Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 15 - Kehadiran Nagisa


__ADS_3

Sebelumnya, Nagisa sempat panik karena dirinya sudah ketinggalan jauh oleh rekan-rekannya. "Bagaimana caraku mengejar mereka? Pedang ini tidak bisa disimpan seperti Kebangkitan Pedang pula- berat," gumamnya.


Gadis itu berlari dengan tubuhnya yang diterjang oleh angin yang sangat kencang nan dingin. Tapi dirinya bisa menahan suhu dingin yang ekstrim tersebut. Meski begitu, gerakannya tetaplah lambat dan sangat sulit untuk bisa mengejar rekan-rekannya yang sudah sangat jauh itu.


Tak lama kemudian, mutiara pada pedang yang digendongnya di belakang punggungnya itu bersinar lagi. "Pedang ini beresonansi dengan manaku lagi," gumam Nagisa.


Lantas gadis itu menurunkan pedangnya yang berat itu. "Bagaimana kalau aku mengalirkan manaku ke dalam pedang ini. Aku penasaran apa yang akan terjadi karena terus menerus beresonansi," ujar Nagisa sembari memegangi gagang pedangnya itu.


Dia pun mengalirkan mananya ke dalam pedangnya dan mutiaranya bersinar lebih terang lagi.


"Sepertinya ... " Nagisa merasa bahwa dirinya bisa melakukan suatu hal. "Ini- menjadi sedikit lebih ringan," ujarnya ketika mengngkat pedang tersebut.


Ketika mengangkatnya, Nagisa mengalirkan mananya lebih banyak. Lantas terjadi sesuatu pada pedangnya. Bilah pedang tersebut terbelah menjadi belasan bagian–lima belas, namun kelima belas bilah pedangnya itu tidak terputus. Mereka tersambung oleh mana yang berupa cahaya terang dan tipis–bahkan berkali-kali lebih tipis dari mata pedangnya, sehingga membuat pedang itu menjadi lebih panjang dari sebelumnya.


Dan ketika Nagisa mencoba mengayunkan pedangnya ...


BLAAARR


Tercipta tebasan yang berupa cahaya putih menghantam tanah hingga hancur. Bahkan tebasannya itu merobohkan satu pohon Cemara di depannya.


"W-wow ... " Nagisa terkagum-kagum. "Pedang apa ini? Apakah ini pedang dewa?"


Nagisa merasa ada hal lain lagi yang mungkin bisa dilakukan oleh pedang tersebut, namun ia harus segera pergi mengejar rekan-rekannya agar tidak tertinggal lebih jauh lagi.


Baru saja berlari beberapa regrit, ada hembusan angin yang sangat kuat hingga hampir membuatnya terlempar untuk yang kedua kalinya.


"Ah, sial- hampir saja!" gumam Nagisa kesal.


Setelah mengejar hingga beratus-ratus regrit jauhnya, Nagisa pun melihat ada sekumpulan orang yang tengah berjalan di atas dataran es. Di sana ia melihat adanya beberapa orang yang tengah bertarung dengan sesosok Monster Mistik yang menjadi rebutan antar kerajaan.


"Tunggu, itu kan- " Nagisa terkejut melihat Pusaran Angin Seribu Lengan. Dia juga tahu bahwa sekumpulan Ranker itu bukanlah rekan-rekannya.


Tak lama setelah itu, sekumpulan orang-orang itu mulai pingsan. Nagisa sama sekali tidak merasakan apapun di sana, tetapi kalungnya bergetar. Gadis itu merasakan getaran pada kalungnya itu. Ia pun membatin, Benda ini bergetar karena di sekitar sini ada kakak Lug atau memang ada sesuatu yang sedang terjadi?


Nagisa menyaksikan banyak hal setelah memperhatikan semua orang-orang itu yang pingsan. Hingga ia melihat ada dua orang yang sedang berlari menuju ke arahnya. Mereka tahu aku ada di sini? Tidak, mereka mungkin sedang memancing si kembari yang kerasukan itu ke sini agar perhatiannya teralih pada orang-orang yang pingsan itu, batin Nagisa.


Nagisa tahu siapa lelaki berambut putih, "Taring Iblis? Mereka dari kerajaan Tigerion?" gumamnya dengan nada pelan.


Taring Iblis memiliki rambut putih yang panjang dan di sisir ke belakang, ada beberapa helai di pelipis kanan dan kiri yang diikat dan berwarna merah, rambut merahnya itu membingkai di wajahnya. Tatapannya sangatlah tajam, da ia memakai masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya–hidung dan mulutnya.


Note :


(Seharusnya author tulis biodatanya Taring Iblis di chapter sebelumnya bersamaan dengan penjelasan biodatanya Kembar Gila, tapi sayang author terpepet oleh deadline.)


Nagisa merasa kasihan membiarkan Taring Iblis dan rekannya itu tertangkap oleh Pusaran Angin Seribu Lengan. Sehingga ketika Monster Mistik itu mulai menyerang lagi, ia melompat dan menebas serabut anginnya itu.


Kedatangan Nagisa benar-benar membuat orang lain terkejut, bahkan Pusaran Angin Seribu Lengan pun juga terkejut. Serangannya yang sangat mendadak itu lah yang paling mengejutkan.


Sementara tatapan mata Empat Topeng tertuju pada Nagisa, tepatnya pada senjata sihirnya itu. Aku melihat serangan itu tiba, dan bahkan- itu membuat sumber jiwa Kembar Gila bergetar, ujarnya dalam hati.


Empat Topeng melirik ke arah rekan-rekannya. "Kalian bersiaplah, gadis itu ... Punya kekuatan yang besar, dan kemungkinan besar dia punya kekuatan untuk mengalahkan Pusaran Angin Seribu Lengan," tuturnya.

__ADS_1


"Baik," sahut Topeng Jingga dan Topeng Merah.


Tapi Topeng Hitam tidak berkata apapun. Dan setelah itu, dia berkata, "Dia membawa ... "


"Ya," sahut Empat Topeng. "Dia membawa senjata sihir kelas misterius."


Senjata sihir biasanya memiliki empat tingkatan, yakni tingkat dasar, menengah, tinggi, dan tertinggi. Sementara tingkat misterius adalah tingkatan kepada sebuah senjata yang memiliki tingkatan tak menentu, bahkan bisa dikatakan melebihi tingkat tertinggi. Senjata sihir dapat menampung mana di dalamnya, memiliki durabilitas yang tinggi–bisa dikatakan tidak mudah hancur, memiliki atributnya sendiri yang bersifat internal–senjata biasa memiliki atribut eksternal, dikarenakan tidak dapat menampung mana dan kekuatannya berasal dari penggunanya sepenuhnya. Berbeda dengan senjata sihir yang kekuatannya bisa digunakan oleh penggunanya, bukan berasal dari penggunanya. Lalu senjata sihir tidak bisa digunakan begitu saja, harus memiliki kecocokan antara pengguna dan sihirnya. Misalnya seseorang menggunakan senjata sihir beratribut es, sementara penggunanya menggunakan sihir api, jelas saja akan terjadi penolakan dan bisa saja menghancurkan senjata sihir itu sendiri. Dan terakhir, ada juga senjata sihir yang memiliki jiwa di dalamnya, orang-orang berasumsi bahwa jiwa-jiwa tersebut berasal dari Monster Mistik atau mungkin roh para pendahulu. Biasanya ditemukan pada senjata sihir tingkat tinggi dan tingkat tertinggi, serta senjata sihir yang memiliki jiwa di dalamnya sangatlah langka.


"Apa kita akan merebutnya?" tanya Topeng Hitam.


Empat Topeng menggeleng. "Lebih baik jangan, ada kemungkinan senjata sihir itu memiliki jiwa," paparnya.


Topeng Hitam mengerti, karena senjata sihir yang memiliki jiwa bisa saja memberikan penolakan dikarenakan pengalihan kepemilikan.


Dan semuanya sudah bersiap-siap, kini mereka mulai menunggu aba-aba dari Empat Topeng untuk mulai bergerak.


Sementara Nagisa sudah mulai bergerak menuju ke arah Peter yang berada di dekatnya.


WUUUSH


WUUUSH


WUUUSH


Gabungan sumber jiwa milik Kembar Gila mulai menyerang dengan garis ungu seperti apa yang dilakukannya sebelumnya.


Nagisa menyerang balik dengan senjatanya, semuanya ditebas olehnya.


"Kristal Cahaya!"


Ketika Nagisa menggunakan sihir itu, ia menggunakan metode penggabungan sihir dengan senjata. Lingkaran sihirnya langsung melebur pada bilah pedangnya.


WUUUSH


Lantas Nagisa mengayunkan pedangnya ke atas dan keluar kristal cahaya yang berjumlah belasan. Kristal kristal tersebut mengenai mata pisau milik Peter yang dilemparkan. Semua kristal kristal tersebut berhasil menjatuhkan semua mata pisau tersebut dan sedikit menyilaukan lawan. Beberapa kristalnya masih ada yang melesat, bahkan Nagisa menambah lagi kristalnya dengan mengayunkan pedangnya lagi.


Tetapi Peter masih memiliki beberapa kata pisau, ia membentuk lingkaran dua lapis dengan mata pisaunya itu. Lingkaran tersebut berputar dengan sangat cepat.


Itu membuat semua kristalnya tertahan dan meledak. Dan itu adalah kesempatan bagi Nagisa untuk menyerang dikarenakan lawannya terkena sinar yang sangat menyilaukan.


Ketika Nagisa mengayunkan pedangnya ke arah lawannya-


TRIIING


Peter dapat menahan serangan tersebut dengan mata pisaunya yang berputar itu.


Dia tahu? Jadi ... Dia tidak buta karena sinar barusan? Batin Nagisa terheran-heran.


Peter masih dapat mengendalikan seluruh mata pisaunya, dan mata pisau miliknya yang telah dijatuhkan oleh Nagisa tadi diterbangkan secara diam-diam. Lantas menyerang gadis itu dari titik butanya.


WUUUSH

__ADS_1


Nagisa mendengar suara serangan dari belakangnya, dan dengan segera ia menghempaskan dirinya ke tanah.


Tapi dari jauh, Petro sudah menyiapkan lingkaran sihir yang mengarah kepada gadis tersebut. Sihir itu adalah tiga lingkaran sihir.


"Hembusan Angin Ganas!"


Lingkaran sihirnya itu menghembuskan angin yang sangat kuat, sehingga dengan sangat cepat mengenai Nagisa. Itu membuatnya terdorong ke belakang yang membuat mata pisaunya semakin mudah mengenainya.


Tetapi dengan sigapnya, Nagisa langsung berbalik dan mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat.


SRAAT


SRAAT


"Aghh!!"


BUGH


Sayangnya, ada dua mata pisau yang mengenai pipi dan lengan kirinya. Pada saat itu, Nagisa hampir tumbang karena ia tak mendarat dengan baik. Tubuhnya menghantam tanah dengan sangat keras dikarenakan lompatannya tadi cukup tinggi–Peter terbang di ketinggian empat kaki.


Nagisa tak mau membiarkan lawannya menumbangkan dirinya, sehingga ia segera bangkit dan menjauh. Mereka ... Sangatlah kuat! Batinnya.


WUUUSH


Nagisa kembali melesatkan tebasan yang sama seperti di saat kehadirannya tadi.


Tapi Peter dengan mudahnya menghindari tebasan tersebut hanya dengan sedikit menggeser tubuhnya.


Dirasa sudah berada di jarak yang tepat, Nagisa menudingkan ujung pedangnya ke arah Peter. Lantas bilah pedangnya terbelah menjadi dua, membuatnya terlihat seperti gunting yang terbuka. Mutiaranya bersinar dengan sangat terang, bahkan sayapnya pun terlihat bergerak dan mengepakkan helai cahaya yang entah dari mana muncul.


BUUUUFFFF


Mutiara tersebut menembakkan cahaya lurus yang sangat terang mengarah pada Peter dengan teramat sangat cepat–kecepatannya setara dengan kecepatan kilat.


Dari jauh Petro sudah mempersiapkan sihir pertahanan, dan ketika itu juga Peter dilindungi oleh lapisan cahaya berbentuk bola yang sangat padat dan transparan. Peter berada di dalam bola cahaya tersebut.


Serangan Nagisa memang gagal mengenai Peter. Tapi dia masih mengacungkan pedangnya.


Muncul tiga lingkaran sihir berwarna putih terang yang membentuk pola segitiga di depan mutiara pada pedangnya. Ketiga lingkaran sihir itu semakin membesar dan sedikit menjauh dari mutiaranya. Ukurannya itu bahkan melebihi tubuh gadis itu sendiri.


"Cahaya Penembus! Cahaya Penembus! CAHAYA PENEMBUS!!!" teriak Nagisa.


BUUUUUUUUUUUUFFFFFFFFFFF


Ketika itu juga, mutiaranya menembakkan sihir cahaya lagi dan mengenai ketiga lingkaran sihir tersebut. Dan tercipta sihir cahaya yang besarnya berkali-kali lipat dari serangan barusan.


Serangan itu membuat Peter dan Petro terkejut, mereka ragu bahwa pertahanan mereka tidak akan sanggup menahannya. Dan dalam hitungan sepersekian detik, serangan tersebut sudah menutupi bola cahaya yang mengandung Peter di dalamnya.


Itu membuat Empat Topeng dan semua rekannya terkejut pula hingga membelalakkan mata mereka.


Dia ... Mengerikan! Luar biasa! Empat Topeng memuji Nagisa dari dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2