![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Esok harinya, Lug menemani Nagisa berjalan di bazar. Lug mengenakan baju merah polos, dan di ujung lubang untuk lehernya bergradasi merah gelap, celana yang dikenakannya adalah celana panjang polos berwarna abu dengan hanya satu saku di sebelah kanan, celana panjangnya tidak menutupi mata kakinya. Dan Nagisa mengenakan baju putih dengan corak garis-garis persegi serta rok pendek berwarna biru kelasi yang panjangnya sedikit menutupi lututnya. Gadis itu hendak menemui kakaknya yang sedang berjualan. Di tengah jalan, mereka sangat disanjung dan dihormati oleh orang lain. Tak sedikit orang yang menyapa mereka berdua, reputasi mereka benar-benar luar biasa.
"Haha, kak, kau lihat itu?!" seru Nagisa. "Bukankah menyenangkan jika kita disanjung banyak orang?"
Lug melirik sinis pada Nagisa. "Aku hanya menganggap itu sapaan biasa, jika kau merasa itu sanjungan, silahkan saja. Aku tidak sama sepertimu," sahutnya dengan nada yang rendah–Lug hanya malas untuk bicara dengan suara tinggi.
Wajah Nagisa turun, ia menggembungkan pipinya. "Kau tak seru, kak! Hmph!" Dari suaranya saja Nagisa terlihat sedang merasa sebal. Lantas dia memalingkan pandangannya dengan kasar dan melipat kedua tangannya.
"Siapa peduli, coba?" Lug pun tertawa.
Namun pada akhirnya mereka kembali berbaikan ketika tiba di bazar. Sesampainya di kedai milik Teressa dan Rakt, di sana terdapat banyak sekali pelanggan yang berbaris. Apalagi sekarang ini siang hari–sudah waktunya untuk makan siang dan beristirahat dari pekerjaan. Dan sekarang lah Teressa dan Rakt bekerja.
Teressa tampak sudah biasa dalam menangani pelanggan-pelanggannya. Ia sekarang mengenakan kaos abu-abu polos yang sudah sangat kusut dan kotor, meskipun telah ditutupi oleh celemek, gadis ini juga mengenakan celana jeans pendek berwarna biru gelap. Hampir sama dengan Rakt, dia mengenakan kaos hitam dengan garis vertikal berwarna putih di bahu hingga lengannya, dan juga celanak yang dikenakannya adalah celana pendek biasa berwarna abu-abu gelap.
"Hei, Nagisa," Lug memanggil. "Lebih baik kita tidak mengganggu mereka sementara waktu ini. Lihat saja, mereka sedang sibuk seperti itu."
Jika tidak dicegah oleh Lug, mungkin Nagisa sudah berlarian di kedai dan sedikit mengganggu pekerjaan kedua kakaknya itu. "Ah, iya juga ya," Nagisa menyadari.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja terlebih dahulu?" Lug menyarankan.
Nagisa menyunggingkan bibirnya, wajahnya tampak seperti sedang memikirkan suatu hal lain. "Kak, bagaimana kalau kau mentraktirku?"
Kini sosok Nagisa yang kukenal sepertinya sudah sangat berubah. Dia yang sebelumnya sangat penurut dan pemalu, sekarang menjadi seorang yang sangat bersemangat. Ya, aku tahu sisi pemalunya tak dapat dihilangkan, itu masih seperti dulu, batin Lug. Meski begitu, sosok Nagisa yang sekarang ini lebih menarik perhatian Lug. Dan walaupun sekarang gadis itu mempunyai sifat yang sedikit memberontak, tapi dia tetap mudah luluh di hadapan Lug.
"Akan kubelikan kau es krim isi kotoran kucing, hahaha."
"Ayolah kak, jangan seperti itu. Belikan aku es krim di tempatnya nyonya Melisa, oke? Kumohon, kak."
"Baiklah baiklah, aku cuman bercanda."
"Yeay, akhirnya aku berkencan dengan kakak Lug! Ini yang kutunggu-tunggu!"
"Hei hei, jangan bicara keras seperti itu! Diamlah, kau membuatku malu saja!"
"Biarin, wlee."
"Oh, lihat saja nanti, yang kupesan adalah es krim isi kotoran kucing."
"Ayolah kak, aku kan cuman bercanda."
"Iya iya, aku tahu. Jangan menangis seperti itu."
Setelah itu, mereka pun pergi ke tempat es krim milik nyonya Melisa. Tempatnya tak jauh dari kedainya kedua kakak mereka, sebelum melewati kedainya, mereka dapat menemukan lorong yang yang menghubungkan jalan lain. Ketika mencapai pertigaan, di seberang lorong yang Lug dan Nagisa lewati adalah kedainya nyonya Melisa. Di sana mereka berdua melihat ada banyak orang yang sedang menikmati es krim di bawah payung merah muda. Orang-orang itu duduk di atas kayu yang sudah di haluskan dan di cat menyerupai warna kayu aslinya. Begitupun dengan meja bundarnya. Ada juga sebuah pondok dengan atapnya adalah daun daun pohon kelapa kering.
"Lihat, pondok itu kosong," ujar Lug seraya menunjuk pondok kosong tersebut yang bersebelahan dengan toko sayur-sayuran yang arah hadapnya saling bertolak belakang.
Nagisa menyipitkan matanya, mencari di mana pondok yang kosong itu. "Yang itu, ya?" tanyanya.
"Kenapa kau mencari di mana pondoknya? Bukannya sudah kutunjuk?"
"Haha, aku tadi tak memperhatikan tanganmu."
Lalu mereka pun segera masuk ke dalam toko. Toko tersebut berwarna putih pucat, di atasnya terdapat papan berbentuk es krim pelangi dalam mangkuk berwarna merah muda. Ketika mereka masuk, masih terdapat orang-orang yang sedang makan es krim–menikmati hari yang panas.
"Wah, ramai juga, ya," gumam Nagisa.
Setelah itu Lug memesan di meja meja administrasinya. Di sana ia dan Nagisa disambut dengan baik, mereka berdua memang mendapat sedikit sanjungan, lantas diperlakukan layaknya orang biasa. Para pelayan yang ada di sana tahu bahwa perlakuan khusus dan sanjungan berlebih akan membuat Lug dan Nagisa terganggu dan justru akan membuat mereka berdua enggan untuk datang lagi kemari lagi.
Para pelayan itu semuanya masih sangat muda, kebanyakan berusia tujuh belas sampai dua puluhan. Mereka menggunakan pakaian hitam putih yang sangat imut. Tiap bagian pinggirannya pasti berenda-renda. Baju mereka sedikit menampakkan bagian dada dan juga terdapat karet hitam yang melingkari leher mereka, di sisi pinggirnya terdapat kain putih tipis yang berenda-renda, serta karet tersebut tidaklah terlalu sesak yang dapat membuat para pelayan itu kesulitan bernafas. Baju mereka berlengan pendek dengan adanya gelang hitam di pergelangan tangan yang mirip seperti karet di leher, hanya saja kain putihnya sedikit lebih pendek. Dan yang terakhir, rok mereka mempunyai dua lapisan, roknya mengembang dan berenda-renda. Lapisan yang pertama berwarna hitam dan lapisan kedua berwarna putih. Yang putih sedikit lebih pendek agar masih dapat menampakkan lapisan hitamnya. Serta mereka semua menggunakan kaus kaki berwarna hitam putih dan sepatu hak tinggi berwarna hitam.
"Es krim vanilla, strawberry, dan spesial satu. Semuanya porsi menengah, kirim ke pondok yang ada di luar, ya?" Lug memesan.
__ADS_1
"Baiklah. Es krim akan segera datang, tunggu saja," ucap sang pelayan.
Para pelayan yang ada di sana sangatlah ramah. Bahkan ketika tahu bahwa Lug dan Nagisa hendak keluar, mereka membukakan pintunya. Walaupun di saat mereka masuk sebelumnya tidak ada yang membukakan pintu.
Lug dan Nagisa menuju ke pondok. Dan mereka menunggu es krim mereka di pondok tersebut, terasa jauh lebih nyaman ketimbang duduk di kursi kayu di bawah pohon. Di pondok mereka dapat duduk dengan posisi bagaimanapun. Lagipula di tempat itu sangatlah nyaman, tidak panas karena sinar mataharinya tertutup oleh langit-langit pondok yang berupa daun kelapa kering.
Tak lama kemudian, es krim yang dipesan Lug pun tiba. Pelayannya pun kemudian menaruh nampan dengan di atasnya terdapat tiga buah mangkuk yang berisikan es krim. Nagisa ingat bahwa wanita yang menghantarkan pesanannya adalah wanita yang mengepel lantai sebelumnya. Wah, dia kan yang mengepel tadi, cantik sekali, Nagisa memuji dalam hati–malu untuk mengungkapkan apa kata hatinya. Dan sebenarnya Lug mendengarkan isi hati gadis itu dan hampir menertawainya.
Pelayan itu terlihat masih sangat muda, kurang lebih usianya masih lima belas tahun. Dan jika dibandingkan dengan pelayan pelayan yang lain, gadis inilah yang paling muda dan wajahnya adalah yang paling imut. Kulitnya sangat halus dan sangat putih, matanya lebar dan bibir tipisnya terlihat sangat menawan dengan lipstik merahnya yang tipis.
Kemudian Lug menoleh pada pelayan di depannya dengan bibirnya yang dirapatkan. "Nona, kuperhatikan dari tadi kau itu sangat cantik bagaikan rembulan yang menyinari malam," ujarnya.
"Terima kasih, Lug- ah maaf, maksudku tuan muda Lug," sahut pelayan itu.
"EH?! KAK?!" Nagisa tak tahu apa yang terjadi. Sangat jarang sekali Lug memuji seperti itu, dan baru kali ini Nagisa mendengarnya dan bukan untuknya. Gadis ini curiga Lug seperti tahu apa kata hatinya, tapi ia tak yakin. Dan berpaling pada opininya ini, Nagisa memikirkan hal lain yang lebih masuk akal–Lug menyukai pelayan itu–lebih tepatnya Lug menyukai wanita yang lebih tua darinya. Tetapi Nagisa malah lebih tak menerima kenyataan seperti itu, dan kembali pada opininya yang pertama. Sekali lagi kepalanya berputar, tak ada hal lain selain kedua opininya itu, dan itu membuatnya sedikit depresi.
"Tak usah seformal itu," tutur Lug. "Memangnya aku ini siapa? Kau lebih tua dariku, panggil saja aku Lug. Itu terdengar lebih baik di telingaku. Dan darimana panggilan norak dan membosankan itu muncul?"
Pelayan itu tertawa kecil, dia paham apa yang sedang Lug perbuat. "Tapi anda memanggilku nona, kenapa aku tak boleh memanggilmu tuan muda?" tanyanya.
"Karena aku belum tahu namamu. Dan kau sudah tahu namaku, jadi lebih baik kupanggil kau nona."
"Jadi begitu. Baiklah, perkenalkan namaku Ayana."
"Salam kenal, Ayana. Kau sudah tahu namaku, bukan? Jadi tak perlu berkenalan lagi."
"Oke."
Percakapan mereka berdua membuat Nagisa terganggu. Tapi jika dia mengacaukannya, justru itu akan mengacaukan hubungannya dengan Lug. Namun Nagisa tetap memberanikan dirinya dan berkata, "Kakak, kau tak pernah memujiku seperti itu."
Akan tetapi Lug membalas ucapan Nagisa dengan tawa. "Kau tahu, setiap kali kau berdandan, itu selalu mirip seperti nenek nenek yang baru mengerti fashion. Entah itu lipstik yang terlalu tebal, atau bedak yang terlalu menggunung, dan macam-macam lagi," terangnya.
Nagisa hampir menangis mendengar ucapan Lug. Matanya mulai berkaca-kaca dan dia mulai menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Itu benar," Ayana setuju. "Coba lihat aku, yang kupakai sekarang hanyalah lipstik saja. Dan tidak terlalu tebal."
Mendengar hal tersebut, Nagisa masih tak mau membuka wajahnya. Dan pada akhirnya, Lug mengelus kepala Nagisa dan berusaha menghiburnya. "Satu hal lagi yang perlu kau tahu, Nagisa. Tak semua wanita akan selalu cocok dengan dandanan wajah, meskipun itu membuat kalian terlihat lebih menawan tapi terkadang mereka lebih cantik tanpa menggunakan riasan, dan kau adalah gadis yang seperti itu," Lug menjelaskan.
Pelayan yang menghantarkan es krimnya merasa terharu dengan ucapan Lug. Ucapannya itu sangat menyentuh hati.
Lalu Nagisa membuka wajahnya. "Kalau begitu, apa sekarang aku terlihat lebih cantik?" tanya gadis itu memastikan..
Pertanyaan ini adalah pertanyaan satu arah, menjawab 'tidak' itu berarti masalah, dan menjawab 'iya' akan berubah menjadi sesuatu tak berujung, gumam Lug dalam hati. Alasannya adalah karena seorang gadis tak ingin berhenti dipuji oleh lelaki yang disukainya. Jadi sekalinya gadis itu dipuji, maka ia akan terus menginginkan pujian itu ataupun tentang hal lainnya. Dan itu membuatnya bosan dan sangat menjengkelkan.
"Iya, kau sangat cantik," jawab Lug.
"Benarkah?"
"Iya."
"Aku tak pernah berpikir dipuji olehmu, kak, dan kurasa ini sangat menyenangkan hatiku."
"Tapi pujianku ini berdasarkan fakta, bukan dari perasaanku. Jadi jangan terlalu merasa kalau aku benar-benar memujimu."
Meski demikian, wajah Lug memerah dan itu membuat Nagisa tersenyum-senyum sendiri. "Ya, mau bagaimana lagi jika itu kudengar langsung dari mulut kakak Lug? Jika bukan, mungkin aku takkan pernah percaya kata-kata itu ada," ujarnya.
"Baiklah, aku pergi dulu, jika aku berlama-lama di sini tidak akan baik untuk pekerjaanku nantinya," ujar Ayana yang sudah dipanggil oleh pelayan lainnya.
Lug dan Nagisa mempersilahkan.
Mereka berdua pun memakan es krimnya, Lug tahu bahwa kesukaan Nagisa adalah vanila, sementara dia sendiri suka berganti-ganti rasa karena sedikit mudah bosan–tapi bukan berarti mudah bosan dalam 'hal' yang lain. Dan Lug juga memiliki rasa di hatinya terhadap Nagisa. Bagaimana tidak? Mereka berdua bahkan sudah tidur seranjang selama lebih dari setahun. Di rumah Vans membangun satu kamar lagi di sisa halaman belakang untuk Teressa, jadi kamar Lug ditempati olehnya dan Nagisa. Nagisa sendiri yang menolak tidur bersama dengan kakaknya, Teressa.
__ADS_1
Tiba-tiba saja terlintas pertanyaan aneh di kepala Lug, ia segera mengungkapkannya pada Nagisa. "Nagisa, sejak kapan kau mulai menyukaiku?" tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Nagisa tersedak, sehingga ia terbatuk-batuk. "Ah, maaf, itu ... Uhuk!"
"Soal, aku lupa pesan minuman, apalagi di sini minuman yang disediakan cuman teh lemon pula," gumam Lug penuh penyesalan. Sebenarnya ia tahu bahwa Nagisa akan tersedak, tapi dalam penglihatannya ia juga melihat bahwa Nagisa sama sekali tidak tersedak dan justru tertawa terbahak-bahak. Lug menduga masa depan yang akan terjadi adalah Nagisa yang tertawa, tapi justru masa depan lain yang malah datang. Meski begitu ada beberapa kemungkinan lain yang terjadi, seperti Nagisa tersedak sampai menjatuhkan mangkuknya hingga pecah, terkejut tapi tidak tersedak, dan bahkan menjawab pertanyaan Lug tanpa terkejut sama sekali. Banyak kemungkinan yang berbeda dalam masa depan yang dilihatnya.
Tapi untungnya pelayan yang sebelumnya datang kembali dan bahkan dia membawakan dua gelas minuman. "Nagisa kenapa? Apa dia tersedak?" tanyanya pada Lug.
"Bisa kau lihat sendiri, bukan? Berikan minuman itu padanya," Lug tampak sedikit panik. Tapi karena Ayana membawakannya minuman, itu membuatnya terasa lebih baik.
"Nagisa, coba minum ini. Minuman ini adalah menu baru dari kedai es krim kami, cobalah."
Tanpa pikir panjang, Nagisa mengambil gelas yang masih ada di atas nampan yang di bawa oleh Ayana. Dan nampan itu hampir terjatuh karena satu gelas lainnya yang tiba-tiba diambil begitu saja. Hanya saja minuman untuk Lug sedikit tumpah karena guncangan barusan.
Ketika Nagisa sudah mulai membaik, ia pun mulai bercerita, "Persisnya adalah di saat ... P-pertama kali kita bertemu," jawabnya yang masih tergagap karena masih ada tersangkut di tenggorokannya.
"Sudahlah, jangan bicara dulu."
Setelah melihat Nagisa membaik, Lug bertanya lagi, "Kenapa kau suka denganku pada saat itu?"
Lalu Nagisa menoleh pada Ayana. "Kakak Ayana, bagaimana perasaanmu jika kau sedang dikejar beruang yang sedang berusaha memakanmu, tapi kau diselamatkan oleh seorang lelaki seumuranmu? Apa kau akan memiliki rasa di dalam hati terhadap pria itu?" tanyanya.
Tatapan mata Nagisa tampak sangat berharap bahwa jawaban yang akan ia dengar sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Aku akan senang sekali," jawab Ayana. "Jika bertanya bagaimana perasaanku terhadap pria yang menyelamatkanku, jelas aku akan jatuh hati padanya. Tapi mungkin, aku tak terlalu berharap apalagi percaya padanya. Itu seperti kau sedang memasuki sebuah goa tanpa tahu apa yang ada di dalamnya."
"Jawaban yang sangat mantap!" seru Lug secara mendadak seraya mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Ayana, menandakan bahwa dia setuju dengan apa yang pelayan itu katakan.
Sesaat Nagisa terkejut. Jawaban yang ia harapkan tidak seperti itu. "Kenapa kau tidak mempercayainya?"
"Tunggu sebentar, kutanya balik, pria yang menolongku itu adalah sosok yang kukenal atau tidak?" tanya Ayana.
"Tidak."
"Kalau begitu jawabanku tidak berubah- ya, kau tak akan tahu isi hati orang lain kecuali kau mempunyai kemampuan untuk mendengar suara hati orang lain. Coba bayangkan, jika di hutan, tiba-tiba saja muncul seorang pria dan menyelamatkanku dari bahaya, bagaimana jika dia lah yang mengatur semua itu hanya untuk bisa mendapatkanmu? Lelaki memang selalu bernafsu, tapi nafsu mereka selalu berubah-ubah, dan bagaimana jika mereka berpikir untuk menikmatimu? Kau tak akan pernah tahu isi hati orang lain, benar kan?"
Penjelasan Ayana benar-benar masuk akal. Nagisa juga baru tahu akan semua itu. Aku tak berpikir kakak Lug adalah orang yang seperti itu.
Tetapi karena berbicara seperti itu di depan Lug, itu sedikit menyinggungnya sebagai seorang lelaki. "Aku bukan lelaki yang seperti itu, kan?" gumamnya.
"Haha, maafkan aku," sahut Ayana.
"Semakin dewasa, kau akan semakin mengerti bagaimana kerasnya dunia- entah itu ancaman sesama, atau mungkin alam sedang menguji kita. Tak ada yang tahu, sebab itu kita harus selalu waspada," terang Lug dengan nada yang meyakinkan. Tetapi kata-kata itu hanya ingin membuat Nagisa kembali percaya padanya, meskipun itu juga akan mengingatkan kepada Nagisa bahwa kita harus senantiasa berhati-hati dan tidak terlalu percaya kepada orang asing yang baru kita temui.
"Itu benar!" Ayane setuju, tapi ia masih belum puas dalam mengutarakan pendapatnya. "Mungkin yang kukatakan tadi terasa mengerikan, dan ada lagi kemungkinan terburuknya. Bagaimana jika kau dipenjual belikan di pasar bud-"
"Sudahlah, Ayana, kau membuat Nagisa menjadi takut," kata Lug. Ia melipat dahinya, alisnya tampak hampir menempel satu sama lainnya. "Dia hanya bertanya sedikit tentang pendapatmu kenapa kau malah mengungkap semua yang kau tahu tentang keburukan dunia? Itu malah membuatnya gelisah."
"Ah, maafkan aku, Nagisa. Aku tak bermaksud seperti itu," Ayana merasa bersalah karena ucapannya malah menakuti Nagisa.
Nagisa pun mendongak dan menatap mata Ayana dengan hangat, senyuman pun kembali terlihat pada bibirnya, seolah kegelisahan hatinya sudah mulai melebur. "Tenang saja, kak, kau memang ada benarnya. Jadi kupikir itu akan menjadi pengetahuan baru, sehingga itu dapat membuatku menjadi lebih waspada terhadap orang asing yang baru kutemui nantinya," ungkapnya.
"Jadi sekarang kau sudah tahu, bukan?" tuntut Lug.
"Mungkin aku masih terlalu kecil, jadi aku baru tahu tentang semua itu." Kemudian Nagisa menoleh pada Lug. Dia pun berkata, "Tapi aku akan tetap percaya padamu, meski dulu kau adalah orang asing bagiku."
Setelah mendengar ungkapan hati Nagisa, tatapan Lug terlempar pada es krim yang telah ia makan. "Dari tadi kita bertingkah penuh drama. Ah sudahlah, es krim ini akan segera meleleh kalau kita tak memakannya," ujarnya.
Lantas Nagisa menoleh pada es krim miliknya yang sudah mulai meleleh, "Benar juga, es krimku mulai meleleh."
Dan pada akhirnya mereka menghabiskan es krim mereka masing-masing. Ayana kembali pada pekerjaannya dan meminta maaf jika telah melakukan kesalahan pada mereka berdua. Sementara Lug dan Nagisa tidak peduli lagi jika ada sesuatu yang menyinggung perasaan mereka, itu karena Ayana sudah bersikap ramah dan itu menutupi segala kesalahan dari segi ucapan maupun perbuatannya. Dan es krim yang spesial pun dimakan oleh Lug dan Nagisa bersama-sama. Pada satu sendok terakhir, Nagisa ingin menyuapkannya pada Lug, dan Lug bersedia–tentu mereka berdua malu-malu, dan wajah mereka berubah jadi merah padam. Sebenarnya sih, Lug sempat menolak, tapi karena tak ingin membuat Nagisa bersedih lagi, jadi ia bersedia dengan permintaan aneh gadis itu.
__ADS_1
Bersambung!!