![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Lug membantu Nagisa berdiri kembali, hanya saja tubuh wanita itu masihlah lemah. Lantas lelaki itu menatap dan tersenyum ke arahnya, mereka saling bertukar pandangan dan pada akhirnya mereka berpelukan. Tak lama Lug melepaskan, lantas tersenyum kepada Raini dan mencium pipinya.
Lug keluar dan mengeluarkan Penghubung Dunia, lantas ia juga mengeluarkan sumber jiwanya. Penghubung Dunia sebelumnya telah terhubung oleh sumber jiwanya Lug, ia mampu mengkoordinasikannya, hanya saja kala itu ia menerima konsekuensinya. Lug membesarkan sumber jiwanya hingga dirinya dapat masuk ke dalam sumber jiwanya itu.
Di luar angkasa, jauh mata memandang terjadi sesuatu yang unik. Garis garis rasi bintang terlihat dengan jelas, rentang cahaya bintang memenjang hingga dapat terlihat jelas oleh manusia apabila tidak tertutupi oleh kabut indah di langit, langit menjadi terang benderang dan segala sesuatu menjadi terlihat lebih jelas di langit sana, namun kejadian itu hanya terjadi selama beberapa detik saja dan seketika menghilang dalam sekejap. Itu semua adalah perbuatan Lug yang menghubungkan sumber jiwanya dengan seluruh penjuru dunia. "Aku telah mendapatkan peta alam semesta," ucapnya sambil menyeringai senang.
Kini Lug berada di dalam sumber jiwanya sendiri yang di mana itu terlihat seperti alam semesta tersendiri. Ia mengamati kerusakan yang akan menghancurkan alam semesta. Ketika itu, Lug melihat banyak zat hitam pekat yang bahkan 100% tidak menyerap cahaya ada di mana-mana, zat itu kelihatannya padat, namun kemunculannya mirip seperti cairan, dan ketika meluas itu seperti sebuah gas, serta terus bercabang selayaknya wujud plasma.
Di luar, Lug juga telah berpesan kepada Nagisa untuk memperhatikan semua orang yang masih belum bangun. Karena situasinya yang terlalu mendadak, semua orang tumbang dalam sekejap, membuat Lug sedikit khawatir.
*****
Dua hari berlalu, Nagisa masih menunggu Lug keluar dan orang-orang bangun. Beberapa dari mereka telah terbangun seperti Romeo, Vernando, Maxleen, dan Yinsha.
"Tuan," Maxleen menyapa Yinsha dengan nada sopan, "Hubungan apa yang anda miliki dengan tuan muda Lug? Apakah sebuah hubungan guru dan murid?" tanyanya.
Sebenarnya Yinsha enggan menjawab pertanyaan tersebut, hanya saja ia mengingat ucapan Lug yang di mana gurunya itu menyuruhnya untuk memperbaiki sikap terhadap orang lain menjadi sesosok yang tidak kaku. Menurutnya itu memang benar, tetapi entah kenapa Yinsha selalu terbingkan oleh sikapnya sendiri yang selalu bersikap arogan dan protektif dengan Lug. "Benar, hanya sebatas guru dan murid ... Aku muridnya," jawabnya kaku, ia tak memandang lawan bicaranya–Yinsha memang buta, tapi ia tahu di mana lawan bicaranya berada karena suara, dia tahu seharusnya berbicara dengan seseorang harus saling berhadapan, namun ia tak memandanginya.
Maxleen terkejut. Jadi anak itu ... Tunggu, dia ... Berapa usianya? Pendekar Pedang Buta usianya ribuan tahun, bagaimana bisa dia punya guru seperti anak kecil itu? Batinnya penasaran. "U-usia ... Usianya berapa sekarang?" tanyanya lagi.
Yinsha merasa geram karena ditanyai lagi. "Usianya mungkin baru belasan, tapi dia bereinkarnasi," jawabnya ketus.
Bereinkarnasi? Apa itu benar-benar ada? Batin Maxleen lagi.
Nagisa mendengar percakapan mereka berdua, dia sebenarnya tidak terkejut mendengar Lug yang bereinkarnasi, hanya saja ia sedikit bertanya-tanya dikarenakan adanya di Pendekar Pedang Buta tersebut.
__ADS_1
"Begitu, ya?" ucap Maxleen, "Baiklah, maaf jika aku menganggumu."
Ia pun pergi.
Yinsha membatin, Memang, kau sangat mengangguku, lebih baik pergi ... Ah, tidak! Master akan mendengarku, aku juga memang harus lebih memperbaiki sikapku terhadap orang lain.
Maxleen mendekati Nagisa, Yinsha mengetahuinya dan segera mendekati mereka.
"Apa yang akan kaulakukan terhadap istrinya master?!" seru Yinsha.
Maxleen melangkah mundur karena takut. "Ah, bukan begitu ... A-aku hanya ingin bertanya pada istrinya secara langsung saja," jawabnya terbata.
Yinsha diam tak percaya.
"A ... Anda adalah muridnya, kakak Lug?" tanya Nagisa penasaran. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak Yinsha untuk berbincang karena penasaran, hanya saja sikap lelaki tersebut sangatlah dingin dan menyeramkan. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara.
Sebenarnya kita mengobrol singkat dengan Lug sebelumnya, ia hanya mendengar sedikit tentang Yinsha. Suaminya itu belum menceritakan secara lengkap tentang siapa lelaki dengan mata tertutup itu.
"Iya ... Begini- tidak perlu terlalu melindungiku, dia tak akan berani menyentuhku," ucap Nagisa kepada Yinsha.
Tetapi Yinsha menerimanya sebagai jawaban yang buruk. "Aku tak berpikir master menikahi wanita yang buruk, seharusnya kau berterima kasih! Beraninya kau selingkuh dari master!" serunya penuh emosi.
Yinsha benar-benar marah dan muak, aura kemarahannya mulai terlihat. Tanah di sekitarnya mulai bercahaya, pedang pedangnya muncul menyeruak dari bawah tanah.
"Ka ... Kami sama sekali tidak berpikir untuk melakukan hal yang tidak-tidak di belakang Lug!" Nagisa memberi jawaban, namun tercipta ketakutan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Tak perlu menjelaskannya! Aku sudah mendapatkan kesimpulannya!"
Yinsha mengatakannya seakan Nagisa benar-benar telah berpaling dari Lug, sebenarnya tak ada yang tahu kenapa Maxleen mendekati wanita itu, hanya saja Yinsha sangat protektif dan penuh dengan prasangka buruk.
"Sudahlah, Yinsha."
Terdengar suara lelaki dari arah sebuah bola besar yang di dalamnya terdapat bintang-bintang cemerlang dan indah–anggap saja alam semesta yang skalanya lebih kecil. Suara jelas semuanya kenal dengannya. "Nagisa tak mungkin berpaling dariku, bahkan aku bisa mempertaruhkan semua yang ada di alam semesta ini," ucapnya lagi.
Ya, siapa dia? Jelas sekali, itu adalah Lug. Dia kini telah keluar dari sumber jiwanya itu. Suaranya itu terdengar seperti dirinya sedang merasa lelah.
"Nagisa adalah wanita yang kesetiaannya tiada tara, dia bukanlah seperti wanita yang kaubayangkan," ujar Lug menasehati.
Yinsha masih penuh keraguan. "Master, aku ... Bukannya aku tak percaya, hanya saja ... Wanita akan membuat anda menjadi lemah," sahutnya tak berani, hanya saja entah apa yang membuat mulutnya bisa berbicara seperti itu. Apakah master menjadi naif ketika dirinya terlahir kembali menjadi seorang manusia? Wanita ... Mereka ...
"Oh?" Lug seperti memahami muridnya itu. "Sepertinya kau punya cerita yang menarik, tapi- lain kali saja, aku ... Terlalu lelah untuk mende ... "
Lelaki itu pingsan, dan dengan sekejap mata Nagisa menangkap badannya. Lug tersenyum hangat selagi matanya terpejam ketika badannya ditangkap. Nagisa membalas senyumannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kakak Lug, jangan terlalu memaksakan diri," ucap Nagisa pelan.
Semua pedang Yinsha mulai menghilang kembali, dia juga tahu bahwa masternya itu pingsan. Ketika itu dirinya dikelilingi rasa bersalah. Tak seharusnya aku berkata seperti itu, barusan! Aku ... Aku menyakiti hatinya master! Batinnya kesal, terlihat bagaimana ia meringis penuh penyesalan hingga menampakkan barisan giginya.
Berita tentang Lug yang telah keluar dari sumber jiwanya telah terdengar sampai telinga Raini. Dia langsung memeriksa suaminya itu, ketika itu dirinya melihat suaminya tengah terbaring lemas dan tertidur pulas berbantalkan pahanya Nagisa. Kedua wanita itu saling berbincang selagi menanti bangunnya suami mereka berdua. Dan di hari itu juga semua orang telah terbangun, tubuh mereka semua juga terasa sangat lemas.
Mereka semua kini tahu bahwa Lug pingsan, mereka tak tahu apa yang telah dilakukannya, hanya saja dalam hati mereka berkata bahwa lelaki itu telah melakukan sesuatu.
__ADS_1
Bersambung!!