Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 26 - Sesosok Monster?


__ADS_3

Lug dan Nagisa kembali ke kedai Teressa setelah selesai mamakan es krim. Dan mereka berdua malah kekenyangan. Ketika sampai, ternyata kedainya Teressa masih cukup ramai. Nagisa kecewa, tapi dalam lubuk hati terdalamnya, ia juga senang karena kakaknya mendapatkan banyak pelanggan. Kekecewaannya disebabkan dirinya sudah cukup lama tidak bertemu kakaknya. Hal itu dikarenakan setelah Rakt melamar Teressa, Teressa juga telah diizinkan untuk tinggal bersama dengan Rakt. Dengan catatan ia tak boleh hamil sebelum pernikahan tiba.


"Sudahlah, kira temui mereka sore nanti," ujar Lug berusaha menghibur.


Nagisa menoleh dengan senyuman gembira. "Janji, ya?" tuntutnya. "Temani aku, oke? Jangan kau tinggal lagi seperti dulu!"


"Iya iya."


Lantas mereka pulang dan Nagisa kembali disuruh Lug untuk latihan. Memang seperti itulah rutinitasnya sehari-hari. Nagisa mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia gunakan untuk berlatih–pakaian yang dibuatkan oleh Nivi sebelumnya. Sebelum latihan dimulai, Lug mencoba sebuah sihir yang baru saja dikuasainya sebulan yang lalu. Ketika membentuk lingkaran sihirnya, itu hanya sebesar telapak tangan yang direntangkan dan berwarna hitam pekat.


"Singularitas!"


Sihir ini adalah sihir empat lingkaran, peningkatan dari sihir Akselerasi Gravitasi. Sihir ini menciptakan sebuah bola hitam pekat yang dapat menarik bahkan menghisap apapun yang ada di sekitarnya–cahaya, udara, bahkan suara pun dapat dihisap. Makhluk hidup yang terkena dampak dari sihir ini, tubuhnya dapat terkoyak dengan sangat mudah akibat tarikan dari gravitasinya yang teramat sangat kuat. Sementara sihir Akselerasi Gravitasi ditingkatkan, itu justru melahirkan dua sihir empat lingkaran yang berbeda, yang pertama adalah Singularitas dan yang kedua adalah Anomali Distorsi. Sihir ini menciptakan bola hitam pekat yang memantulkan cahaya dan bentuknya sangat kacau serta bergejolak, terdapat cahaya garis biru tua di pinggirannya. Sihir ini dapat mengacaukan, menguatkan, melemahkan, atau bahkan menghempaskan serta memadatkan tekanan udara di sekitarnya.


Pada saat Lug menggunakan Singularitas, debu debu mulai berterbangan terkena dampak lingkaran hitam di atas telapak tangannya itu. Bahkan cahaya di sekitarnya mulai terdistraksi parah. Semakin lama tarikan gravitasinya semakin kuat, dan ketika Nagisa melihatnya, ia bahkan hampir tertarik oleh gravitasinya.


WHUUUSH


Lug menghentikan sihirnya itu–takut memberikan kerusakan terhadap benda-benda di sekitarnya.


"A-apa itu, kak?" tanya Nagisa heran. Matanya terbelalak lebar, bahkan hampir syok.


"Kau tertarik?" Lug menawarkan.


"K-kau ... Tidak terkena dampak sihir itu?" Nagisa bertanya lagi. Mereka malah saling melempar pertanyaan satu sama lain, tidak ada yang menjawab.


Tapi kali ini Lug lah yang memberikan jawaban yang pertama kalinya. "Sihir ini memang sedikit, sedikit saja memberikan dampak pada pemakainya. Tapi sihir ini akan memberikan dampak tiga kali lipat pada benda mati, luar biasa, bukan?"


Nagisa mengangguk dengan tatapan layaknya orang sedang bengong. Dia masih berpikir sihir seperti itu mungkin akan memberikan dampak yang sangat besar pada sekitarnya, dan pastinya pengguna sihir tersebut juga menerima dampak yang besar pula meskipun Lug berkata hanya sedikit memberikan dampak pada pemakainya.


Lug tersenyum melihat telapak tangannya yang dipelototi terus menerus oleh Nagisa. "Sudahlah, sekarang kau yang latihan. Aku tadi memperlihatkannya karena kupikir kau akan tertarik, kalau tidak ya sudahlah," terangnya.


Dan Nagisa pun mulai berlatih dengan penuh konsentrasi. Seperti biasa, Lug akan duduk dan mengawasi gadis itu sembari meminum teh atau suatu minuman.


*****


Sore harinya, Lug menepati janjinya dengan menemani Nagisa pergi ke rumah Rakt. Mereka pergi sesudah mereka mandi. Langit juga sudah mulai gelap, karena sebelumnya Nagisa ketiduran sebab berlatih terlalu fokus sampai lupa batasan latihannya yang telah ditetapkan. Lug membiarkannya karena menurutnya itu akan membuahkan hasil yang lebih bagus. Sesampainya di rumah Rakt, Lug dan Nagisa melihat Teressa yang baru saja selesai menyapu halaman rumah. Teressa menyadari datangnya mereka berdua.


"Tumben kalian berkunjung," kata Teressa. "Mari masuk." Dia sangat senang sekali setelah beberapa hari belum melihat adiknya.


"Hai, kak!" Nagisa langsung berlari dan memeluk kakaknya dengan sangat erat. "Apa kabarmu? Kau baik-baik saja? Aku sangat rindu padamu. Tadi siang aku hendak pergi ke kedaimu, tapi ramai sekali. Jadi aku dan Lug memutuskan untuk membeli es krim dan pulang saja."


"Ugh, kau memelukku terlalu erat, Nagisa. Kau membuat nafasku sesak," keluh Teressa.


Nagisa langsung mengendurkan pelukannya seketika itu juga. Itu sangat mengagetkannya. "Kupikir pelukanku tidak terlalu kuat, maaf," ucapnya.


"Haha, itu berarti kau sudah menjadi lebih kau, kau juga jadi lebih tinggi." Kemudian Teressa menoleh pada Lug. Senyumannya penuh dengan harapan dan suatu hal yang hampir sama dengan ucapan terima kasih.


Lug membalas senyuman Teressa. "Ayo kita masuk, hari sudah gelap. Tak baik berlama-lama di luar seperti ini," ajaknya.


Mereka bertiga pun segera menaiki tangga, terdapat beberapa bunga yang di tata rapi di teras. Teressa membuka pintunya dan berkata, "Lihat, siapa yang datang?!"


Dari atas tangga, Rakt mengintip untuk mengetahui siapa yang datang. Dia sedang membersihkan tangga. Serta kedatangan Lug dan Nagisa di rumahnya itu sangat mengejutkannya. "Kalian? Wah, tiba-tiba sekali," ujarnya seraya turun sembari membersihkan bajunya dari debu yang menempel.


Lug pun mendekati Rakt yang kemudian memeluknya sejenak. "Sebenarnya kami ingin mengabari tadi siang, tapi kalian terlihat sangat sibuk, jadi ya- kami tak ingin mengganggu, pulang saja, deh," terangnya.


"Haha, siang tadi memang sangat ramai."


"Iya, tak biasanya kami sampai kewalahan seperti tadi siang. Tapi itulah yang membuat kami senang," ujar Teressa menimpali.


Karena ini adalah kali pertama Nagisa berada di dalam rumah Rakt, ia sangat kagum melihat banyak sekali rak buku yang ada di sepanjang dinding. Bahkan di tangga pun beberapa bingkai kaca yang di dalamnya terdapat buku buku yang belum pernah dilihatnya. "Wah, baru kali ini aku melihat rumah yang mirip seperti perpustakaan," gumam Nagisa.


Lug nyeletuk, "Kakakku saja bekerja di perpustakaan desa, meski begitu dia juga gemar mengoleksi buku buku aneh."


Ucapan anak itu sedikit menyinggung Rakt. "Buku aneh katamu?"


"Iya," sahut Lug.

__ADS_1


"Bilang saja kau malas membaca, jadi tak tertarik dengan buku buku antik seperti yang kupajang di dinding."


"Iya karena aku sendiri tak perlu buku buku seperti itu untuk menjadi jenius."


"Ooh, sombong kau, ya?"


"Orang jenius pantas untuk menyombongkan dirinya, asalkan sesuai dengan faktanya."


"Ucapanmu terdengar seperti menantangku."


"Siapa takut?"


Teressa paham arah pembicaraan Lug dan Rakt. Tetapi ia sangat heran dengan hubungan antara kakak dan adik itu, biasanya seorang kakak dan adik akan saling menyayangi satu sama lain. Tapi tidak dengan mereka berdua, justru mereka mengungkapkan rasa sayang mereka dengan cara yang berbeda, yaitu dengan beradu sihir.


Terdapat pintu di bawah tangga, Rakt dan Lug berjalan ke arah pintu itu. Di sana terdapat ruangan yang mana adalah ruang pelatihan yang dulu pernah mereka gunakan.


Teressa menggerutu, "Ah sudahlah- kenapa juga kalian malah saling bertarung?"


Lug dan Rakt menjawab bersamaan, "Karena itulah hobi kami."


Ya, seorang kakak dan adik memang memiliki hubungan tersendiri, cara mereka untuk mengungkapkan rasa sayang juga berbeda-beda, ada yang umum, ada juga yang unik, seperti contohnya Lug dan Rakt ini yang amat sangat unik. Sudah menjadi hobi mereka untuk saling beradu sihir ketika bertemu satu sama lain.


Ketika sampai di ruangannya, Lug sama sekali tidak melihat adanya perubahan. Hanya terlihat lebih bersih saja. Mendadak Rakt kembali ke pintu dan mencari-cari sesuatu.


"Apa yang kau cari?" tanya Lug penasaran.


Rakt tidak menjawab, tapi setelah itu dia menemukan sebuah tuas kecil seukuran jari di balik sebuah tong kosong yang dari dulu memang diletakkan di sana. "Nah, ini dia!" Lantas Rakt menarik tuas tersebut ke bawah, dan tiba-tiba saja muncul lubang persegi panjang selebar setengah regrit pada dinding di sebelah pintu–bukan lubang, hanya saja terdapat kaca transparan di antara lubang tersebut.


Lug tahu apa fungsi kaca itu. "Kau lumayan peka juga ya, kak? Membiarkan mereka bisa menonton kita," ujarnya sembari tersenyum kecil.


"Haha, aku sedikit membenahinya setahun yang lalu," sahut Rakt.


Nagisa dan Teressa melihat Rakt dan Lug dari lubang kaca tersebut. Fokus mereka tertuju pada Lug, tapi Nagisa sedikit penasaran terhadap Rakt. Karena ia tak tahu seberapa kuat kakaknya Lug itu.


"Waaah ... Jadi kita bisa melihatnya dari sini," ucap Nagisa yang mengintip di lubang kaca.


Lug tersenyum sinis. "Dan kau tahu, kak? Mengatakan apa yang telah kau kuasai itu bisa menjadi kelemahan."


"Oh? Baiklah, lagipula aku tak mengatakan sihir apa itu."


Sihir empat lingkaran, serangan adalah tipe utamanya, dan dapat digunakan sebagai pertahanan sementara, atau lebih tepatnya sebagai pengacau. Dapat digunakan lebih dari sekali, karena penggunaan mananya tidak terlalu boros. Sihir itu bernama, Ledakan Kilat [Flashbang]. Ya, aku sudah tahu itu, batin Lug.


Rakt bergerak maju memulai pertarungan. Sembari berlari, ia menembakkan peluru kilat–sihir dua lingkaran, Tusukan Tanpa Suara. Gerakannya cepat dan pola yang digunakannya adalah zig-zag. Lug menjauh dan menghindari beberapa serangan tersebut. Meskipun Rakt sangat impulsif, tetapi Lug dapat mengatasinya seolah-olah sangatlah mudah baginya.


"Kukira Lug cuman jenius di bidang sihir saja, tapi gerakannya itu ... Wah wah wah, lumayan juga," puji Teressa kagum.


Nagisa tersenyum senang. "Kalau aku bisa begitu, kakak Lug juga pasti bisa melakukannya. Kan dia yang mengajariku."


"Benar juga ya," sahut Teressa.


Lug tiba-tiba berhenti, ia mengangkat tangannya yang diarahkan kepada kakaknya. "Anomali Distorsi!" Terbentuklah lingkaran sihir berwarna hitam yang memancarkan cahaya biru redup.


Ketika Rakt menembakkan peluru kilat lagi, semua sihirnya itu terurai dan lenyap ketika berada tepat di atas lingkaran sihir yang dibentuk oleh Lug. Rakt terkejut dengan sihir milik Lug. Ia pun berteriak pada saat itu juga, "LUG?! SIHIR ITU- BUKANKAH ITU EMPAT LINGKARAN SIHIR?! DARIMANA KAU MENGUASAINYA?!"


Teressa sangat terkejut melihatnya, namun tidak dengan Nagisa. Itu karena gadis itu sudah tahu sedari awal, tapi dia belum mengetahui sihir apa itu. Dan menurutnya itu adalah sihir yang sama dengan apa yang dilihatnya sebelumnya. "Sihir empat lingkaran? Hebat sekali bisa menguasai sihir setingkat itu, tapi aku sama sekali tidak heran," ujar Teressa.


"Hehe," Lug hanya tertawa dengan menampakkan ekspresi yang menyebalkan. Dia tidak menjawab pertanyaan Rakt dan segera bergerak lagi. Sihir Anomali Distorsi-nya pun menghilang.


Hebat, gumam Rakt dalam hati. Dia sama sekali tak percaya adiknya sudah bisa menggunakan sihir empat lingkaran.


Kemudian Lug menggunakan sihir Lengan Bayangan dan menyerang Rakt dari kejauhan. Tetapi Rakt sigap menghindari serangan dari adiknya, ia langsung bergerak mundur menjauh. Lalu menatap Lug tajam, tangannya diangkat hingga selehernya, telapak tangannya terbuka serta muncul sihir empat lingkaran di atas telapak tangannya. Lingkaran sihir tersebut berwarna putih dan sangat terang, tercipta bola putih bersinar dari sihir tersebut. Lantas Rakt melemparkannya sekuat tenaga ke arah Lug.


"FLASHBANG!!!"


Lug tetap bersikap santai melihat bola bersinar yang dilemparkan padanya. Pada saat itu ia langsung menggunakan lengan lengan hitamnya dan menutupi bola cahayanya.


BLAAARR

__ADS_1


Bola cahaya itu meledak dan memancarkan cahaya yang sangat terang. Benda hitam yang menutupinya tidak rata, jadi cahayanya tetap membuat silau siapapun yang melihatnya. Benda hitam itu luntur seperti lilin yang meleleh, lantas menghilang secara perlahan.


Dan ternyata Lug menutupi matanya dengan sihir lengan bayangannya. Bibirnya tersenyum menyiratkan dirinya sama sekali tidak terpengaruh.


Teressa dan Nagisa terkena pancaran cahayanya, mereka buta sesaat dan ketika penglihatan mereka pulih, kepala mereka pusing dan mata mereka masih belum bisa melihat dengan normal.


Rakt sendiri terkena pancaran cahaya dari sihirnya sendiri itu. Dan ketika melihat Lug tidak terpengaruh sama sekali, ia benar-benar takjub dan sangat terkejut. Tetapi Rakt tidak hanya mempunyai dua sihir saja. Jenius desa Nedhen generasi awal tidak hanya menguasai satu atau dua sihir saja, pastinya dia memiliki berbagai sihir yang lain.


"Sihir tiga lingkaran, Kuku Beruang Api!"


Lug memiliki sihir bawaan yang bernama Semesta Sihir yang dapat membuatnya mengenali, menganalisa, atau bahkan menggunakan sihir milik orang lain yang baru ia lihat. "Sihir tipe penguatan yang memiliki wujud fisik berupa transformasi, sihir tipe penguatan ini lebih dikenal dengan sihir tipe manifestasi, benar bukan, kak?" tanyanya memastikan dengan bibir tersenyum seakan memperlihatkan bahwa ia ucapannya itu benar.


Lalu Rakt tertawa. "Ya, kau benar. Sihir ini lebih efisien jika digunakan untuk ... "


Kalimatnya terhenti, Rakt berlari dengan sangat cepat ke arah Lug. Jari-jarinya menekuk, telapak tangannya dilapisi oleh mana yang menyerupai api dan suhunya cukup panas, kukunya juga sangat panjang–panjangnya hingga sepuluh kali kuku manusia biasa dan teramat sangat tajam. "Melawanmu dari jarak dekat!" serunya melanjutkan kalimatnya yang sebelumnya.


"Kak, sebenarnya aku ingin kau mengetahui hal ini," ucap Lug sembari menatap Rakt dengan tatapan sayu–tidak, lebih tepatnya tatapan datar yang sedikit lebih rendah.


"Apa ini akan jadi serangan terakhir? Ayo taruhan denganku, Nagisa," pinta Teressa sembari memperlihatkan senyuman sinis. Nagisa melipat kedua tangannya dengan wajah penuh kepercayaan diri.


"AKU BERTARUH LUG PASTI BERTAHAN DI SERANGAN INI!" Mereka berdua terkejut karena mereka bertaruh dalam suatu hal yang sama.


"Hentikan saja taruhan ini!" seru Teressa.


"Ya, lagipula aku tak percaya kakak Lug tidak menciptakan sebuah keajaiban," ujar Nagisa.


"Keajaiban?"


"Ya, keajaiban. Sesuatu yang fantastis, atau suatu yang seperti itu, seperti berubah menjadi sesuatu."


"Kau pasti berpikir tentang sihir transformasi. Itu tidak mungkin!"


"Kita lihat saja, hmph!"


Sekarang Rakt sedikit dibingungkan oleh ekspresi yang diperlihatkan Lug. Adiknya itu sama sekali tidak panik atau bahkan bergerak menjauh. Lug hanya berdiri tegak dan tidak bergerak selangkah pun. Ketika Rakt sudah berada tepat di depan wajah Lug-


BUAGH


Suara itu terdengar seperti perut yang dihantam dengan teramat kuat. Tapi yang sebenarnya, ketika Rakt hampir berhasil memukul Lug, Lug lah yang mencengkeram erat tangan kakaknya. Suara itu adalah suara dari cengkeraman tangan anak itu. Kulit tangannya berubah menjadi berwarna putih dengan darah merah menyala di tiap sela-sela lipatan kulitnya. Kulitnya itu menjadi sangat kerasdan panas laksana baja yang baru saja ditempa. Terdapat lingkaran sihir yang berhenti bergerak di bahunya, sebelumnya lingkaran itu berjalan melingkari tangan Lug dari ujung jarinya sampai sekarang di bahunya.


"APA?! BAGAIMANA ITU MUNGKIN?!" Teressa berteriak tak percaya. Matanya membelalak, dan tangannya ditapakkan pada kaca di depannya, seakan hendak menembus kaca tersebut.


Nagisa kembali melipat kedua tangannya, berlagak sombong karena tebakannya benar, seolah hidungnya berubah menjadi sangat panjang. "Kau lihat itu, kak?" kata Nagisa. "Tebakanku benar, bukan? Kan? Kaaaannn?!"


Sekilas Teressa melirik adiknya dan menyeringai, lantas matanya kembali tertuju pada Lug. Dia masih tak percaya Lug dapat menggunakan sihir empat lingkaran.


Sama dengan Rakt, melihat hal itu membuatnya terkejut dan bergidik takut. Dia seperti tidak melihat adiknya, melainkan monster yang mengerikan. Lug melemparnya dan Rakt hampir terjatuh menghantam lantai, tangannya berhasil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, dia langsung sigap dan berdiri kembali.


"Tidak mungkin! Lug?!" serunya tak percaya.


"Tenang saja, kak, aku tidak berubah menjadi siapapun," ujar Lug berusaha untuk meyakinkan. Dia tahu kakaknya itu sempat mengiranya berubah menjadi monster, atau bahkan mengira adiknya itu terkena kutukan yang sama dengannya.


"Kekuatannya sangat besar ... Ini adalah sihir transformasi yang sangat luar biasa! Sama sekali tidak heran jika yang melakukannya adalah Lug," gumam Teressa.


Nagisa menoleh pada kakaknya itu dengan tatapan curiga. "Kau seolah-olah pernah melihat sihir transformasi yang lain saja," sindirnya.


Teressa kembali menatap adiknya dan tertawa kecil. "Anggap saja seperti itu."


Rakt menggelengkan kepalanya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya itu adalah mimpi. "I-ini tidak benar, ini tidak benar!"


Lug menghela nafas, merapatkan bibirnya, menatap Rakt dengan tatapan kecewa. "Baiklah kak, akan kukatakan yang sebenarnya," ungkap Lug. "Sebenarnya aku telah menguasai lima belas jenis sihir, lima sihir empat lingkaran dan salah satunya adalah sihir tipe transformasi yang kau lihat sekarang ini- ini namanya sihir Transformasi Naga Selestial."


Rakt diam seribu bahasa, dia hanya terus memperhatikan Lug dengan tatapan penuh kewaspadaan. Tidak berani melangkah maju dan tatapan matanya seolah terkunci pada adiknya itu, walaupun dirinya sangat terkejut mendengar bahwa Lug telah menguasai lima sihir empat lingkaran–Lug tidak memberitahukan seluruh sihirnya kepada Rakt, hanya saja kedua orang tuanya diberi tahu karena menurutnya mereka berdua lebih dapat mempercayainya.


"Apa kau ingin melihat sihir yang lain, kak?" Lug menawarkan sembari menyeringai sinis.


Rakt kembali membelalakkan matanya. Dia semakin banyak menaruh kecurigaan pada seseorang di hadapannya yang mana itu adiknya sendiri. Namun Rakt sama sekali tidak mempercayainya, lebih percaya jika adiknya itu mengaku dirinya adalah sesosok monster. Sekalipun adikku jenius, tetap saja ini mustahil! Aku tidak percaya itu, SAMA SEKALI TIDAK PERCAYA!!!

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2