![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Aldero yang sebelumnya telah mengalami penderitaan yang sangat mengerikan, kini sudah bangkit kembali dengan mata yang berseri-seri. Seolah dia telah dilahirkan kembali dengan tubuhnya yang baru. Dia mengusap wajahnya yang terkena darahnya sendiri.
Semua orang terkejut ketika Aldero berdiri dengan cepat seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu terhadapnya kecuali Nio yang malah menyeringai senang.
"Aku ... Aku baik-baik saja- aku merasakan peningkatan pada batasan sihir dan pemahaman terhadap sihir," ujar Aldero senang.
Semua orang masih memandanginya dengan tatapan tidak percaya kecuali Nio yang matanya seolah menunjukkan kepuasan.
"Lihat Aldero!" suruh Nio yang tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke arah Aldero. "Dia sekarang memiliki pemahaman sihir yang di luar nalar kalian. Jika kalian ingin tahu peningkatan apa yang ada padanya ... Aldero bisa menguasai sihir tiga lingkaran hanya dengan mempelajarinya sekali saja- bahkan hanya dengan menyebutnya saja," terangnya.
Di saat itu juga semua mata terbelalak menatap ke arah Nio, bahkan Aldero pun juga sama.
"Sihir tiga lingkaran hanya dengan sekali mempelajarinya saja?! Nio, itu sungguhan?!" desak Cleo sembari meremas tangan Nio.
Begitupun Leonardo. "Cincin itu ... Apa benar bisa meningkatkan pemahaman sampai seperti itu?! Bukankah cincin itu terlalu luar biasa?! Jika itu benar, itu adalah artefak langka yang sangat didambakan oleh semua orang!" paparnya bersemangat. "Berikan padaku!"
Nio memberikannya, lalu Vernando juga memintanya karena kepercayaannya terhadap Nio yang semakin meningkat akibat menyaksikan langsung keberhasilan Aldero.
Dan ketika memakainya, mereka berdua berakhir seperti Aldero. Mereka sangat bersemangat sekali.
"Kakak Nio, sepertinya aku sudah memilih sebuah sihir yang berada di dalam cincin ini. Aku memilih sihir empat lingkaran, tipe percepatan dan penguatan, sihirnya bernama Konsekuensi Batasan," ujar Aldero senang, dia mendambakan wajah Nio mengangguk puas.
Tapi nyatanya, Nio malah memasang wajah terkejut seakan melihat sesuatu yang sangat mengerikan. "Aldero, kau yakin dengan sihir itu?" tanyanya dengan nada tinggi.
Aldero juga terkejut mendengarnya. "Ya, aku memilih sihir ini karena aku belum memiliki sihir penguatan. Dua sihirku adalah sihir tiga lingkaran tipe serangan jarak jauh, ada juga sihir tipe perisai yang mana itu adalah sihir dua lingkaran, sementara yang terakhir hanyalah sihir dua lingkaran tipe bertahan," jelasnya dengan tatapan bingung.
Lantas Nio menjelaskan, "Kau tahu itu sihir seperti apa? Namanya saja Konsekuensi Batas, sihir ini memanfaatkan rasa lelahmu untuk memperkuat efeknya, tapi ... Rasa sakit yang kauterima akan meningkat secara drastis. Ketika kau tak sanggup berdiri, maka kau akan langsung muntah darah. Jantungmu akan berdetak sangat cepat, adrenalinmu akan meningkat, namun tubuhmu tak bisa mengimbanginya. Alhasil, jika kau tak bisa mengendalikan tubuhmu yang bergejolak, sendi yang kaupaksakan akan langsung bengkok dan mungkin tulangnya akan patah. Memang- pada saat itu akan menjadi saat-saat krusialmu, tapi seranganmu bisa sekuat sihir lima lingkaran kelas atas. Tapi tetap saja, itu membahayakan dirimu karena kerusakannya pasti juga akan berbalik pada dirimu sendiri. Dan sihir itu memiliki batasan waktu untuk dinonaktifkan- ketika kau sudah menggunakannya, maka kau tak akan bisa melepaskan sihir tersebut selama sepuluh menit lamanya."
Semuanya merasa bahwa itu adalah sihir yang sangat membahayakan. Tapi Aldero ragu karena dia sudah memilih sihir tersebut.
Mata Nio menata tajam kepada Aldero, dia menunduk dan menyangga kepalanya dengan mkepalan tangan kirinya yang ditutupi oleh telapak tangan kanannya. Ia membatin, Sihir Konsekuensi Batas itu bukanlah sihir dari dunia ini, melainkan itu berasal dari eksistensi tingkat atas yang menjadi para dewa yang sebenarnya. Meskipun bagi mereka itu hanyalah sihir- bukan sihir, tapi tetap saja, sangat berbahaya bagi manusia yang pada dasarnya mereka adalah makhluk fana yang mudah terpengaruh oleh sedikit konsekuensi saja yang bahkan bisa membuatnya binasa.
Hingga pada akhirnya Aldero tersenyum santai.
__ADS_1
"Kau yakin?" tanya Nio yang tidak yakin sendiri.
Aldero mengangguk. "Kenapa tidak? Aku tidak peduli dengan konsekuensinya, hanya dengan beginilah aku bisa lebih kuat," sahutnya.
Setelahnya, itu membuat Romeo dan Cleo menjadi tertarik dengan cincinnya. Mereka mendesak Nio untuk memberikan cincin tersebut. Dan karena terdesak, Nio memberikannya tapi dengan peringatan. Apalagi teruntuk Cleo yang masih belum pulih.
"Karena kalian sudah menggunakan cincinnya," ujar Nio. "Aku akan menjelaskan rencanaku, untuk mendapatkan Kristal Pecahan Semesta. Kita tak bisa menuju ke dunia dewa, kecuali satu, aku akan menggunakan sebuah senjata yang aku turunkan di dunia ini sebelum terlahir kembali. Sejujurnya, aku telah menjatuhkan lebih dari satu benda, entah itu pedang, perisai, baju zirah, mahkota, kalung, ataupun benda lainnya. Tapi yang kubutuhkan hanyalah dua benda, Pedang Pemotong Ruang dan Limas Tangga Dunia."
*****
Sekarang waktu sudah berlalu hampir dua Minggu. Nio sudah berada kota kerajaan Da Nuaktha yang mana berada di depan gerbang sebelah Timur Laut. Kini waktu baru menjelang pagi dan kabut dingin menyelimuti hutan.
Karena sempat terjadi kekacauan di seluruh belahan dunia, kerajaan Da Nuaktha juga mengganti beberapa prajurit yang menjaga gerbang. Sekarang mereka hanyalah penjaga yang kurang berpengalaman yang ditugaskan selagi masa penyembuhan para prajurit yang lebih senior.
Nio menyamar dengan mengenakan pakaian yang sangat mewah.
Di jalanan batu yang tersusun rapi, para prajurit melihat sesosok lelaki tinggi yang wajahnya masih tertutup oleh kabut. Lelaki itu mengenakan setelan jas berwarna putih dengan berbagai macam ornamen indah yang terpasang di bahunya, baju putih dengan kancing besar berwarna emas sebanyak tiga buah, terdapat garis-garis ornamen berwarna emas di atas garis lurus hitam vertikal dari bawah sampai kerah di sekitar kancing baju, memakai bros emas asli yang berbentuk berlian dengan garis melingkar tepat di bawah melewati ujung berlian dengan duri duri di garis tersebut yang terpasang di dada kirinya–ujung berlian berada di tengah garis lingkaran, membawa kalung dengan tiga buah permata dengan warna yang berbeda–sebelah kiri adalah permata berwarna biru, sebelah kanan berwarna hijau, dan di tengah berwarna merah, dan telapak tangannya mengenakan sarung tangan tembus pandang. Dia mengenakan celana panjang berwarna putih yang tepat di bagian depan terdapat garis yang ditarik dari atas hingga bawah sampai ditutupi oleh sepatu hitam yang menutupi mata kakinya dan ujungnya lancip yang mana dihiasi oleh ornamen berwarna emas yang sangat indah. Lelaki itu juga mengenakan anting-anting panjang berupa emas yang di ujungnya menggantung sebuah permata berwarna merah–permata itu adalah batu mirah delima. Di kedua tangannya juga terdapat gelang lebar yang terpasang belasan permata berwarna merah mengkilat–batu mirah delima, yang dipasang mengitari gelang tersebut.
Ketika mendekat, itu semua terlihat menjadi sangat jelas. Nio tidak merubah wajahnya, hanya saja dia mengganti pakaiannya menjadi sangat mewah.
"Wah wah, dia pasti anak dari keluarga bangsawan yang sangat kaya," celoteh salah seorang prajurit.
Satu prajuritnya menyahuti, "Menurutmu lelaki itu dari kerajaan mana? Apakah dia dari kerajaan Tigerion? Kerajaan mereka itu sangat kaya, jadi seorang pangeran atau penerus keluarga dengan pakaian seperti itu tidaklah mengejutkan. Tapi tetap saja ... Pakaiannya itu pasti sangatlah mahal."
Nio berjalan dengan sangat menawan dan perkasa laksana seorang pangeran yang telah dipanggil oleh rajanya. Dia berlagak membenarkan sarung tangannya, tatapannya sangat dingin dan seolah tidak memperhatikan adanya prajurit yang berjaga di depannya. Ah, sial! Ini pakaianku yang paling mahal, untung saja tidak kusut ketika kusimpan di dalam dompet serbaguna, batinnya.
Memang benar bahwa itu adalah pakaian milik Nio yang paling mahal, dia membelinya dengan harga 200 koin emas–harganya hampir mencapai setengahnya dari harga rumah kedua orang tuanya.
Ketika sampai di depan gerbang, Nio mulai dicegat oleh kedua orang penjaga. Tapi lelaki itu sama sekali tidak memperhatikan mereka berdua yang menghadangnya dengan tombak yang lebih panjang dari tubuh mereka.
"Tu- tuan ... Tolong- sebutkan nama anda! Dari mana anda beras- " belum selesai menyebutkan pertanyaan interogasi, ucapannya dipotong.
"Aku adalah salah satu dari 6-O-V, sebutanku Pangeran Vlamera. Namaku adalah Nio Vlamera, pemilik dari restoran Vlamera yang berada di kota Pertus, kerajaan Eternan. Aku kemari untuk tujuan berbisnis, jadi biarkan aku lewat. Dengan siapa aku berbisnis? Kalian tidak perlu tahu, jika aku sebutkan sedikit, dia adalah seorang pria tua yang kehilangan posisinya sebagai seorang Baron," terang Nio dengan nada datar dan tatapan yang terus menatap ke depan–tatapannya sedingin es.
__ADS_1
Kedua prajurit itu saling menatap dengan tatapan terkejut. Mereka tiba-tiba saja diam terpaku. Dia adalah Pangeran Vlamera? Si Nio Vlamera yang restorannya sangat terkenal itu?! Tak mungkin! Batin mereka berdua.
"Hei! Biarkan aku lewat!" seru Nio mendesak. Dia masih tidak menatap atau bahkan melirik mereka berdua sedikitpun.
Salah seorang penjaga menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat. "B-begini ... Saya perlu mengkonfirma- "
"Aku tidak punya waktu!" seru Nio sembari melirik ke arah prajurit yang barusan berbicara dengan tatapan yang sinis dan sangat mengerikan. Matanya melotot, terlihat dia menjadi murka karena dihentikan oleh dua orang prajurit rendahan.
Sepasang prajurit itu saling menatap ragu, tapi pada akhirnya mereka membiarkannya masuk. Salah seorang prajurit itu bersiul, dari atas dinding raksasa ada seorang prajurit yang menunduk dan merespon siulannya.
KREEEEKK
Tak lama gerbang besar pun terbuka–meski tidak terbuka terlalu lebar, tapi Nio masih masuk dengan langkah kaki yang sangat menawan dan perkasa.
KREEEEKK
Dari belakang kedua prajurit itu saling bertanya-tanya.
"Apa dia benar-benar seorang Vlamera? Nio Vlamera yang itu?" tanya seorang prajurit yang tadi ditatap sinis oleh Nio.
"Tidak tahu, tapi- sejak kapan anggota Vlamera memiliki julukan 6-O-V? Bukannya 4-O-V?"
"Iya juga, ya? Hmm ... "
"Barangkali mereka menerima anggota lagi yang diangkat menjadi Vlamera baru. Tapi Nio Vlamera, Pangeran Vlamera adalah yang paling terkenal dibandingkan dengan Vlamera lainnya. Dan yang kukenal berikutnya adalah Cleo Vlamera dan Leonardo Vlamera."
"Kira-kira siapa nama Vlamera terbaru, ya?"
"Entahlah, tapi walaupun mereka bukanlah bangsawan, mereka tetaplah kelompok dengan latar belakang yang sangat kuat dan kaya raya. Melihat pakaian sang Pangeran Vlamera saja sudah semewah itu, menandakan mereka benar-benar kuat dalam hal ekonomi."
"Itu pasti."
Tapi dari balik gerbang, Nio masih belum beranjak pergi. Dia adalah Lug Vincent, masih memiliki kekuatan dan sihirnya sebagai seorang Lug, makanya dia bisa mendengar ucapan kedua prajurit yang ada di luar gerbang meskipun jika orang biasa yang mendengarnya akan terdengar sayup-sayup.
__ADS_1
Nio menyeringai tipis. Ia membatin, Untunglah mereka sedikit bodoh dan tidak menaruh banyak kecurigaan. Tapi andaikan saja mereka adalah prajurit senior, mungkin sekarang aku masih terjebak di luar.
Bersambung!!