Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 38 - Kutukan Zephyr


__ADS_3

Lug tertidur sejenak karena dirinya lelah ketika sedang menyelesaikan pekerjaannya. Setelah dirasa cukup, dia kembali bekerja dan memikirkan suatu hal. Perihal itu adalah sebelumnya ketika tiba-tiba muncul seorang gadis dengan rambut yang berwarna biru.


Gadis itu memiliki paras yang cantik, dia bernama Raini Eveline. Dialah gadis yang dilihat oleh Lug ketika pergi keluar di sore hari bersama dengan Toni beberapa hari sebelumnya.


Raini mengingat apa yang terjadi. Ia merasa ada yang menatapnya dan ingat bahwa Lug juga ada di sana. Ketika Antonio dan Zephyr belum pergi dari kamar batu yang ditempati Lug sekarang, gadis itu tiba-tiba bertanya, "Apa kau yang melihatku dengan tatapan cabul beberapa hari lalu?"


Sontak hal tersebut membuat Lug terkejut. "Apa?! Tuduhan apa itu? Kenapa tiba-tiba aku yang kena?!" serunya tidak terima.


Bahkan hal itu juga membuat Antonio dan Zephyr terkejut. Bagaimana tidak? Zephyr seperti memiliki hubungan dengan Raini, jelas dengan tuduhan memandangi gadis itu dengan tatapan cabul akan membuat pandangan Zephyr dan ayahnya kepada Lug berubah.


"Karena pada saat itu aku merasa ditatap oleh seseorang dengan mata cabul dan kebetulan aku melihatmu sedang menoleh dari arah menatapku," Raini menjelaskan.


Lug menggeleng. "Bukan berarti aku baru saja menatapmu dengan tatapan mesum seperti apa yang kau pikirkan!"


"Berarti kau pada saat itu memandangiku dan tahu siapa aku!" tukas Raini.


Lug mendesah, "Aiiihh ... Kapan itu? Yang mana?!" tuntutnya.


Raini menggembungkan pipinya dan tidak menjawab. Ia kesal dan langsung bersembunyi di belakang Antonio. "Iya, dia menatapku cabul," katanya.


Lug menghiraukannya dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Melihat itu Zephyr merasa bahwa tuduhan itu tidak benar dan hanya sebuah kesalahpahaman biasa. Mungkin saja pada saat itu Lug juga berada di lokasi yang sama dengan Raini, dia juga jelas bukan orang yang seperti itu, batin Zephyr.


Antonio juga merasa seperti itu, dia hanya mengelus kepala Raini dan berkata, "Sudahlah. Ayo kembali saja."


Raini menggeleng dan berkata, "Aku kan hendak latihan, ini kan sudah waktunya?"


Karena tempat latihannya dipakai oleh Lug untuk membuat alat rehabilitasinya Zephyr, sehingga itu membuat Raini kesal. "Kak, siapa dia?" tanyanya kepada Zephyr.


Zephyr menjawab, "Dia teman sekelasku."


Dia juga mengatakan bahwa Raini adalah adik sepupunya, tapi Lug merasa ada yang aneh. Mereka berdua memiliki nama belakang yang berbeda, jelas saja mereka dari keluarga yang berbeda. Mengatakan bahwa mereka berdua adalah saudara sepupu, itu sangat aneh.


Pada saat itu, Lug hanya bisa percaya saja.


Dan pada akhirnya Raini berlatih di dalam kamar batu tersebut tanpa memperhatikan Lug. Latihannya sama sekali tidak fokus dan berkali-kali mengumpat di dalam hati. Lug dapat dengan jelas mendengarnya, namun ia sama sekali tidak mempedulikannya. Lug bahkan merasa bahwa ada beberapa tebakannya yang benar, dari gadis itu yang sihirnya tidak stabil, lingkaran sihir yang berkali-kali memudar sehingga sihirnya belum sempat muncul atau bahkan lingkaran sihir yang kacau sehingga ukiran pada lingkaran sihirnya tidak terbentuk yang mengakibatkan sihirnya tidak muncul meskipun lingkaran sihirnya tidak memudar dan lain-lainnya.


Raini selalu mengawasi Lug dan meliriknya setiap saat dengan penuh rasa curiga. Sementara laki-laki yang diliriknya itu sama sekali tidak pernah memandanginya. Ya, itu karena Lug memiliki Penglihatan Dunia dan Penglihatan Langit, yang dapat membuatnya melihat sesuatu tanpa harus menatapnya secara langsung.


Sekarang ini, Raini juga ketiduran karena saking lelahnya. Lug sama sekali tidak menyentuhnya karena ia tak mau mendapatkan tuduhan yang tidak-tidak.


Setelah pagi tiba, Lug masih belum menyelesaikan alat yang hendak dibuatnya. Menurutnya, masih membutuhkan sedikit waktu lagi yang mungkin akan membuatnya terlambat untuk datang ke sekolah.


Raini telah terbangun sejak burung-burung mulai terbang dan berkicau. Dia mengantuk dan tidak melihat adanya anak lelaki yang seruangan dengannya sebelumnya. Itu karena Lug sedang pergi untuk buang air kecil.


Zephyr datang menyapa di pagi yang cerah itu, "Hai, Lug. Bagaimana kabarmu?"


Lug selesai memakai pakaiannya yang dibawakan oleh pelayan yang sama dengan pelayan semalam. "Aku oke," sahutnya. "Oh iya, nanti aku akan ke sini lagi, tolong katakan pada ayahmu untuk segera mencarikan bahan-bahannya."


Zephyr mengangguk. "Baiklah, ayah sudah tahu sendiri, sedari pagi dia juga sudah langsung pergi ke tambang ketika aku bangun."


"Baguslah."


Mereka pun berangkat bersama, diikuti oleh Raini dari belakang yang membawa tas gendong yang talinya dilampirkan di pundaknya dan perut tasnya berada di depan perutnya Raini.


Raini terlihat murung dan tampak seperti gadis yang pemalu. Ia juga mengenakan sebuah kerudung seperti biasanya untuk menutupi rambutnya.


Sesampainya di sekolah, Lug bertemu dengan Toni. Jelas saja anak laki-laki itu bertanya pada teman sekamarnya, di manakah dirinya semalam. Lug menjawab bahwa dirinya diundang ke rumah Zephyr dan menginap. Dia meminta maaf karena tidak memberi tahu teman sekamarnya itu yang dirasa terlalu mendadak.


Nagisa yang sempat mendengar bahwa Lug tidak ada di asrama semalam merasa khawatir dan langsung menanyakan kabarnya ketika jam istirahat tiba. "Kak, apa kau baik-baik saja semalam? Kudengar tadi dari temanmu bahwa kau tidak ada di asrama tadi malam, jadi aku sangat mencemaskanmu," ujarnya mengkhawatirkan.


Lug menyeringai tipis. "Maaf, Nagisa. Memang semalam aku ada keperluan dan terpaksa harus menginap tanpa memberi tahu Toni," jelasnya.


"Tapi kau baik-baik saja, kan?"


"Tenang saja, aku tidak apa-apa."


Setelah itu, Nagisa memberi tahu pada Lug bahwa ia membawa bekal yang cukup banyak untuk dimakan bersama. Gadis itu memang berencana untuk makan bersama dengan kakaknya yang disukainya itu. Lug mengiyakan ajakan adiknya dan mereka makan bersama.


Ketika jam istirahat telah habis, Lug segera pergi ke kelas dan hendak menemui Toni. Dan ketika bertemu, ia langsung berpesan, "Nanti malam aku tidak pulang lagi. Kau ambil saja stok makananku, tidak usah beli lagi. Lagipula aku tidur di rumah Zephyr dan sudah pasti diberi makan."


Toni merasa terkejut ketika Lug mengatakan bahwa ia boleh memakan makanan yang teman sekamarnya itu punya. "Tapi Lug- aku merasa ... Itu kan makananmu, jadi kurasa itu tidak sopan," ucapnya.

__ADS_1


Lug tertawa. "Haha, kenapa tidak sopan? Aku kan menyuruhmu, yang berarti aku mengizinkanmu."


"Iya juga, ya?"


"Lagipula bahan makanan punyaku akan membusuk jika tidak segera dimakan. Terlalu mubazir untuk membuangnya."


"Kau benar sih, jadi- terima kasih untuk makananmu. Lain kali aku akan mentraktirmu di lain hari."


"Akan kutunggu sampai hari itu tiba."


"Baiklah."


Hingga ketika waktu pulang telah tiba, Lug segera pergi bersama Zephyr ke kediaman Azamuth. Selama hari itu, Lug sama sekali tidak membuat masalah karena itu bisa membuatnya pusing. Masa iya di akademi bermasalah, ketika pulang masih harus berkeringat lagi, jelas saja itu akan membuatnya sangat letih.


Dikatakan bahwa Antonio masih berada di tambang dan belum juga pulang.


Lug segera menyelesaikan alat yang sedang dibuatnya. Hingga ketika menjelang malam, alat itu telah selesai dibuat. Bentuknya seperti lempengan baja yang dibuat melingkar. Di tengahnya juga terdapat lempengan berbentuk lingkaran yang di bagian atas terdapat lempengan kaca. Lug mendapatkannya dari Zephyr, konsep bentuknya seperti jebakan kaki pegas. Di lempengannya yang melingkar terdapat banyak lubang yang jumlahnya sebanyak sepuluh lubang. Dan di bagian atas lempengannya terdapat sela yang juga melingkar. Pada lapisan lempengan bagian sebaliknya, juga terdapat beberapa kaca.


Lug memasukkan Benih Api Murni ke dalam lubang lubang yang ada pada alatnya itu. Seketika itu juga, muncul sinar berwarna biru pada tepi lempengan yang berada di tengah.


"Zephyr, coba kau berdiri di tengah lempengan itu! Langkahi saja lempengannya!" Lug menyuruh.


Zephyr merasa gugup dan tidak percaya diri. Maksudnya, dia tak tahu apakah alat yang dibuat oleh Lug itu memiliki fungsi yang seperti apa. Itulah yang dipertanyakannya.


"Oh ya, aku lupa mengatakannya. Lepas sarung tanganmu, bajumu lepas juga kalau mau," imbuh Lug.


Zephyr mempercayai apa kata Lug. Sarung tangannya ia berikan kepada temannya itu dan melepas bajunya juga. Lantas dia segera pergi ke lempengan yang ada di tengah. Ketika Zephyr berdiri di lempengan yang di tengah itu, segera pinggiran kaca yang ada di lempengan melingkar pun memancarkan sinar merah pada kaca di lempengan tengah. Sela yang ada pada lempengan melingkarnya pun memancarkan cahaya putih tegak ke atas hingga ke tembok. Cahaya itu setengah transparan namun solid dan bisa disentuh–dapat menahan Zephyr yang berusaha untuk keluar.


Di saat yang bersamaan, Antonio pulang dan langsung menuju ke kamar batu tempat Lug dan Zephyr sekarang berada. "Lug, apa alatnya sudah selesai?" tanyanya sembari berjalan masuk ke dalam kamar batu. Seketika itu juga, Antonio terkejut. Matanya terbelalak melihat sesuatu di depannya.


Apa yang dilihatnya itu adalah anaknya, Zephyr, yang sedang meraung kesakitan dengan kutukannya yang merambat di sepanjang lengannya. Tato hitamnya itu menggeliat seolah hendak membebaskan diri. Bahkan ada beberapa tato yang telah menguap–mengeluarkan asap hitam, sehingga tatonya menghilang secara perlahan, namun sangat sedikit.


"LUG! HENTIKAN ITU!!!" Antonio memerintahkan.


Lug berbalik melihat Antonio yang sudah ada di belakangnya. "Oh, tuan Azamuth," sapanya. "Ini baru permulaannya, dia masih belum mengamuk, berarti proses ini bahkan belum sampai awalnya."


Antonio terkejut mendengarnya, raut wajahnya terlihat penuh kecemasan dan juga penuh emosi, terlihat dari dahinya yang terlipat. "Kalau dia mengamuk ... Kau tahu apa yang terjadi?!" tuntutnya.


Lug menyeringai. "Tenang saja, ada aku di sini. Tidak perlu khawatir," ujarnya.


Lug mendehem, "Baguslah."


Kini prosesnya sudah mulai masuk pada tahap inti, di mana Zephyr sudah mulai mengamuk. Ia menembakkan sihir berupa sinar biru ke mana-mana, tetapi sinar pembatasnya menahan semua serangan tersebut. Bahkan semua alatnya telah terlindungi.


Alat yang dibuat oleh Lug ini menembakkan sinar inframerah dengan suhu di atas 85° Celcius dan dipantulkan secara terus menerus, sehingga suhunya dapat meningkat hingga berkali-kali lipat dalam beberapa menit saja. Manusia pada umumnya tidak akan mampu untuk bertahan di dalamnya, tetapi Lug tahu bahwa berkah yang didapat dari keluarga Azamuth membuat mereka memiliki ketahanan terhadap panas dan dingin hingga lima kali lipat dari manusia pada umumnya.


Setelah sepuluh menit berlalu, alatnya mulai berhenti bekerja. Namun pembatasnya belum menghilang, dan kaca yang ada di tengah terbelah menjadi dua lantas bergeser secara perlahan, lantas bergerak ke atas mengangkat tubuh Zephyr yang terduduk lemas tidak sadarkan diri. Di bahwa kacanya terdapat sebuah penyangga yang mirip dengan sendi. Itu memperlihatkan bagian dalamnya yang terdapat sebuah Batu Pelangi. Setelah itu pembatasnya menghilang.


Lug menoleh ke pada Antonio. "Tuan, kau bisa melakukan sihir penyembuhan?" tanyanya.


"Ya, aku bisa," jawab Antonio.


"Bentuk lingkaran sihirnya tepat di atas Batu Pelangi itu, tunggu sampai muncul cahaya berwarna hijau, setelah itu sudahi sihirnya!" Lug memerintahkan.


"Baik."


Antonio segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Lug. Dia menggunakan sebuah sihir tiga lingkaran bernama Berkah Cahaya Langit. Di sekitarnya lingkaran sihirnya yang berwarna putih terang, muncul cahaya yang bergerak seperti air yang bergelombang–bergerak melingkari lingkaran sihirnya. Tubuh Zephyr yang berwarna merah padam perlahan mulai kembali pada warna kulitnya semula.


Satu menit berlalu dan dua buah tabung kaca di sebelah Batu Pelangi mulai memancarkan cahaya hijau yang berarti sihir yang dilakukan oleh Antonio sudahlah cukup.


Lalu Lug berkata, "Lakukan hal yang sama setiap hari atau beberapa hari sekali, setidaknya dalam satu Minggu Zephyr melakukannya sebanyak enam kali."


Tetap ingat bahwa di dunianya Lug sekarang satu Minggu sama dengan sembilan hari.


Antoni sedikit terkejut, "Setiap hari? Tunggu, sebanyak itu?"


"Ya," Lug mengangguk. "Ada masalah?"


"Jelas saja masalah, melakukan hal seperti itu setiap harinya bukannya malah menyiksa Zephyr?!" tuntut Antonio lagi.


"Tapi kau bisa melihat sendiri bahwa kutukannya kian melebur."

__ADS_1


Antonio tak bisa berkata-kata lagi. Apa yang dikatakan Lug memang benar. Sering melakukannya akan lebih baik daripada ditunda-tunda, bisa saja membuat kutukannya kembali.


"Ingat pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian?! Nah, seharusnya Zephyr bisa melalui rasa sakitnya, daripada seumur hidup dia harus menahan perihnya kutukan itu?"


Antonio merasa ada benarnya ucapan Lug barusan. Tapi siapa yang menyangka anak itu turut bersedih ketika berkata selantang itu.


Lantas Antonio bertanya, "Ada apa denganmu?"


Lug terdiam sejenak, tatapannya turun dan wajahnya terlihat bersedih. "Aku jadi teringat dengan kakakku yang ada di rumah," ucapnya.


"Memangnya kenapa?"


"Dia juga mengidap sebuah kutukan yang lebih parah lagi."


Tak pernah Antonio sangka, Lug yang dari awal terlihat sangat congkak dan penuh rasa percaya diri, namun rupanya mengalami hal yang serupa. "Kakakmu? Dia juga mengalami kutukan? Kutukan apa itu?" Antonio bertanya.


"Pembusukan Darah."


"Pembusukan Darah? Itu- "


Antonio pernah membaca sebuah buku yang berisikan berbagai macam kutukan dan gejalanya, serta beberapa pengobatan yang efektif. Pembusukan Darah sendiri tergolong kutukan dengan tingkat kesembuhan yang berada di tingkat hampir mustahil. Antonio juga tahu bahwa kebanyakan bahan yang bisa digunakan untuk mengobatinya pada umumnya bukan berasal dari dunia manusia.


Lug mengetahui Antonio yang berempati padanya, tapi apa daya mereka jika kutukannya seperti itu.


"Kutukan itu berada di tingkat kesembuhan yang- masih bisa disembuhkan, kau jangan khawatir," ucap Antonio menghibur.


Lug menghela nafas. "Aku tahu kau hanya sedang menghiburku, terima kasih. Aku juga tahu tentang yang kau katakan, kutukan yang tingkat kesembuhannya hampir mustahil, benar bukan?' ujar Lug menebak. "Mau bagaimanapun juga, aku harus secepatnya mendapatkan bahannya, aku tak ingin nantinya melihat keponakanku mengidap kutukan yang sama dengan ayahnya."


Antonio langsung mengerti bahwa kakaknya Lug juga sudah berkeluarga. "Aku tahu perasaanmu, dan yang kau lakukan sekarang ini membuatku merasa terbantu olehmu," ucapnya sembari tersenyum.


Lug membalas senyuman itu dengan senyuman juga, tetapi di dalamnya terkandung rasa sedih yang mendalam.


"Aku mungkin juga bisa membantumu sedikit untuk menyembuhkan kakakmu itu," Antonio menawarkan.


Lug menggeleng.


"Lho? Kenapa?"


"Apa kau mau mengorbankan diri untuk pergi ke tempat berbahaya yang bisa mengantarmu ke dunia iblis? Aku tahu beberapa bahannya harus didapat dari dunia iblis dan sangat berbahaya. Meskipun ada beberapa bahan yang bisa di dapat dari dunia manusia, tapi untuk menyembuhkan kakakku, semua obatnya harus terkumpul. Jika bahannya digunakan satu persatu, itu sama saja malah meracuni kakakku karena hampir semua bahannya itu beracun!" Lug menjelaskan.


Antonio tertegun. Kenapa bisa aku lupa? Ucapan anak itu memang benar, hampir semua bahannya adalah bahan beracun, itu bisa membunuh kakaknya, batinnya.


Lagi-lagi Lug menghela nafas. "Metode yang digunakan tidaklah mudah untuk menyembuhkan kakakku. Ah, sudahlah- lebih baik bawa Zephyr kembali ke kamarnya saja. Kasihan dia," katanya.


Antonio mengiyakan perkataan Lug. Ia segera menggendong anaknya yang tidak sadarkan diri di tengah alat rehabilitasi. Ketika melewati lelaki yang berdiri termenung yang matanya terkunci pada tanah yang dipijaknya, anak lelaki itu berkata, "Lakukan sampai lima ratus Benih Api Murni habis, itu berarti harus dilakukan sebanyak lima puluh kali. Sebenarnya setelah lima belas sampai dua puluh lima itu sudah cukup, tapi untuk menuntaskan sampai ke akar-akarnya, itu harus lebih dari lima puluh kali untuk yang seharusnya. Agar nanti keturunan Zephyr tidak akan mengalami hal yang sama dengannya.


Antonio tersenyum haru mendengar ucapan Lug yang peduli terhadap keluarganya. "Suatu saat nanti, jika aku mampu, akan kubantu kau untuk balas budiku," sahutnya.


Lug menoleh dengan senyuman tipis dan tatapan mata yang berat. "Terima kasih," ucapnya. Tapi setelah itu, tanpa menoleh sama sekali, ia berteriak, "LEBIH BAIK MASUK SAJA DARIPADA MENUNGGU DI LUAR SANA!"


Dan benar saja, ada seorang gadis yang mana itu adalah Raini yang menguping percakapan Lug dan Antonio dari luar. Gadis itu pun segera masuk karena sudah ketahuan. "Bagaimana kau bisa tahu? Kau menguntitku lagi, ya?!" tukasnya.


"Maksudmu apa?!" Lug merasa ucapan Raini sama sekali tidak masuk akal. "Yang menguping barusan saja itu kau, kenapa aku yang salah?"


"Terus, bagaimana kau bisa tahu aku ada di luar?"


"Aku mendengar suara kakimu, kaupikir aku tidak dengar?"


"Apa? Tidak masuk akal, bagaimana kau mendengar suara yang lain sementara ada orang yang sedang berbicara denganmu?"


"Supaya aku bisa melihat siapa orang jahat yang sedang menguping pembicaraanku seperti sekarang ini!"


Raini menggembungkan pipinya dengan penuh rasa sebal. Ujung alisnya turun dan ia berjalan melewati Lug dengan derap kaki yang kasar, seolah itu adalah langkah kaki kuda.


Antonio tersenyum melihat tingkah laku Raini. "Sudahlah, Raini! Kenapa kau terlihat membencinya?"


Raini pun menjawab, "Karena dia dulunya menatapku dengan mata mesumnya itu. Aku tak suka bertemu dengan orang cabul sepertinya."


Sial, anak ini malah menuduh yang tidak-tidak, batin Lug.


Antonio menggeleng, lantas pergi meninggalkan Luh dan membawa Zephyr ke kamarnya. Sebelum itu ia berkata, "Lug, aku punya kamar kosong untukmu, kalau kau mau, pelayanku bisa mengantarmu."

__ADS_1


Lug mengangguk, "Baiklah."


Bersambung!!


__ADS_2