengan anak itu.
Pada saat yang bersamaan, George merasa dirinya sudah terlalu jauh dari Lug. Tidak kusangka orang yang dulunya sangat ingin kupermalukan, sekarang dia sudah terlalu jauh untuk kukejar. Tak ada kesempatan lagi bagiku untuk menggapai bakat seperti itu- aku sudah kalah telak, gumamnya sedih dalam hati.
Lantas untuk sihir mpat lingkaran yang dipilih oleh Lug yang bernama sihir Kobaran Api Gelap belum ia kuasai. Itu karena Lug lebih berfokus kepada dua sihir lima lingkarannya.
Beberapa saat kemudian, tiba giliran Nagisa untuk memperlihatkan sihir yang dipilihnya.
Sekali lagi Elizabeth dibuat hampir tak bisa berkata hanya karena hendak membacakan sebuah nama sihir saja. "T-tunjukkan ... Sihir- Pusaran Badai Cahaya!" perintahnya tergagap. Apa memang desa Nedhen itu tempat terlahir ya anak-anak berbakat seperti Lug dan Nagisa? Batinnya kesal–sebenarnya bukan kesal, tapi lebih ke terkejut. Elizabeth lelah dibuat Lug dan Nagisa terkejut berulang kali karena bakat mereka berdua yang berada jauh di atas rata-rata.
"TUNGGU! APA?!"
Tiba-tiba saja ada yang berteriak, dan tidak hanya satu orang saja–ada beberapa. Bahkan Wilson Lawrence pun juga salah satunya.
Itu karena sihir Pusaran Badai Cahaya adalah sihir yang cukup populer di kalangan kemiliteran. Dan kebetulan kakaknya Wilson serta beberapa saudaranya juga berada di kemiliteran, mereka juga sedang dalam proses penguasaan sihir yang sama. Mendengar langsung bahwa Nagisa terlebih dahulu menguasainya membuat Wilson terkejut dan ada rasa tidak terima serta amarah di dalam hatinya.
Nagisa menoleh kepada Lug sebelum membentuk lingkaran sihirnya seakan sedang memintanya izin. Lug mengangguk seolah dia berkata, lakukan saja, biarkan saja semua orang tahu akan bakatmu.
Segera gadis itu membentuk lingkaran sihirnya. Ukurannya cukup besar–membentang hingga bahkan diameter lingkaran sihirnya lebih dari dua kali lipat tinggi badannya Lug. Namun ada yang sedikit keanehan dari sihir tersebut. Di tengah lingkaran sihirnya memiliki lubang yang sangat besar. Ketika sihirnya muncul, terjadi badai yang sangat luar biasa. Angin berputar-putar di tengah lubang tersebut, dan tercipta cahaya emas yang sangat terang di tengahnya. Perlahan cahaya emas tersebut membesar, menarik belasan cahaya yang menjuntai-juntai layaknya kain yang ditarik ke pusaran beliung.
Lug menyadari sihir Nagisa menjadi terlalu berlebihan. Muncul debu berwarna kebiruan yang mengitari cahaya emas pada sihirnya Nagisa.
Dengan penuh rasa kekhawatiran, segera Lug mendekati Nagisa dan menghentikannya. "Hentikan sihirnya sekarang juga!" suruhnya berbisik.
Nagisa menghentikannya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh kakaknya, Lug. Seluruh sihirnya memudar dan belum sempat tercipta sepenuhnya. Berbeda dengan Armaggeddon yang mana ketika sihirnya sudah muncul, maka tidak akan bisa dibatalkan–dapat dihentikan dengan cara menghancurkannya, sayangnya akan memberikan dampak buruk bagi sekitar. Bisa saja menggunakan cara lain seperti yang Lug lakukan menggunakan sihir Cahaya Pembalik.
Elizabeth bingung melihat Nagisa tiba-tiba menghentikan proses pembentukan sihirnya. Namun ia tahu bahwa gadis itu berhenti setelah Lug membisikkan sesuatu di telinga gadis tersebut. "Kenapa kau menghentikannya, Lug?" tanya Elizabeth penasaran.
Lug menggeleng. "Tidak ada apa-apa, aku hanya mengerti batasan Nagisa. Terlihat tadi nafasnya mulai tidak stabil, dia sudah tak mampu untuk meneruskannya," papar Lug berbohong.
Elizabeth sebenarnya tidak menyadari dan berpikir bahwa ucapan Lug memang benar dan masuk akal.
Pada umumnya orang biasa tak akan mampu menggunakan sihir lima lingkaran secara langsung sebelum menyesuaikan diri dan sumber mananya, meski begitu ini juga berbeda dari sihir lima lingkaran pada umumnya- jauh lebih kuat lagi, gumam Lug dalam hati.
Dan benar saja, Nagisa memang mulai berkeringat. Sumber mananya memang sedikit terkuras dan ia juga cukup kelelahan untuk mengerahkan sihir semasif itu.
Karena dirasa tak sanggup, Elizabeth menyarankan agar Nagisa beristirahat terlebih dahulu. "Istirahatlah dulu, setelah ini kita lanjutkan lagi," ujarnya.
Nagisa mengangguk. "Iya, bu, lagipula- aku memang belum menguasai sihir empat lingkaran yang satunya," terangnya.
"Tidak apa-apa," kata Elizabeth. "Kau tetap dinyatakan berhasil dalam ujian kali ini, beristirahatlah!"
Lug pun membawa Nagisa ke ruang istirahat yang berada tak jauh dari lapangan.
Di tengah perjalanan, Nagisa menggoda, "Kakak Lug, rangkul aku, dong, kumohon. Aku kan sedang butuh istirahat."
Lug merasa dipermainkan. "Baiklah baiklah," dia merangkul Nagisa dan memapahnya berjalan. "Sudah? Kau puas?"
"Iya, aku puas," ucap Nagisa dengan senyuman manisnya.
Bersambung!!
__ADS_1