![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Beberapa hari telah berlalu. Rakt dan Teressa kini tengah menjadi sorotan utama seluruh warga desa Nedhen. Itu karena pada hari ini juga mereka akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan mereka berdua akan dilaksanakan di aula pernikahan yang baru dibangun beberapa tahun lalu. Tepatnya berada di tengah-tengah desa yang mana itu tepat berseberangan dengan bazar.
Pada saat ini, Teressa sedang dirias oleh Veni. Selain bisa mendesain pakaian, janda satu anak itu juga mampu untuk merias. Dia memang ahlinya di bidang fashion, Teressa bahkan ingin sekali belajar dengannya tentang fahion.
Sementara Rakt, ia tidak banyak merias wajahnya. Dia sekarang mengenakan baju putih dengan saku di dada kirinya, pita kupu-kupu berwarna hitam, jas putih yang dikancingkan–dua buah kancing, celana panjang putih, dan sepatu hitam. Lug menemaninya dan berbincang di balik tirai panggung.
Beberapa saat kemudian, terpancar sinar yang sangat terang dari balik sela sela tirai. Lug tahu bahwa sekarang adalah waktunya, ia membawakan bunga pernikahan berwarna putih yang sangat indah teruntuk Rakt. "Ini, kak, bawa bunga ini. Buat suasana menjadi jauh lebih ramai," ujarnya.
Rakt tersenyum dan mengambil bunganya. "Terima kasih, Lug," ucapnya.
"Sama-sama."
Pada saat itu juga, Lug pergi dan bersamaan dengan itu juga tirainya terbuka. Dari luar terlihat Teressa mengenakan gaun putih yang teramat indah. Pesonanya bahkan sampai membuat pria lain melongo hingga ditampar oleh kekasihnya–mampus. Tatapan mata Rakt hanya tertuju pada Teressa saja, dia tak bisa menggerakkan bola matanya yang sudah terkunci untuk menatap gadis tersebut. Wow, luar biasa! Cantik ... Definisi dari kata cantik yang sesungguhnya, batinnya.
Teressa pun sampai di atas panggung, dan segera menggenggam erat tangannya Rakt secara perlahan. Rakt membalasnya, mengangkat tangan perlahan dan saling menempelkan siku tangan mereka satu sama lain.
Ketika itu juga mereka dinikahkan oleh penghulu nikah. "Genggam tangan pasangan kalian satu sama lain, satukan sumber jiwa kalian!" perintah penghulu.
Lalu Rakt memunculkan sumber jiwanya–mana berkumpul di atas kepalanya dan membentuk lingkaran dengan garis yang membentuk silang dan di tengah-tengahnya terdapat garis yang membentuk mata kecil, garis garis itu berwarna cokelat–bahkan garis matanya. Sumber jiwanya ini ukurannya sedikit lebih besar dari genggaman tangan Rakt itu sendiri.
Dan Teressa juga memunculkan sumber jiwanya–mana yang berkumpul jauh lebih banyak, berwarna putih terang. Membentuk seperti bola yang bercahaya terang, namun cahayanya itu solid seperti kristal yang mencuat di seluruh permukaannya, dan juga terdapat dua garis lingkaran yang berputar-putar dengan arah yang berbeda-beda. Ukuran sumber jiwanya ini bahkan hampir lebih besar dari kepalanya Teressa sendiri.
Semua orang tampak kagum melihat sumber jiwa yang sangat besar dan indah milik Teressa. Sumber jiwanya itu sangat terang.
Raut muka Nagisa jelas sekali terlihat sedang bertanya-tanya. "Kak, sumber jiwa itu apa?" tanyanya pada Lug yang ternyata anak lelaki itu sudah berada di samping Nagisa di bangku panjang dan sedang melihat kakak mereka menikah.
"Sumber jiwa itu adalah perwujudan dari sumber mana," jawab Lug menjelaskan. "Setiap orang memiliki sumber jiwa yang berbeda-beda, dan ukurannya pun juga berbeda. Melihat ukuran sumber jiwa milik kakakmu itu sudah luar biasa. Mungkin ada kaitannya dengan yang namanya turunan dari orang tua."
Nagisa malah diam membisu. Ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kau juga pasti memilikinya, setiap orang pasti punya," kata Lug.
Nagisa membelalakkan matanya sekejap. "Bagaimana caranya," ia benar-benar ingin tahu dan bisa untuk melakukan hal yang sama dengan kakaknya–memunculkan sumber jiwa.
Lug tersenyum, lantas menoleh ke arah Rakt dan Teressa yang sumber jiwa mereka berdua terlihat saling berinteraksi dan berintegrasi satu sama lain. Tapi nyatanya sumber jiwa tidak selamanya dari kedua orang tuanya, itu mungkin hanya kebetulan mirip atau mungkin mewarisi integrasi dari sumber jiwa kedua orang tuanya.
"Akan kuajari itu nanti," ujar Lug.
Walau dalam hatinya timbul sedikit kekecewaan, tapi Nagisa tetap bersemangat karena Lug bersedia untuk mengajarinya. Dan pada saat itu juga, ada seuatu hal yang melintas di atas kepalanya. "Kak, apa kau sudah bisa memunculkan sumber jiwamu? Kalau sudah, coba lihat wujudnya," pintanya.
Lagi-lagi Lug tersenyum. "Hanya ibu yang pernah melihat sumber jiwaku, kalau kau melihatnya sekarang, itu sama artinya kau dengan orang kedua yang pernah melihat sumber jiwaku," ungkapnya.
Kalimat yang keluar dari mulut Lug itu seolah-olah menjelaskan sebuah penghargaan yang harus Nagisa raih–penghargaan berupa orang kedua yang pernah melihat sumber jiwa milik Lug secara langsung. "Boleh aku melihatnya?" pinta Nagisa.
__ADS_1
Lug menggeleng. "Tidak untuk sekarang," sahutnya. "Nanti saja, sekalian aku menjelaskan bagaimana caranya memunculkan sumber jiwa."
Pada saat itu juga, Rakt pun mencium dahinya Teressa. Momentum hangat itu disaksikan hampir seluruh warga desa Nedhen. Para anak muda yang masih berpacaran dan belum menikah melihat adegan tersebut dengan perasaan iri serta merasa sangat ingin untuk menikahi pasangannya masing-masing agar bisa menikmati adegan yang sama. Bahkan Lug dan Nagisa yang menyaksikannya itu pun wajah mereka berubah jadi merah padam
Setelah itu, semua orang bersorak sorai kegirangan melihatnya. Vans dan Nivi pun sampai menangis terharu melihat anak sulungnya telah menikah.
*****
Acara pernikahan pun selesai, di malam harinya semua orang berpesta di aula pernikahan. Sementara Lug malah bermain sendiri bersama Nagisa, tapi lebih tepatnya Lug hendak menunjukkan sumber jiwa miliknya.
"Lihat ini!" perintah Lug. Anak lelaki itu memejamkan matanya sejenak. Lantas dia menjulurkan tangannya, di atas telapak tangannya itu muncul sebuah bola yang sangat cerah. Permukaannya berwarna putih yang bersinar sangat terang, perlahan cahayanya meredup dan memperlihatkan sesuatu.
Ketika melihatnya, Nagisa terkejut. Itu seperti bukan sumber jiwa. "Bagaimana bisa sumber jiwamu ... " gadis itu bahkan sampai tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Sudah kuduga kau akan terkejut," ujar Lug.
"Tapi- apa memang ada sumber jiwa seperti itu?"
"Terus apa yang kau lihat sekarang ini? Ilusi?"
"Mungkin."
"Jangan berpikir seperti itu, aku sama sekali tidak membodohimu. Ini benar-benar sumber jiwa milikku."
"Saksikan ini!" seru Lug.
Dia bahkan dapat menggerakkan apa yang ada di dalam bola tersebut. Ketika itu, bola putih itu memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih luas, seakan galaksi spiral tadi hanya sekedar butiran pasir, mungkin lebih kecil lagi dan juga galaksi lainnya. Semuanya tersusun seperti jaring laba-laba berwana ungu, dan semakin jauh lagi, itu bahkan tampak seperti satu garis tebal berwarna ungu yang seperti ditarik ke suatu tempat yang sangat terang. Bukan hanya satu garis, bahkan ada beribu-ribu garis yang seperti ditarik ke satu tempat sama, di tengah-tengahnya adalah cahaya terang super besar yang permukaannya mirip seperti awan gas dengan jutaan frekuensi warna yang terpancar amat sangat terang. Ketika dilihat lebih jauh lagi, cahaya raksasa itu bukan seperti menarik ribuan garis di sekitarnya, melainkan seperti yang melahirkannya. Dan lebih jauh lagi, beberapa garis yang membentang tampak terhubung oleh garis lain yang terlahir dari awan gas raksasa lainnya, ketika lebih jauh lagi itu seperti membentuk sebuah bidang bangun ruang tampak sempurna seperti segi enam, segi delapan, segi empat, bahkan ada balok dan bangun ruang lainnya ketika beberapa garis terhubung dengan baik. Semakin jauh lagi bidang bidang itu malah terlihat seperti garis berwarna putih, ungu, dan biru. Hingga ketika Lug menghentikannya, itu tampak beberapa garisnya terhubung dan di tengah struktur maha besar itu terdapat kekosongan yang luar biasa besar di tengah tengahnya, serta itu seperti menarik garisnya ke tengah dan memudar di permukaannya lalu benar-benar berubah menjadi kekosongan. Lug tidak memperlihatkannya lebih jauh lagi.
Nagisa tak mampu berkata-kata lagi, itu benar-benar seperti pengalaman pertama melihat seluruh isi alam semesta.
"Itu semua mungkin tampak tak masuk akal, tapi percayalah! Kau belum paham untuk saat ini," terang Lug seraya perlahan memudarkan sumber jiwanya. Sumber jiwa itu berada di dalam sumber mana dan sumber mana sendiri berada di antara ruang jantung–bukan di dalamnya, atau bahkan di antara organ-organ sekitarnya, tetapi itu seperti di arah lain dari dimensi ini sehingga tidak bisa dilihat secara nyata. Namun pada kenyataannya, ketika jantung berhenti berdetak, sumber mana pun ikut berhenti bekerja karena keduanya saling terhubung.
"Sekarang kau yang melakukannya, Nagisa!" Lug memerintah.
Nagisa bahkan terus melongo walaupun sesuatu yang dilihatnya itu telah menghilang. Lug bahkan sampai memanggilnya dengan suara keras dan menjentikkan jarinya berkali-kali. Hingga pada akhirnya Nagisa kembali sadar.
"APA YANG KAU PERLIHATKAN PADAKU TADI?! ALAM SEMESTA?!!!" bentak Nagisa.
Lug menduga bahwa Nagisa sama sekali tidak memperhatikan ucapannya, tapi ia tidak peduli akan hal tersebut. "Sudahlah, sekarng giliranmu untuk melakukan hal yang sama sepertiku barusan," suruhnya.
"Membuat alam semesta," Nagisa menyindir.
"Tidak!" tegas Lug. "Coba alihkan seluruh aliran mana milikmu ke otakmu, pejamkan juga matamu! Setelah itu kau mendapatkan gambaran dari sumber jiwamu sendiri, dan kau bisa memunculkannya sesuka hatimu hanya dengan memikirkannya."
__ADS_1
Nagisa melakukan sesuai dengan arahan Lug, itu benar-benar terjadi. Sumber jiwa gadis itu mengeluarkan aura yang sangat kuat, merubah mana di sekitarnya menjadi awan yang berkumpul pada satu titik. Lug memasang ekspresi terkejut, ia sudah melihatnya. Sumber jiwanya Nagisa itu benar-benar mengejutkannya.
"Sumber manamu ... Wow, sungguh di luar dugaan!" seru Lug kegirangan. "Lain kali, jangan beri tahu orang asing tentang sumber mana milikmu!"
"Tunggu, kak!" seru Nagisa balik.
Lug lagi-lagi terkejut. Ketika sumber jiwa milik Nagisa benar-benar terbentuk, itu membentuk seperti sebuah galaksi spiral mirip seperti beberapa galaksi yang sempat diperlihatkan oleh sumber mananya Lug.
Dan yang membuat Lug terkejut lagi adalah karena Nagisa dapat memecahnya hingga seperti bola cahaya putih dengan serbuk cahaya di yang berhamburan di sekitarnya.
"LUAR BIASA, NAGISA! KAU SUNGGUH LUAR BIASA!!!" teriak Lug yang benar-benar bangga dengan Nagisa. "Gunakan bintang yang berhamburan itu! Jangan tunjukkan bentuknya yang asli, apapun alasannya kecuali aku memperbolehkan," imbuhnya.
"Kenapa seperti itu?" Nagisa penasaran kenapa Lug seakan membatasi dirinya.
Lug masih terkagum-kagum dan hampir tak bisa berkata-kata. Hingga ketika ia dapat mengeluarkan suaranya, "Kau memiliki ... Sumber jiwa yang mencapai tingkat kelangkaan wujudnya adalah legenda," jelasnya.
"Benarkah? Luar biasa!" Nagisa sendiri bangga dan tak bisa percaya pada dirinya sendiri yang tingkat kelangkaan wujud sumber jiwanya mencapai tingkat legenda.
Tingkatan kelangkaan wujud sumber jiwa terdapat lima tingkat, yakni umum, langka, super, legenda, dan mitos. Mitos itu seperti berada di tingkatan yang berbeda, bahkan sampai ada yang mengatakan tingkat kelangkaan wujud mitos itu berada pada di dunia atau hierarki yang berbeda atau lebih tinggi. Tingkat legenda saja dikatakan hampir mendekati tingkat mitos, tapi masih tetap berbeda. Nagisa sungguh sangat beruntung memiliki tingkat kelangkaan wujud sumber jiwa legenda. Ia tahu karena sebelumnya sempat dijelaskan oleh Lug sebelum acara pernikahan benar-benar selesai.
Tetapi gadis itu malah penasaran dengan tingkat kelangkaan wujud sumber jiwanya Lug. "Oh iya, kak, tingkat sumber jiwa milikmu itu apa?"
Lug kini kembali pada sifatnya yang tenang dan sulit ditebak. "Sulit dijelaskan, tapi jika kau tetap ingin tahu, maka akan aku ungkapkan," jawabnya dengan nada yang santai.
"Baiklah, aku ingin tahu."
Lug menghela nafas sejenak, lantas ia hendak mulai menjelaskan. Namun sebelum menjelaskan, ia membentuk tiga buah lingkaran sihir, yakni sihir Singularitas, sihir Penjara Kehampaan, dan sihir Tak Terdeteksi yang kemudian menggabungkan ketiganya. Nagisa sangat terkejut ketika melihat tiga sihir diintegrasikan dalam satu waktu yang sangat singkat. Dan pada saat itu juga, Lug memiliki kubus yang permukaannya mirip seperti kaca yang sangat gelap, di dalamnya benda tersebut terdapat kubus dan balok yang sama, serta tepat di tengah tengah di antara kubus dan balok itu terdapat bola hitam. Lug mengecilkannya hingga lenyap, namun tiba-tiba ia dan Nagisa berada di tempat yang berbeda. Tempat itu sangat gelap dan seperti ada dinding hitam tak berwujud yang membatasi ruangan gelap itu. Tapi Nagisa masih dapat melihat Lug dengan jelas, mereka juga berdiri di tempat yang solid namun tidak tahu apa itu karena saking gelapnya.
"Oke, sekarang akan kujelaskan," Lug pun memasang wajah serius pada Hela nafas terakhirnya sebelum memulai perkataannya. "Sumber jiwaku ini adalah gabungan dari beberapa sumber jiwa. Aku tidak akan pernah selesai memperlihatkan akhirnya kecuali kemungkinan yang kumiliki naik hingga mencapai tak terbatas–jika itu terjadi, hanya dalam sekejap mata akan langsung selesai. Untuk tingkatannya sendiri- berada di luar hierarki yang telah ada, bahkan dewa sekalipun. Jadi yang kuperlihatkan padamu itu hanya sebagian kecil dari sebagian kecilnya saja. Bahkan jika aku membentangkan wujud aslinya, alam semesta ini tidak akan cukup untuk menampungnya karena terlalu kecil."
Bagi Nagisa, alam semesta itu memiliki ukuran yang tak masuk akal sampai tak terhingga. Dan ketika Lug mengatakan alam semesta yang mereka tinggali itu terlalu kecil untuk sumber jiwanya, itu membuatnya syok sesaat.
"Bahkan jika ditetapkan hierarki mutlak sekalipun, sumber jiwaku tetap di luarnya atau di atasnya, karena sumber jiwaku ini melampaui yang namanya mutlak," imbuh Lug.
Nagisa benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Ia bahkan sampai lupa kalau dirinya tadi hendak mempertanyakan sesuatu. Tapi seolah semua itu telah dijelaskan tapi berada di jangkauan yang tak bisa ia pahami sekarang ini. Dan menurutnya, apa yang didengarnya baru saja ini adalah pengetahuan baginya dan sudah lebih dari cukup dari apa yang seharusnya ia ketahui.
"Suatu saat, kau akan tahu betapa luasnya dunia!" ucap Lug. Itu hampir tak masuk akal, tapi semuanya masuk akal dan melampaui kata luar biasa. Sangat sulit untuk dideskripsikan.
Dan kini, Lug menghilangkan sihirnya itu. Tujuannya menggunakan gabungan dari tiga sihir itu adalah karena dia tak ingin orang lain mendengarnya. Bahkan Lug tidak mengizinkan para dewa mendengarnya.
Nagisa mematung, ia bahkan sampai bertanya-tanya apakah ada kehidupan di dalam sumber jiwanya Lug.
Bersambung!!
__ADS_1