Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 56 - Retakan Dimensi


__ADS_3

Alam semesta dalam kekacauan yang sangat besar, dua siluet dengan kekuatan yang sangat besar bertarung di tengah kekacauan besar tersebut. Guncangan ruang, lonjakan gravitasi tak menentu, ledakan bintang, retakan dimensi di segala penjuru ruang, dan hal hal dahsyat terjadi di saat yang bersamaan. Kejadian yang menjadi mimpi buruk seluruh makhluk di alam semesta.


*****


Lug telah terbangun dari tidurnya, ketika menyaksikannya, Nagisa dan Raini tersenyum dengan gejolak rasa senang yang luar biasa. Tetapi tepat ketika terbangun, Lug terlihat gelisah, ia merasa bahwa ada yang masih kurang di dalam dirinya.


Raini memegang tangan Lug. "Sayang," katanya dengan suara halus, "Aku menyaksikan sesuatu yang menarik untukmu, entah ini- mimpi atau ramalan, tapi ... Aku ingin menceritakannya padamu.


Selang beberapa menit, Lug mendengarkan cerita dari Raini sepenuh hati. Dia meresapi tiap kata yang didengarnya.


"Apa kau ... " Terdapat keraguan dari bibir Raini. "Apakah itu akan menjadi bencana di masa depan?" tanyanya.


Lug terdiam sejenak, lantas menatap mata Raini lamat-lamat. "Jika itu memang benar, apa boleh buat? Untuk sekarang, kita tak bisa melihat masa depan yang sesungguhnya, semua itu mungkin ramalan, namun ramalan bisa saja dipatahkan dan mungkin itu hanya mimpi belaka, jadi kau tak perlu terlalu risau kepadaku," jelas Lug dengan senyuman kecil di akhir katanya.


Awalnya Raini terlena akan perkataan suaminya itu dan percaya begitu saja. Tak lebih dari lima detik, pemikirannya berubah. Karena ramalan mungkin bisa dipatahkan, tapi siapa yang tahu kalau ramalan itu benar adanya?


Lug tahu isi hati istrinya itu, lantas ia mengelus kepala wanita itu. "Tak perlu terlalu dipikirkan, kita belum tahu bagaimana takdir menentukan," tuturnya menenangkan.


Raini mengangguk menurut.


Seharusnya takdir bagi orang awam tak mungkin dapat ditentang selagi mereka tak mampu menembus waktu, tetapi aku ... Aku adalah reinkarnasi seorang Acestral! Takdir hanyalah mainan belaka bagiku! ungkap Lug dengan tegas dalam hatinya sembari menatap ke arah kekosongan.


Tak lama Lug berdiri. Ia menggandeng tangan kedua istrinya, lalu tersenyum kepada mereka berdua bergantian–diawali dengan tersenyum kepada Nagisa.


Lug berjalan keluar dan semua orang telah menantikan bangunnya dirinya itu. "Maaf telah membuat kalian menunggu," ucapnya.


Yinsha tersenyum. "Master tidak perlu memikirkannya, kami dengan senang hati akan menunggu master bangu sampai kapanpun itu," sahutnya sembari menundukkan badannya dan memberikan salam hormat dengan kedua tangannya.


Lug tersenyum dan terkesan dengan pembawaan Yinsha, hanya saja sekarang itu tak terlalu penting. Lantas ia mengeluar Penghubung Dunia, pedang tersebut bersinar, apalagi pendar cahayanya semakin terang di bagian bola semestanya. Lug telah melakukan sesuatu terhadap senjatanya itu–atau bisa lebih disebut sebagai benda peninggalannya, di kehidupan sebelumnya Lug jarang dan hampir tidak pernah menggunakan Penghubung Dunia sebagai senjata untuk melukai, hanya saja pedang tersebut sangatlah destruktif terhadap suatu struktur fondasi ruang, sehingga menjadikannya suatu benda yang sangat menakutkan.


Kemudian Lug memejamkan matanya, memegang Penghubung Dunia dengan kedua tangannya, ujung bilah pedangnya menghadap tepat ke langit, dan pedang tersebut mulai dilapisi oleh cahaya berwarna-warni.


Bola semesta yang ada pada Penghubung Dunia menunjukkan suatu sistem tata surya, dan itu adalah tata surya dari bintang yang menjadi induk bintang yang dikelilingi planet para manusia dan planet lainnya yang juga tergabung. Lalu bola tersebut menunjukkan tempat yang lebih spesifik, namun itu bukanlah tempat di mana para manusia berada, itu adalah planet lain dengan penghuni atau peradaban yang berbeda. Meski menjadi planet yang berdampingan dengan planet para manusia, tapi tentang jaraknya sangatlah jauh–jaraknya sedikit lebih jauh dari rentang jarak antara planet Bumi dan planet Jupiter yang sebenarnya.

__ADS_1


Lantas Penghubung Dunia diturunkan, cahayanya meredup. "Apa kalian tahu planet ini bernama apa?" tanya Lug.


"Planet?" tanya balik Yinsha tak paham.


Nagisa dan Raini mengangkat bahu mereka, keduanya juga sama-sama tidak tahu. Sementara Zephyr juga tidak mengetahuinya.


"Ah, bisa-bisanya kalian tida ... Benar juga! Aku sendiri juga tak tahu," gumam Lug seraya menepuk dahinya sendiri.


Maxleen menerka pembicaraan, "Seingatku ada seorang peneliti beberapa tahun lalu yang menyebut dunia ini dengan Planet Voinee, tapi ... Itu hanya sebuah catatan lama yang ditinggalkannya setelah kematiannya tiga tahun lalu," sebutnya tak yakin, bahkan ia menggaruk kepalanya dan melirik ke kiri atas.


Lug mengangguk. "Tak apa-apa, sebut saja planet ini dengan nama Planet Voinee. Itu terdengar indah," ucapnya dengan senang hati, bibirnya juga tersimpul sebuah senyuman.


Maxleen tersenyum, terdapat ucapan terima kasih di bibirnya meskipun ia tak mengucapkannya.


Lug mengatakan rencananya, semua orang menyimaknya dengan antusias. Tak lama ia menggunakan pedangnya yang barusan cahayanya meredup, kini telah kembali mengeluarkan sinarnya yang jauh lebih terang dari sebelumnya. Lug menutup matanya karena tahu bahwa matanya sendiri juga tak dapat melihat cahaya tersebut secara langsung. Semua orang pun menutup matanya karena terlalu menyilaukan, mereka bahkan memalingkan badan dan wajah mereka agar tidak terpapar langsung oleh cahayanya. Bahkan sesosok Nagisa pun yang memiliki sedikit kekebalan karena silaunya cahaya merasakan hal yang sama dengan yang lainnya. Sementara dengan mudahnya Raini menggunakan Mata Kehampaan.


Itu- senjata yang sangat mengerikan ... Kakak Lug, kupikir- kau itu mengerikan sekali, gumam Nagisa dalam hati.


Cahaya itu ... Bahkan menembus dunia kehampaan yang disebut-sebut oleh suamiku tak dapat ditembus oleh apapun, a-apa ... Benda apa itu? Bahkan pedang itu pun juga ada di kehampaan? Beribu-ribu pertanyaan muncul di kepala Raini, penuh akan rasa penasaran yang tak memiliki ujung. Dia tahu bahwa hanya suaminya itu, Lug, yang tahu kebenaran yang sebenarnya.


"Persiapannya telah selesai," kata Lug, ia masih belum membuka matanya.


WUUUUUUUUSSSSSHHH


Pusaran angin terbentuk di sekitar bola yang ada di Penghubung Dunia, terlihat seperti 'Peristiwa Horizon' pada lubang hitam. Hembusan angin itu sangat kuat dan seakan menarik apapun di sekitarnya untuk masuk ke dalam bola tersebut. Permukaan bola itu bahkan kini tidak bisa dilihat karena tertutup oleh hembusan angin itu dan cahaya terangnya.


Setelah itu berlalu selama beberapa detik, terjadi seseorang pada bilah pedangnya yang kini permukaannya luntur. Terlihat kini permukaannya seperti berubah dan menampilkan bahwa itu adalah ruang tersendiri, tidak kosong dan seperti ada sesuatu yang terang berwarna aneh di dalamnya. Namun perlahan itu berubah menjadi berwarna hitam, dan tiba-tiba itu dilahap oleh lubang hitam–sebuah bola singularitas berwarna hitam dengan kepadatan yang luar biasa–biasanya terbentuk akibat ledakan masif dari kematian bintang atau biasa disebut sebagai Supernova. Itu mempengaruhi struktur ruang dimensi di sekitar, menampakkan keretakan pada struktur ruang di sekitar. Kini bilah pedangnya telah menghilang akibat dilahap oleh lubang hitam tersebut dan semakin lama itu semakin membesar bahkan ukurannya lebih besar dari bola sepak. Itu masih terus membesar.


Semua orang pergi menjauh, mereka tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bahkan sempat menganggap apa yang dilakukan oleh Lug hanyalah sebuah kegilaan.


Mereka benar-benar takut dengan apa yang terjadi, sedikit lucu saja melihat mereka.


"Sekarang semuanya selesai!" seru Lug dengan senyuman luas yang terukir indah pada bibirnya.

__ADS_1


Cahaya terang itu dihisap oleh lubang hitam itu yang kini ukurannya seperti bola raksasa yang bahkan bisa ditempati oleh tiga orang dewasa. Lubang hitam itu kini permukaannya tidak lagi berwarna hitam pekat, sekarang itu berubah seperti ada sebuah ruang yang terhubung melalui lubang hitam tersebut–anggap saja sebuah gerbang penghubung.


Karena semua orang sudah bisa melihat, mereka langsung menatap ke arah Lug yang berdiri dekat dengan bola besar itu. Mereka tak berani mendekat.


"Tenang saja, ini aman. Bukan sesuatu seperti apa yang dapat membunuh kalian," terang Lug meyakinkan.


Nagisa adalah yang pertama percaya oleh ucapan Lug, diikuti Yinsha dan Raini. Kemudian yang lainnya terpengaruh untuk percaya pada Lug dan mendekati bola besar yang memiliki ruang di dalamnya itu, meski mereka semua masih ragu.


Raini melihat sekitar yang mana tatanan ruangnya mengalami keretakan, ia hendak menyentuhnya. Dan dengan kemampuannya ia mengalirkan energi kehampaan pada retakan tersebut, lantas keretakan ruang itu puluh kembali. Namun tindakan itu diperhatikan oleh Lug sebelumnya, dan tak sempat untuk mencegahnya.


"RAINI! JANGAN LAKUKAN ITU LAGI!!!" teriak Lug memerintahkan.


Ketika Raini menoleh ke arah suaminya, tak sempat sampai menatapnya, wanita itu tiba-tiba saja mengerang kesakitan.


"K-kakak Lug! ... Apa ... Apa yang terjadi pada Raini?!" seru Nagisa panik.


Mata Lug terbelalak lebar, dan dirinya juga tiba-tiba merasakan kesakitan yang luar biasa seperti istrinya itu. "AKH! Raini ... Dia- sinkronisasi sumber jiwa kami mengalami kerusakan karena luka yang diterima oleh sumber jiwanya Raini ... KURGH! UHK! Dia ... Lebih tersiksa- dari aku! UHUK!" jelas Lug sembari meringis menaha kesakitan.


Di saat itu, Raini merasakan kesakitan yang luar biasa mengerikan, bahkan dirinya tak dibiarkan untuk pingsan meskipun matanya terus menghadap ke atas hingga seluruhnya berwarna putih. Wajah terlihat pucat, terlihat sangat mengenaskan dan kasihan.


Yinsha dengan sigap mendekat dan hendak sekali menolong masternya itu, namun ia bingung hendak melakukan apa. Bukan hanya Yinsha saja yang panik, semua orang panik di saat yang bersamaan.


Namun semua itu hanyalah penglihatan di masa depan melalui kemampuan Lug yang apabila tidak segera menghentikan tindakan Raini ya g sekarang hendak mengalirkan energi kehampaannya. Lug dengan cepat mendekati Raini dan mencegahnya, lelaki itu menahan tangan wanitanya, meremas dan menariknya agar tak melakukan sesuatu yang berakibat fatal. Lug menggeleng, mengisyaratkan untuk tak melakukan sesuatu yang tidak perlu.


Raini sedikit takut, ia menelan ludah dan mengangguk dengan tatapan rendah. "B-baiklah, maafkan aku," ucapnya tergagap.


Lug kembali pada tempatnya dan mulai menjelaskan, "Kita akan langsung masuk, karena tepat di depan kita- adalah tempat para dewa berada, atau aku menyebutnya ... Planet Utopias."


Kakak Lug ... Dia benar-benar luar biasa, ucap Nagisa sambil tersenyum. Dirinya semakin ingin untuk semakin dekat kepada Lug.


Dan pada akhirnya, Lug masuk ke dalam untuk mengawali. Diikuti oleh Nagisa sebagai yang pertama, lalu Raini, Yinsha, Zephyr, dan yang lainnya. Setelah semua orang masuk, selang lima menit berlalu, ruang berbentuk bola atau gerbang penghubung itu menghilang secara misterius dengan cara kembali menghitam dan mengecil dengan sangat cepat dalam sepersekian detik.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2