![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Pada malam hari, Nagisa mengajak Raini ke sebuah restoran. Ia mentraktirnya makan karena kekalahannya itu.
"Kau hanya beruntung, Raini! Camkan itu!" Nagisa menegaskan.
"Hihihi," Raini malah cekikikan puas. "Kau benar-benar baik, Nagisa. Baru kali ini aku makan makanan darimu meski bukan masakanmu sendiri. Tapi ini berkat dirimu dan uangmu yang banyak, aku bersyukur punya sahabat sepertimu, hihihi- "
Nagisa menggembungkan pipinya sebal.
Makanan mereka pun tiba. Mereka makan bersama hingga habis. Tak lama setelah itu, pelayan yang sama datang dan membersihkan meja Nagisa dan Raini.
Setelah mejanya bersih, Nagisa dan Raini mengobrol lagi.
"Apa kau tahu, Nagisa?" Raini memulai pembicaraan. "Dulu aku pernah diberitahu oleh Lug bahwa kau itu buruk dalam refleks gerakan mikro, atau gerakan yang sudah sangat dekat. Kau adalah orang yang tenang selama masih berada dalam jarak serang, bertahan, dan refleksmu sendiri. Sementara ketika itu sudah terlalu dekat dan tidak bisa mengandalkan refleks- itulah kelemahanmu. Kau selalu memotong jarak antara dirimu sendiri dengan lawanmu, sementara kau tidak memperkirakan gerakan mikro lawan yang mungkin akan sangat fatal bagimu."
Nagisa terdiam, tatapan matanya merendah, ia merenungi kelemahannya itu. Namun itu membuat Raini senang, ucapannya itu ternyata berefek besar pada lawan bicaranya itu.
"Meskipun aku tahu bahwa kau ahli dalam pertarungan jarak jauh, tapi aku mengetahui kelemahanmu. Masih ingat dengan kalimat Lug tentang mengetahui kelemahan lawan?" papar Raini.
Nagisa mengangguk. "Begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kakak Lug, aku bersyukur masih ada dirimu, Raini, yang bisa membimbingku kembali pada arahan kakak Lug, terima kasih," sahutnya.
Raini mengangguk. Lantas dia tersenyum layaknya orang jahat. "Sekarang kau begitu menghormatiku, kenapa tidak sekalian panggil aku nona muda Raini? Hohoho ... " sindirnya.
Nagisa tersinggung, ia tersenyum dengan penuh kemarahan. "Oh ya? Kalau begitu tadi aku tidak usah berbelas kasihan padamu sama sekali. Lagipula tarung bertarung, aku punya banyak taktik untuk melawanmu yang terlalu mengandalkan sihir kehampaan!" serunya.
"Hahaha- jangan begitu, Nagisa. Aku takut kau tiba-tiba pergi dan membiarkanku membayar semua makanan ini sendirian," terang Raini.
"Ide bagus," sahut Nagisa lagi seraya beranjak pergi.
Ketika melihat gadis berambut pirang itu pergi, Raini langsung panik di tempat. "Tunggu tunggu tunggu! Jangan begitu dong, Nagisa- yang barusan itu aku bercanda," jelasnya.
Lantas Nagisa tertawa. "Rasanya menyenangkan sekali di saat mempermainkanmu," katanya. "Tapi tetap, aku akan pergi."
"Tidak tidak tidak tidak tidak, Nagisa! Tolong jangan begitu."
__ADS_1
Raini menarik tangan Nagisa dengan sangat erat. Bagi orang biasa, tarikan seperti itu akan sangat menyakitkan dan aliran darahnya akan tersumbat.
"Lepaskan!" Nagisa menyuruh. "Aku mau bayar di kasir. Jika kau tidak melepaskanku, akan kubiarkan kau membayar semua tagihan makanan kita."
"Oh, maaf."
Seketika itu juga Raini melepaskan tangan Nagisa.
Nagisa mendesah, "Kau ini ... Tunggu di sini sebentar!"
"Baik," sahut Raini. Hehehe, ketika aku tahu kau ingin mentraktirku, aku memang meninggalkan semua uangku di lemari. Jadi aku memang tidak bawa uang saat kemari. Yang barusan itu benar-benar mengerikan, bertambah lagi rasa kesal Nagisa padaku, bisa bisa aku malah disuruh cuci piring di sini, gumamnya dalam hati.
Sebenarnya Nagisa juga tak berniat membiarkan Raini di restoran sendirian. Bukannya tahu tentang Raini yang tak bawa uang, tapi Nagisa memang sudah berjanji untuk mentraktirnya.
Setelah itu, mereka segera pulang ke rumah.
Di perjalanan pulang, Nagisa bertanya pada Raini, "Zephyr masih bertugas?"
"Ya, dia akan kembali setidaknya dua sampai tiga bulan lagi."
"Ucapanmu itu terdengar seperti sedang menyombongkan diri secara tidak langsung pada kak Zephyr."
"Bukan seperti itu. Zephyr sepertinya akan mendapatkan kenaikan pangkat, maka dari itu dirinya ditugaskan sampai berbulan-bulan."
"Oh, begitu ya? Kau dulu juga begitu?"
"Kau lupa atau aku yang lupa memberitahu kepadamu? Dahulu aku selama tahap seleksi langsung mendapatkan pangkat Ranker Perak. Itu dikarenakan aku mendapatkan nilai sempurna di ujian komunikasi, pengalaman tempur, sihir, dan menyamar serta berakting."
"APA? SEMPURNA SECARA KESELURUHAN?!"
"Yap- tapi masa masa sulitku adalah ketika ditanya tentang pengalaman lapangan di saat hendak mengambil armorku. Banyak yang tidak setuju dan menimbulkan banyak sekali kontroversial, aku sangat takut pada saat itu."
Pada saat ini, Raini memahami keadaan yang dialami Nagisa ketika di masa masa seperti itu. Baginya juga akan sangat menakutkan jika dirinya yang menjadi topik utama dalam perselisihan tersebut, sehingga dipaksa untuk berani berbicara dan menjadi penengah pada situasi tersebut.
__ADS_1
Nagisa masih melanjutkan ceritanya, "Untung saja pada saat itu aku diminta untuk menunjukkan sihir penyamaran. Menggunakan sihir Boneka Tembus Pandang, aku lulus pada ujian terakhir."
"Hah? Kulihat kau menguasai banyak sekali sihir, berapa batasan sihirmu?" tanya Raini.
Nagisa memegang dagunya dan melirik ke kiri atas. "Setidaknya lima belas, masih tidak cukup banyak," jawabnya.
Tiba-tiba saja Raini menjadi geram, lantas memukul kepala Nagisa dengan cukup keras. "Kau ini kalau mau sombong juga ada batasnya! Sebanyak itu dibilang sedikit?! HUH!!!" serunya.
"Tapi itu sedikit, lho- " sahut Nagisa. Ia seperti tidak merasakan apa-apa setelah baru saja dipukul.
Raini semakin geram. "Sedikit dari mana?!"
"Kau tahu, pertama kali pertemuanku dulu dengan kakak Lug, katanya batasan sihir miliknya itu lebih dari dua belas sihir- dia masih berusia lima tahun. Batasan sihir bisa meningkat seiring perkembangan diri, dulu juga berkat dirinya aku langsung memiliki batasan sihir sebanyak lima, padahal sebelumnya aku hanya punya satu saja," jelas Nagisa.
Raini tercengang mendengarnya. Tak disangkanya dia benar-benar seorang jenius. Andai saja Lug masih hidup sampai kini, entah seperti apa dia sekarang, yang pasti semua orang akan iri dengannya dan mendapatkan lebih banyak masalah. Para bangsawan tidak akan menyukainya karena seorang anak lelaki dari desa jauh lebih berbakat dari bangsawan manapun, batinnya.
"Aku menjadikan kakak Lug sebagai patokan, terakhir kali dia mengatakan bahwa pada saat seleksi penerimaan murid dulu, batasan sihirnya sebanyak tujuh belas," Nagisa bercerita lagi.
"Sudah sudah! Aku tahu, aku mengerti. Tapi patokanmu itu terlalu tinggi," ujar Raini sembari memegang kepalanya yang hampir tak kuat mendengar cerita sahabatnya itu.
Nagisa tersenyum. "Justru itu yang selalu memotivasiku. Aku tumbuh berkat itu, kakak Lug adalah penyemangatku," terangnya.
Raini melihat tatapan Nagisa ke langit yang perlahan meneteskan air mata. Ia mengerti kesedihan semacam itu. Kehilangan seseorang yang menjadi penyemangat hidup adalah hal yang paling sulit, bahkan dapat menyebabkan syok berat hingga trauma.
"Jujur saja," ujar Raini. "Aku salut pada kegigihanmu itu. Kehilangan seseorang yang paling kaucintai, tapi tetap bersemangat hingga menjadi sangat hebat seperti sekarang ini- pastinya jika Lug melihatmu, dia akan sangat bangga kepadamu."
Nagisa mengangguk. "Ya, aku sangat ingin sekali kakak Lug melihat seluruh pencapaianku," katanya. Lantas ia meneteskan lebih banyak air mata.
"Sudahlah, Nagisa, mari kita pulang," ajak Raini.
"Baiklah."
Mereka pun sampai di rumah. Di sana Antonio belum pulang dan masih berada di asosiasi. Mereka berdua sendirian di rumah dan berberes. Dan sebelum mereka tidur, seluruh rumah telah bersih. Keluarga Azamuth tidak memiliki satupun pembantu, Raini lah yang biasanya sering berberes, terkadang dibantu oleh Zephyr. Sesekali ibunya Raini juga datang membantu berberes.
__ADS_1
Bersambung!!